5.9.15

Adab seorang anak kepada orangtua

ADAB SEORANG ANAK KEPADA ORANG TUA

1. Memandangnya dengan penuh kehormatan, karena memandang orang tua termasuk dalam kategori ibadah.
Berdasarkan sabda Rasulullah saw :
خمس من النظر عبادة : النظر إلى الأبوين عبادة ، و النظر في المصحف عبادة ، و النظر إلى الكعبة عبادة ، و النظر في زمزم عبادة يحط الخطايا حطا ، و النظر إلى العالم عبادة. الجامع الصغير.
Memandang kepada lima perkara termasuk ibadah :
Memandang kepada orang tua ibadah, memandang kepada alquran ibadah , memandang kepada ka'bah ibadah,  mamandang kepada air zam zam ibadah , yang menjatuhkan dosa secara cepat , memandang kepada orang alim ibadah. ( Al jami' As shogir ).
ما من رجل ينظر إلى أمه رحمة لها ، إلا كانت له بها حجة مقبولة مبرورة،  قيل : يا رسول الله ، و إن نظر إليها في اليوم مائة مرة ، قال : و إن نظر في اليوم مائة ألف مرة ، فإن الله أكثر و أطيب. رواه البيهقي
Tidak terdapat seorang lelaki yang memandang kepada ibunya karena kasih sayang terhadapnya , kecuali  ( allah ) akan memberikan pahala ibadah haji yang qobul dan mabrur , ( sebagian sahabat bertanya ) : Wahai Rasulullah saw meskipun memandangnya dalam sehari sebanyak seratus kali ?  Beliau saw menjawab : meskipun memandangnya dalam sehari seratus ribu kali,  maka sesungguhnya allah dapat memberi yang lebih dan yang baik. HR. Albaihaqi.
2. Mencium dahi kedua orang tua.
Berdasarkan sabda Rasulullah saw :
من قبل بين عيني أمه كان له سترا من النار. رواه إبن عدي عن ابن عباس.
Barang siapa yang mencium antara kedua mata ( dahi ) ibunya ( sebagai dasar penghormatan ) , maka hal tersebut akan menjadi pencegahnya dari adzab neraka. HR. ibnu 'adi dari ibni 'abbas.
- sebagian ulama menjelaskan : hadits tersebut juga untuk dilakukan terhadap ayah  atau kakek dan nenek.
3. Mencium tangan dan kaki kedua orang tua sebagaimana yang telah dilakukan oleh salafus Sholeh.
4. Menyediakan kebutuhan orang tua jika sang anak memiliki kemampuan.
Berdasarkan sabda Rasulullah saw :
هل تعلمون نفقة أفضل من نفقة في سبيل الله؟  قالوا : الله و رسوله أعلم ، قال : نفقة الولد على الوالدين أفضل. رواه إبن المبارك.
Apakah kalian mengetahui nafkah yang pahalanya lebih besar dari pahala nafkah untuk jihad di jalan allah ? Para sahabat menjawab : allah dan rasulnya yang mengetahui , maka nabi saw bersabda : nafkah yang diberikan oleh seorang anak kepada kedua orang tuanya lebih besar pahalanya ( dari hal tersebut ). HR ibnu al mubarok.
5. Berbicara dengan penuh kesopanan.
6. Tidak menyinggung perasaannya dengan perkataan atau perbuatan.
Sebagaimana firman allah swt :
(وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا * (وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا)
[Surat Al-Isra 23 - 24]
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".
7. Selalu mengikuti perintahnya selama tidak bertentangan dengan hukum syariat.
8. Selalu beristighfar untuk kedua orang tuanya dimasa hidup dan setelah wafatnya.
Berdasarkan sabda Rasulullah saw :
استغفار الولد لأبيه من بعد الموت من البر. رواه إبن نجار.
Istighfar seorang anak untuk ayahnya setelah meninggalnya termasuk dari amalan kebaktian . HR. Ibnu najjar.
9. Selalu mendoakannya di masa hidup dan setelah wafatnya.
Berdasarkan sabda Rasulullah saw :
إن الرجل ليموت والده وهو عاق لهما  ، فيدعو لهما من بعد مماتهما فيكتبه الله من البارين. رواه البيهقي في شعب الإيمان.
Sesungguhnya seorang lelaki tatkala meninggal kedua orang tuanya, dan dia ( termasuk dalam golongan ) anak yang durhaka kepada keduanya, kemudian setelah keduanya meninggal dunia selalu mendoakan untuk keduanya, maka allah akan menulisnya dalam golongan anak yang berbakti. HR. Albaihaqi.
10. Tidak lebih mengutamakan istrinya dari orang tuanya.
Sebagaimana sabda Rasulullah saw :
يا معشر المهاجرين و الأنصار من فضل زوجته على أمه فعليه لعنة الله و الملائكة و الناس أجمعين لا يقبل الله صرفا و لا عدلا إلا أن يتوب إلى الله عز وجل و يحسن إليها يطلب رضاها فرضا الله عز وجل في رضاها و سخط الله جل جلاله في سخطها.  الزواجر.
Wahai kaum muhajirin dan anshor ( ketahuilah ): barang siapa yang lebih mengutamakan istrinya dari ibunya , maka dia akan mendapat laknat Allah , dan para malaikat dan seluruh manusia, niscaya Allah tidak akan menerima amalan fardhu dan sunnahnya, kecuali jika dia bertaubat kepada allah dan berbuat baik kepada ibunya , juga meminta keridhoannya, maka ( ketahuilah ) keridhoan allah terdapat pada keridhoan ibunya , dan kemurkaan Allah terdapat pada kemurkaan ibunya. Azzawajir.
11. Tidak memaksa orang tua untuk memberikan sesuatu yang orang tua tidak mampu atau tidak ingin memberikan kepadanya.
12. Lansung menjawab panggilannya jik dipanggil oleh orang tuanya.
13. Membatalkan sholat sunnah jika orang tua memanggilnya sedangkan sang anak tatkala sholat sunnah , lain halnya jika sholat fardhu maka tidak boleh untuk di batalkannya.
14. Jika dipanggil,  maka jawablah dengan sambutan yang baik , seperti : ( لبيك ) : aku sambut panggilan.
15. Selalu meminta maaf kepada orang tua atas kekurangan hak hak orang tua yang tidak mampu diberikannya.
16. Tinggal satu rumah denga orang tuanya demi menyenangkan hati keduanya, kecuali jika terdapat udzur.
Berdasarkan sabda Rasulullah saw :
نوم الرجل مع أبويه في البيت على أريكته يضحكهما و يضحكانه،  خير من جهاد بالسيف بين الصفين في سبيل الله،  حتى ينقطع. رواه أحمد بن محمد البغدادي
Tidurnya Seorang lelaki dengan kedua orang tuanya dalam satu rumah ,dekat dengan ranjangnya untuk mengajak keduanya tertawa dan keduanya mengajak dirinya tertawa , hal ini lebih baik dari jihad dengan pedang antara dua kelompok pasukan ( muslim dan kafir ) pada jalan allah sampai anggota tubuhnya terputus putus. HR. Ahmad bin Muhammad.
17. Selalu akan izin jika akan bepergian atau keluar rumah.
18. Selalu bermusyawarah dengan orang tua jika akan melakukan sesuatu, tidak hanya berpedoman dengan akal pikirannya sendiri.
19. Tidak berjalan didepannya.
20. Berdiri jika melihat salah satu orang tuanya berdiri , sebagai penghormatan kepadanya.
21. Tidak menyebut2 kebaikan yang telah dilakukan kepada orang tuanya.
22. Tidak menunjukkan wajah cemberut di hadapan orang tuanya.
23. Selalu meminta doa dari orang tuanya, karena doa orang tua terhadap anaknya seperti doa nabi terhadap umatnya.
Sebagaimana sabda Rasulullah saw :
دعاء الوالد لولده كدعاء النبي لأمته.  رواه الديلمي.
Doa orang tua terhadap anaknya seperti doa nabi terhadap umatnya . HR. Dailami.
24. Menziarahi makam kedua orang tua atau salah satunya jika telah meninggal dunia.
Berdasarkan sabda Rasulullah saw :
من زار قبر أبويه أو أحدهما في كل جمعة غفر له،  و كتب برا. رواه البيهقي
Barang siapa yang menziarahi maka kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya pada hari jumat , maka diampuni dosanya dan ditulis sebagai anak yang berbakti. HR. Baihaqi.
25. Menghajikan kedua orang tuanya setelah wafatnya :
Berdasarkan sabda Rasulullah saw :
من حج عن والديه بعد وفاتهما كتب له عتق من النار ، و كان للمحجوج عنهما أجر حجة تامة من غير أن ينقص من أجورهما شيء. رواه البيهقي في شعب الإيمان.
Barang siapa yang Menghajikan kedua orang tuanya setelah keduanya meninggal dunia, maka ia akan ditulis ( dalam golongan yang ) terbebas dari adzab neraka, dan anak yang Menghajikan untuk keduanya juga mendapatkan pahala haji yang sempurna, tanpa terkurangi sedikitpun dari pahala keduanya. HR baihaqi.

( الأنوار المشرفة )

4.9.15

Transaksi (Jual/beli) yang dilarang dalam Islam.

Assalamu’alaikum.. :) Transaksi (Jual/beli) yang dilarang dalam Islam. 1. Mengandung unsur riba. يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al ‘Imron (3) : 130) 2. Jual beli barang haram, dan judi. Allah SWT berfirman: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al Maa-idah (5) : 90) Dalam ayat ini tersirat bahwa khamr, judi, mengadu nasib persembahan berhala itu haram, tanpa kecuali apakah memakan hasilnya, atau pun cara mendapatkannya, bahkan yang menyediakan fasilitasnya. 3. Jual beli anjing, pedukunan dan fasilitas ma’siat. Dalam hadits ditandaskan: عن أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَمَهْرِ الْبَغِيِّ وَحُلْوَانِ الْكَاهِنِ *متفق عليه Dari Abi Mas’id al-Anshari diterangkan bahwa Rasulullah SAW melarang mencari penghasilan dari jual beli anjing, upah perzinahan dan honor perdukunan.  (HR. Bukhori dan Muslim) 4. Yang merugikan orang lain. وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. (QS, Al Baqoroh (2) : 188) 5. Jual beli barang yang haram dimakan. Ulama berbeda pendapat tentang hukum menjual belikan barang yang haram dimakan seperti tulang/ kulit/ lemak/ bulu/ tanduk bangkai, karena ada hadits: عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : بَلَغَ عُمَرَ أَنَّ سَمُرَةَ بَاعَ خَمْرًا فَقَالَ قَاتَلَ اللَّهُ سَمُرَةَ أَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ حُرِّمَتْ عَلَيْهِمُ الشُّحُومُ فَجَمَلُوهَا فَبَاعُوهَا *متفق عليه Ibnu Abbas menerangkan telah sampai berita pada Umar bahwa Samurah menjual khamr. Umar berkata Allah memerangi Samurah. Apakah dia tidak tahu bahwa Rasulullah SAW bersabda: Allah mengutuk orang yahudi karena telah diharamkan atas mereka bangkai kemudian mereka merekayasa lemaknya, lalu mereka jual belikan. (HR. Bukhori dan Muslim) Hadits ini mengandung arti bahwa barang yang haram dimakan dilarang dijual belikan dan dilarang pula memakan hasilnya. Namun merekayasa lemak tersebut mengandung arti untuk dimakan. عن أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الشُّحُومَ فَبَاعُوهَا وَأَكَلُوا أَثْمَانَهَا Dari Abi Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: Allah SWT mengutuk orang yahudi tatkala Allah mengharamkan bangkai lalu mereka jual dan memakan hasil penjualannya. (HR. Bukhori dan Muslim) 6. Muzabanah dan Muhafalah. عن أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رضِيَ اللَّه عنه قَال : نهى رسول اللَّه صلَّى اللَّه علَيهِ وسلَّمَ عن المزَابنةِ والْمحَاقلة Diriwayatkan daripada Abu Said al-Khudri r.a katanya: Rasulullah s.a.w telah melarang muzabanah dan muhaqalah. (HR. Muslim) Muzabanah ialah jual beli buah sebelum matang atau belum jelas ukuran dan kualitasnya. Orang sunda menyebutnya jual kempalangan. Sedangkan Muhafalah ialah menyewa kebun atau ladang dengan hasilnya. Kedua mu’amalah tersebut mengandung unsur spekulasi mana yang paling diuntungkan. Dalam muzabanah terdapat spekulasinya jika buahnya itu tumbuh dengan baik maka pembeli akan untung. Jika ternyata kena hama atau busuk, maka penjual untung pembeli rugi. Oleh karena itu lebih baik menunggu jelas hasilnya. Perhatikan hadits berikut: عن أَبِي هريرةَ رضي اللَّه عنه قَال : قَال رسول اللَّه صلَّى اللَّه علَيه وسلَّم لَا تبتاعوا الثّمار حتَّى يبدو صلَاحها Dari Abi Hurairah. Rasulullah SAW bersabda: Janganlah kamu menjual buah sebelum jelas kualitasnya. (HR. Bukhori dan Muslim) Sedangkan dalam muhafalah, hasil yang bakal diperoleh oleh pemilik tanah tidak jelas, karena tergantung pada musim atau subur dan tidaknya. 7. Menyembunyikan kecacatan barang yang dijual. عن حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : عن النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه علَيه وسلَّم قال الْبَيِّعان بالخيار ما لم يتفَرَّقَا فَإِنْ صدقَا وبيَنا بورِكَ لَهما فِي بيعِهِما وإِن كذبا وكتما محِقَ بركة بَيْعِهِمَا  متفق عليه Diriwayatkan dari Hakim bin Hizam r.a katanya: Nabi S.a.w, bersabda: Penjual dan pembeli diberi kesempatan berfikir selagi mereka belum berpisah. Sekiranya mereka jujur serta memberi penjelasan tentang barang yang dijual belikan, mereka akan mendapat berkat dalam jual beli mereka. Sekiranya mereka menipu dan merahasiakan apa-apa yang harus diterangkan akan terhapus keberkatannya.(hadist riwayat buchori dan muslim ) 8. Membeli barang dengan mencegat harga pasaran. Contohnya tengkulak yang memborong barang dari orang kampung yang tidak mengetahui harga pasar, guna meraih keuntungan yang lebih besar. Cara mu’amalat semacam ini akan mengacaukan harga yang merugikan masyarakat. عنُ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ تُتَلَقَّى السِّلَعُ حَتَّى تَبْلُغَ الْأَسْوَاقَ وَهَذَا لَفْظُ ابْنِ نُمَيْرٍ و قَالَ الْآخَرَانِ إِنَّ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ التَّلَقِّي *متفق عليه Diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a katanya: Sesungguhnya Rasulullah s.a.w melarang menahan barang dagangan sebelum tiba di pasaran. Ini adalah lafazh dari Ibnu Numair. Sedangkan menurut perawi yang lain, sesungguhnya Nabi s.a.w melarang pembelian barang dagangan sebelum dipasarkan. (HR. Bukhori dan Muslim) 9. Jual beli dengan najsy. عن ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ النَّجْش   Hadits dari Ibnu Umar menerangkan bahwa Rasulullah saw melarang transaksi dengan cara najsy. (HR. Bukhori) Najsy ialah berpura-pura membeli barang dengan harga mahal, padahal untuk mengelabui calon pembeli supaya tertarik. Jual beli yang demikian mengandung unsur penipuan. 10. Menawar barang yang sedang ditawar orang lain. Seorang muslim tidak baik menawar barang yang sedang ditawar orang lain, melainkan hendaklah menunggu penawar pertama hingga selesai. Bila yang pertama telah meninggalkannya baru yang kedua mengadakan tawar menawar. عن أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَسُمِ الْمُسْلِمُ عَلَى سَوْمِ أَخِيهِ *  متفق عليه Dari Abi Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: Janganlah sekali-kali seorang muslim menawar barang yang sedang ditawar orang lain. (HR. Muslim) 11. Jual beli janin hewan yang masih dikandung. عن عَبْدِ اللَّهِ بن عمر رضي اللَّه عنْهما : عن رسول اللَّه صلَّى اللَّه عليه وسلّم أنه نهى عن بيع حبل الحبلة  Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a katanya: Nabi s.a.w melarang jual beli Habalil-habalah (janin hewan yang masih dalam kandungan induknya). (HR. Bukhori) 12. Mulamasah dan munabadzah. عن أبي هريرة رضي اللَّه عنه : أنّ رسول اللَّه صلّى اللَّه عليه وسلَّم نهى عن الملامسة والمنابذة Dari Abi Hurairah diterangkan bahwa Rasulullah SAW melarang mulamasah dan munabadzah. (HR. Bukhori dan Muslim) Mulamasah dan munabadzah termasuk jual beli yang mengandung spekulasi juga. Mulamasah seperti menjual pakaian dengan ketentuan mana yang tersentuh harus dibeli. Pembeli tidak bisa menolak harga atau pun menukar barangnya walau kecewa. Sedangkan munabadzah ialah membeli yang terlempar dengan sesuatu. Kedua cara tersebut mengandung unsur judi dan untung-untungan. 13. Bai’atain. عن أَبي سعيد الخدريَّ رضي اللَّه عنه قال : نهانا رسول اللَّه صلّى اللَّه عليه وسلَّم عن بيعتين ولبستين نهى عن الملامسة والمنابذة في البيع Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri r.a katanya: Rasulullah s.a.w melarang kita melakukan dua cara dalam satu jual beli dan dua jenis jual pakaian. Beliau melarang jual beli Mulamasah dan Munabazah. (HR. Bukhori dan Muslim) Sebagian ulama memisahkan pengertian bai’atain dalam hadits dengan mulamasah atau munabadzah. Pengertian bai’atain menurut ulama tetrsebut ialah menetapkan dua harga dalam satu barang dan dalam satu penawaran. Contohnya membedakan harga kredit atau cicilan dengan harga tunai. Biasanya harga cicilan jauh lebih mahal dibanding harga tunai. Cara yang demikian menurut sebagian ulama mengandung unsur riba karena meningkatkan harga atau uang karena penangguhan. Dalam hadits lain ditandaskan: عن أُسامةَ بن زيد رضي اللَّه عنهما : أنّ النَّبيَّ صلَّى اللَّه عليه وسلّم قال إنّما الرّبا في النَسيئة Dari Usamah Bin Zaid diterangkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya riba itu terletak pada penangguhan pembayaran. (HR. Bukhori dan Muslim) Hadits ini dijadikan alasan bahwa menaikkan harga karena penangguhan pembayaran termasuk riba. Tentu saja berbeda dengan penurunan harga akibat mempercepat pembayaran. Penulis : Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus. محمد سلفى بن أبو نوار العيدروس

BIOGRAFI HASAN AL-BASHRI RADHIALLAHU ‘ANHU

Beliau adalah Abu Sa’id al-Hasan bin Abil Hasan al-Bashri, salah satu imam tabi’in terkemuka yang ucapan hikmahnya menyerupai perkataan seorang nabi, seorang yang kafah dan rupawan yang telah menghabiskan seluruh umurnya untuk ilmu dan amal. Nama ayah beliau adalah al-Yasar maula Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu sahabat pilihan dan penulis wahyu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sementara itu, ibu beliau adalah Khoiroh maula Ummul Mukminin Ummu Salamah radhiallahu ‘anhu istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau lahir di masa Khalifah Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu, tepatnya dua tahun terakhir beliau menjadi khalifah. Kelahiran al-Hasan sangat menggembirakan Ummu Salamah radhiallahu ‘anha bahkan sang ibunda (Khoiroh) menyerahkan kepada Ummu Salamah radhiallahu ‘anha untuk memberikan nama pada anaknya. Ummu Salamah radhiallahu ‘anhu pun memberi nama dengan nama yang beliau senangi, al-Hasan. Ummu Salamah radhiallahu ‘anha begitu sangat mencintai al-Hasan sehingga takala sang ibu keluar untuk memenuhi hajat ummul mukminin, maka beliaulah yang mengasuh, mendiamkan tangisnya bila ia menangis, bahkan ia menyusuinya. Karena besarnya kasih sayang Ummu Salamah radhiallahu ‘anha kepada al-Hasan hingga air susunya keluar membasahi kerongkongannya sehingga Ummu Salamah radhiallahu ‘anha menjadi ibu susuan al-Hasan setelah sebelumnya ia adalah ibu bagi seluruh kaum muslimin. Maka tinggallah ia di bawah kepengasuhan. Ummu Salamah radhiallahu ‘anha salah satu istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling banyak ilmunya dan paling banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam, kurang lebih sebanyak 387 hadis telah ia hafal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah seorang wanita yang mampu baca tulis sejak masa jahiliah sehingga al-Hasan kelak akan menjadi seorang pemuda yang gagah, rupawan, dan pemberani yang akan mewarisi warisan nubuwwah berupa ilmu dan amal. Demikian pula kegembiraan itu tampak pada keluarga Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu karena al-Yasar adalah orang yang sangat ia cintai.Setelah al-Hasan mencapai usia baligh, ia dan keluarganya pindah ke Bashrah sehingga ia dikenal sebagai al-Hasan al-Bashri. Al-Imam AAdz-Dzahabi berkata, “Al-Hasan adalah seorang pemuda yang tampan, gagah, dan pemberani.” PUJIAN ULAMA KEPADA HASAN AL-BASHRI Setelah al-Hasan tumbuh menjadi seorang pemuda. Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan kecerdasan kepadanya, maka beliau menimba ilmu kepada para sahabat kibar(senior) seperti Abdullah bin Abbas, Jabir bin Abdillah, Ibnu Umar, Abu Hurairah, dan sejumlah sahabat kibar lainnya radhiallahu ‘anhum. Dengan kemapanan ilmu dan kesungguhan dalam ibadah hal itu semakin menambah keutamaan bagi al-Hasan. Sehingga tidak heran bila Qotadah mengatakan, “Al-Hasan adalah orang yang paling mengetahui tentang halal dan haram. ”Abu Burdah berkata, “Tidaklah aku melihat seorang yang lebih serupa dengan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dibanding beliau. ”Humaid bin Hilal berkata, “Suatu hari Abu Qotadah berwasiat kepada kami, “Tekunilah Syaikh ini, karena aku tidak melihat seorang yang pendapat-pendapatnya lebih mirip dengan pendapatnya Umar selain beliau. ”Anas bin Malik berkata, “Bertanyalah kalian kepada al-Hasan, karena beliau selalu ingat tatkala kami lupa. ”Potret Ibadah Beliau Ibrahim bin Isa al-Yaskuri berkata, “Aku tidak melihat seseorang yang selalu berada dalam kesedihan (takut akhirat ed.) kecuali al-Hasan. Aku tidak melihatnya melainkan seperti seorang yang baru terkena musibah. ”As-Surri bin Yahya berkata, “Adalah al-Hasan selalu berpuasa bidh, puasa pada bulan-bulan haram (mulia), demikian juga puasa Senin dan Kamis. ”Dari Syu’aib ia berkata, “Aku pernah melihat al-Hasan tengah membaca Alquran sedang ia menangis sampai mengalir air matanya membasahi jenggotnya.” Sikap Beliau Terhadap Fitnah Di kala itu, kepemimpinan kaum muslimin jatuh ke tangan seorang pemimpin zalim, al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqofi. Karena kezalimannya banyak kaum muslimin yang dibunuh secara zalim. Sebagian orang tidak sabar melihat kekejaman dan kezaliman pemimpin mereka itu di saat mereka seharusnya memberikan ketaatannya kepada kholifah kaum muslimin. Di antara mereka adalah sebagian kelompok yang dipimpin oeh Ibnu Asy’ats yang tengah merekrut dan menyusun kekuatan untuk mengkudeta pemimpin mereka al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqofi. Di tengah gejolak fitnah besar yang merata semacam itu, seorang muslim akan diuji siapakah di antara mereka yang tetap berada dalam jalan selamat yang ditunjukkan oleh syariat dan tampaklah orang-orang yang tidak sabar lalu meninggalkan syariat. Oleh karena itu, mari kita menimba ilmu dari seorang alim tabi’in tentang bagaimana sikap seorang muslim dalam menghadapi fitnah. Dari Sulaiman bin Ali ar-Rab’i ia berkata, “Tatkala terjadi fitnah Ibnu Asy’ats yang hendak memerangi al-Hajjaj, pergilah Uqbah bin Abdil Ghafir, Abul Jauza, dan Abdullah bin Ghlalib untuk menemui al-Hasan dan meminta fatwa kepada beliau. Mereka memerangi seorang thaghut ini (al-Hajjaj bin Yusuf, pen.) yang telah menumpahkan darah yang haram untuk ditumpahkan, dan merampas harta yang haram untuk dirampas, telah meninggalkan shalat, dan telah melakukan ini dan itu…’ (Mereka menyebutkan semua tindak-tanduk dari al-Hajjaj bin Yusuf). Lalu al-Hasan berkata, ‘Namun, aku berpendapat kalian jangan memeranginya. Karena kalaulah ia adalah suatu hukuman untuk kalian, maka sekali-kali kalian tidak akan mampu menolak hukuman Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan pedang-pedang kalian, namun bila ia adalah musibah dan ujian untuk kalian, maka bersabarlah sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan hukum kepada kalian dan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sebaik-baik yang memutuskan hukum.’ Namun, mereka tidak menggubris perkataan al-Hasan bahkan mengatakan, ‘Apakah kita akan menaati perkataan keledai liar itu..!? (Hajaj)’ Mereka pun tetap nekad keluar bersama Ibnu Asy’ats hingga akhirnya mereka terbunuh semua. ”Beliau juga mengatakan, “Seandainya manusia tatkala diuji dari sisi pemimpinnya mereka mau bersabar, tentu mereka akan mendapat jalan keluarnya. Namun, mereka begitu tergesa-gesa menghunus pedang-pedang mereka. Demi Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidaklah mereka datang dengan membawa kebaikan.” BEBERAPA PERKATAAN MUTIARA HASAN AL-BASHRI Dari Imran bin Khalid bahwa al-Hasan radhiallahu ‘anhu pernah berkata, “Mukmin yang sesungguhnya adalah yang selalu merasa sedih baik di kala pagi maupun sore, karena dia akan selalu di antara dua rasa takut, antara dosa yang sebelumya telah ia perbuat sedang ia tidak atahu apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala akan perbuat kepadanya dan ajal yang akan menjemputnya yang juga ia tidak tahu apa yang akan menimpanya dari kebinasaan. ”Dari Hazm bin Abi Hazm ia mengatakan, “Aku pernah mendengar al-Hasan berkata, ‘Sungguh jelek dua sahabat ini yaitu dinar dan dirham, karena keduanya tidak akan memberi manfaat kepadamu sampai keduanya berpisah darimu’. ”Beliau juga mengatakan, “Tidaklah seorang yang memuliakan dirham kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menghinakannya. ”Dari Zuraik bin Abi Zuraik ia berkata bahwa al-Hasan pernah mengatakan, “Sesungguhnya fitnah apabila datang maka akan diketahui oleh setiap yang alim dan apabila ia lenyap baru diketahui oleh setiap yang jahil.” Wafatnya Beliau Dari Abdul Wahid bin Maimun maulah Urwah bin Zubair radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Datang seorang kepada Ibnu Sirin seraya mengatakan, ‘Aku bermimpi melihat seekor burung mengambil kerikilnya al-Hasan di masjid.’ Lalu Ibnu Sirin berkata, ‘Seandainya yang kamu ucapkan benar maka berarti al-Hasan akan meninggal dunia.’ Tidak berselang lama lalu meninggallah al-Hasan. ”Dari Hisyam bin Hassan, “Kami sedang duduk-duduk bersama Muhammad bin Sirin pada sore hari di hari Kamis. Tiba-tiba datang seorang laki-laki selepas shalat Asar seraya mengabarkan bahwa al-Hasan telah meninggal dunia, maka Muhammad bin Sirin mendoakannya dan sepontan raut mukanya berubah kemudian diam seribu basaha. Beliau tidak berbicara sampai tenggelam matahari. ”Al-Hasan al-Bashri meninggal dunia pada bulan Rajab tahun 110 H dalam usia 88 tahun. Jenazahnya disaksikan oleh semua orang. Ia dishalatkan setelah selesainya shalat Jumat di Bashrah, dan orang-orang berdesak-desakan sampai-sampai shalat Asar tidak ditegakkan di masjid jami’ tersebut. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati al-Hasan al-Bashri dengan rahmat yang luas dan memasukkan kita semuanya ke surga-Nya yang tinggi yang buah-buahnya begitu dekat untuk diraih. Amin.

3.9.15

KISAH RASULULLAH SAW DAN SECAWAN ANGGUR

Dan sesungguhnya, engkau (Muhammad) benar-benar memiliki akhlak yang agung” Di riwayatkan suatu ketika ada seorang lelaki Fakir dari Ahli suffah mendatangi Rasulullah dengan membawa cawan yang di penuhi oleh buah Anggur, di hadiahkan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Rasulullah mengambil cawan itu kemudian memulai memakan nya. Rasulullah memakan Anggur pertama kemudian beliau tersenyum. Rasulullah memakan buah anggur kedua beliaupun tersenyum lagi. Lelaki Fakir tersebut serasa hampir terbang karena saking gembiranya. Sedangkan para Sahabat menunggu, sebab sudah merupakan kebiasaan Rasulullah akan mengajak para sahabat bergabung bersama Rasulullah dalam setiap hadiah yang diberikan kepada beliau. Rasulullah memakan Anggur satu persatu sambil tersenyum, sampai habislah buah anggur yang ada dalam cawan itu. Para Sahabat memandangnya keheranan. Giranglah si lelaki fakir tersebut dengan kegirangan tak terhingga. kemudian ia pergi. Lalu bertanyalah salah seorang Sahabat. “Wahai Rasulullah, Kenapa engkau tidak mengajak kami bergabung makan bersama mu?” Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam tersenyum, lalu menjawab: “Sungguh kalian telah melihat si lelaki fakir sangat kegirangan dengan cawan yang berisi buah Anggur itu. sesungguhnya manakala aku mencicipi buah Anggur tersebut, Aku rasakan Pahit rasanya. Jadi aku tidak mengajak kalian untuk makan bersama, sebab aku khawatir kalian akan menampakkan rasa pahit di wajah kalian sehingga dapat merusak kegembiraan si lelaki fakir tersebut. ” ﻭَﺇِﻧَّﻚَ ﻟَﻌَﻠَﻰ ﺧُﻠُﻖٍ ﻋَﻈﻴﻢ “ Dan sesungguhnya, engkau (Muhammad) benar-benar memiliki akhlak yang agung” (QS Al Qalam [68]: 4). Sesungguhnya engkau benar-benar memiliki budi pekerti yang mulia. Tidak seharus nya apa yang ada di dalam hati kita itu mesti diungkapkan tidak semua apa yang di ungkapkan merupakan maksud yang di kehendaki. Tidak semua apa yang telah di tuliskan adalah kenyataan hidup yang kita lalui. Senyum yang tulus, Hati yang bersih, bergaul dengan baik, jiwa yang Murah, Dan kalimat yang baik. Beginilah hidup mu menjadi indah, Jadilahkanlah Akhlak mu cantik. Semoga bermanfaat Silahkan share ﺁﻟﻠّﻬُﻢَ ﺻَﻠّﯿﮱِ ﯛﺳَﻠّﻢْ ﻋَﻠﮱِ ﺳَﻴّﺪﻧَﺂ ﻣُﺤَﻤّﺪْ ﻭَ ﻋَﻠﮱ ﺁﻝِﺳَﻴّﺪﻧَﺂ ﻣُﺤَﻤَّﺪ "Sirah Nabawiyah"

31.8.15

6 NASEHAT AL ALIM AL ALAMAH AL MUSNIB AL HABIB UMAR BIN HAFIZH BSA

Saat menghadiri pertemuan dengan alim ulama di Gedung Bustanul ‘Asyiqin Solo pada acara Majelis Muwasholah Bainal Ulama’il Muslimin … 1. Carilah guru yang bisa "membawamu" kepada Allah SWT. Guru tidak sekedar menjadi mudarris, namun juga sebagai murobbi, yang bisa mengantarkan kita kepada Allah SWT. Hilang berbagai hijabmu dengan Allah SWT, tebal kema'rifatanmu, sebagaimana para sahabat yang memandang wajah teragung Baginda Nabi Muhammad SAW. 2. Ciri ulama' akhirat salah satunya ialah mereka yang mau memelajari kitab-kitab karangan Imam Al Ghozali, Imam Al Haddad, dan Imam Abdul Wahhab Asy Sya'roni. Sebaliknya, ulama' dunia adalah mereka yang menolak untuk memelajari kitab-kitab ketiga Imam besar itu. 3. Tazkiyyatun nafs itu sangat diperlukan untuk keselamatan kita dalam beragama. Hanya orang-orang ikhlas dalam bergama sajalah yg diselamatkan Allah SWT dari berbagai kesesatan. 4. Sadarlah, kalian semua dimandatkan oleh Allah SWT untuk berdakwah, mengajak orang-orang untuk beriman dan menaati Allah SWT. Apalagi gunanya ilmu kalian jika setelah kalian dapatkan tidak untuk berdakwah mengajak orang-orang kembali kepada Allah SWT?? Jangan main-main, tugas dakwah itu benar-benar dipikulkan Allah SWT kepada kalian. Tentunya jika kalian sadar, kalian akan lebih bersemangat berdakwah, karena "sedang mendapat tugas agung nan mulia dari Allooh SWT". 5. Sesungguhnya para syetan ingin menghalangi kalian dari memelajari ilmu agama, dengan membisikkan provokasi takut miskin. Sebaliknya, para syetan mengajak kalian dengan janji-janji manis untuk meninggalkan ilmu agama dengan lebih memilih ilmu dunia agar kaya. Tolaklah bisikan bodoh itu, atau penyesalan abadi akan menimpamu. Rizqi sudah ditentukan. Dunia ini sementara, dan akhirat kekal abadi. 6. Jadikan kamar rumah kalian terhubung dengan kamarnya Rosulullah SAW. Juga jadikan rumah kalian sebagai panggungnya Rosulullah SAW, jangan jadikan rumah kalian sebagai panggung hiburan musuh-musuhnya Allah SWT. Allahuma soli ala sayidina muhammad nabiyil umiy wa alihi wa shobihi wa salim

Keutamaan Surat Al Mulk.

Keutamaan Surat Al Mulk. و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ وَأَنَّ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ تُجَادِلُ عَنْ صَاحِبِهَا Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Ibnu Syihab dari Humaid bin Abdurrahman bin Auf bahwa ia mengabarkan kepadanya, bahwa QUL HUWALLAHU AHAD itu menyamai sepertiga Qur'an, dan TABAARAKAL LADZI BIYADIHIL MULKU menjadi hujjah bagi orang yang membacanya." (HR. Malik No.436) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عَبَّاسٍ الْجُشَمِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ سُورَةً مِنْ الْقُرْآنِ ثَلَاثُونَ آيَةً شَفَعَتْ لِرَجُلٍ حَتَّى غُفِرَ لَهُ وَهِيَ سُورَةُ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Qatadah dari Abbas Al Jusyami dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Sesungguhnya ada satu surat dalam Al Qur`an yang terdiri dari tiga puluh ayat, dan dapat memberikan syafa'at kepada seseorang hingga dia diampuni, yaitu surat TABAARAKAL LADZII BIYADIHIL MULKU." Abu Isa berkata; Hadits ini hasan. (HR. At Tirmidzi No.2816, Abudaud No.1192, Ibnumajah No.3776, Ahmad No.7634, 7927) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ أَبِي الشَّوَارِبِ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ عَمْرِو بْنِ مَالِكٍ النُّكْرِيُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي الْجَوْزَاءِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ ضَرَبَ بَعْضُ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِبَاءَهُ عَلَى قَبْرٍ وَهُوَ لَا يَحْسِبُ أَنَّهُ قَبْرٌ فَإِذَا فِيهِ إِنْسَانٌ يَقْرَأُ سُورَةَ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ حَتَّى خَتَمَهَا فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي ضَرَبْتُ خِبَائِي عَلَى قَبْرٍ وَأَنَا لَا أَحْسِبُ أَنَّهُ قَبْرٌ فَإِذَا فِيهِ إِنْسَانٌ يَقْرَأُ سُورَةَ تَبَارَكَ الْمُلْكِ حَتَّى خَتَمَهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هِيَ الْمَانِعَةُ هِيَ الْمُنْجِيَةُ تُنْجِيهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdul Malik bin Abu Asy Syawarib telah menceritakan kepada kami Yahya bin 'Amru bin Malik An Nukri dari Ayahnya dari Abul Jauza` dari Ibnu Abbas ia berkata; "Sebagian sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membuat kemah di atas pemakaman, ternyata ia tidak mengira jika berada di pemakaman, tiba-tiba ada seseorang membaca surat TABAARAKAL LADZII BIYADIHIL MULKU (Maha Suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan) ". sampai selesai, kemudian dia datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata; "Wahai Rasulullah sesungguhnya, aku membuat kemahku di atas kuburan dan saya tidak mengira jika tempat tersebut adalah kuburan, kemudian ada seseorang membaca surat TABARAK (surat) Al Mulk sampai selesai, " Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Dia (Al Mulk) adalah penghalang, dia adalah penyelamat yang menyelamatkannya dari siksa kubur." Abu Isa berkata; Dari jalur ini, hadits ini hasan gharib. Dan dalam bab ini, ada hadits dari Abu Hurairah. (HR. At Tirmidzi No.2815) حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ أَخْبَرَنَا أَبُو الزُّبَيْرِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ ضَمْرَةَ عَنْ كَعْبٍ قَالَ مَنْ قَرَأَ تَنْزِيلُ السَّجْدَةَ وَ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ كُتِبَ لَهُ سَبْعُونَ حَسَنَةً وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا سَبْعُونَ سَيِّئَةً وَرُفِعَ لَهُ بِهَا سَبْعُونَ دَرَجَةً Telah menceritakan kepada kami 'Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah mengabarkan kepada kami Abu Az Zubair dari Abdullah bin Dlamrah dari Ka'b ia berkata; Barangsiapa yang membaca ALIF LAAM MIIM TANZIIL (surat As Sajdah) dan TABAARAKALLADZI BIYADIHIL MULKU (surat Al Mulk), maka akan ditulis baginya tujuh puluh kebaikan dan dihapuskan darinya tujuh puluh keburukan, serta dengan surat itu diangkat baginya tujuh puluh derajat. (HR. Ad Darimi No.3275) والحاكم عن ابن عباس قال: وددت أن تبارك الذي بيده الملك في قلب كل مؤمن Ibnu Abbas ra. Berkata : “Saya ingin bahwa surat Tabaaarokalladzi biyadihil mulku itu didalam hati tiap mu’min (ya’ni dihafal oleh setiap orang mu’min).” (R. Al Hakim, di dalam kitab Irsyadul 'Ibad Ilasabilirrosyad – Asy Syeikh Zainuddin Al Malibariy) Penulis: Muhammad Shulfi bin Abunawar Al 'Aydrus. محمد سلفى بن أبو نوار العيدروس

Amal amal berbonus rumah disurga

1. Membangun masjid karena Allah.

Dari Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu 'Anhu, berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا بَنَى اللَّه لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّة

“Siapa yang membangun satu masjid untuk Allah maka Allah akan membangunkan untuknya satu rumah di surga.” (Muttafaq ‘alaih)

2. Membaca surat Al Ikhlas sepuluh kali.

Dari hadits Mu’adz bin Anas Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ قَرَأَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ حَتَّى يَخْتِمَهَا عَشْرَ مَرَّاتٍ بَنَى اللَّهُ لَهُ قَصْرًا فِي الْجَنَّةِ

“Siapa yang membaca Qul Huwallaahu Ahad (Surat Al-Ikhlash) sampai menghatamkannya sebanyak sepuluh kali niscaya Allah bangunkan untuknya istana di surga.” (HR Ahmad dari Mu’adz bin Anas al-Juhani)

3. Memuji Allah dan beristirja’ saat diuji dengan kematian anak.

Dari Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu 'Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

إِذَا مَاتَ وَلَدُ الْعَبْدِ قَالَ اللَّهُ لِمَلَائِكَتِهِ قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِي فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيَقُولُ قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيَقُولُ مَاذَا قَالَ عَبْدِي فَيَقُولُونَ حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ فَيَقُولُ اللَّهُ ابْنُوا لِعَبْدِي بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَسَمُّوهُ بَيْتَ الْحَمْدِ

“Apabila anak seorang hamba meninggal dunia, Allah berfirman kepada MalaikatNya, “Kalian telah mencabut nyawa anak hamba-Ku?” Mereka berkata, “Benar.” Allah berfirman, “kalian telah mencabut nyawa buah hatinya?” Mereka menjawab, “Benar.” Allah berfirman, “Apa yang diucapkan oleh hamba-Ku?” Mereka berkata, “Ia memuji-Mu dan mengucapkan istirja’ (Innaa Lilaahi Wa Innaa Ilaihi Raaji’uun).” Allah berfirman, “Bangunkan untuk hamba-Ku rumah di surga dan namai ia Rumah Pujian.” (HR. Al-Tirmidzi dan beliau menghasankannya)

4. Membaca doa masuk pasar.

Dari Umar bin al-Khathab Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ دَخَلَ السُّوقَ فَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ وَبَنَى لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa masuk pasar lalu ia mengucapkan, “Laa Ilaaha Illallaahu wahdahu Laa Syariikalahu, Lahul Mulku Walahul Hamdu, Yuhyii, Wayumiitu, Wahuwa Hayyun Laa Yamuutu, Biyadihil Khairu, Wahuwa ‘alaa Kulli Syai-in Qadiir” niscaya Allah menuliskan baginya sejuta kebaikan, menghapuskan darinya sejuta kejelekan, mengangkat derajatnya hingga sejuta derajat, dan membangunkan untuknya rumah di surga”." (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim)

5. Menutup celah barisan shaf shalat.

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu 'Anha, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ سَدَّ فُرْجَةً بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتاً فِي الْجَنَّةِ وَ رَفَعَهُ بِهَا دَرَجَةً

“Siapa menutup celah (pada barisan shalat) niscaya Allah bangunkan untuknya rumah di surga dan mengangkat derajatnya dengan perbuatannya itu.” (HR. Al-Muhamili dalam Amaalinya)

6. Menjaga shalat-shalat sunah rawatib dua belas rakaat.

Dari Ummu Habibab Radhiyallahu 'Anha, berkata: Aku Mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Siapa yang shalat 12 rakaat dalam sehari semalam niscaya dibangunkan untuknya rumah di surga.” (HR. Muslim)

Shalat 12 raka’at itu adalah empat rakaat sebelum Dzuhur & dua rakaat sesudahnya, dua raka’at sesudah maghrib, dua rakaat setelah ‘Isya, dan dua rakaat sebelum Shubuh sebagaimana yang terdapat dalam hadits ‘Aisyah dalam Sunan al-Tirmidzi dan Ibnu majah)

7. Mengerjakan shalat dhuha dua belas rakaat.

وقال صلى الله عليه وسلم: {مَنْ صَلَّى الضُّحَى ثِنَتيْ عَشرةَ رَكْعَةً إيمانا واحْتِسَابا كَتَبَ الله لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ ورَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ وَبَنى الله لَهُ بَيْتا في الجَنَّةِ وَغَفَرَ الله لَهُ ذُنُوبَه كُلَّها

Nabi Muhammad saww. bersabda : “Barangsiapa mengerjakan shalat dhuha sebanyak duabelas roka’at dengan iman dan mengharapkan pahala, maka Allah Ta’ala menetapkan baginya sejuta kebaikan, menghapus daripadanya sejuta kejelekan, mengangkat baginay sejuta derajat, dan Allah membangunkan baginya sebuah rumah disurga dan Allah mengampuni dosa-dosa orang itu seluruhnya.”. (Kitab Lubabul Hadits)

8. Iman, islam, hijrah dan berjihad fi sabilillah.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

أَنَا زَعِيمٌ وَالزَّعِيمُ الْحَمِيلُ لِمَنْ آمَنَ بِي وَأَسْلَمَ وَهَاجَرَ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ وَأَنَا زَعِيمٌ لِمَنْ آمَنَ بِي وَأَسْلَمَ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى غُرَفِ الْجَنَّةِ مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَلَمْ يَدَعْ لِلْخَيْرِ مَطْلَبًا وَلَا مِنْ الشَّرِّ مَهْرَبًا يَمُوتُ

حَيْثُ شَاءَ أَنْ يَمُوتَ

“Aku menjamin orang yang beriman kepadaku, masuk islam dan berhijrah dengan sebuah rumah di pinggir surga, di tengah surga, dan surga yang paling tinggi. Aku menjamin orang yang beriman kepadaku, masuk Islam dan berjihad dengan rumah di pinggir surga, di tengah surga dan di surga yang paling tinggi. Barangsiapa yang melakukan itu, ia tidak membiarkan satupun kebaikan, dan lari dari semua keburukan, ia meninggal, di mana saja Dia kehendaki untuk meninggal.” (HR. Al-Nasai, Ibnu Hibban dan Al Hakim)

9. Menghindari debat walaupun dalam posisi yang benar.

10. Meninggalkan dusta dalam becanda.

11. Berakhlak mulia.

Dari Abu Umamah Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِى رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِى وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِى أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَه

“Aku menjamin sebuah rumah di pinggir jannah (surga) bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan berkepanjangan meskipun ia dalam posisi yang benar, juga sebuah rumah di tengah jannah bagi siapa saja yang meninggalkan berbohong walaupun ia sedang bercanda, serta sebuah rumah di puncak jannah bagi siapa saja yang berakhlak mulia.”(HR. Abu D awud, al-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Penulis: Muhammad Shulfi bin Abunawar Al 'Aydrus.

محمد سلفى بن أبو نوار العيدروس