23.9.15
Wali Allah Dari Kota Fas (Maroko)
العطاس حبيب محمد علي > TARIQAH BA ALAWI (Tarekat Kaum Sufi)
Wali Allah Dari Kota Fas (Maroko)
Kota Fas rupanya beruntung sekali karena pernah melahirkan seorang ulama sufi & wali Allah yang namanya semerbak di dunia sufi pada tahun 596 H. Sang sufi yang mempunyai nama lengkap Ahmad bin Ali Ibrahim bin Muhammad bin Abi Bakr al-Badawi ini ternyata termasuk zurriyyah baginda Nabi, karena nasabnya sampai pada Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Talib, suami sayyidah Fatimah binti sayyidina Nabi Muhammad SAW.
Keluarga Badawi sendiri bukan penduduk adhari purawan asli Fas (sekarang termasuk kota di Maroko). Mereka berasal dari Bani Bara, suatu kabilah Arab di Syam sampai akhirnya tinggal di Negara Arab paling barat ini. Di sinilah Badawi kecil menghafal al-Qur'an mengkaji ilmu-ilmu agama khususnya fikih madzhab syafi'i. Pada tahun 609 H ayahnya membawanya pergi ke tanah Haram bersama saudara-saudaranya untuk melaksanakan ibadah haji. Mereka tinggal di Makkah selama beberapa tahun sampai ajal menjemput sang ayah pada tahun 627 H dan dimakamkan di Ma'la.
Setiap hari, dari pagi hingga sore, ia menatap matahari, sehingga kornea matanya merah membara. Apa yang dilihatnya bisa terbakar, khawatir terjadinya hal itu, saat berjalan ia lebih sering menatap langit, bagaikan orang yang sombong. Sejak masa kanak kanak, ia suka berkhalwat dan riyadhoh, pernah empat puluh hari lebih perutnya tak terisi makanan dan minuman. Ia lebih memilih diam dan berbicara dengan bahasa isyarat, bila ingin berkomunikasi dengan seseorang. Ia tak sedetikpun lepas dari kalimat toyyibah, berdzikir dan bersholawat. Dalam perjalanan riyadhohnya, ia pernah tinggal di loteng negara Thondata selama 12 tahun, dan selama 8 tahun ia berada diatas atap, riadhoh siang dan malam. Ia hidup pada tahun 596-675 H dan wafat di Mesir, makamnya di kota Tonto, setiap waktu tak pernah sepi dari peziarah.
Pada usia dini ia telah hafal Al-Qur’an, untuk memperdalam ilmu agama ia berguru kepada Syeikh Abdul Qadir al-Jailani dan syeikh Ahmad Rifai. Ia adalah Waliullah Qutbol Gaust, Assayyid, Assyarif Ahmad al Badawi. Suatu hari, ketika sang Murid telah sampai ketingkatannya, Sjech Abdul Qodir Jaelani, menawarkan kepadanya ; ”Manakah yang kau inginkan ya Ahmad Badawi, kunci Masriq atau Magrib, akan kuberikan untukmu”, hal yang sama juga diucapkan oleh gurunya Sayyid Ahmad Rifai, dengan lembut, dan menjaga tatakrama murid kepada gurunya, ia menjawab; ”Aku tak mengambil kunci kecuali dari Al Fattah (Allah )”.
Suatu hari datang kepadanya, seorang janda mohon pertolongan, anak lelakinya ditahan di Perancis, dan sang ibu ingin agar anak itu kembali dalam keadaan selamat. Oleh Sayyidi Ahmad Al Badawi, janda itu disuruhnya untuk pulang, dan berkata sayidi : “Insya Allah anak ibu sudah berada dirumah”. Bergegas sang ibu menuju rumahnya, dan betapa bahagia, bercampur haru, dan penuh keheranan, ia dapati anaknya telah berada di rumah dalam keadaan terbelenggu. Sayyidi al badawi banyak menolong orang yang ditahan secara Dholim oleh penguasa Prancis saat itu, dan semua pulang ke rumahnya dalam keadaan tangannya tetap terbelenggu.
Pernah suatu ketika Syaikh Ibnul labban mengumpat Sayyidi Ahmad Badawi, seketika itu juga hafalan Al-Qur’an dan iman Syaikh Ibnul labban menjadi hilang. Ia bingung dan berusaha dengan beristighosah dan meminta bantuan do’a, orang orang terkemuka di zaman itu (agar ilmu dan imannya kembali lagi), tetapi tidak satupun dari yang dimintainya doa, berani mencampuri urusannya, karena terkait dengan Sayyidi Ahmad Badawi. Padahal diriwayatkan, saat itu Sayyidi Al Badawi telah wafat. Orang terkemuka yang dimintainya doa, hanya berani memberi saran kepada Syaikh Ibnul labban, agar dia menghadap Syeikh Yaqut al-‘Arsyiy, waliullah terkemuka pada saat itu, dan kholifah sayyidi abil hasan Assadzili. Ibnu labban segera menemui Sjech Yaqut dan minta pertolongannya, dalam urusannya dengan sayyidi Ahmad Al badawi.
Setelah dimintai pertolongan oleh Syaikh Ibnul labban, Syeikh Yaqut Arsyiy berangkat menuju ke makam Sayyidi al-Badawi dan berkata : “ Wahai guru, hendaklah tuan memberi ma’af kepada orang ini!”. Dari dalam makamnya, terdengar jawaban “Apakah kamu berkehendak untuk mengembalikan tandanya orang miskin itu ? ya…sudah, tapi dengan syarat ia mau bertaubat”. Syeikh Ibbnul Labbanpun akhirnya bertaubat, dan tidak lama kemudian kembalilah ilmu dan imannya seperti sedia kala dan ia juga mengakui kewalian Syeikh Yaqut, karena peristiwa tersebut. Ia kemudian dinikahkan dengan putrinya Syeikh Yaqut. (Di ambil dari kitab al-Jaami’).
Syeikh Muhammad asy-Syanwani menceritakan, bahwa pada waktu itu ada orang yang tidak mau menghadiri dan bahkan mengingkari peringatan maulidnya Syeikh Ahmad Badawi, maka seketika hilanglah iman orang itu dan menjadi merasa tidak senang terhadap agama Islam. Orang itu kemudian berziarah ke makamnya Sayyid Badawi untuk minta tolong dan memohon maaf atas kesalahannya. Kemudian terdengarlah suara sayyidi Badawi dari dalam kubur : “iya, saya ma’afkan, tapi jangan berbuat lagi. Na’am (iya) jawab orang itu, spontan imannya kembali lagi. Beliau lalu meneruskan ucapannya : “Apa sebabnya kamu mengingkari kami semua”.
Dijawabnya : “Karena di dalam acara itu banyak orang laki-laki dan perempuan bercampur baur menjadi satu” (tanpa ada garis pembatas). Sayyidi Badawi lalu mengatakan : “Di tempat thowaf sana, dimana banyak orang yang menunaikan ibadah haji disekitar Ka’bah, mereka juga bercampur laki-laki dan perempuan, kenapa tidak ada yang melarang”. Demi mulianya Tuhanku, orang-orang yang ada untuk menghadiri acara maulidku ini tidaklah ada yang menjalankan dosa kecuali pasti mau bertaubat dan akan bagus taubatnya. Hewan-hewan di hutan dan ikan-ikan di laut, semua itu dapat aku pelihara dan kulindungi diantara satu dengan lainnya sehingga menjadi aman dengan idzin Allah. Lalu, apakah kiranya Allah Ta’ala, tidak akan memberi aku kekuatan untuk mampu menjaga dan memelihara keamanannya orang-orang yang menghadiri acara maulidku itu ?”
Suatu ketika Ibnu Daqiq al-'Id mengutus Abdul Aziz al- Darini untuk menguji Ahmad Badawi dalam berbagai permasalahan. Dengan tenang dia menjawab, "Jawaban pertanyaan-pertanyaan itu terdapat dalam kitab “Syajaratul Ma'arif” karya Syaikh Izzuddin bin Abdus Salam.
Suatu ketika pula, Syeikh Ibnu Daqiqil berkumpul dengan Sayyidi Badawi, dan ia bertanya kepada beliau : “Mengapa engkau tidak pernah sholat, yang demikian itu bukanlah perjalanannya para shalihin“. Lalu beliau menjawab : “Diam kamu! Kalau tidak mau diam aku hamburkan daqiqmu (tepung)”. Dan di tendanglah Syeikh Daqiqil oleh beliau hingga berada disuatu pulau yang luas dalam kondisi tidak sadarkan diri. Setelah sadar, iapun termangu karena merasa asing dengan pulau tersebut. Dalam kebingungannya, datanglah seorang lelaki menghampirinya dan memberi nasehat agar jangan mengganggu orang type al-Badawi, dan sekarang kamu berjalanlah menuju qubah yang terlihat itu, nanti jika sudah tiba di sana kau berhentilah di depan pintu hingga menunggu waktu ‘ashar dan ikutlah shalat berjamaah dibelakangnya imam tersebut, sebab nanti Ahmad Badawi akan ikut di dalamnya.
Setelah bertemu dia ucapkanlah salam, peganglah lengan bajunya dan mohonlah ampun atas ucapanmu tadi. Ia menuruti kata-kata orang itu yang tidak lain adalah Nabiyullah Khidir a.s. Setelah semua nasehatnya dilaksanakan, betapa terkejutnya ia karena yang menjadi imam sholat waktu itu adalah Sayyidi Badawi. Setelah selesai sholat ia langsung menghampiri dan menciumi tangan dan menarik lengan Sayyidi al-Badawi, sambil berkata seperti yang diamanatkan orang tadi. Dan berkatalah Sayyidi Badawi sambil menendang Syeikh Daqiqil,” Pergilah sana murid-muridmu sudah menantimu dan jangan kau ulangi lagi!. Seketika itu juga ia sudah sampai di rumahnya dan murid-muridnya telah menunggu kedatangan Syeikh Daqiqil. Dijelaskan bahwa yang menjadi makmum sholat berjamaah dengan Sayyidi Badawi pada kejadian itu adalah para wali.
Syekh Imam al Munawi berkata : “Ada seorang Syeikh yang setiap akan bepergian selalu berziarah di makamnya Syeikh Ahmad al Badawi untuk minta ijin, lalu terdengar suara dari dalam kubur dengan jelas :”Ya pergilah dengan tawakkal, Insya Allah niatmu berhasil, kejadian tersebut didengar juga oleh Syeikh abdul wahab Assya’roni, padahal saat itu Syeikh Ahmad al Badawi sudah meninggal 200 tahun silam, jadi para aulia’ itu walaupun sudah meninggal ratusan tahun, namun masih bisa emberi petunjuk.
Berkata Syeikh Muhammad al-Adawi : Setengah dari keindahan keramat beliau ialah, pada saat banyaknya orang yang ingin berusaha membatalkan peringatan maulidnya beliau, dimana orang-orang tersebut menghadap dan meminta kepada Syeikh Imam Yahya al-Munawiy agar beliau mau menyetujuinya. Sebagai orang yang berpengaruh dan berpendirian kuat pada masa itu, Syeikh Yahya tidak menyetujuinya, akhirnya orang-orang tersebut melapor kepada sang raja azh-Zhohir Jaqmaq. Sang rajapun berusaha membujuk agar Syeikh Yahya bersedia memberi fatwa untuk membatalkan maulidnya Sayyidi Badawi. Akan tetapi Syeikh Yahya tetap tidak mau dan hanya bersedia memberikan fatwa melarang keharaman-haraman yang terjadi di acara itu. Maka acara maulid tetap dilaksanakan seperti biasa. Dan Syeikh Yahya bekata kepada sang raja: “Aku tetap tak berani sama sekali berfatwa yang demikian, karena Sayyidi Badawi adalah wali yang agung dan seorang fanatik (malati = bahasa jawanya). Hai raja, tunggu saja, kamu akan tahu akibat bahayanya orang-orang yang berusaha menghilangkan peringatan maulid Sayyidi Badawi.
Memang benar, tak lama kemudian mereka yang bertujuan menghilangkan peringatan maulid Sayyidi Badawi tertimpa bencana. Orang-orang tersebut ada yang dicopot jabatannya dan diasingkan oleh rajanya. Ada yang melarikan diri ke Dimyath akan tetapi kemudian ditarik kembali dan diberi pengajaran, dirantai dan dipenjara selama setengah bulan. Bahkan diantara mereka yang mempunyai jabatan tinggi dikerajaan itu lalu banyak yang ditangkap, disidang dengan kelihatan terhina, disiksa dan diborgol besi di depan majlis hakim syara’ lalu dihadapkan raja yang kemudian dibuang di negara Maghrib.
Sayyidi Ahmad Badawi pernah berkata kepada seseorang : “Bahwa pada tahun ini hendaknya kamu menyimpan gandum yang banyak yang tujuanmu nanti akan kau berikan kepada para fakir miskin, sebab nanti akan terjadi musim paceklik pangan. Kemudian orang tadi menjalankan apa yang diperintahkan beliau, dan akhirnya memang terbukti kebenaran ucapan Sayyidi Badawi.
Berkata al-Imam Sya’roni : “Pada tahun 948 H aku ketinggalan tidak dapat menghadiri acara maulidnya Sayyidi Badawi. Lalu ada salah satu aulia’ memberi tahu kepadaku bahwa Sayyidi Badawi pada waktu peringatan itu memperlihatkan diri di makamnya dan bertanya : “Mana Abdul Wahhab Sya’roni, kenapa tidak datang ?” Pada suatu tahun, al-Imam Sya’roni juga pernah berkeinginan tidak akan mendatangi maulid beliau. Lalu aku melihat beliau memegang pelepah kurma hijau sambil mengajak orang-orang dari berbagai negara. Jadi orang-orang yang berada dibelakangnya, dikanan dan kirinya banyak sekali tak terhingga jumlahnya.
Terus beliau melewati aku di Mesir, sayyidi Badawi berkata : “Kenapa kamu tidak berangkat ?”. Aku sedang sakit tuan, jawabku. Sakit tidak menghalang-halangi orang cinta. Terus aku diperlihatkan orang banyak dari para aulia’dan para masayikh, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat, dan orang-orang yang lumpuh semua berjalan dengan merangkak dan memakai kain kafannya, mereka mengikuti dibelakang sayyidi Badawi menghadiri maulid beliau. Terus aku juga diperlihatkan jama’ah dan sekelompok tawanan yang masih dalam keadaan terbalut dan terbelenggu juga ikut datang menghadiri maulidnya. Lalu beliau berkata: lihatlah ! itu semua tidak ada yang mau ketinggalan, akhirnya aku berkehendak untuk mau menghadiri, dan aku berkata : Insya Allah aku hadir tuan guru ?. Kalau begitu kamu harus dengan pendamping, jawab sayyidi Badawi.
Kemudian beliau memberi aku dua harimau hitam besar dan gajah, yang dijanji tidak akan berpisah denganku sebelum sampai di tempat. Peristiwa ini kemudian aku ceritakan kepada guruku Syeikh Muhammad asy-Syanawi, beliau lalu menjelaskan: memang pada umumnya para aulia’ mengajak orang-orang itu dengan perantaraan, akan tetapi sayyidi Ahmad Badawi langsung dengan sendirinya menyuruh orang-orang mengajak datang. Sungguh banyak keramat beliau, hingga al-Imam Sya’roni mengatakan,”Seandainya keajaiban atau keramat-keramat beliau kalau ditulis di dalam buku tidaklah akan muat karena terlalu banyaknya. Tetapi ada peninggalan Syeikh ahmad Badawi yang sangat utama, yaitu bacaan sholawat badawiyah sughro dan sholawat badawiyah kubro. Demikianlah sekelumit manakib Sayyidi Ahmad Al Badawi disajikan kehadapan pembaca, untuk dapat diambil hikmahnya, DUSTUR YA SAYYIDI AHMAD AL BADAWI
Al-kisah ada seorang Syaikh yang hendak bepergian. Sebelum bepergian dia meminta pendapat pada Syaikh al-Badawi yang sudah berbaring tenang di alam barzakh.
"Pergilah, dan tawakkallah kepada Allah SWT"tiba-tiba terdengar suara dari dalam makam Syekh Badawi. Syaikh Sya'roni berkomentar, "Saya mendengar perkataan tadi dengan telinga saya sendiri ".
Tersebut Syaikh Badawi suatu hari berkata kepada seorang laki-laki yang memohon petunjuk dalam berdagang. "Simpanlah gandum untuk tahun ini. Karena harga gandum nanti akan melambung tinggi, tapi ingat, kamu harus banyak bersedekah pada fakir miskin”. Demikian nasehat Syekh Badawi yang benar-benar dilaksanakan oleh laki-laki itu. Setahun kemudian dengan izin Allah kejadiannya terbukti benar.
Perjalanan selanjutnya adalah Mesir negeri para nabi dan ahli bait. Badawi masuk Mesir pada tahun 34 H. Di sana ia bertemu dengan al-Zahir Bibers dengan tentaranya. Mereka menyanjung dan memuliakan sang wali ini. Namun takdir menyuratkan lain, ia harus melanjutkan perjalanan menuju tempat yang dimaksud oleh bisikan gaib, Thantha, satu kota yang banyak melahirkan tokoh-tokoh dunia. Di sana ia menjumpai para wali, seperti Syaikh Hasan al-Ikhna`I, Syaikh Salim al- Maghribi dan Syaikh Salim al-Badawi. Di sinilah ia menancapkan dakwahnya, menyeru pada agama Allah, takut dan senantiasa berharap hanya kepada-Nya. Badawi yang alim
Dalam perjalanan hidupnya sebagai anak manusia ia pernah dikenal sebagai orang yang pemarah, karena begitu banyaknya orang yang menyakit. Tapi rupanya keberuntungan dan kebijakan berpihak pada anak cucu Nabi ini. Marah bukanlah suatu penyelesaian terhadap masalah bahkan menimbulkan masalah baru yang bukan hanya membawa madarat pada orang lain, tapi diri sendiri. Diam, menyendiri, merenung, itulah sikap yang dipilih selanjutnya. Dengan diam orang lebih bisa banyak mendengar. Dengan menyendiri orang semakin tahu betapa rendah, hina dan perlunya diri ini akan gapaian tangan-tangan Yang Maha Asih. Dengan merenung orang akan banyak memperoleh nilai-nilai kebenaran. Dan melalui sikap yang mulia ini ia tenggelam dalam zikir dan belaian Allah SWT.
Laksana laut, diam tenang tapi dalam dan penuh bongkahan mutiara, itulah al-badawi. Matbuli dalam hal ini memberi kesaksian, "Rasulullah SAW bersabda kepadaku, " Setelah Muhammad bin Idris as-Syafiiy tidak ada wali di Mesir yang fatwanya lebih berpengaruh daripada Ahmad Badawi, Nafisah, Syarafuddin al-Kurdi kemudian al-Manufi.
Wafat
Pada tahun 675 H sejarah mencatat kehilangan tokoh besar yang barangkali tidak tergantikan dalam puluhan tahun berikutnya. Syekh Badawi, pecinta ilahi yang belum pernah menikah ini beralih alam menuju tempat yang dekat dan penuh limpahan rahmat-Nya. Setelah dia meninggal, tugas dakwah diganti oleh Syaikh Abdul 'Al sampai dia meninggal pada tahun 773 H.
Beberapa waktu setelah kepergian wali pujaan ini, umat seperti tidak tahan, rindu akan kehadiran, petuah-petuahnya. Maka diadakanlah perayaan hari lahir Syaikh Badawi. Orang-orang datang mengalir bagaikan bah dari berbagai tempat yang jauh. Kerinduan, kecintaan, pengabdian mereka tumpahkan pada hari itu pada sufi agung ini. Hal inilah kiranya yang menyebabkan sebagian ulama dan pejabat waktu itu ada yang berkeinginan untuk meniadakan acara maulid. Tercatat satu tahun berikutnya perayaan maulid syekh Badawi ditiadakan demi menghindari penyalahgunaan dan penyimpangan akidah. Namun itu tidak berlangsung lama, hanya satu tahun. Dan tahun berikutnya perayaan pun digelar kembali sampai sekarang. Wallahu `a'lam.
14.9.15
Keutamaan bulan Dzulhijjah
Keutamaan bulan Dzulhijjah.
حَدَّثَنَا هَنَّادٌ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ مُسْلِمٍ هُوَ الْبَطِينُ وَهُوَ ابْنُ أَبِي عِمْرَانَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ وَفِي الْبَاب عَنْ ابْنِ عُمَرَ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو وَجَابِرٍ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ
Telah menceritakan kepada kami Hannad telah menceritakan kepada kami Abu Mu'wiyah dari Al A'masy dari Muslim dia adalah Al Bathin yaitu Ibnu Abu Imran dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas berkata, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda: " Tidak ada hari-hari untuk berbuat amal shalih yang lebih Allah cintai kecuali sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah, " para shahabat bertanya, wahai Rasulullah, sekalipun Jihad fi sabilillah?, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam menjawab: "Sekalipun jihad fi sabilillah, kecuali seorang lelaki yang pergi berjihad dengan harta dan jiwanya lalu tidak kembali sedikitpun dari keduanya." Dalam bab ini (ada juga riwayat -pent) dari Ibnu Umar, Abu Hurairah, Abdullah bin Amru dan Jabir. Hadits Ibnu Abbas merupakan hadits hasan shahih gharib. (HR. At Tirmidzi No.688, Abu Daud No.2082, Ibnu Majah No.1717, dan Ahmad No.1867)
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ نَافِعٍ الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنَا مَسْعُودُ بْنُ وَاصِلٍ عَنْ نَهَّاسِ بْنِ قَهْمٍ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ أَيَّامٍ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ أَنْ يُتَعَبَّدَ لَهُ فِيهَا مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ يَعْدِلُ صِيَامُ كُلِّ يَوْمٍ مِنْهَا بِصِيَامِ سَنَةٍ وَقِيَامُ كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْهَا بِقِيَامِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ مَسْعُودِ بْنِ وَاصِلٍ عَنْ النَّهَّاسِ قَالَ وَسَأَلْتُ مُحَمَّدًا عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ فَلَمْ يَعْرِفْهُ مِنْ غَيْرِ هَذَا الْوَجْهِ مِثْلَ هَذَا و قَالَ قَدْ رُوِيَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرْسَلًا شَيْءٌ مِنْ هَذَا وَقَدْ تَكَلَّمَ يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ فِي نَهَّاسِ بْنِ قَهْمٍ مِنْ قِبَلِ حِفْظِهِ
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Nafi' Al Bashri telah menceritakan kepada kami Mas'ud bin Washil dari Nahhas bin Qahm dari Qatadah dari Sa'id bin Al Musayyib dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: " Tidak ada hari-hari yang lebih Allah sukai untuk beribadah selain sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah, satu hari berpuasa didalamnya setara dengan setahun berpuasa dan satu malam mendirikan shalat malam setara dengan shalat pada malam lailatul qadar." Abu 'Isa berkata, ini adalah hadits gharib yang tidak kami ketahui kecuali dari hadits Mas'ud bin Washil dari Nahhas. Dia berkata, saya bertanya kepada Muhammad tentang hadits ini, namun dia tidak mengetahuinya selain dari jalur ini, dia juga berkata, Qotadah telah meriwayatkan hadits ini dari Sa'id bin Al Musayyib dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wasallam secara mursal dan Yahya bin Sa'id telah mencela Nahhas bin Qahm dari segi hapalannya. (HR. At Tirmidzi No.689 dan Ibnu Majah No.1718)
حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي زِيَادٍ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ الْعَمَلِ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنْ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ
Telah menceritakan kepada kami Affan telah menceritakan kepada kami Abu Awanah telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abi Ziyad dari Mujahid dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Tidak ada satu hari yang pahala dihari itu lebih besar di sisi Allah dan beramal di hari itu lebih dicintai di sisi Allah daripada sepuluh hari ini (10 hari pertama dibulan Dzulhijjah). Oleh sebab itu perbanyaklah kalian bertahlil, bertakbir dan bertahmid". (HR. Ahmad No.5189)
Penulis : Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus.
محمد سلفى بن أبو نوار العيدروس
10.9.15
Ingin Doa Anda Cepat Terkabul??? Mintalah Doa pada Ibumu
Ingin Doa Anda Cepat Terkabul??? Mintalah Doa pada Ibumu
Berbahagialah jika saat ini Anda masih tinggal dengan orang tua yang lengkap. Jangan pernah lupa mencium tangan mereka dan meminta doa restu saat Anda akan melakukan sesuatu.
Walaupun... tanpa diminta sekalipun, Anda sudah ada di dalam lantunan doa-doa mereka.
Mintalah doa pada ibumu, jangan kau kira doa seorang ibu itu biasa-biasa saja. Perlu kau tahu bahwa doa seorang ibu itu begitu luar biasa. Namun kadang kita sebagai anak malah menjelek-jelekkan orang tua. Malah durhaka padanya. Dalam sebuah hadits disebutkan,
ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ يُسْتَجَابُ لَهُنَّ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ
“Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang yang dizholimi, doa orang yang bepergian (safar) dan doa baik orang tua pada anaknya.”
(HR. Ibnu Majah no. 3862, hasan).
Imam al-Lalika`iy meriwayatkan di dalam kitabnya Syarh as-Sunnah dan Ghanjar di dalam kitabnya Taariikh Bukhaara mengisahkan sebagai berikut: ”Sejak kecil Imam al-Bukhari kehilangan penglihatan pada kedua matanya alias buta.
Suatu malam di dalam mimpi, ibunya melihat Nabi Allah, Al Khalil, Ibrahim ‘alaihis salam yang berkata kepadanya, ‘Wahai wanita, Allah telah mengembalikan penglihatan anakmu karena begitu banyaknya kamu berdoa.
” Pada pagi harinya, ia melihat anaknya dan ternyata benar, Allah telah mengembalikan penglihatannya.
(Asy-Syifa` Ba’da Al-Maradh karya Ibrahim bin ‘Abdullah al-Hazimy sebagai yang dinukilnya dari kitab Hadyu as-Saary Fi Muqaddimah Shahih al-Bukhari karya al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalany.
Luar biasa, doa seorang ibu. Imam Bukhari salah satu bukti doa ampuh ibunya. Coba adek pikirkan, dan praktekkan. Berbuat baiklah pada ibu dan minta terus doa baik darinya.semoga jadi orang yang sukses dunia dan akhirat.
Ada pepatah mengatakan :
"Berikan aku seribu ulama untuk mendoakan aku, maka doa ibukulah yang lebih mustajabah "
Ya Allah...
7.9.15
SEJARAH KOTA HADHRAMAUT DAN TARIM
oleh Al-Habib Muhammad Rafiq bin Luqman Al-Kaff
Hadhramaut adalah nama satu kota
di Yaman Selatan pengarang
Kitab At-Tahzib mengatakan bahwa:
“Hadhramaut adalah satu nama kota, yang berada
di Yaman dan nama ini juga dipakai bagi nama
satu Qabilah dari salah satu suku arab Yaman”
Al-Imam Al-Qazuwayny Ra lebih jauh
menerangkan di dalam Kitab Aja’ib Al-Buldan:
“Hadhramaut berada di tengah Negeri Yaman terdiri dari dua kota, salah satunya adalah Syibam dan yang lainnya adalah Ar-Ras adapun sebab dinamakan dengan Hadhramaut (yang dalam definisi Lughah berarti ;”menghadiri kematian”) diriwayatkan bahwa ada seorang Sholih yang hendak dicelakai oleh kaumnya yang zhalim kemudian ia pergi bersama pengikutnya ke daerah ini maka tatkala ia telah sampai ia pun Wafat ditempat yang sekarang dinamai “Hadhramaut”, sedangkan Al-Mubarrad berpendapat bahwa Hadhramaut adalah nama “Amir” dari nenek moyang orang Yaman yang bila berperang sangatlah banyak membunuh orang sehingga musuh-musuhnya berkata;”Barang siapa yang bertemu dengannya sama saja dengan menghadiri kematian (Hadhramaut)”
Sedangkan Tarim lebih tepat dikatakan sebagai nama satu daerah dalam kota Hadhramaut sebagaimana dikatakan oleh pengarang Kitab Al-Kanz:
“Tarim adalah satu daerah yang didirikan oleh Tarim bin Hadhramaut, dan para Sadah Ba’alawi mulai tinggal disana berkisar pada th 561 H”.
II. Keutamaan Kota Tarim dan Penduduknya
Rasul Allah SAW bersabda:
إِنىِّ لأَجِدُ نَفْسُ الرَّحْمَنَ مِنْ قِبَلِ الْيَمَنِ
“Sesungguhnya aku mendapati nafs Ar-Rahman yang keluar dari arah Negeri Yaman”
Al-Imam At-Thabrany dalam Kitabnya “Al-Ausat” meriwayatkan satu Hadist yang Shohih yaitu:
حَضْرَمَوْتَ تُنْبِتُ الأَوْلِيَاءَ كَمَا تُنْبِتُ الأَرْضَ الْبِقَلَ
“Di Hadhramaut menghasilkan para Wali Allah seperti Bumi subur yang menumbuhkan Sayur Mayur”
Hadist ini dikemukakan oleh Al-Imam Al-Allamah Abdur Rahman bin Mushtofa Al-Idrus pengarang Kitab Mirah As-Syumus. Diriwayatkan bahwa dalam setiap Sholat Jum’at di Tarim di Shof awal terdapat lebih kurang 300 orang Mufti.
Do’a Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq Ra bagi penduduk Tarim
Dizaman kekhalifahan Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq Ra, beliau menemui Ziyad bin Lubayd Al-Anshory Amil Rasul Allah SAW di Yaman, dan beliau memerintahkan kepada Ziyad agar mengambil Bai’at Ahli Hadhramaut, hal tersebut disambut gembira oleh penduduk Tarim, sedangkan penduduk disekitarnya dari beberapa Qabilah ada yang menolak, sehingga mereka dianggap melakukan makar yang kemudian dikenakan sanksi yang keras, ketika bai’at penduduk Tarim yang mengikrarkan kesetiaan mereka kepada Khalifah Rasul Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq Ra disampaikan kepada beliau, Sayyidina Abu Bakar Ra, mendo’akan penduduk Tarim dengan tiga Do’a :
a. Dibanyakkan Allah orang-orang Sholih di Tarim
b. Agar Tarim diberkahi oleh Allah
c. Tidak dipadamkan api agama Allah di Tarim sampai hari Kiamat
Do’a Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq Ra, tampak jelas dikabulkan oleh Allah SWT, sampai sekarang Tarim dimakmurkan dengan orang-orang Sholih, dan dengan keberkahan yang diberikan Allah SWT, air di Tarim tidak pernah kering, dan sampai detik ini cahaya agama Allah SWT masih bersinar terang di Tarim.
Para Wali yang dimakamkan di Tarim
Al-Imam Al-Qutb Al-Ghauts Al-Habib Abdur- Rahman As-Segaff mengatakan:
“Di Turbah Zanbal di Tarim (Hadhramaut) telah dimakamkan para Wali yang jumlahnya melampaui dari sepuluh ribu orang, dan aku telah mengetahui para Wali yang bermaqam Qutb yang dimakamkan disana berjumlah delapan puluh orang”
Sayyidina Al-Imam Al-Qutb Al-Ghauts Al-Habib Abdur Rahman As-Segaff wafat pada th 800 H, jadi jumlah yang beliau bicarakan tidak termasuk dengan para Wali yang dimakamkan sesudah beliau wafat. Di Tarim telah dimakamkan juga para Sahabat Rasul Allah SAW yang ikut perang Badr sebanyak tujuh puluh orang.
Berkata As-Syech Fadl bin Abdullah:
“Tiga Turbah yang membawa ahlinya kepada Syurga;Turbah Zanbal, Turbah Al-Hijrain, dan Turbah Ghail Abu Sudan”.
Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alwi bin Hasan Al-Athas menceritakan keutamaan Ahli Turbah Tarim, kata beliau:
“Sebahagian dari Wali-Wali besar melarang dari mentalqinkan mayyit yang hendak dimakamkan di Turbah mereka, dan bilamana ada jenazah yang dimakamkan di Turbah para Wali ditalqinkan, maka pada pagi harinya jenazah yang sudah ditanam didapati akan keluar dari tanah dan tergeletak diatas kuburnya dengan masih memakai kafan, karena mereka, para Wali telah meminta kepada Allah agar jangan sampai ada yang dimakamkan di dekat mereka orang-orang yang termasuk Ahli neraka.”
Membicarakan kelebihan kota Tarim dan para Ahlinya niscaya sangatlah panjang, dan akan menjadi pembahasan tersendiri, penguraian kami ini sekira-kira hanyalah untuk memberikan pandangan pada para pembaca, karena Sayyidina Al-Faqih Al-Muqaddam Ra identik dengan kota Tarim dan para penduduknya. Insya Allah mengenai kota Tarim sendiri, nantinya akan kami uraikan pada buku lain secara terperinci.
Turbah Zanbal
III. Kaum Ba’alawi
“Ba’alawi” adalah sebutan bagi keturunan Rasul Allah SAW yang berasal dari Al-Imam Alwi bin Ubaydillah Ra, kaum Ba’alawi memasuki kota Hadhramaut diperkirakan pada abad ke 3 H atau pada abad ke 9 M, dimulai dengan berhijrahnya Sayyidina Al-Muhajir Ilallah Ahmad bin Isa dari Bashrah menuju Hadhramaut.
Adapun sebab musabab kenapa beliau memutuskan untuk berhijrah, dikarenakan merajalelanya para Ahlul Bid'ah dan munculnya gangguan kepada para Alawiyyin, serta begitu sengitnya intimidasi yang datang kepada mereka. Pada saat itu muncul sekumpulan manusia-manusia bengis yang suka membunuh dan menganiaya. Para pengacau ini menguasai kota Basrah dan daerah-daerah sekitarnya. Mereka membunuh dengan sadis para kaum muslimin. Mereka juga melecehkan kaum Muslimah dan menghargainya dengan harga 2 dirham. Mereka pernah membunuh sekitar 300.000 jiwa dalam waktu satu hari. Ash-Shuly menceritakan tentang hal ini bahwa jumlah total kaum muslimin yang terbunuh pada saat itu adalah sebanyak 500.000 jiwa.
Pemimpin para pengacau ini adalah seorang Syi’ah yang pandir yang mengklaim dirinya adalah keturunan Rasul Allah SAW dengan membuat nasab palsu sebagai berikut; Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Isa bin Zainal Abidin. Ia suka mencaci Ustman, Ali, Thalhah, Zubair, Aisyah dan Muawiyah.
Karena kekacauan pada masa itu meningkat dan semakin menjadi-jadi Al-Imam Ahmad memutuskan untuk berhijrah. Kemudian pada tahun 317 H, berhijrahlah beliau bersama keluarga dan kerabatnya dari Basrah menuju ke Madinah. Termasuk di dalam rombongan tersebut putra beliau yang bernama Ubaidillah dan anak-anaknya (cucu-cucu Sayyidina Al-Muhajir), yaitu Alwi bin Ubaydillah (cikal bakal Ba'alawi), Bashri (cikal bakal Al Bashri), dan Jadid (cikal bakal Al Jadid) dan para pembantu mereka. Mereka semua adalah Ulama yang utama dan Sufi yang sholeh.
Mengenai Hijrahnya Sayyidina Al-Muhajir Ra ini telah banyak diriwayatkan oleh para Ulama’ dan Wali terkemuka, diantaranya adalah As-Syech As-Syarif Al-Wali Ali bin Ahmad bin Jadid Ra, Al-Imam Muhammad bin Bin Abu Bakar Ibad Ra, Al-Faqih Abdur Rahman bin Ali bin Hisan Ra dan As-Syech Muhammad bin Mas’ud dan Abu Syakiyl Al-Anshary Al-Khazarajy Radhia Allah Anhum Ajma’in wa nafa’ana bihim, mereka sama menyimpulkan bahwa:
“Orang yang pertama kali keluar dari Bashrah ke Hadhramaut, adalah para Syarif yang mulia yang mempunyai keutamaan, kemuliaan dan kebaikan, yang dipimpin oleh As-Syech Al-Kabir Al-Wali As-Syahir Syahab Ad-Din Ahmad bin Isa Ra, bersama beliau ikut berhijrah para Syarif dan rombongan, beberapa pembantu mereka dan juga sahabat-sahabat setia mereka, Sayyidina Al-Muhajir Hijrah bersama harta benda beliau keluarga dan anaknya, beliau Hijrah setelah sebelumnya terlebih dahulu ber-Istikharah dan meminta Isyarah dari Allah SWT”
Disebutkan dalam Al-Jauhar As-Syafaf bahwa rombongan Al-Imam Al-Muhajir Ra keluar dari Bashrah dengan rombongan berlima-lima, sebanyak lebih kurang tujuh puluh orang termasuk didalamnya para budak sahaya dan para pelayan, Termasuk yang ikut dalam rombongan Sayyidina Al-Muhajir pembantu setia beliau yang bernama “Makhdum”, ada yang meriwayatkan bahwa nama sebenarnya adalah Abdullah dari Qabilah A-li Maqdam.
Dalam rombongan juga terdapat dua orang sepupu Sayyidina Al-Muhajir Ra. Mereka berdua (sepupu Sayyidina Al-Muhajir) ini salah satunya adalah nenek moyang Bani Qudaym, yang dikenal di daerah Yaman, berasal dari Wadi Sarad beberapa tokoh yang termasyhur dari Bani Qudaym ini diantaranya As-Syech Ibrahim bin Ahmad Al-Qudaymy Al-Husayny Bani Qudaym ini bernisbah kepada Al-Imam Muhammad Al-Jawad bin Al-Imam Ali Ar-Ridha bin Al-Imam Musa Al-Kazhim bin Al-Imam Ja’far As-Shodiq, sedangkan sepupu Al-Imam Al-Muhajir yang lain adalah yang menurunkan Bani Al-Ahdal, disebutkan oleh Al-Imam As-Syarajy di dalam Kitab Tarikh-nya bahwa tempat mukim Bani Ahdal di Wadi Siham, diantara tokoh Bani Al-Ahdal diantaranya yang termasyhur adalah Al-Imam As-Syech Al-Arif Billah Nur Ad-Din Ali bin Umar bin Muhammad bin Sulaiman bin Ubayd bin Isa bin Alwi bin Muhammad bin Hamham bin Aun bin Al-Imam Musa Al-Kazhim,
Bani Qudaym maupun Bani Al-Ahdal menyembunyikan Nasab mereka dan silsilah mereka, silsilah mereka ini dikemukakan oleh Al-Imam Al-Allamah Abdur Rahman bin Ali Ad-Diba’i Az-Zubaydy.
Tempat yang pertama kali Sayyidina Al-Muhajir Ra tuju dalam perjalanannya adalah Al-Madinah Al-Munawwarah, kemudian beliau ke Mekkah Al-Musyarrafah dan setelah itu barulah beliau menuju Yaman, kemudian ke Hadhramaut, dan beliau menetap di Syi’ib Al-Husaisah, Sayyidina Al-Muhajir Ra wafat pada th 345 H.
6.9.15
ASIYAH BINTI MUZAHIM "WANITA AHLI SURGA"
Asiyah binti Muzahim, istri raja Fir’aun yang dijadikan simbol sebagai seorang istri penyabar adalah sosok wanita yang patut diteladani, dengan segala keteguhan dan kesabarannya, meski telah mendapat perlakuan buruk dari sang suami.
Semula Asiyah adalah satu-satunya wanita yang sangat dicintai oleh raja Fir’aun. Meski Fir’aun dikenal sebagai raja kejam yang tak segan-segan melakukan pembunuhan terhadap siapa saja yang menentangnya, namun terhadap wanita ini, Fir’aun sepertinya masih ada perasaan “bertekuk lutut”nya.
Kepada wanita ini Fir’aun rela mempersembahkan apa saja sebagai bukti rasa cintanya, termasuk salah satunya mengangkat Musa sebagai anak angkat atas permintaan Asiyah, yang sebenarnya kelak akan menjadi musuhnya sendiri.Disebutkan bahwa Asiyah memang seorang wanita yang begitu cantik. Kecantikan wajah yang dimiliki juga diimbangi dengan keluhuran budi yang mulia. Maka tak heran jika Fir’aun mau memberikan segalanya kepada istrinya itu. Bahkan konon Fir’aun membangun sebuah istana kecil di pinggir sungal Nil yang khusus dipersembahkan kepada Asiyah, istri tercintanya.
Di awal-awal kehidupan berumah tangga tentu Asiyah masih bisa merasakan kebahagiaan sebagai istri seorang raja. Namun kebahagian itu tidak bisa dirasakan dalam jangka waktu yang lama. Sejak Fir’aun mengaku diri sebagai Tuhan, sekaligus memaksa kepada semua rakyatnya untuk menyembahnya, sejak itu pula tekanan batin mulai dirasakan Asiyah.
Paksaan Fir’aun supaya disembah dan diakui sebagai Tuhan tidak hanya berlaku bagi semua rakyat, namun juga terhadap Asiyah, istri Fir’aun sendiri. Dalam posisi seperti itu Asiyah tidak bisa berbuat banyak kecuali harus menuruti apa yang dipaksakan suami, meski dalam hati ia berontak.
Asiyah adalah contoh wanita yang begitu sabar menghadapi keburukan sikap dari sang suami. Meski suami terus memperlakukan buruk, namun tetap saja ia berusaha untuk sabar dan tabah menghadapi cobaan derita tersebut.
Begitu sabar dan tabahnya sikap Asiyah, sampai-sampai ia mau berkorban nyawa menghadapi perlakuan suaminya itu.
Dikisahkan bahwa Asiyah sebenarnya mulai meyakini ajaran agama yang dibawa oleh Musa, anak angkatnya. Sejak Musa bersama Harun berusaha untuk meyadarkan Fir’aun, diam-diam Asiyah mulai sadar bahwa Tuhan yang sesungguhnya bukanlah suaminya, melainkan Dzat yang menciptakan bumi berserta isinya.
Dan puncak dari ketabahan Asiyah hingga ia harus menerima siksaan dari Fir’aun adalah ketika Fir’aun menerima kekalahaan atas Musa pada saat pertarungan adu kekuatan antara ahli sihir Fir’aun dengan kekuatan mu’jizat yang diberikan Allah kepada Musa.
Ternyata Asiyah yang telah menyaksikan jalannya pertarungan sihir tersebut mendapat hidayah dari Allah atas peritiwa itu dan langsung beriman kepada Tuhannya Musa.
Bertahun-tahun lamanya ia memendam ketidakpercayaan terhadap suaminya yang mengakui sebagai Tuhan, kini wanita tersebut menjadi sadar bahwa ada Tuhan yang sesungguhnya.
Peristiwa yang baru disaksikan adalah sebuah bukti dari kekuasaan Allah yang mampu membuka mata batinnya untuk menerima keimanan sebagai pegangan hidup.
Seketika itu Asiayah menyatakan diri sebagai muslim, bahkan dia juga berani berterus terang kepada Fir’aun.
Firaun pun murka dan menjatuhkan hukuman kepadanya.
Para algojo diperintahkan Firaun untuk segera melakukan penyiksaan kepada Asiyah, yang olehnya dianggap murtad itu.
Tubuh Asiyah ditelantangkan di atas tanah di bawah terik sinar matahari. Kedua tangannya diikat kuat ke tiang-tiang yang dipatok ke tanah agar ia tak dapat bergerak-gerak.
Wajahnya yang telanjang dihadapkan langsung ke arah sinar matahari.
"Asiyah pastilah tidak akan tahan akan sengatan panas matahari, dan akhirnya ia akan mengubah keimanannya kepadaku," demikian pikir Firaun.
Tetapi ternyata Tuhan tidak membiarkan hambanya menderita akibat kekafiran Firaun. Setiap kali para algojo meninggalkan Asiyah dalam hukumannya, segera malaikat menutup sinar matahari itu, sehingga langit menjadi teduh dan Asiyah tak merasakan sengatan matahari yang ganas itu. Asiyah tetap segar-bugar meskipun sudah dihukum berat.
Kemarahan Fir’aun terhadap Asiyah semakin memuncak manakala Asiyah tetap pada pendiriannya dan lebih memilih mempercayai aqidah yang dibawa Musa dan Harun. Dan kemudian Fir’aun mengutus seseorang untuk datang kepada istrinya itu. Kepada utusan tersebut Fir’aun berkata,
“Bawalah sebuah batu yang besar. Jika Asiyah tetap beriman pada Tuhan Musa dan Harun, pukulkan batu besar itu ke kepadanya. Namun jika ia mengubah pendiriannya maka tetaplah ia menjadi istriku”.
Maka pada saat utusan tersebut sampai kepada Asiyah, istri Fir’aun ini sedang mendongakkan kepalanya ke langit.
Untuk selanjutnya ia berdo’a kepada Allah.
Al qur’an mengabadikan do’a Asiyah tersebut dalam sebuah ayat Al-Qur'an
Dari Abu Hurairah Radhiyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallohu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Sesungguhnya Fir’aun mengikat istrinya dengan besi sebanyak 4 ikatan, pada kedua tangan dan kedua kakinya. Jika ia telah meninggalkan Asiyah terbelenggu maka para Malikat menaunginya.
Ketika itulah ia berdoa kepada Allah,
رَبِّ ابْنِ لِي عِندَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِن فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
"Ya Rabbku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisiMu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim".
(At-Tahrim: 11).
Kemudian diperlihatkan untuknya tempat tinggalnya di dalam Surga."
Utusan Fir’aun itu mendekat dan menanyakan perihal keimanan yang dipegang teguh Asiyah. Wanita ini dengan tegarnya menjawab bahwa dia tetap dalam pendiriannya, mengakui bahwa ajaran yang dibawa Musa dan Harun adalah ajaran yang benar.
Asiyah menyatakan dengan tegas bahwa tiada Tuhan selain Allah.
Sesuai dengan perintah Fir’aun , utusan itupun langsung mengangkat batu besar yang akan dipukulkan ke kepala Asiyah.
Namun sebelum batu tersebut mengenai kepalanya, terlebih dahulu Allah memerintahkan kepada malaikat Izrail untuk mencabut nyawa wanita mulia ini. Dengan demikian Asiyah selamat dari siksaan pukulan batu yang akan dibenturkan oleh utusan Fir’aun.
Baru setelah tubuh Asiyah ambruk tak bernyawa lagi, utusan itu langsung membenturkan batu besar ke kepala Asiyah hingga kepalanya berlumuran darah.
Subhanallah!
Begitu tegar hati Asiyah dalam mempertahankan keimannya.
Sungguhlah pantas jika Allah mengabadikan kisah kesabaran dan ketabahan Asiyah didalam Al Qur’an.
Bahkan sangat tak berlebihan jika Nabi sendiri menyerukan kepada umat perempuannya untuk banyak belajar kepada wanita yang satu ini.
Malah Nabi menyatakan dengan tegas bahwa siapapun yang bisa menjalani hidup sabar atas penderitaanya dalam rumah tangga, maka ia akan diberi pahala surga, sebagaimana Asiyah.
Hikmah yang dapat dipetik
1. Pengaruh iman yang benar tatkala menghadapi cobaan dan siksaan yang setiap saat menghadang seorang mukmin dalam kehidupannya.
2. Orang kafir selamanya memendam rasa iri pada orang-orang beriman.
3. Pertolongan Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa diberikan kepada orang-orang mukmin.
4. Sebagian dari hamba Allah Subhanahu wa Ta'ala lebih memilih kenikmatan di akhirat daripada di dunia.
5. Maha santun dan lemah lembutnya Allah Subhanahu wa Ta'ala.
6. Penetapan karamah untuk para wali Allah Subhanahu wa Ta'ala yang shalih.
Hadits :
Wanita paling utama di surga adalah :
Khadijah binti Kuwalid, Istri Rasulullah Saw
Fatimah binti Muhammad, putri Rasulullah Saw
Maryam binti Imran, Bunda Nabi Isa As dan
Asiyah binti Muzahim istri Fir’aun.”
(HR. Ahmad dan Thabrani)
Semoga bermanfaat
Silahkan share
BERTETANGGA DI KOTA TARIM.
الراحمون يرحمهم الرحمن، ارحموا من في الارض يرحمكم من في السماء
" Orang orang pengasih akan di Kasihi Allah yang Maha Pengasih, Sayangilah yang ada di Bumi, kalian akan disayangi yang di Langit."
( Hr. Imam Turmudzi dan Abu Dawud )
Seorang wanita Tarim bertanya kepada anak tetangganya.
"Makan apa kalian semalam?"
"Semalam kami tak makan apa-apa," jawab si anak.
"Panggilkan Ayahmu!"
Anak itu kemudian memanggil Ayahnya.
"Apa yang terjadi di antara kita, sehingga kamu memperlakukan seperti ini. Perbuatanmu ini tak benar!" Kata Wanita itu kepada Ayah si anak.
"Apa yang sesungguhnya kami lakukan kepadamu?". Tanya Ayah si anak tersebut merasa kebingungan.
"Bukankah semalam kalian tak memiliki makanan?, namun tak memberitahui ku. Perbuatan kalian itu kurang pantas... Andaikata kalian datang mengunjungiku, dan aku sedang memiliki makanan, tentu akan ku bagi makanan itu. Dan jika aku tak memiliki apa-apa untuk di makan, aku akan bersabar bersama kalian...
Lain kali jika kalian tak memiliki sesuatu beritahu kami, jika tidak... kelak di hari kiamat aku tak akan menghalalkan kalian, dan kalian akan ku tuntut."
*******
Dari kisah ini Habib Muhammad bin Hadi AsSeggaf berkata; " Selidikilah... adakah di antara SAUDARA, KERABAT, atau TETANGGA kalian yang membutuhkan bantuan. Bagaimana kalian bisa mendapatkan KASIH SAYANG ALLAH, kalau kalian tak mengasihi Orang Miskin!.
Kalian hendaknya memiliki RASA BELAS KASIH, karena Madad tak akan bisa di peroleh, kecuali dengan sikap Pengasih. Kasih sayang inilah Amalan Hati.
Kakek ku, Seggaf bin Muhammad selalu mengamati keadaan orang-orang miskin dan tetangganya, padahal beliau sendiri seorang yang Miskin.
Beliau pernah berpesan kepada para tetangga di pasar; "jika ada Anjing lapar yang lewat... berikanlah Kurma! Kemudian catatlah Kurma-kurma itu sebagai Hutangku."
*******
Kasihilah orang-orang miskin, dan orang yang butuh bantuan... senangkanlah hati mereka. Rasulullah berdoa; اللهم احشرنى فى زمرةالمساكين
"Ya Allah... kumpulkanlah aku kedalam kelompok orang-orang Miskin" (Hr. Imam Turmudzi dan Ibnu Majah).
Beliau tak mengatakan; "Ya Allah... kumpulkanlah orang orang miskin kedalam Kelompok ku."
Habib Seggaf, jika duduk bersama orang orang Miskin, ia berkata:
"Di Hari Kiamat nanti... Janganlah kalian LUPA kepadaku... karena di saat itulah, kalian memiliki KEKUASAAN"
[Kalam Habib Muhammad Bin Hadi AsSeggaf]
5.9.15
RAJA TUBBA' DAN NABI AKHIR ZAMAN
Raja Tubba' melakukan perjalanan dari Yaman ke berbagai negara di temani oleh 400 orang ulama'.
Setiap kali memasuki suatu negeri, ia selalu dielu2kan dan di mulyakan.
Suatu ketika sampailah ia di kota Mekkah AlMusyarrofah, tidak seperti penduduk negeri yang lain, warga Mekkah tidak memberikan sambutan hangat dan sikap itu membuat Raja Tubba' heran.
"Mengapa penduduk Mekkah tidak memulyakan kita?".
tanya Raja kepada para ulama' yang menemaninya dslam perjalanan.
"Mereka adalah penduduk Mekkah, Manusia sangat menghormati dan memulyakan mereka, itulah sebabnya mereka tidak memulyakan dan mengagungkanmu". jawab para ulama'.
Dari situlah timbul niat buruk di hati sang Raja Tubba', untuk menghancurkan Ka'bah batu demi batu. Alloh SWT Ɣyang Maha mengetahui atas segalanya, segera menurunkan bala', berupa Penyakit di kepala, hingga kepala sang Raja membusuk.
Orang2pun tidak ada yang mau duduk di dekatnya, karena bau busuk yang di sebarkan oleh penyakit tersebut.
Banyak para tabib yang telah berusaha menyembuhkan penyakit sang Raja, namun mereka semua tidak menemukan obat penyakit yang diderita oleh sang Raja Tubba'.
Para ulama' yang menemaninya merasa heran dan semakin penasaran, dalam hati mereka mengatakan : "Mengapa kami tidak dapat menemukan obat yang dapat menyembuhkan penyakit sang Raja?
Padahal telah banyak tabib yang memeriksanya".
Tiba2 seorang ulama' berkata kepada Raja : "Akan aku beritahukan obat penyakitmu, tapi hanya engkau seorang yang boleh mendengarnya".
Raja Tubba' pun memerintahkan semua orang yang sedang bersamanya untuk meninggalkan mereka berdua.
"Nah, sekarang mereka telah keluar. Sekarang, katakan padaku, apa obat penyakitku ini?". tanya sang Raja.
"Akan kuberitahukan obatnya, tapi setelah engkau menceritakan apa yang kau niatkan dan kau sembunyikan dalam hatimu". jswab ulama' itu.
"Aku memang menyimpan niat buruk dalam hatiku, yaitu hendak menghancurkan Ka'bah batu demi batu.
Sebab warga sini tdk mengagungkan dan memulyakan kita". Ucap sang Raja.
Orang Alim itupun berkata : "Ketahuilah, Sesungguhnya niat jelek inilah yang menyebabkan Alloh swt murka dan memberimu penyakit.
Dan sekarang, jika engkau ingin sembuh, maka urungkan niatmu itu, dan semoga Alloh SWT mengampunimu". "Baiklah kalau begitu, saat ini juga kubatalkan niat burukku untuk menghancurkan Ka'bah". ucap sang Raja menyesali niatnya.
Seketika itu juga Alloh SWT menyembuhkan penyakitnya.
Setelah beberapa hari tinggal di mekkah, sang Raja bersama rombongan melanjutkan perjalanan menuju ke Madinah.
Sesampainya di Madinah, para Ulama' yang menemaninya berkata :
"Kami ingin tinggal di sini". Saat itu Madinah masih berupa hamparan kosong yang tandus.
"Bukankah kita telah sepakat utk melakukan perjalanan bersama?" Kata Raja. "Ya, tetapi kami tetap ingin tinggal disini". Kata para Ulama' bersikeras. "Apakah yang menyebabkan kalian ingin menetap di sini?" Tanya sang Raja keheranan.
Para Ulama' berkata : "Sesungguhnya, tempat ini adalah tempat hijrahnya Nabi akhir zaman.
Dalam waktu dekat, Beliau akan di utus dan berhijrah ke tempat ini.
Kami ingin anak cucu kami kelak akan menjadi para pengikut dan Sahabat2 Nabi akhir zaman tersebut".
Sang Raja pun berkata : "Jika memang demikian, Aku aksn menulis sepucuk surat untuk Nabi akhir zaman tersebut, dan aku titipkan kepada kalian, serahkan surat itu jika Beliau telah di utus dan berhijrah ke tempat ini".
Setelah itu Raja Tubba' menulis sebuah surat yang isinya :
Dari Raja Tubba' , untuk Nabi Akhir Zaman.
"Amma ba'du, Sesungguhnya Aku beriman kapadaMu, dan beriman kepada Kitab yang di turunkan kepadaMu.
Aku berada di dalam agama dan sunnahMu.
Aku beriman kepada TuhanMu, Tuhannya segsla sesuatu, dan
Aku beriman pada Syariat Islam yang bersumber dari TuhanMu.
Jika Aku dapat bertemu denganMu, itu adalsh suatu keni'matan besar bagiku., namun jika tidak, maka berilah aku syafaatMu, dan di hari qiamat nanti jangan lupakan aku, karena Aku adalah ummatMu yang terdahulu, dan Aku telah berbai'at padaMu sebelum Engkau di Utus oleh TuhanMu.
Aku memeluk agamamu dan agama Ibrahim As".
Kemudian Raja Tubba' mengakhiri surat itu dengsn kalimat :
"Bagi Alloh lah segala perkara Sebelum dan Sesudahnya".
(ArRum/30:4).
Surat itu kemudian di setempel, dan di serahkan kepada orang alim yang telah menyembuhkan penyakitnya.
"Simpan baik2 surat ini". pesan sang Raja. Ɣyang kemudian melanjutkan perjalanan.
Para Ulama' pengikut Raja Tubba' adalah Kakek Moyang Para Sahabat Anshor. Dan Orang Alim yang dititipi surat, adalah Kakek Leluhur dari Abu Ayyub Al Anshori ra.
Ketika Nabi SAW telah di Utus sebagai Rosul dan berhijrah ke madinah, Abu Ayyub menyerahkan surat Raja Tubba' tersebut kpd Baginda Nabi saw.
Cttn :
"Raja Tubba' meninggal dunia Tepat 1000 th sebelum Nabi Muhammad di utus oleh Alloh SWT".
Semoga bermanfaat
Silahkan share
(Abi Abdillah Muhammad bin Ahmad Al Anshori Al Qurthubi, al jam'ul ahkamil Qur'an, juz 16, hal 145, dar ihya' atTurats AlArobi 1985/1405H, beirut_lebanon).
Langganan:
Postingan (Atom)