17.8.16

Larangan (Haram) melakukan riba

Larangan (Haram) melakukan riba.

Apa yang Dimaksud dengan Riba?

Secara etimologi, riba berarti tambahan (al fadhl waz ziyadah). (Lihat Al Mu’jam Al Wasith, 350 dan Al Misbah Al Muniir, 3/345). Juga riba dapat berarti bertambah dan tumbuh (zaada wa namaa). (Lihat Al Qomus Al Muhith, 3/423)

Contoh penggunaan pengertian semacam ini adalah pada firman Allah Ta’ala,

فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ

“Maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bertambah dan tumbuh subur.” (QS. Fushilat: 39 dan Al Hajj: 5)

Sedangkan secara terminologi, para ulama berbeda-beda dalam mengungkapkannya.
Di antara definisi riba yang bisa mewakili definis yang ada adalah definisi dari Muhammad Asy Syirbiniy. Riba adalah:

عَقْدٌ عَلَى عِوَضٍ مَخْصُوصٍ غَيْرِ مَعْلُومِ التَّمَاثُلِ فِي مِعْيَارِ الشَّرْعِ حَالَةَ الْعَقْدِ أَوْ مَعَ تَأْخِيرٍ فِي الْبَدَلَيْنِ أَوْ أَحَدِهِمَا

Suatu akad/transaksi pada barang tertentu yang ketika akad berlangsung tidak diketahui kesamaannya menurut ukuran syari’at, atau adanya penundaan penyerahan kedua barang atau salah satunya. (Mughnil Muhtaj, 6/309)

Ada pula definisi lainnya seperti yang dikemukakan oleh Ibnu Qudamah, riba adalah:

الزِّيَادَةُ فِي أَشْيَاءَ مَخْصُوصَةٍ

Penambahan pada barang dagangan/komoditi tertentu. (Al Mughni, 7/492)

Riba adalah menetapkan bunga/melebihkan jumlah pinjaman saat pengembalian berdasarkan persentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok, yang dibebankan kepada peminjam. Riba secara bahasa bermakna: ziyadah (tambahan). Dalam pengertian lain, secara linguistik riba juga berarti tumbuh dan membesar . Sedangkan menurut istilah teknis, riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara bathil. Ada beberapa pendapat dalam menjelaskan riba, namun secara umum terdapat benang merah yang menegaskan bahwa riba adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual-beli maupun pinjam-meminjam secara bathil atau bertentangan dengan prinsip muamalat dalam Islam. (wikipedia.org)

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَعُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالُوا حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ أَخْبَرَنَا أَبُو الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Shabah dan Zuhair bin Harb dan Utsman bin Abu Syaibah mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepada kami Abu Az Zubair dari Jabir dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaknat pemakan riba, orang yang menyuruh makan riba, juru tulisnya dan saksi-saksinya." Dia berkata, "Mereka semua sama." (HR. Muslim No.2995)

عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَكَاتِبَهُ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ عُمَرَ وَعَلِيٍّ وَجَابِرٍ وَأَبِي جُحَيْفَةَ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ عَبْدِ اللَّهِ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Dari Ibnu Mas'ud ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaknat pemakan riba, yang memberi makan riba, kedua saksi dan penulisnya. Ia mengatakan; Dalam hal ini ada hadits serupa dari Umar, Ali, Jabir dan Abu Juhaifah. Abu Isa berkata; Hadits Abdullah adalah hadits hasan shahih. (HR. At Tirmidzi No.1127, Daud No.2895)

Rasulullah saw. bersabda :

دِرْهَمُ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةِ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً

Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali. (HR. Ahmad dan Al Baihaqi)

Rasulullah saw. bersabda :

الرِبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَابًا أيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرُّجُلُ أُمَّهُ وَإِنْ أَرْبَى الرِّبَا عِرْضُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ

Riba itu ada 73 pintu (dosa), yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. Sedangkan riba yang paling besar adalah apabila seseorang melanggar kehormatan saudaranya. (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi)

Penulis : Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus.

محمد سلفى بن أبو نوار العيدروس

13.8.16

Maafmu menjadi sebab aku & kamu masuk surga

*MAAFMU, MENJADI SEBAB AKU & KAMU MASUK SURGA*

Pada suatu hari, Rasulullah SAW sedang berkumpul dengan para sahabatnya. Di tengah para sahabatnya, tiba-tiba Rasulullah saw. tertawa ringan sampai-sampai terlihat gigi depannya. Umar r.a. yang berada di di situ, berkata, ‘Demi engkau, ayah dan ibuku sebagai tebusannya, apa yang membuatmu tertawa, wahai Rasulullah?’

Rasulullah SAW menjawab, ‘Aku diberitahu bahwa pada hari kiamat nanti, ada dua orang yang duduk bersimpuh sambil menundukkan kepala mereka di hadapan Allah. Salah satunya mengadu kepada Allah sambil berkata, ‘Ya Rabb, ambilkan kebaikan dari orang ini untukku karena dulu ia pernah berbuat zalim kepadaku’.
Allah SWT berkata, ‘Bagaimana mungkin saudaramu ini bisa melakukan itu, karena tidak ada kebaikan di dalam dirinya?’

Orang itu berkata, ‘Ya Rabb, kalau begitu, biarlah dosa-dosaku dipikul olehnya’.
Sampai di sini, mata Rasulullah SAW berkaca-kaca. Beliau Rasulullah SAW tidak mampu menahan tetesan airmatanya. Beliau menangis. Lalu, beliau Rasulullah berkata, ‘Hari itu adalah hari yang begitu mencekam, di mana setiap manusia ingin agar ada orang lain yang memikul dosa-dosanya’.
Rasulullah SAW  melanjutkan kisahnya.

Lalu Allah berkata kepada orang yang mengadu tadi, ‘Angkat kepalamu..!!' Orang itu mengangkat kepalanya, lalu ia berkata, ‘Ya Rabb, aku melihat di depanku ada tempat yang terbuat dari emas dan istana-istana yang terbuat dari emas dan perak bertatahkan intan permata. Istana-istana itu untuk Nabi yang mana, ya Rabb? Untuk orang jujur yang mana, ya Rabb? Untuk syahid yang mana, ya Rabb?’
Allah berkata, ‘Istana-istana itu diberikan kepada orang yang mampu membayar harganya’.

Orang itu berkata, ‘Siapakah yang bakal mampu membayar harganya, ya Rabb?’
Allah berkata, ‘Engkau mampu membayar harganya’
Orang itu terheran-heran, sambil berkata, ‘Dengan cara apa aku membayarnya, ya Rabb?’

Allah berkata...
*‘Caranya engkau maafkan saudaramu yang duduk di sebelahmu, yang kau adukan kezalimannya kepada-Ku’.*

Orang itu berkata, ‘Ya Rabb, kini aku memaafkannya’

Allah berkata..
*'Kalau begitu, ambil tangan saudaramu itu, dan ajak ia masuk surga bersamamu’.*

Setelah menceritakan kisah itu, Rasulullah saw. berkata, ‘Bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaknya kalian saling berdamai, sesungguhnya Allah mendamaikan persoalan yang terjadi di antara kaum muslimin’.

_Kisah di atas terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Hakim, dengan sanad yang shahih._

*Pekerjaan hati yg nilainya tinggi di hadapan Allah adalah minta maaf, memberi maaf, dan saling memaafkan.*

Semoga lelah kita semua menjadi Manfaat dihari perhitungan....amin

8.4.16

DZIKIR SEMUA MALAIKAT LANGIT DAN BUMI


Ketika Allah SWT menciptakan ‘Arsy,Allah SWT perintahkan sejumlah malaikat untuk memikulnya. Kemudian malaikat merasakan sebagai sebuah beban yang agak berat.
karena itu Allah berfirman kepada malaikat “Katakanlah :Subhanallah” lalu para malaikat mengucapkan kalimat itu hingga ringanlah beban pikulan mengangkat ‘Arsy.

Sejak saat itu para malaikat mengucapkan Subhanallah sepanjang jaman sampai hari kiamat.

Ketika Allah menciptakan nabi Adam, tiba – tiba nabi Adam bersin. Allah mengilhamkan kepada nabi Adam agar mengucapkan“Alhamdulillah“.
Allah kemudian mengucapkan “Yarhamukallah”, (semoga Allah menyayangimu).
Para malaikat pun berkata “Ini adalah kalimat yang sangat agung karena itu tidak patut dilalaikan”.

Malaikat pun menggabungkan kata baru tersebut dengan kata sebelumnya, sehingga malaikat selalu membaca“Subhanallah Walhamdulillah”.

Dua kalimat tersebut selalu dibaca oleh malaikat hingga Allah menciptakan nabi Nuh, as.
Umat nabi Nuh adalah umat pertama penyembah berhala dan menjadikannya sebagai tuhan.

Allah mewahyukan kepada nabi Nuh untuk menyampaikan kepada kaumnya kalimat “La Ilaaha Illallah” tiada tuhan selain Allah.

Nabi Nuh pun menyampaikan kalimat tersebut kepada umatnya. Mendengar kalimat tersebut, malaikat merasa sangat bahagia dan menggabungkannya dengan dua kalimat sebelumnya.

Sehingga sepanjang waktu malaikat mengucapkan“Subhanallah Walhamdulillah Wala Ila Ha Illallah”.SampailahAllah mengutus nabi Ibrahim dan memerintahkan nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya.

Saat akan disembelih Allah mengganti dengan domba, seketika nabi Ibrahim berkata“Allahu akbar”sebagai ungkapan gembira.Para malaikat pun berkata “Sungguh indah kalimat yang keempat” dan malaikatmenggabungkan dua kalimat tersebut dengan kalimat yang terakhir, sehingga malaikat selalu berucap“Subhanallah Walhamdulillah Wala Ila Ha Illallahuallahuakbar”

Ketika riwayat ini disampaikan oleh malaikat Jibril kepada nabi Muhammad saw, dengan nada takjub nabi Muhammad berkata “Laa Haula Wala Quwwata Illabillahilaliyil Adhim”.
Mendengar kalimat tersebut para malaikat menggabungkannya dengan empat kalimat sebelumnya.
(Mutafaq'alaih)

Habib Ali Abdurahman Al Habsyi

28.3.16

Bacaan Tahiyat

BACAAN TAHIYAT : DIALOG RASULULLAH SAW DENGAN ALLAH SWT...

ANDAI kita mengetahui bahwa sebagian dari bacaan shalat itu adalah dialog. antara RASULULLAH SAW dengan ALLAH AZZA WAJALLA, tentu kita tdk akan terburu-buru melakukannya...
ALLAHU AKBAR ternyata bacaan shalat itu dpt membuat kita seperti berada di syurga...
Mari kita camkan dan renungkan kisah berikut ini, tentu akan berlinang air mata kita, Masya Allah...
Singkat cerita, pada malam itu Jibril AS mengantarkan Rasulullah SAW naik ke Sidratul Muntaha. Namun karena Jibril AS tdk diperkenankan utk mencapai Sidratul Muntaha, maka Jibril AS pun mengatakan kepada Rasulullah SAW utk melanjutkan perjalanan sendiri tanpa dirinya...
Rasulullah SAW melanjutkan perjalanan perlahan sambil terkagum-kagum melihat indahnya istana ALLAH SWT hingga tiba di Arsy...
Setelah sekian lama menjadi seorang Rasul, inilah pertama kalinya Muhammad SAW berhadapan dan berbincang secara langsung dg ALLAH Azza wa Jalla...
Bayangkanlah betapa indah dan luar biasa dahsyatnya moment ini, Masya Allah...
PERCAKAPAN Antara Muhammad Rasulullah SAW dg ALLAH Subhanahu wata'ala :
a). Rasulullah SAW pun mendekat dan memberi salam penghormatan kepada ALLAH SWT :
ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH...
(Semua ucapan penghormatan, pengagungan dan pujian hanyalah milik ALLAH).
b). Kemudian Allah SWT menjawab sapaannya :
ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH.
(Segala pemeliharaan dan pertolongan ALLAH untukmu wahai Nabi, begitu pula rahmat ALLAH dan segala karunia-Nya).
c). Mendapatkan jawaban seperti ini, Rasulullah SAW tdk merasa jumawa atau berbesar diri, justru beliau tidak lupa dengan umatnya (ini yang membuat kita sangat terharu)...
Beliau menjawab dengan ucapan :
ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN.
(Semoga perlindungan dan pemeliharaan diberikan kpd kami dan semua hamba ALLAH yg shalih).
Bacalah percakapan mulia itu sekali lg… itu adalah percakapan Sang Tuhan dan hamba-NYA, Sang Pencipta dan ciptaan-NYA dan mereka saling menghormati satu sama lain, menghargai satu sama lain dan lihat betapa Rasulullah SAW mencintai kita umatnya, bahkan beliau tdk lupa dg kita ketika Dia dihadapan ALLAH SWT...
d). Melihat peristiwa ini, para malaikat yg menyaksikan dari luar Sidratul Muntaha tergetar dan ter-kagum2 betapa Rakhman dan Rakhimnya ALLAH SWT, betapa mulianya Muhammad SAW...
Kemudian para malaikat pun mengucap dg penuh keyakinan :
ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH.
(Kami bersaksi bahwa tiada Tuhan selain ALLAH dan kami bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul Allah).
Jadilah rangkaian percakapan dlm peristiwa ini menjadi suatu bacaan dlm SHALAT yaitu pd posisi TAHIYAT Awal dan Akhir, yg kita ikuti dg shalawat kpd Nabi sebagai sanjungan seorang individu yg menyayangi umatnya...
MUNGKIN sebelumnya kita tdk terpikirkan arti dan makma kalimat dlm bacaan ini.
Mudah2an dg penjelasan singkat ini kita dpt lbh meresapi makna shalat kita. Sehingga kita dapat merasakan getaran yg dirasakan oleh para malaikat disaat peristiwa itu...
وَاللّهُ أعلَم بِالصَّوَاب
Smg bermanfaat utk menambah kekhusu'an sholat kita, Aamiin Allahumma Aamiin...

*Sumber : Kitab Qissotul Mi'roj

Fahmi bin Yahya Yahya

25.3.16

PINTU RAHMAT DAN AMPUNAN SEDANG MENUNGGUMU..

PINTU RAHMAT DAN AMPUNAN SEDANG MENUNGGUMU..

Bermunajatlah pada Allah Ta'ala di akhir malam, apa-apa yang menjadi hajatmu, apakah itu hajat dunia dan akhiratmu.
Ali bin Abi Thalib KWH pernah menceritakan,

رَأَيْتُنَا لَيْلَةَ بَدْرٍ وَمَا مِنَّا إِنْسَانٌ إِلاَّ نَائِمٌ إِلاَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَإِنَّهُ كَانَ يُصَلِّى إِلَى شَجَرَةٍ وَيَدْعُو حَتَّى أَصْبَحَ وَمَا كَانَ مِنَّا فَارِسٌ يَوْمَ بَدْرٍ غَيْرَ الْمِقْدَادِ بْنِ الأَسْوَدِ

“Kami pernah memperhatikan pada malam Badar dan ketika itu semua orang pada terlelap tidur kecuali Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam. Beliau melaksanakan shalat di bawah pohon. Beliau memanjatkan do’a pada Allah hingga waktu Shubuh. Dan tidak ada di antara kami tidak ada yang mahir menunggang kuda selain Al Miqdad bin Al Aswad.”(HR.Ahmad)

Dalam lafadz lain disebutkan,

يُصَلِّى وَيَبْكِى حَتَّى أَصْبَحَ

“Beliau melaksanakan shalat sambil menangis hingga waktu shubuh.” (HR.Ahmad)

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَحَبَّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ وَأَحَبَّ الصَّلاَةِ إِلَى اللَّهِ صَلاَةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَكَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا

“Sesungguhnya puasa yang paling dicintai di sisi Allah adalah puasa Daud dan shalat yang dicintai Allah adalah shalatnya Nabi Daud ‘alaihis salam. Beliau biasa tidur di separuh malam dan bangun tidur pada sepertiga malam terakhir. Lalu beliau tidur kembali pada seperenam malam terakhir. Nabi Daud biasa sehari berpuasa dan keesokan harinya tidak berpuasa.” (HR.Bukhari & Muslim)

Semoga Allah Ta'ala menjadikan kita semua Ahlu Istiqamah dan Ahlu Tahajjud.... Aamiin Ya Rabbal 'Aalamiin...
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan mengenai ‘Abdullah bin ‘Umar,

« نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللَّهِ ، لَوْ كَانَ يُصَلِّى بِاللَّيْلِ » . قَالَ سَالِمٌ فَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ لاَ يَنَامُ مِنَ اللَّيْلِ إِلاَّ قَلِيلاً .

“Sebaik-baik orang adalah ‘Abdullah (maksudnya Ibnu ‘Umar) seandainya ia mau melaksanakan shalat malam.” Salim mengatakan, “Setelah dikatakan seperti ini, Abdullah bin ‘Umar tidak pernah lagi tidur di waktu malam kecuali sedikit (HR.Bukhari)

Fahmi bin Yahya Yahya

24.3.16

WASIAT NASIHAT INDAH AL-IMAM Al-QUTHB AL-HABIB ABDURRAHMAN BIN ALI BIN ABU BAKAR AS-SAKRAN

WASIAT NASIHAT INDAH AL-IMAM Al-QUTHB AL-HABIB ABDURRAHMAN BIN ALI BIN ABU BAKAR AS-SAKRAN

وَصِيَّةُ اْلإِمَامِ اْلقُطْبِ اْلحَبِيْبِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أَبِيْ بَكْرِ السَّكْرَاْنِ فِيْ تَذْكِرَةِ اْلمُصْطَفَى
Wasiat Imam al-Quthb al-Habib 'Abdurrahman bin 'Ali bin Abi Bakar as-Sakron di dalam kitab "Tadzkirah al-Musthafa".

أَلاَ يَابْنَ الْفَقِيْهِ يَاعَبُوْدَ اسْمَعْ بِنِيَّةِ
Ingatlah wahai ananda al-Faqih 'Abud, dengarkanlah dengan penuh niat (sungguh2).

١- تَيَقَّظْ فِيْ دُجَى اللَّيْلِ وَ اسْمَعْ ذِي الْوَصِيَّةِ
1. Bangunlah malam dan dengarkan nasihat ini.

٢- إِلَى الرَّحْمَنِ تُبْ مِنْ ذُنُوْبِكَ وَ الْخَطِيَّةِ
2. Bertobatlah kepada اللّـہ  dari dosa2mu dan kesalahan.

٣- وَ لاَزِمْ ذِكْرَ مَـوْلاَكَ بُكْـرَةً وَ الْعَشِـيَّةَ
3. Dan selalu lah ingat kepada اللّـہ  di pagi dan sore hari.

٤- عَلَى الصَّلَوَاتِ وَاظِبْ عَلَيْهَا فِي الْجَمَاعَةِ
4. Jagalah selalu sholat dengan berjamaah.

٥- وَ لاَ تَغْـفُلْ عَنِ الذِّكْرِ لِلَّهِ كُلَّ سَـاعَة
5. Jangan lalai dari dzikir mengingat اللّـہ  di setiap waktu.

٦- وَ صُرَّ الْبَطْنَ وَ اصْبِرْ عَلَى طُوْلِ الْمَجَاعَةِ
6. Jagalah perut, sabarlah ketika haus dan lamanya lapar.

٧- تَغَـانَمْ سَـاعَةَ الْعُمْرِ مِنْ قَبْلِ الْمَـنِيَّةِ
7. Ambillah kesempatan umur (untuk ibadah) sebelum meninggal.

۸- وَ بَعْدَ الْمَغْرِبِ ارْكَعْ أَوِ اقْرَأْ بِالتَّدَبُّرِ
8. Rukuklah (sholatlah sunnat) setelah Maghrib atau bacalah al-Qur'an dengan tadabbur.

٩- أَوِ اذْكُرْ وَ إِنْ صَفَا الْقَلْبُ فَاسْبَحْ فِي التَّفَكُّرِ
9. Atau berdzikirlah, dan jika hati jernih, maka perbanyaklah tafakkur.

١٠- إِلَى وَقْتِ الْعِشَا اِحْذَرْ تَنَامُ أَصْلاً وَ تُهْمَرُ
10. Hingga waktu Isya', hindari (jangan) tidur sama sekali.

١١- عَسَى تُحْمَى وَ تَحْـظَى بِأَلْطَـافٍ خَفِيَّة
11. Semoga engkau mendapat bagian dari kelembutan pemberian اللّـہ  yang penuh rahasia.

١٢- وَ لاَ تَسْمُرْ فَتُقْمَرْ عَنِ الطَّاعَاتِ وَ الدِّيْنِ
12. Janganlah jaga malam (begadang) untuk ngobrol (yang sia2), maka engkau tidak bisa (terjauhkan) melakukan ketaatan dan pemahaman agama.

١٣- تَجَنَّبْ جَمْ جِـدًّا مِنَ السُّفَهَا الشَّيَاطِيْنِ
13. Jauhilah sejauh-jauhnya teman bodoh yang berkelakuan seperti syetan.

١٤- تَبَعَّدْ لاَ تُجَالِسْ سِوَى الضُّعَفَا الْمَسَاكِيْنِ
14. Menjauhlah, jangan duduk kecuali dengan orang yang lemah (dlu'afa) dan miskin (agar kau faham bersyukur).

١٥- وَ تُبْ بَعَْدَ الطَّـهَارَةِ وَ نَمْ صَافِي الطَّـوِيَّةِ
15. Dan taubatlah setelah sesuci (wudlu’) dan tidurlah dalam keadaan suci (hati bersih) tanpa dendam.

١٦- وَ قُمْ فِيْ آخِرِ اللَّيْلِ صَلِّ وَ اقْرَأْ وَ هَلَّلْ
16. Bangunlah di (sepertiga) akhir malam, sholat lah dan bacalah (al-Qur'an) dan (bacalah) tahlil.

١٧- تَفَـهَّمْ سِـرَّ مَعْـنَى كَلاَمِ اللَّهِ وَ رَتَّـلْ
17. Pahamilah rahasia makna Kalam اللّـہ  al-Qur'an dan bacalah dengan tartil.

١۸- وَ بِاسْتِغْفَارِ مَوْلاَكَ قَبْلَ الْفَجْرِ كَمِّلْ
18. Dan sempurnakanlah beristghfar kepada (اللّـہ ) Tuhanmu sebelum waktu Subuh.

١٩- وَ صَلِّ الصُّـبْحَ تَكْفِي مِنَ اللَّهِ كُلَّ أَذِيَّةِ
19. Kemudian sholatlah Subuh, maka engkau tercegah oleh اللّـہ  dari segala gangguan.

٢٠- وَ بَعْدَ الصُّبْحِ فَاذْكُرْ إِلَى أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ
20. Dan setelah Subuh berdzikirlah hingga terbit matahari.

٢١- وَ كُنْ فِي الْيَوْمِ أَحْسَنَ فِي الطَّاعَاتِ مِنْ أَمْسِ
21. Jadikanlah hari ini lebih baik dalam ketaatan dari hari kemarin.

٢٢- وَ لاَ تَكْسَلْ مِنَ الْخَيْرِ وَ اذْكُرْ فَصَّةَ الرَّمْسِ
22. Jangan malas dari kebaikan dan ingatlah ketika kau kelak diantar ke kuburan.

٢٣- وَ قُمْ صَلِّ الضُّـحَى بَعْدَ اِشْـرَاقِ الْمَضِيَّةِ
23. Bangkitlah untuk sholat Dluha setelah matahari keluar nampak terang.

٢٤- وَلاَ تَهْتَمْ أَصْلاً بِرِزْقِكَ فَهُوَ مَضْمُوْنُ
ضَمِنَ بِهِ بَارِئُ الْكَوْنِ بِسِرِّ الْكَافِ وَ النُّوْنِ
24. Dan janganlah sama sekali bingung dengan masalah rizkimu karena itu sudah ditanggung
(Oleh اللّـہ ) yang menciptakan seluruh alam semua makhluk dengan rahasia “kaf” dan “nun” (yaitu maksudnya kata “kun” jadilah maka terjadilah).

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَآ مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّـدِنَآ مُحَمَّدٍ

21.3.16

Apa hubungan Al-Atthas dengan bin Syeikh Abubakar bin Salim.

Apa hubungan Al-'Atthas dengan bin Syeikh Abubakar bin Salim.

Syarifah hubabah Thalhah binti Agil bin Ahmad bin Abubakar As-Sakran mengandung tua. Ia mulai merasakan tanda-tanda akan melahirkan. Dari dalam perutnya ia mendengar perdebatan.
"Keluarlah kau," kata salah satu janin.
"Kau saja yang keluar dahulu," kata janin yang lain.

Janin yang satu mengutamakan janin lain. Sebab, janin yang keluar lebih dahulu kelak akan menjadi kakak. Dalam riwayat lain, perdebatan ini sempat membuat sang ibu khawatir. Sebagaimana kebanyakan ibu, Thalhah menghendaki kelahiran putranya dengan cepat dan selamat.

Akhirnya salah satu janin itu berkata, "Keluarlah lebih dahulu, nanti aku yang masyhur, tapi sesungguhnya Almasyhuur fii barokatil mastuur (yang masyhur itu ada dalam keberkahan yang tidak dikenal)."

Tak berapa lama lahirlah bayi yang kemudian diberi nama Aqil, lalu disusul adiknya yang kemudian diberi nama Abubakar. Aqil inilah kakek keluarga Al-'Atthas, dia juga yang pertama kali bersin dan mengucap hamdalah ketika masih dalam kandungan ibunya. Jadi, Al-'Atthas adalah kakak dari BSA (Bin Syeikh Abubakar Bin Salim).

[Tajul A’ros juz I Hal 37-38].

Sebagaimana ucapan janin tadi, kita jarang dengar cerita tentang Al Habib Aqil, tapi lain halnya dengan Syeikh Abubakar. Sejak kecil Syeikh Abubakar telah masyhur. Al Habib Aqil bin Salim akan menjadi seorang wali yang mastuur, tapi sebaliknya Syeikh Abubakar bin Salim, adiknya.

Mengapa garis keturunan Rosul saw ini disebut Al-'Atthos? Nantikan rubrik berikut.
Keluarga Al-'Atthas adalah keturunan dari Abdurrahman bin Agil bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman Assegaf.
Kata Al-'Atthas berasa dari kata dasar 'athosa yang berarti bersin.

Al Habib Ali bin Hasan Al-'Atthas dalam bagian pertama bukunya yang berjudul Al-Qirthos Fi Manakibil 'Atthos berkata,

“Dijuluki Al-'Atthas karena suatu karomah. Ketika dalam kandungan ibunya, janin keluarga Al-'Atthas bersin dan mengucapkan Alhamdulillah. Suara bersin ini terdengar padahal ia masih berada dalam kandungan ibunya. Orang yang pertama kali bersin dalam kandungan ibunya adalah Sayidina Agil bin Salim.

(Al-Mu’jam Al-Lathiif, cet. I 1986, Alamul Ma’rifah, Jeddah hal 134 – 135).

Al Habib Ali bin Hasan Al-'Atthas berkata bahwa suara bersin dari janin-janin keluarga Al-'Atthas selalu terdengar sepanjang zaman. Anak beliau, Hasan bin Ali, juga bersin ketika berada dalam kandungan ibunya. Suara bersin itu hampir menjadi hal yang biasa bagi para isteri keluarga Al-'Atthas. Di setiap zaman dan tempat banyak diceritakan peristiwa ini. Suara bersin itu umumnya terdengar pada bulan kesembilan masa kehamilan dengan syarat suasana tenang. Suara bersin itu terdengar oleh orang yang hamil dan orang yang berada di dekatnya.

(Tajul A’ros I, hal 38-39).

Habib Fahmi bin Yahya Yahya