18.10.15
SEORANG PEDAGANG KURMA YANG MENYANTUNI ANAK YATIM
SEORANG PEDAGANG KURMA YANG MENYANTUNI ANAK YATIM
وَحُكِيَ أَنَّهُ كَانَ بِمِصْرَ رَجُلٌ تَاجِرٌ فِي التَّمْرِ يُقَالُ لَهُ عَطِيَّةُ بْنُ خَلْفٍ وَكَانَ مِنْ أَهْلِ الثَّرْوَةِ، ثُمَّ افْتَقَرَ، وَلَمْ يَبْقَ لَهُ سِوَى ثَوْبٍ يَسْتُرُ عَوْرَتَهُ،
Diceritakan bahwa di Mesir ada seorang laki-laki pedagang kurma, namanya Athiyah bin Kholaf . Dia termasuk orang yang kaya raya.
(Oleh karena suatu hal ) dia menjadi miskin. Dia tidak punya apa-apa kecuali pakaian yang melekat di badan untuk menutupi auratnya
فَلَمَّا كَانَ يَوْمُ عَاشُوْرَاءَ صَلَّى الصُّبْحَ فِيْ جَامِعِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، وَمِنْ عَادَةِ هَذَا الْجَامِعِ لَا يَدْخُلُهُ النِّسَاءُ إِلَّا فِيْ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ لِأَجْلِ الدُّعَاءِ
Ketika hari Asyura datang, ia melakukan shalat shubuh di Masjid Amru bin Ash. Kebiasaan yang berlaku di masjid itu pada hari biasa adalah tidak diperkenankannya para wanita masuk masjid tersebut kecuali pada hari Asyura saja, untuk tujuan berdoa.
فَوَقَفَ يَدْعُوْ مَعَ جُمْلَةِ النَّاسِ، وَهُوَ بِمَعْزِلٍ عَنِ النِّسَاءِ جَاءَتهُ امْرَأَةٌ وَمَعَهَا أَطْفَالٌ
Di masjid itu, 'Athiyah bin Kholaf berdoa bersama orang banyak.
Dia terpisah dari para wanita, tiba-tiba datang kepadanya seorang wanita bersama anak-anak kecil.
فَقَالَتْ يَا سَيِّدِيْ: سَأَلْتُكَ بِاللهِ إِلَّا مَا فَرَّجْتَ عَنِّيْ وَآثَرْتَنِيْ بِشَيْءٍ أَسْتَعِيْنُ بِهِ عَلَى قُوْتِ هَذِهِ الْأَطْفَالِ، فَقَدْ مَاتَ أَبُوْهُمْ وَمَا تَرَكَ لَهُمْ شَيْئًا وَأَنَا شَرِيْفَةٌ، وَلَا أَعْرِفُ أَحَدًا أَقْصِدُهُ، وَمَا خَرَجْتُ فِيْ هَذَا الْيَوْمِ إِلَّا عَنْ ضَرُوْرَةٍ أَحْوَجَتْنِيْ إِلَى بَذْلِ وَجْهِيْ، وَلَيْسَ لِيْ عَادَةً بِذَلِكَ.
Wanita itu berkata:
"Wahai tuan, Aku minta kepada anda,Demi Allah, semoga tuan bisa meringankan kesulitanku dan sudi memberi sesuatu yang aku gunakan untuk bisa memenuhi kebutuhan makan anak-anak ini.
Sementara bapak mereka telah wafat. Dia tidak meninggalkan satu apapun untuk mereka.Aku adalah Syarifah.
Aku tidak tahu siapa yang aku tuju.
Aku tidak keluar kecuali hari ini, itupun dengan darurat yang menjadikan aku hajat untuk mengorbankan diriku. Dan itu bukan merupakan kebiasanku.
فَقَالَ الرَّجُلُ فِيْ نَفْسِهِ: أَنَا مَا أَمْلِكُ شَيْئًا، وَلَيْسَ لِيْ غَيْرُ هَذَا الثَّوْبِ، وَإِنْ خَلَعْتُهُ اِنْكَشَفَتْ عَوْرَتِيْ، وَإِنْ رَدَدْتُهَا فَأَيُّ عُذْرٍ لِيْ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ
'Athiyahpun berkata dalam hatinya:
"Aku tidak mempunyai sesuatu. Tidak ada milikku keculai baju ini. Jika aku lepas akan terbukalah tubuhku. Jika wanita ini aku tolak, alasan apakah yang akan aku kemukakan pada Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wasallam-
فَقَالَ لَهَا: اِذْهَبِيْ مَعِيْ حَتَّى أُعْطِيَكَ شَيْئًا
Akhirnya 'Athiyah berkata kepada wanita tersebut:
"Mari ke rumahku. Aku akan memberimu sesuatu."
فَذَهَبَتْ مَعَهُ إِلَى مَنْزِلِهِ، فَأَوْقَفَهَا عَلَى الْبَابِ وَدَخَلَ وَخَلَعَ ثَوْبَهُ، وَاتَّزَرَ بِخَلِقٍ كَانَ عِنْدَهُ، ثُمَّ نَاوَلَهَا الثَّوْبَ مِنْ شِقِّ الْبَابِ.
Maka wanita itu pun mengikuti 'Athiyah sampai di rumahnya.
Lalu 'Athiyah menempatkannya didepan pintu rumahnya.
Athiyahpun masuk kerumah dan mencopot bajunya. Dia mengenakan sarung lusuh yang ia punya. Diberikanlah baju yang ia copot tadi kepada wanita dari sisi pintunya.
فَقَالَتْ لَهُ: أَلْبَسَكَ اللهُ مِنْ حُلَلِ الْجَنَّةِ وَلَا أَحْوَجَكَ فِيْ بَاقِيْ عُمْرِكَ إِلَى أَحَدٍ
Lalu ia mendoakan 'Athiyah:
"Semoga Allah memberikan pada tuan pakaian-pakaian surga dan tuan tidak akan membutuhkan kepada orang lain selama hidup tuan."
فَفَرِحَ بِدُعَائِهَا وَأَغْلَقَ الْبَابَ، وَدَخَلَ بَيْتَهُ يَذْكُرُ اللهَ تَعَالَى إِلَى اللَّيْلِ،
'Athiyah merasa senang dengan do'a wanita tersebut. Iapun menutup pintunya, masuk kerumahnya. Ia berdzikir hingga larut malam
ثُمَّ نَامَ فَرَأَى فِي الْمَنَامِ حَوْرَاءَ لَمْ يَرَ الرَّاؤُوْنَ أَحْسَنَ مِنهَا، وَبِيَدِهَا تُفَّاحَةٌ قَدْ عَطَّرَتْ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، فَنَاوَلَتْهُ التُّفَّاحَةَ فَكَسَرَهَا، فَخَرَجَ مِنْهَا حُلَّةٌ مِنْ حُلَلِ الْجَنَّةِ لَا تُسَاوِيْهَا الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا، فَأَلْبَسَتْهُ الْحُلَّةَ وَجَلَسَتْ فِيْ حِجْرِهِ.
Kemudian Athiyah tidur. Ketika tidur, ia bermimpi melihat bidadari, belum pernah orang melihat wanita lebih cantik darinya. Di tangan wanita itu ada buah apel yang mengharumkan antara langit dan bumi.
Buah apel tersebut dberikannya kepada Athiyah ketika buah apel itu dibelah, dari belahan apel itu keluar pakaian dari pakian surga yang tidak terbanding dengan di dunia sesisinya
Pakaian itu dikenakannya pada 'Athiyah bin Kholaf. Setelah pakaian itu dikenakan, bidadari itu duduk di pangkuannya.
فَقَالَ لَهَا: مَنْ أَنْتِ؟ فَقَالَتْ: أَنَا عَاشُوْرَاءُ زَوْجَتُكَ فِي الْجَنَّةِ. قَالَ: فَبِمَ نِلْتُ ذَلِكَ؟ فَقَالَتْ: بِدَعْوَةِ تِلْكَ الْمِسْكِيْنَةِ الْأَرْمَلَةِ وَالْأَيْتامِ الَّذِيْنَ أَحْسَنْتَ إِلَيْهِمْ بِالْأَمْسِ،
'Athiyah lantas bertanya:
"Siapakah kamu ini?"
"Aku adalah 'Asyura, istrimu di surga," jawab bidadari itu.
"Dengan amal apakah aku memperoleh kemuliaan seperti ini?" tanya 'Athiyah.
Lalu bidadari itu menjawab:
"Dengan seorang janda miskin, dan anak-anak yatim yang kemarin engkau berbuat baik kepada mereka.”
فَانْتَبَهَ وَعِنْدَهُ مِنَ السُّرُوْرِ مَا لَا يَعْلَمُهُ إِلَّا اللهُ تَعَالَى، وَقَدْ عَبِقَ مِنْ طِيْبِهِ الْمَكَانُ،
Maka Athiyah terbangun, dan dia sangat senang yang tidak mengetahuinya kecuali Allah Ta’ala, sementara tempat dimana ia berada semerbak dari bau wanginya
فَتَوَضَّأَ وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ شُكْرًا للهِ تَعَالَى،
Kemudian ia mengambil air wudhu, dan iapun melaksanakan shalat dua rakaat sebagai tanda rasa syukurnya kepada Allah Ta’ala
ثُمَّ رَفَعَ طَرْفَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ: إِلَهِيْ إِنْ كَانَ مَنَامِيْ حَقًّا، وَهَذِهِ زَوْجَتِيْ فِي الْجَنَّةِ فَاقْبِضْنِيْ إِلَيْكَ
Kemudian Athiyah mengangkat pandangannya ke langit seraya berdoa:
“Wahai Tuhanku. Apabila mimpi dalam tidurku itu benar dan bidadari dalam mimpiku itu adalah istriku di surga, maka matikanlah aku saat ini juga untuk bertemu dengan-Mu."
فَمَا اسْتَتَمَّ الْكَلَامَ حَتَّى عَجَّلَ اللهُ بِرُوْحِهِ إِلَى دَارِ السَّلَامِ.
Belum usai doa dipanjatkan, Allah menyegerakan ruh Athiyah ke surga Daarussalaam
wallohu a'lam.
Sumber Kitab:
Irsyadul Ibad halaman 150.
17.10.15
WASIAT ROSULULLAH TERHADAP IMAM ALI TENTANG ARAB.
'Wahai Ali aku wasiatkan Arab kepadamu, jagalah dengan sebaik-baiknya'.
'Cinta kepada Arab merupakan tanda keimanan dan membencinya merupakan tanda kekufuran. Siapa yang mencintai Arab berarti telah mencintai aku, dan barangsiapa yang membenci Arab berarti telah membenciku'.
'Cintailah oleh kamu akan Arab karena tiga hal (dalam riwayat lain, Jagalah hak-hak ku melalui Arab karena tiga hal : pertama, karena aku orang Arab, kedua Alquran berbahasa Arab dan ketiga pembicaraan ahli surga dengan bahasa Arab'.
'Cintailah bangsa Arab dan jagalah kelestarian. Sesungguhnya kelestarian bangsa Arab adalah cahaya dalam Islam'.
'Kelemahan bangsa Arab, adalah kelemahan Islam'.
'Tidaklah yang membenci Arab itu kecuali orang munafik'.
'Wahai Salman, janganlah membenciku, nanti engkau akan berpisah dengan agamamu. Saya (Salman) berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana saya membenci engkau yang telah memberiku hidayah Allah swt. Berkata Rasulullah saw: Jika engkau membenci Arab maka engkau membenciku'.
'Barangsiapa mencaci maki Arab, dia termasuk orang-orang musyrik'.
'Pertama -tama orang yang mendapat syafaat dari umatku adalah Ahlu-al-baitku, kemudian yang paling dekat dari keluargaku, orang yang paling dekat dari kaum Quraisy kemudian kaum Anshor, kemudian orang yang beriman kepadaku dan mengikutiku dari orang-orang Yaman, kemudian seluruh bangsa Arab, kemudian seluruh bangsa Ajam'.
Rahasia memotong kuku
Rasulullah SAW,Bersabda : barang siap yang mengerat / memotong kukunya pada :
Hari Sabtu : niscaya keluar dari dalam tubuhnya obat & Masuk kepadanya penyakit.
Hari Ahad : Niscaya keluar dari Padanya kekayaan & Masuk kepada nya kemiskinan.
Hari Isnin : Niscaya keluar dari padanya gila dan masuk kepadanya sehat.
Hari selasa : niscaya keluar dari padanya sehat & masuk kepadanya penyakit.
Hari Rabu : niscaya keluar dari padanya was was dan Masuk kepadanya kepapan.
Hari Kamis : niscaya keluar dari padanya gila & masuk kepadanya sembuh dari penyakit.
Hari Jum'ah : niscaya keluar dosa dosanya seperti pada hari dilahirkan oleh ibunya & masuk kepadanya rahmat dari pada Allah ta'ala.
Subhanallah
Ummu Fidhdhah
Kisah teladan "Ummu Fidhdhah " Pembantu Sayyidatina Fatimah Al-Zahra rha.
"Ummu Fidhdhah "
Padang pasir tandus nan gersang tak pernah menjanjikan kesejukan dan kedamaian bagi para pelintasnya, angin panas yang menghembus dari sela-sela bukit gersang nan terjal di siang hari itu membuat suasana makin tidak menentu, panasnya sang surya kian membuat suasana semakin mencekam, derap kaki unta yang ditungganginya nampak semakin lama semakin tertatih-tatih. Jemunya perjalanan dalam kesendirian membuat suasana semakin membosankan. Di ketinggian nampak burung-burung Nasar melayang-layang dan berteriak-teriak mengisi keheningan suasana lautan padang pasir yang luas dan tak berujung itu. Dia tetap melakukan perjalanannya itu mengarungi "Sahara" dalam kesendirian demi menuai harapan Keridhoan Ilahi. Dialah Abdullah bin Mubarak yang kala itu sedang menempuh perjalanan dan ingin menunaikan Ibadah Hajji dan berziarah ke Maqam Nabi Muhamad saw.
Ketika dia sedang berada ditengah-tengah perjalanan mengarungi ganasnya lautan Padang Pasir dan panasnya angin yang berhembus dari Sahara, tiba-tiba dia melihat sesuatu di kejauhan seperti "Titik" hitam yang bergerak. Lalu Abdullah melangkahkan kaki untanya ke arah titik hitam itu dengan didorong oleh rasa ingin tahu. Ketika mulai mendekat dan semakin mendekat, titik hitam itu mulai menunjukkan dan nampak wujud aslinya. Hingga kini jelas baginya bahwa titik hitam yang nampak dari kejauhan tadi adalah sosok tubuh manusia yang berjalan dalam kesendirian pula. Dan yang lebih mengherankan lagi bahwa sosok tubuh itu ternyata dia adalah seorang Wanita yang mengenakan busana hitam tertutup rapat.
Menyaksikan situasi seperti ini, Abdullah merasa ragu, iapun mulai bergumam didalam hatinya `Apakah aku sedang tidur dan bermimpi ataukah aku kini hidup dialam maya? Manusiakah dia atau makhluk haluskah? Siapakah dia itu? Mengapa dia ada dan terdampar di tempat seperti ini? Sedangkan aku tahu bahwa di sekitar sini tak ada pemukiman penduduk terdekat? Kalau betul dia ini manusia maka apa yang sedang dia lakukan di tengah padang pasir ini? Mana bekal dalam perjalanannya jika dia adalah seorang musafir kelana?
Pertanyaan demi pertanyaan terus datang bertubi-tubi memenuhi pikirannya. Sementara detak jantungnya pun mulai memacu deras akibat "Khawatir", matanya tak berkedip sekalipun dalam menyaksikan fenomena dihadapannya yang membuat suaranya pun cukup terbungkam. Sementara wanita itu tetap melangkahkan kakinya dengan tenang sambil menundukan pandangannya kearah depan tanpa memperdulikan keberadaannya sama sekali. Dengan sedikit keberanian yang hampir sirna, Abdullah mulai mengarahkan untanya mendekati wanita tersebut. Dengan suara yang tersimpan akibat lama membisu dia pun memberanikan diri dalam menyapa wanita itu.
Abdullah : Siapakah gerangan anda ini wahai Ibu?
Ibu : Ucapkanlah salam, niscaya mereka akan mengetahui kelak (34:89)
Abdullah : Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh
Ibu : Salam dari Allah bagi penghuni Surga (36:58)
Abdullah pun faham dari ucapan-ucapannya bahwa wanita ini dalam keadaan tersesat, namun dia masih ragu dan kini dia bertanya lagi pada wanita itu
Abdullah : Apakah anda manusia seperti kita ataukah anda dari makhluk halus?
Ibu : Wahai anak adam, pakailah pakaianmu yang bersih ketika enkau akan bersolat (7:31)
Mengertilah kini Abdullah bahwa wanita yang ada dihadapannya sekarang ini adalah Manusia dan bukannya Jin yang diduga sebelumnya. Lalu dia bertanya lagi:
Abdullah : Dari manakah asal Ibu?
Ibu : Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh" (41:44)
Abdullah : Sekarang ibu mau kemana?
Ibu : Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah (3:97)
Abdullah : Sejak kapan ibu dalam kesendirian di perjalanan ini?
Ibu : selama tiga malam berturut-turut (19:10)
Abdullah : Bu, sepertinya saya tidak melihat ibu membawa bekal dalam perjalanan ini, dari mana ibu mendapatkan makanan dan minuman?
Ibu : Dan dia Tuhanku, yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku (26: 79-80)
Abdullah : Saya bawa sedikit makanan, maukah ibu menerimanya agar tidak lapar?
Ibu : Dan tidaklah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan (21:8)
Abdullah : Lalu, jika ibu hendak salat, bagaimana ibu berwudhu sedangkan air saja ibu tak punya?
Ibu : Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci). (4:43)
Abdullah : Mengapa bahasa dan aksen yang ibu ucapkan pada saya tidak seperti ucapan-ucapan saya pada ibu?
Ibu : Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.(50:18)
Melihat jawaban-jawaban dari si ibu yang agak "Aneh" Abdullah merasa heran, dengan sedikit sinis dia bertanya lagi:
Abdullah : Maaf ya bu, ibu ini jenis manusia berasal dari mana sih?
Ibu : Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. (17:36)
Abdullah : Maafkan kelancangan saya wahai ibu, saya ingin menebus kesalahan saya itu
Ibu : Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.(12:92)
Abdullah : Ibu, maukah ibu saya bonceng diatas unta saya ini hingga ibu dapat menyusul "Kafilah" yang telah meninggalkan ibu?
Ibu : Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa.(21:22)
Abdullah faham apa yang dimaksudkan perkatan si ibu tadi bahwa tak mungkin si ibu ini duduk berdampingan dengan laki-laki yang bukan muhrimnya, apalagi dalam perjalanan jauh. Lalu, Abdullah pun turun dari untanya seraya meneruskan niat baiknya tadi.
Ibu : Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya.(2:197)
Maka Abdullah pun merundukan untanya sambil mempersilahkan si ibu untuk menunggganginya.
Ibu : Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan (menundukkan) pandangannya". (24:30)
Abdullah segera menundukkan arah pandangan matanya dari si ibu seraya berkata: "Naiklah wahai ibu!" Namun, ketika unta itu hendak dinaiki tiba-tiba unta itu beranjak bangkit lalu berlari menjauhi keduanya, hingga baju yang dipakainya oleh si ibu sedikit robek.
Ibu : Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. (42:30)
Lalu Abdullah menangkap kembali tali kekang unta itu dan menenangkannya. Kemudian ia berkata pada si ibu: "Sebentar ya bu, sekarang saya akan mengikatnya agar tidak berontak seperti tadi"
Ibu : Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat). (21:79)
Ketika ibu itu sudah naik serta kini dia berada diatas punggung unta dan siap untuk melakukan perjalanan, maka terdengar dia berkata:
Ibu : Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami." (43:13-14)
Setelah itu Abdullah mulai mengambil tali kekang unta tersebut dan berteriak-teriak agar unta dapat berjalan cepat
Ibu : Dan sederhanalah kamu dalam berjalan (perlahan-lahan) dan lunakkanlah suaramu.(31:19)
Mendengar ucapan si ibu, Abdullahpun memperlambat langkah untanya, dan ia kini menghibur hatinya sendiri dengan melantunkan syair dan pantun seraya bernyanyi.
Ibu : karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur'an. (73:20)
Abdullahpun berhenti bernyanyi dan bermadah, lalu dia mulai membaca a-Quran, setelah itu dia berkata pada si ibu:
Abdullah : Ibu, apakah ibu punya suami?
Ibu : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu."(5:101)
Ucapan dari si ibu yang penuh dengan sindiran pada Abdullah agar tidak bertanya sesuatu yang bukan urusannya, membuat Abdullah tidak lagi berani bertanya-tanya dalam perjalanan yang sangat menjemukan dan memuat selaksa misteri.
Ditengah-tengah keduanya berjalan mengarungi lautan pasir yang tak kunjung sirna, tiba-tiba Abdullah melihat dari kejauhan seperti gumpalan debu yang membumbung tinggi ke atas akibat injakan-injakan kafilah lalu. Ya ..betul mereka adalah memamg kelompok musafir dan mereka kini ada di depan saya ujarnya dalam hati, Abdullahpun mempercepat langkah untanya agar dapat mendekati dan mengejar mereka seraya berkata pada si ibu.
Abdullah : Itukah Kafilah yang telah meninggalkan ibu? Adakah orang-orang yang ibu kenal disana?
Ibu : Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.(18:46)
Abdullah : Apa tugas anak-anak ibu dalam perjalanan ini?
Ibu : Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk. (16:16)
Abdullah pun faham bahwa mereka adalah sebagai "Guide" dalam perjalanan ini.
Abdullah : Siapakah nama anak-anak ibu agar saya dapat memanggil mereka?
Ibu : Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya. (4:125)
Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (4:164)
Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh.(19:12).
Lalu Abdullah memanggil nama-nama yang disebutkan oleh ibu tadi dengan suara lantang: "Hai Ibrahim.. Musa…Yahya…." Tidak berselang begitu lama, tiba-tiba muncul dihadapan Abdullah tiga pemuda yang gagah dan tampan yang terpancar dari raut wajah mereka cahaya keimanan.
Mereka datang dan menyambut tamu dan wanita itu, menyalami keduanya sambil berucap pada Abdullah dengan ucapan beribu-ribu terimakasih, salah satu diantara mereka menjamu Abdullah dengan makanan dan minuman segar.
Ibu : Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu".(69:24)
Setelah itu si ibu berkata pada putra-putranya:
Ibu : Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya". (28:26)
Maka fahamlah anak-anak si ibu tadi dari ucapannya agar Si Abdulah itu diberikan imbalan atas jasa dan perbuatan mulianya. Lalu para pemuda itu bangkit dan memberikan berbagai hadiah perbekalalan pada Abdullah atas pertolongannya.
Ibu : Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.(2:261)
Segera anak-anak tersebut memberikan lagi pada Abdullah berbagai hadiah ketika mendengarkan ucapan si ibu tadi. Mereka menambah bekal diatas bekal pada Abdullah yang lebih dari cukup untuknya.
Disaat itu Abdullah hanya termenung terpukau melihat dan menyaksikan kejadian ini yang menyimpan selaksa misteri . Lalu Abdullah berkata pada para pemuda itu dengan tegas dan rasa hormat.
Abdullah : "Demi Allah makanan-makanan yang kalian berikan sebagai bekal ini, uang dan harta yang kalian hadiahkan padaku untuk kebutuhanku dalam perjalanan ini, kini aku akan mengharamkannya pada diriku kecuali jika kalian ceritakan padaku siapakah "Wanita Mulia" ini sehingga aku dapati dia betul-betul menjaga lidahnya dari segala umpatan, Ghibah dan berbagai ucapan yang menyakitkan hati…."
Anak-anak Ibu : Dia adalah ibu kami "Fidhdhah" namanya. Dahulu dia bekerja dan membantu di rumah sayyidatina Fatimah Al-Zahra as putri kesayangan Rasulallah. Sejak dia ditinggalkan majikannya, ia tak pernah berbicara pada orang-orang kecuali dia memakai "Al-Quran" sebagai ucapannya. Menggunakan ayat-ayat Al-Quran untuk pembicaraannya sehari-hari. Karena dia khawatir dan takut jika lidahnya dapat tergelincir dan terjerumus kedalam perbuatan dosa yang akan membuat murkanya Allah.
Setelah itu, Abdullah pun memohon doa pada mereka dan pamit untuk melanjutkan perjalanannya dengan menyimpan kenangan yang sangat berkesan dan langka.
Inilah kisah "Ummu Fidhdhah" pembantu Sayyidatina Fatimah Al-Zahra
Inilah kepiawayan Ilmu dan budi pekertinya.
Jika pembantunya saja sudah sedemikian rupa dalam memahami "Tematik" Al-Quran, bagaimanakah Ilmu yang dimiliki oleh "Tuan Rumahnya"?
Jika Budi pekerti dan pendidikan yang diterima oleh Ummu Fadhdhah sudah hampir mencapai titik "Perfect" dan kulminasi lalu, bagaimanakah Ilmu dan Akhlak yang dimiliki oleh pendidiknya yaitu Fatimah Al-Zahra RA?
Subhanallah...
12.10.15
Mutiara Nasehat al-Habib Umar bin Hafidz
Mutiara Nasehat al-Habib Umar bin Hafidz
1. Penuhilah hatimu dengan kecintaan terhadap saudaramu niscaya
akan menyempurnakan kekuranganmu dan mengangkat derajatmu di
sisi Allah
2. Barang siapa Semakin mengenal kepada allah niscaya akan semakin
takut.
3. Barang siapa yang tidak mau duduk dengan orang beruntung,
bagaimana mungkin ia akan beruntung dan barang siapa yang duduk
dengan orang beruntung bagaimana mungkin ia tidak akan beruntung.
4. Barang siapa menjadikan kematiaannya sebagai pertemuan dengan
sang kekasih (Allah), maka kematian adalah hari raya baginya.
5. Barang siapa percaya pada Risalah (terutusnya Rasulullah), maka
ia akan mengabdi padanya. Dan barang siapa percaya pada risalah,
maka ia akan menanggung (sabar) karenanya. Dan barang siapa yang
membenarkan risalah, maka ia akan mengorbankan jiwa dan hartanya
untuknya.
6. Kedekatan seseorang dengan para nabi di hari kiamat menurut
kadar perhatiannya terhadap dakwah ini.
7. Betapa anehnya bumi, semuanya adalah pelajaran. Kukira tidak ada
sejengkal tanah di muka bumi kecuali di situ ada ibrah (pelajaran)
bagi orang yang berakal apabila mau mempelajarinya.
8. Sebaik-baik nafsu adalah yang dilawan dan seburuk-buruk nafsu
adalah yang diikuti.
9. Tanpa menahan hawa nafsu maka manusia tidak akan sampai pada
Tuhannya sama sekali dan kedekatan manusia terhadap Allah menurut
kadar pembersihan jiwanya.
10. Jikalau sebuah hati telah terbuka, maka akan mendapatkan apa
yang diinginkan.
11. Barang siapa yang mempunyai samudra ilmu kemudian kejatuhan
setetes hawa nafsu, maka hawa nafsu itu akan merusak samudra
tersebut.
12. Sesaat dari saat-saat khidmat (pengabdian) , lebih baik daripada
melihat arsy dan seisinya seribu kali.
13. Menyatunya seorang murid dengan gurunya merupakan permulaan
di dalam menyatunya dengan Rasulullah SAW. Sedangkan menyatunya
dengan Rasulullah SAW merupakan permulaan untuk fana pada Allah
(lupa selain Allah)
14. Manusia di setiap waktu senantiasa terdiri dari dua golongan,
golongan yang diwajahnya terdapat tanda-tanda dari bekas sujud dan
golongan yang di wajahnya terdapat tanda-tanda dari bekas
keingkaran.
15. Barang siapa yang menuntut keluhuran, maka tidak akan peduli
terhadap pengorbanan.
16. Sesungguhnya di dalam sujud terdapat hakikat yang apabila
cahanya turun pada hati seorang hamba, maka hati tersebut akan
sujud selama-lamanya dan tidak akan mengangkat dari sujudnya.
17. Beliau RA berkata tentang dakwah, Yang wajib bagi kita yaitu
harus menjadi daI dan tidak harus menjadi qodli atau mufti
(katakanlah wahai Muhammad SAW inilah jalanku, aku mengajak
kepada Allah dengan hujjah yang jelas aku dan pengikutku) apakah
kita ikut padanya (Rasulullah) atau tidak ikut padanya? Arti dakwah
adalah memindahkan manusia dari kejelekan menuju kebaikan, dari
kelalaian menuju ingat kepada Allah, dan dari keberpalingan kembali
menuju kepada Allah, dan dari sifat yang buruk menuju sifat yang
baik.
18. Syetan itu mencari sahabat-sahabatnya dan Allah menjaga
kekasih-kekasih- Nya.
19. Apabila ibadah agung bagi seseorang maka ringanlah adap
(kebiasaan) baginya dan apabila semakin agung nilai ibadah dalam
hati seseorang maka akan keluarlah keagungan adat darinya.
20. Bila benar keluarnya seseorang (di dalam berdakwah), maka ia
akan naik ke derajat yang tinggi.
21. Keluarkanlah rasa takut pada makhluk dari hatimu maka engkau
akan tenang dengan rasa takut pada kholiq (pencipta) dan
keluarkanlah berharap pada makhluk dari hatimu maka engkau akan
merasakan kenikmatan dengan berharap pada Sang Kholiq.
22. Banyak bergurau dan bercanda merupakan pertanda sepinya hati
dari mengagungkan Allah dan tanda dari lemahnya iman.
23. Hakikat tauhid adalah membaca Al Qur’an dengan merenungi
artinya dan bangun malam.
24. Tidak akan naik pada derajat yang tinggi kecuali dengan himmah
(cita-cita yang kuat).
25. Barang siapa memperhatikan waktu, maka ia akan selamat dari
murka Allah.
26. Salah satu dari penyebab turunnya bencana dan musibah adalah
sedikitnya orang yang menangis di tengah malam.
27. Orang yang selalu mempunyai hubungan dengan Allah, Allah akan
memenuhi hatinya dengan rahmat di setiap waktu.
28. Salah satu dari penyebab turunnya bencana dan musibah adalah
sedikitnya orang yang menangis di tengah malam.
Husen Bin Salam, Pendeta Yahudi Dengan Panggilan Islam Dihatinya
Husen Bin Salam, Pendeta Yahudi Dengan Panggilan Islam Dihatinya
Husen bin Salam adalah Kepala Pendeta Yahudi di Madinah. Walaupun penduduk Madinah berlainan agama dengannya, namun mereka menghormati Husen. Karena di kalangan mereka, dia terkenal baik hati, istiqamah, dan jujur.
Husen hidup tenang dan damai. Baginya waktu sangat berguna. Karena itu ia membaginya dalam tiga bagian. Sepertiganya ia pergunakan di gereja Yahudi untuk mengajar dan beribadat.
Sepertiga lainnya ia habiskan di kebun untuk merawat dan membersihkan tanaman. Sepertiga lagi untuk membaca Taurat dan mengajarkan kepada orang lain.
Setiap kali menemukan ayat Taurat yang mengabarkan tentang kedatangan seorang nabi di Madinah, ia selalu membacanya berulang-ulang dan merenunginya.
Dipelajarinya lebih mendalam tentang sifat-sifat dan ciri-ciri nabi yang ditunggu-tunggunya itu. Ia sangat gembira ketika mengetahui orang yang ditunggunya itu telah lahir dan akan hijrah ke Madinah.
Karena itu ia selalu berdoa agar Allah memanjangkan usianya supaya bisa bertemu dengan nabi yang ditunggu-tunggunya dan menyatakan iman. Allah memperkenankan doa dengan memanjangkan usianya dan mempertemukannya dengan penutup para nabi, Muhammad SAW.
Ketika pertama kali mendengar kedatangan Nabi, Husen bin Salam mencocokkannya sifat-sifatnya dengan yang ia ketahui dari Taurat. Begitu mengetahui persamaan-persamaan tersebut, ia yakin benar bahwa orang yang ia tunggu telah datang. Namun hal itu ia rahasiakan terhadap kaum Yahudi.
Tatkala Rasulullah hijrah ke Madinah dan tiba di Quba, seorang juru panggil berseru menyatakan kedatangan beliau. Saat itu Husen bin Salam sedang berada di atas pohon kurma. Bibinya, Khalidah bint Harits menunggu di bawah pohon tersebut. Begitu mendengar berita kedatangan Rasulullah, ia berteriak,"Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!"
Mendengar teriakan itu, bibinya berkata, "Engkau akan kecewa. Seandainya pun engkau mendengar kedatangan Musa bin Imran, engkau tidak bisa berbuat apa-apa."
"Wahai Bibi! Demi Allah, dia adalah saudara Musa bin Imran. Dia dibangkitkan membawa agamanya yang sama," jawab Husen.
"Diakah nabi yang sering engkau ceritakan?" tanya bibinya.
"Benar!"
Lalu Husen bergegas menemui Rasulullah yang sedang dikerumuni orang banyak. Setelah berdesak-desakan, akhirnya Husen berhasil menemui beliau. Ucapan pertama kali yang keluar dari mulut beliau adalah, "Wahai manusia, sebar luaskan salam. Beri makan orang yang kelaparan. Shalatlah di tengah malam, ketika orang banyak sedang tidur nyenyak. Pasti engkau masuk surga dengan bahagia."
Husen bin Salam memandangi Rasulullah dengan lekat. Ia yakin, wajah beliau tidak menunjukkan raut pembohong. Perlahan Husen mendekati seraya mengucapkan dua kalimat syahadat.
Rasulullah menoleh kepadanya, "Siapa namamu?"
"Husen bin Salam," jawabnya.
"Mestinya Abdullah bin Salam," ujar Rasulullah mengganti namanya dengan lebih baik.
"Saya setuju!" jawab Husen. "Demi Allah yang mengutus engkau dengan benar, mulai hari ini saya tidak ingin lagi memakai nama lain selain Abdullah bin Salam."
Setelah itu Husen yang sudah berganti nama dengan Abdullah bin Salam segera pulang. Ia mengajak seluruh keluarganya, termasuk bibinya, Khalidah yang saat itu sudah lanjut usia, untuk memeluk agama Islam. Mereka menerima ajakannya. Abdullah bin Salam meminta keluarganya untuk merahasiakan keislaman mereka kepada kaum Yahudi sampai waktu yang tepat.
Beberapa saat kemudian Abdullah menemui Rasulullah lalu berkata, "Wahai Rasulullah, orang-orang Yahudi suka berbohong dan sesat. Saya minta engkau memanggil ketua-ketua mereka, tapi jangan sampai mereka tahu kalau saya masuk Islam. Serulah mereka ke agama Allah, saya akan bersembunyi di kamar engkau mendengar reaksi mereka."
Rasulullah menerima permintaan Abdullah bin Salam. Beliau memasukkannya ke dalam biliknya dan mengumpulkan para pemuka Yahudi. Rasulullah mengingatkan mereka tentang ayat-ayat Al Quran dan mengajak mereka masuk agama Islam. Tetapi orang-orang Yahudi itu tidak mau menerima ajakan beliau. Bahkan dengan beraninya mereka membantah ucapan-ucapan Rasulullah.
Setelah mengetahui bahwa mereka enggan menerima seruannya, Rasulullah bertanya, "Bagaimana kedudukan Husen menurut kalian?"
"Dia pemimpin kami, Kepala Pendeta kami dan pemuka agama kami," jawab mereka.
"Bagaimana pendapat kalian kalai dia masuk Islam ? Maukah kalian mengikutinya?" tanya Rasulullah.
"Tidak mungkin! Tidak mungkin dia akan masuk Islam. Kami berlindung kepada Allah, tidak mungkin dia masuk Islam," jawab mereka.
Tiba-tiba Abdullah bin Salam keluar dari bilik Rasulullah dan menemui mereka seraya berkata, "Wahai orang-orang Yahudi, bertakwalah kepada Allah. Terimalah agama yang dibawa Muhammad. Demi Allah, sesungguhnya kalian sudah mengetahui bahwa Muhammad itu benar utusan Allah. Bukankah kalian telah membaca nama dan sifat-sifatnya dalam Taurat? Demi Allah, saya mengakui Muhammad adalah Rasulullah. Saya beriman kepadanya dan membenarkan segala ucapannya."
"Bohong!" jawab orang-orang Yahudi. "Engkau jahat dan bodoh, tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah," umpat mereka lalu pergi meninggalkan Abdullah bin Salam dan Rasulullah.
"Engkau lihat, wahai Rasulullah. Orang-orang Yahudi itu pendusta dan sesat. mereka tidak mau mengakui kebenaran walaupun di depan mata," ujar Abdullah.
Abdullah bin Salam menerima Islam seperti orang yang kehausan yang merindukan jalan ke telaga. Lidahnya selalu basah oleh untaian ayat-ayat Al Quran. Ia selalu mengikuti semua seruan Rasulullah sehingga suatu ketika beliau memberi kabar gembira dengan surga.
Suatu ketika Qais bin Ubadah dan beberapa orang lainnya sedang belajar di serambi masjid. Dalam kelompok itu terdapat seorang lelaki tua yang ramah dan sangat menyenangkan hati. Setiap ucapan yang keluar dari mulutnya selalu menarik perhatian orang. Ketika lelaki itu pergi, orang-orang saling bertanya siapa dia. Di antara mereka ada yang berkata, "Siapa yang ingin melihat penduduk surga, lihatlah lelaki itu!"
Qais bin Ubadah segera bertanya, "Siapa dia?"
"Abdullah bin Salam," jawab mereka.
Qais bin Ubadah memutuskan untuk mengikuti lelaki itu sampai jauh keluar kota Madinah. Setelah diizinkan masuk, Qais menemuinya.
"Apa keperluanmu anak muda?" tanya Abdullah.
"Saya mendengar orang-orang berbicara tentang diri Bapak. Kata mereka, siapa yang ingin melihat penghuni surga, lihatlah Bapak! Mendengar ucapan mereka, saya mengikuti Bapak sampai ke sini. Saya ingin mengetahui mengapa orang banyak berkata begitu?"
"Allah yang lebih mengetahui tentang penduduk surga," jawab Abdullah.
"Ya, tapi pasti ada sebabnya mengapa orang-orang berkata begitu?"
"Baik, akan kujelaskan."
"Silakan, semoga Allah membalas segala kebaikan Bapak," ujar Qais.
"Pada suatu malam ketika Rasulullah masih hidup, saya bermimpi. Seorang laki-laki datang menemuiku seraya menyuruhku bangun dan mengajakku pergi. Tiba-tiba saya melihat sebuah jalan di sebelah kiri. Saya bertanya, 'Jalan kemanakah ini?'
'Jangan turuti jalan itu, itu bukan jalanmu,' jawab orang itu.
Tiba-tiba saya melihat jalan yang terang benderang di sebelah kananku. 'Lewatilah jalan itu,' kata orang itu.
Saya mengikuti jalan yang terang itu hingga tiba di sebuah taman yang subur, luas, dan penuh dengan pohon-pohon hijau dan indah. Di tengah-tengah taman terdapat sebuah tiang besi. Pangkalnya tertancap di tanah dan ujungnya sampai ke langit. Di puncaknya terdapat sebuah aula berlapis emas.
Orang itu berkata, 'Panjatlah tiang itu!'
'Aku tidak bisa,' jawabku.
Tiba-tiba datang seorang pembantuku lalu dia menaikkan tubuhku sampai ke puncak tiang. Aku tinggal di sana sampai pagi dengan perasaan yang sangat bahagia.
Setelah hari pagi, kudatangi Rasulullah dan kuceritakan kepada neliau perihal mimpiku. Beliau bersabda, 'Jalan yang engkau lihat di sebelah kiri adalah jalan ke neraka. Jalan yang engkau lalui di sebelah kanan adalah jalan penduduk surga. Taman yang indah itu adalah Islam. Adapun tiang yang terpancang di tengah taman itu adalah tiang agama. Adapun aula itu adalah pegangan yang kokoh dan kuat. Engkau senantiasa berpegangan dengannya sampai mati.'". (ar/oq) www.suaramedia.com
3.10.15
Manakib Al Imam Al Arifbillah Al Qutub Al Habib Abubakar Bin Muhammad Assegaf Gresik Jawa Timur.
Alkisah tentang seorang Imam Al-Qutb yang tunggal dan merupakan qiblat para auliya’ di zamannya, sebagai perantara tali temali bagi para pembesar yang disucikan Allah jiwanya, bagai tiang yang berdiri kokoh dan laksana batu karang yang tegar diterpa samudera, seorang yang telah terkumpul dalam dirinya antara Ainul Yaqin dan Haqqul Yaqin, beliau adalah Al-habib Al-Imam Abubakar bin Muhammad bin Umar bin Abubakar bin Imam (Wadi-Al-ahqaf) Al-habib Umar bin Segaf Assegaf.
Nasab yang mulia ini terus bersambung dari para pembesar ke kelompok pembesar lainnya, bagai untaian rantai emas hingga sampailah kepada tuan para pendahulu dan yang terakhir, kekasih yang agung junjungan Nabi Muhammad SAW.
Habib Abubakar dilahirkan di kota Besuki, sebuah, kota keci di kabupaten Sitibondo Jawa Timur, pada tanggal 16 Dzulhijjah 1285 H.
Dalam pertumbuhan hidupnya yang masih kanak-kanak, ayahanda beliau tercinta telah wafat dan meninggalkannya di kota Gresik. Sedang disaat-saat itu beliau masih membutuhkan dan haus akan kasih sayang seorang ayah.
Namun demikian beliau pun tumbuh dewasa di pangkuan Inayah Ilahi dalam lingkungan keluarga yang bertaqwa yang telah menempanya dengan pendidikan yang sempurna, hingga nampaklah dalam diri beliau pertanda kebaikan dan kewalian.
Konon diceritakan bahwa beliau mampu mengingat segala kejadian yang dialaminya ketika dalam usia tiga tahun dengan secara detail.
Hal ini tak lain sebagai isyarat akan kekuatan Ruhaniahnya yang telah siap untuk menampung luapan anugerah dan futuh dari Rabbnya Yang Maha Mulia.
Pada tahun 1293 H. segeralah beliau bersiap untuk melakukan perjalanan jauh menuju kota asal para leluhurnya, “Hadramaut”. Kota yang bersinar dengan cahaya para auliya’.
Perjalanan pertama ini adalah atas titah dari nenek beliau (Ibu dari ayahnya) seorang wanita salihah “Fatimah binti Abdullah Allan”. Dengan ditemani seorang yang mulia, Assyaikh Muhammad Bazmul, beliau pun berangkat meninggalkan kota kelahiran dan keluarga tercintanya.
Setelah menempuh jarak yang begitu jauh dan kepayahan yang tak terbayangkan maka sampailah beliau di kota “Seiwuun”. sedang pamannya tercinta “Al Alamah Al-habib Abdillah bin Umar” beserta kerabat yang lain telah menyambut kedatangannya di luar kota tersebut.
Tempat tujuan pertamanya adalah kediaman seorang Allamah yang terpandang di masanya, Al-Arif billah “Al-habib syaikh bin Umar bin Seggaf”.
Sesampainya di sana Habib Syaikh langsung menyambut seraya memeluk dan menciuminya, tanpa terasa air mata pun bercucuran dari kedua matanya, sebagai ungkapan bahagia atas kedatangan dan atas apa yang dilihatnya dari tanda-tanda wilayah di wajah beliau yang bersinar itu.
Demikianlah seorang penyair berkata: “hati para auliya’ memiliki mata yang dapat memandang apa saja yang tak dapat dipandang oleh manusia lainnya”.
Dengan penuh kasih sayang, Habib Syaikh mencurahkan segala perhatian kepadanya, termasuk pendidikannya yang maksimal telah membuahkan kebaikan dalam diri Habib Abubakar yang baru beranjak dewasa.
Bagi Habib Bakar menuntut ilmu adalah segala-galanya dan melalui pamannya “Al-habib Umar” beliau mempelajari Ilmu fiqih dan tasawwuf.
Ketika menempa pendidikan dari sang paman inilah, pada setiap malam beliau dibangunkan untuk shalat tahajjud bersamanya dalam usia yang masih belia. Hal ini sebagai upaya mentradisikan qiyamul-lail yang telah menjadi kebiasaan orang-orang mulia di sisi Allah atas dasar keteladanan dari Baginda Rasulillah SAW.
Hingga apa yang dipelajari beliau tidak hanya sebatas teori ilmiah namun telah dipraktekkan dalam amaliah kesehariannya.
Rupanya dalam kamus beliau tak ada istilah kenyang dalam menuntut ilmu, selain dari pamannya ini, beliau juga berkeliling di seantero Hadramaut untuk belajar dan mengambil ijazah dari para ulama’ dan pembesar yang tersebar di seluruh kota tersebut.
Salah seorang dari sederetan para gurunya yang paling utama, adalah seorang arif billah yang namanya termasyhur di jagad raya ini, guru dari para guru di zamannya
” Al-Imam Al-Qutub Al-habib Ali bin Muhammad Al-habsyi” r.a. sebagai Syaikhun-Nadzar. (Guru Pemerhati).
Perhatian dari maha gurunya ini telah tertumpahkan pada murid kesayangannya jauh sebelum kedatangannya ke Hadramaut, ketika beliau masih berada di tanah Jawa.
Hal ini terbukti dengan sebuah kisah yang sangat menarik antara Al-habib Ali dengan salah seorang muridnya yang lain.
Pada suatu hari Habib Ali memanggil salah satu murid setianya.
Beliau lalu berkata “Ingatlah ada tiga auliya’ yang nama, haliah dan maqam mereka sama”.
Wali yang pertama telah berada di alam barzakh, yakni Al-habib Qutbul-Mala’ Abubakar bin Abdullah alaydrus, dan yang kedua engkau pernah melihatnya di masa kecilmu, yaitu Al-habib Abubakar bin Abdullah Al Attas, adapun yang ketiga akan engkau lihat dia di akhir usia kamu.
Habib Ali pun tidak menjelaskan lebih lanjut siapakah wali ketiga yang dimaksud olehnya.
Selang waktu beberapa tahun kemudian, tiba-tiba sang murid tersebut mengalami sebuah mimpi yang luar biasa.
Dalam sebuah tidurnya ia bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW, kala itu dalam mimpinya Nabi SAW menuntun seorang anak yang masih kecil sembari berkata kepada orang tersebut, lihatlah aku bawa cucuku yang shaleh “Abubakar bin Muhammad Assegaf”!
Mimpi ini terulang sebanyak lima kali dalam lima malam berturut-turut, padahal orang tersebut tak pernah kenal dengan Habib Abubakar sebelumnya. Kecuali setelah diperkenalkan oleh Nabi SAW.
Pada saat ia kemudian bersua dengan Habib Abubakar Assegaf, iapun menjadi teringat ucapan gurunya tentang tiga auliya’ yang nama, haliah dan maqamnya sama.
Lalu ia ceritakan mimpi tersebut dan apa yang pernah dikatakan oleh Habib Ali Al-habsyi kepada beliau. Kiranya tak meleset apa yang diucapkan Habib Ali beberapa tahun silam bahwa ia akan melihat wali yang ketiga di akhir usianya, karena setelah pertemuannya dengan Habib Abubakar ia pun meninggalkan dunia yang fana ini, berpulang ke Rahmatullah,
Tak diragukan lagi perhatian yang khusus dari sang guru yang rnulia ini telah tercurahkan kepada murid kesayangannya, hingga suatu saat Al habib Ali Al habsyi menikahkan Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf dengan salah seorang wanita pilihan gurunya ini di kota Seiwuun, bahkan Habib Ali sendirilah yang meminang dan menanggung seluruh biaya perkawinannya.
Selain Habib Ali, masih ada lagi yang menjadi :
“Syaikhut-Tarbiah” (Guru pendidiknya) yakni pamannya tercinta Al-habib Abdillah bin Umar Assegaf.
Adapun yang menjadi “Syaikhut-Tasliik” (Guru pembimbing beliau) Al-habib Muhammad bin Idrus Al-habsyi.
Sedang yang menjadi “Sya’ikul-Fath” (Guru pembuka) adalah Al-wali- Al-mukasyif Al-habib Abdulqadir bin Ahmad bin Qutban yang acap kali memberinya kabar gembira dengan mengatakan:“Engkau adalah pewaris haliah kakekmu Umar bin Segaf”.
Demikianlah beliau menghabiskan seluruh waktunya untuk belajar, mengambil ijazah serta ilbas dengan berpindah dari pangkuan para auliya’ dan pembesar yang satu dan yang lainnya di seluruh Hadramaut, Seiwuun, Tarim dan sekitarnya yang tak dapat kami sebutkan satu persatu nama mereka.
Setelah semuanya dirasa cukup dan atas izin dari para gurunya, beliaupun mulai meninggal-kan kota para. auliya’ itu untuk kembali ke tanah Jawa, tepatnya pada tahun 1302 H.
Dengan ditemani Al Arif billah Al habib Alwi bin Segaf Assegaf (dimakamkan di Turbah Kebon-Agung Pasuruan) berangkatlah beliau ke Indonesia.
Adapun tujuan pertamanya adalah kota kelahirannya Besuki -Jawa timur, setelah tiga tahun tinggal di sana, beliau lalu berhijrah ke kota Gresik pada tahun 1305 H dalam usia dua puluh tahun. Dan di kota inilah beliau bermukim. Mengingat usianya yang masih sangat muda, maka kegiatan menuntut Ilmu, Ijazah dan Ilbas masih terus dilakoninya tanpa kenal lelah.
Beliaupun terus menerus berkunjung kepada para auliya’ dan ulama’yang telah menyinari bumi pertiwi ini dengan keshalehannya. Sebagaimana :
Al habib Abdullah bin Muhsin Al-attas,
Al habib Ahmad bin Abdullah Al-attas,
Al habib Ahmad bin Muhsin Alhaddar,
Al habib Abdullah bin Ali Al haddad,
Al habib Abubakar bin Umar bin Yahya,
Al habib Muhammad bin Ahmad Al muhdar
Dan masih banyak lagi yang lainnya, Radhiallahu anhum ajmaiin.
Pada tahun yang sama tepatnya pada hari Jum’at, telah terjadi sebuah peristiwa yang di luar jangkauan akal manusia dalam diri beliau.
Yaitu di saat beliau tengah khusuk mendengarkan seorang khatib yang menyampaikan khutbahnya di atas mimbar, tiba-tiba beliau mendapat lintasan hati Rahmani dan sebuah izin Rabbani, ketika itu nuraninya berkata agar beliau segera mengasingkan diri dari manusia sekitarnya.
Hatinya pun menjadi lapang untuk melakukan uzlah menjauhkan diri dari kehidupan dunia.
Seketika itu juga beliau beranjak meninggalkan Masjid Jami’ langsung menuju rumah, dan sejak saat itu beliau tidak lagi menemui seorang pun dan tidak pula memberi kesempatan orang untuk menemuinya.
Hal ini beliau lakukan tiada lagi hanya untuk mengabdikan diri dan beribadah kepada Rabbnya dengan segenap jiwa raganya, dan berlangsung sampai lima belas tahun lamanya.
Hingga tibanya izin dari Allah agar beliau keluar dari khalwatnya untuk kembali berinteraksi dengan manusia di sekitarnya.
Pada saat menjelang keluar dari khalwatnya, beliau disambut oleh gurunya Al habib Muhammad bin Idrus Al habsyi, seraya berkat :
“Aku telah memohon dan bertawajjuh pada Allah selama tiga hari tiga malam untuk mengeluarkan Abubakar bin Muhammad Assegaf”.
Habib Muhammad lalu menuntunnya keluar dan membawanya berziarah ke makam seorang wali yang tersohor dan menjadi mahkota bagi segala kemuliaan di zamannya, yakni Al habib Alwi bin Muhammad Hasyim r.a.
Setelah ziarah, beliau berdua lalu berangkat menuju kota Surabaya ke kediaman Al habib Abdullah bin Umar Assegaf.
Di tengah- tengah orang-orang yang hadir pada saat itu, berkatalah Al habib Muhammad bin Idrus sembari tangannya menunjuk ke arah Habib Abubakar “Ini adalah khasanah dari seluruh khasanah Bani Alawi yang telah kami buka untuk memberi manfaat kepada orang khusus dan umum”.
Pasca kejadian tersebut, mulailah Al habib Abubakar menetapkan jadwal Qira’ah (pembacaan kitab-kitab salaf) di rumahnya.
Dalam waktu yg singkat beliau telah menjadi tumpuan bagi umat di zamannya, bagaikan Ka’bah yang tak pernah sepi dari peziarah yang datang mengunjunginya dari berbagai penjuru dunia. Siapa saja yang datang kepada beliau disertai dg HusnudDzan (berbaik-sangka) maka ia akan beruntung dengan tercapai segala maksudnya dalam waktu yang dekat.
Di Majlis yang diadakannya itu beliau telah mengkhatamkan kitab “Ihya’ Ulumuddin” sebanyak lebih dari empat puluh kali.
Dan disetiap mengkhatamkannya, beliau selalu mengadakan jamuan besar-besaran untuk orang yang hadir di majlisnya.
Al habib Abubakar dikenal sebagai orang yang memiliki kepedulian yang tinggi terhadap sirah dan jejak para salafnya, bahkan pada segala adat istiadatnya. Seluruh majlis beliau senantiasa dimakmurkan dengan kajian-kajian ilmiah yang bersumber dari semua kitab karya para salafnya.
Jika kita berbicara tentang Maqam dan kedudukan beliau, maka tak satupun dari para Auliya’ pada masa beliau yang menyangsikannya.
Beliau telah mencapai tingkatan “Asshiddiqiyyah-Al kubra” yang telah diisyaratkan sebagai “Sahibulwaqt” {panglima tertinggi para Auliya’ di masanya).
Keluhuran maqamnya telah diakui oleh seluruh yang hidup di zaman beliau.
Telah berkata Al Habib Muhammad bin Ahmad Al Muhdar dalam sebuah suratnya kepada beliau (dengan mengutip beberapa ayat Alqur’an).
“Demi fajar “Dan malam yang sepuluh” dan yang genap dan yang ganjil” (Sesungguhnya Saudaraku Abubakar bin Muhammad Assegaf adalah permata yang lembut yang beredar dan beterbangan menjelajah seluruh maqam para leluhur-nya)..
Berkata pula panutan kita, seorang yang telah diakui keunggulan dan keilmuannya Al-habib Alwi bin Muhammad Alhaddad :
“Sesungguhnya Al habib Abubakar bin Muhammad Assegaf adalah “Alqutbul Ghauts” dan sesungguhnya ia adalah tempat tumpuan pandangan Allah”.
Pada kesempatan lain beliau berkata:“Aku tidak takut (segan) kepada satu pun makhluk Allah kecuali kepada habib Abubakar bin Muhammad Assegaf”.
Sebenarnya pada masa keemasan itu banyak sekali orang-orang yang patut disegani, namun kini mereka semua telah berpulang ke rahmat Allah SWT. Masih banyak lagi ungkapan-ungkapan beliau yang tak dapat kami torehkan dalam tulisan ini.
Berkata juga seorang sumber kebaikan di zamannya, dan kebanggaan pada masanya, seorang da’i yang selalu mengajak kejalan Allah dengan ucapan dan perbuatannya,
Al habib Ali bin Abdurrahman Al habsyi (Kwitang-Jakarta). Ketika itu di kediaman Habib Abubakar (Gresik), pada saat beliau menjalin persaudaraan dengannya, seraya memberi isyarat kepada Habib Abubakar dan air matanya berlinang, berkata kepada para hadirin saat itu “Ini (habib Abubakar) adalah raja lebah (raja para auliya’) ia saudaraku di jalan Allah, lihatlah kepadanya! Karena memandangnya adalah ibadah”.
Berkata seorang panutan orang-orang yang arif Al habib Husain bin Muhammad Al haddad, sesungguhnya Al habib Abubakar bin Muhammad Assegaf adalah seorang khalifah, dialah pemimpin para auliya’ di masanya, ia telah mencapai “Maqam as-Syuhud” hingga beliau mampu menerawang hakekat dari segala sesuatu.
Beliau melanjutkan ungkapannya dengan mengutip sebuah ayat al-Qur’an “Sungguh patut jika dikatakan padanya; Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang kami berikan kepadanya nikmat (kenabian)
(QS: Azzukruf59).
Maksudnya beliau tidak lain hanyalah seorang hamba yang telah dilimpahi nikmat dan anugerah Allah SWT.
Kiranya telah cukup sebagai bukti keluhuran maqam beliau yang telah mencapai kedudukan bersua dengan Nabi SAW dalam keadaan terjaga. Berkata yang mulia r.a. bahwa:
“ Ar rasul SAW telah masuk menemuiku sedang aku dalam keadaan terjaga, beliau lalu memelukku dan aku pun memeluknya”.
Para auliya’ bersepakat, bahwa Maqam Ijtima’ (bertemu) dengan Nabi SAW dalam waktu terjaga, adalah sebuah maqam yang melampaui seluruh maqam yang lain.
Hal ini tidak lain adalah buah dari Ittiba’ (keteladanan) beliau yang tinggi terhadap Nabinya SAW.
Adapun kesempurnaan Istiqamah merupakan puncak segala karamah. Seorang yang dekat dengan beliau berujar bahwa aku sering kali mendengar beliau mengatakan :
“Aku adalah Ahluddarak, barang siapa yang memohon pertolongan Allah melaluiku maka dengan izin Allah aku akan membantunya, barang siapa yang berada dalam kesulitan lalu memanggil-manggil namaku maka aku akan segera hadir di sisinya dengan izin Allah”.
Pada saat menjelang ajalnya, seringkali beliau berkata : “Aku berbahagia untuk berjumpa dengan Allah” maka sebelum kemangkatannya ke rahmat Allah, beliau mencegah diri dari makan dan minum selama lima belas hari, namun hal itu tak mengurangi sedikitpun semangat ibadahnya kepada Allah SWT.
Setelah ajal kian dekat menghampirinya, diiringi kerinduan berjumpa dengan khaliqnya, Allah pun rindu bertemu dengannya, maka beliau pasrahkan ruhnya yang suci kepada Tuhannya dalam keadaan ridho dan diridhoi
Beliau wafat pada hari Ahad malam Senin, hari ke tujuh belas di bulan Dzulhijjah 1376 H, dalam usia 91 tahun.
Semoga saja sirah beliau yang kami angkat kali ini tidak hanya mengundang decak kagum bagi yang membacanya, namun juga dapat menumbuhkan semangat dalam diri kita guna meningkatkan ubudiah kita dengan senantiasa mendekatkan diri dalam kebaikan dan bersama orang- orang yang baik.
Aaamiin..
Langganan:
Postingan (Atom)