30.9.15

Kelebihan kopi menurut islam

Zharel Alhameed‎ untuk TARIQAH BA ALAWI (Tarekat Kaum Sufi) ·

KELEBIHAN KOPI MENURUT ISLAM

Di masyarakat kita, siapakah yang tak kenal dengan kopi? Minuman yang sangat disuka kebanyakan orang, dan juga tak sedikit yang anti dengan minuman ini dengan alasan dapat mengganggu kesehatan, menyebabkan kecanduan, teman setia rokok, identik dengan orang tua, atau sederet alasan lain yang diutarakan untuk menjauhkan diri dari minuman yang satu ini. Tapi tahukah sobat bahwa kopi sebenarnya minuman kegemaran kaum Sufi? Dengan meminum kopi, orang-orang kelas ma’rifat (yang tidak memiliki dan terjangkit penyakit yang semakin parah karena minum kopi) semakin tegar beribadah, seolah kopi mendatangkan cahaya bagi rohani dan jasmani mereka. Sayyid Abdurrohman bin Muhammad bin Abdurrohman bin Muhammad as-Saqqaf al-Husainy al-Hadramy dari marga al-Idrus (1070 H-1113 H) mengatakan dalam kitabnya Iinaasush Shofwah bi Anfaasil Qahwah: Biji kopi baru ditemukan pada akhir abad VIII H di Yaman oleh penemu kopi Mukha, Imam Abul Hasan Aliy asy-Syadziliy bin Umar bin Ibrahim bin Abi Hudaimah Muhammad bin Abdulloh bin al-Faqih Muhammad Disa’in (nasabnya bersambung hingga kepada seorang sahabat bernama Khalid bin Asad bin Abil Ish bin Umayyah al-Akbar bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushay). Beliau adalah pengikut tarekat Syadiliyah, bukan pendirinya (karena pendiri tarekat Syadiliyah, Imam Abu Hasan asy-Syadziliy telah wafat pada tahun 828 H) Dalam penemuan biji kopi, Imam Abul Hasan mendahului Imam Abu Bakr al-Idrus. Sehingga Imam Abul Hasan adalah penemu biji kopi sedangkan Imam Abu Bakr al-Idrus adalah penyebar kopi di berbagai tempat. Beliau menggubah syair mengenai kopi sebagai berikut: قَهْوَةُ الْبُنِّ يَا أَهْلَ الْغَرَامْ سَاعَدَتْنِيْ عَلَى طَرْدِ الْمَنَامْ وَ أَعَانَتْنِيْ بِعَوْنِ اللهِ عَلى طَاعَةِ اللهِ وَ الْعَالَمُ نِيَامْ قَافُهَا الْقُوْتُ وَ الْهَاءُ الْهُدَى وَاوُهَا الْوُدُّ وَ الْهَاءُ هِيَامْ لاَ تَلُوْمُوْنِيْ عَلَى شُرْبِيْ لَهَا إِنَّهَا شُرْبُ سَادَاتٍ كِرَامٍ Wahai orang-orang yang asyik dalam cinta sejati dengan-Nya, kopi membantuku mengusir kantuk Dengan pertolongan Alloh, kopi menggiatkanku taat beribadah kepada-Nya di kala orang-orang sedang terlelap. [Qahwah (kopi)], qaf adalah quut (makanan), ha adalah hudaa (petunjuk), wawu adalah wud (cinta), dan ha adalah hiyam (pengusir kantuk). Janganlah kau mencelaku karena aku minum kopi, sebab kopi adalah minuman para junjungan yang mulia. Syeikh Abu Bakr bin Abdulloh al-Idrus berkata tentang kopi yang digemarinya: Wahai qahwatul bunn (kopi)! Huruf qaf di awalmu adalah quds (kesucian), huruf kedua ha adalah hudaa (petunjuk), dan huruf ketigamu adalah wawu. Huruf keempatmu adalah ha, berikutnya alif adalah ulfah (keakraban), lam sesudahnya adalah lutfh (belas kasih dari Alloh). Ba adalah basth (kelapangan), dan nun adalah nur (cahaya). Oh, kopi, kau laksana purnama yang menerangi cakrawala. Imam Hamzah bin Abdullah bin Muhammad an-Nasyiriy al-Yamaniy asy-Syafi’I, penduduk Zabid (832 H-936 H) adalah seorang sastrawan ulung yang ahli tumbuh-tumbuhan. Dia menggubah seribu bait nadzam mengenai kemukjizatan al-Qur”an, menulis kumpulan fatwa, dan menggubah nadzam lebih dari 80 bait mengenai manfaat kopi, yang antara lain isinya adalah kopi bisa membangkitkan semangat seseorang dan mengantarkannya mencapai kesuksesan. Disebutkan dalam kitab al-Iinas bahwa huruf ba dan nun pada kata bunn (kopi), masing-masing berarti bidayah (permulaan) dan nihayah (akhir/puncak), yakni mengantarkan seseorang dari awal langkah hingga akhir/sampai sukses. Nah, setelah uraian tentang kegemaran dan sanjungan ulama Sufi akan kopi, manfaat, serta falsafah tentangnya, apakah sobat Dliya’ masih akan menganggap kopi sebagai minuman yang harus dijauhi? KOPI ADALAH MINUMAN HALAL Mayoritas ulama tidak meragukan lagi kehalalan kopi. Dalam kitab Syarh al-’Ubab Syeikh Ibnu Hajar menjelaskan bahwa menggunakan sesuatu yang jaiz sebagai sarana hukumnya tergantung pada tujuan yang ingin dicapai. Jika tujuannya untuk kebaikan maka penggunaan sarana tersebut bernilai pahala, dan jika tujuannya untuk maksiat maka bernilai dosa (untuk meniru niat para ulama Sufi, lihat tips Dliya’ tentang Fatihah yang dibaca sebelum meminum kopi). Para ulama yang menghalalkan kopi antara lain: Syeikhul Islam Zakariya al-Anshori, Syeikh Abdurrahman bin Ziyad az-Zabidiy, Syeikh Zaruq al-Malikiy al-Maghribiy, Syeikh Abdulloh bin Sahl Baqusyair, Syeikh Muhammmad bin Abdulqadir al-Habbaniy, Syeikh Abdulmalik bin Disa’in, dll. Para ulama yang menyanjung kopi antara lain: Abu Bakr bin Abdullah al-Idrus, Abdurrahman bin ‘Aliy, Syeikh bin Ismail, Ahmad bin ‘Alawy Bajahdab, Abu Bakr bin Salim, Abdullah bin Alawy al-Haddad, Hatim al-Ahdal, as-Sudiy, Umar bin Abdulllah Bamakhramah beserta putranya, Al-Amudiy, dll. Banyak ulama Sufi yang berkomentar tentang kopi yang pada prinsipnya mereka menggemari kopi karena dengan meminumnya mereka lebih giat beribadah, terutama pada malam hari ketika banyak manusia yang tertidur lelap. Syeikh Umar bin Abdullah Bamakhramah (Guru Al Fakhrul Syeikh Abu Bakar bin Salim) Syeikh Abdul Mu’thiy bin Hasan bin Abdullah bin Ahmad Bakatsir al-hadramiy (Makkah 905-Ahmadabad India 989 H) juga putranya yang bernama Ahmad dan beberapa nama lain menggubah nadzam dalam untaian bait yang amat banyak yang berisi sanjungan terhadap kopi sebagai minuman yang amat bermanfaat untuk penggiat ibadah kepada Allah. Perhatikan dua bait syair berikut: قَدْ أَقْبَلَتْ وَ سَوَادُهَا يَتَوَقَّدُ وَ مِنَ الْعَجَائِبْ أَنْ يُضِيْئَ اْلأَسْوَدُ بِسَوَادِهَا ابْيَضَّتْ قُلُوْبُ أُولِي النُّهَى بِسَوَادِهَا سَادَ السَّوَادَ وَ يُحْمَدُ Kopi memang hitam tapi menyalakan semangat, bahkan memancarkan cahaya. Hitamnya kopi membuat hati orang-orang kelas tinggi memutih, sehingga mereka terpuji melebihi kebanyakan manusia. Sekarang tinggal pilihan memilih kopi yang dipilih kaum Sufi sebagai penggiat ibadah (tentunya dengan mengikut niat mereka, dan toh mereka tak jatuh sakit karena meminumnya), atau malah meninggalkannya karena ketakutan yang tidak beralasan?

Hadirnya Rasulullah SAW saat pemakaman

Hadirnya Rasulullah SAW Saat Pemakaman Prof DR.Abuya Sayyid Muhammad Bin Alwi Bin Abbas Al Maliki Al Hasani ra.

Membaca kisah kisah karomah para kekasih Allah SWT itu memang sungguh mengasyikkan, dan sanagt banyak faidahnya. diantara faedahnya adalah turunnya Rahmat, dan menambah kecintaan kita kepada Allah dan para kekasih-kekasihnya, agar tergugah hati kita untuk senantiasa meneladaninya sehingga kita aelalu ingat mati dan makin giat beribadah kepada Allah Swt. Diantara karomah Prof DR. Abuya Sayyid Muhammad bin Alwi Bin Abbas Al Maliki Al Hasani ra, ketika beliau akan dikebumikan di ma'la makkah al mukarramah (beliau wafat pada hari jum'at 15 Ramadhan 1425.H / 29 Oktober 2004.M) Ada beberapa orang dari keluarga beliau yang ikut turun ke liang kubur dalam proses pemakaman. Diantaranya adalah,as Sayyid Ahmad, as Sayyid Muhammad Alaydrus, Syech Ahmad Musa, dan juga Habib Ali al-Jufri (Hadromaut) Dll . lanjut cerita, ketika Habib Ali al-jufri ini hendak membuka kain kafan Abuya, maka ia jatuh pingsan sampai tak sadarkan diri, ia sambil berteriak, dan tak lama kemudia ia siuman dari pingsannya. Setelah proses pemakan selesai dan para jemaah yang melayat pun mulai meninggalkan tempat, maka ada salah seorang jemaah bertanya kepada Habib Ali Ali al-Jufri itu terkait dengan kejadian tadi (pingsannya sampai tak sadarkan diri). Maka Habib Ali al-Jufri menjawab. "Ketika saya hendak membuka kafan Abuya dari sisi wajah, tiba-tiba saya melihat Rasulullah SAW di depan saya, lalu beliau SAW bersabda kepada saya. "Ali,, Tinggalkan ini, biar saya yang menggurusnya" . Maka saya terharu dengan kejadian itu dan akhirnya saya pingsan sampe tak sadarkan diri ". "Subhanallah" Sumber. al-injaz fi karoomati Fakhril Hijaz.

Al-qur'an dan hadits tentang Ahlul Bait Rasulullah Saww

Assalamu’alaikum..

Al-Qur'an Dan Hadits Tentang Ahlul Bait Rasulullah saww.

Allah berfirman :

قُلْ لا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى

Qul laa as'alukum 'alaihi ajron illal-mawaddata fil-qurbaa.

Artinya : Katakanlah "Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan (kaum kerabat, keluarga yang sangat dekat dengan Nabi Muhammad Saww)". (QS. Asy-Syuura (42) : 23)

Dalam kitab Hilyatul Awliya’, jilid 3 halaman 201 disebutkan:Jabir Al-Anshari berkata: Pada suatu hari orang badui datang kepada Nabi saw, lalu ia berkata: Wahai Muhammad, jelaskan kepadaku tentang Islam! Lalu Rasulullah saw bersabda: “Bersaksilah kamu sesungguhnya tiada Tuhan kecuali Allah Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya.” Kemudian orang badui itu bertanya: Apakah dalam hal ini (dakwah ini) kamu meminta upah padaku? Rasulullah saw menjawab: “Tidak, kecuali kecintaan kepada keluargaku.” Selanjutnya orang badui itu berkata: Sekarang aku berbaiat kepadamu, dan semoga Allah melaknat orang yang tidak mencintaimu dan keluargamu. Rasulullah saww. menjawab: "Aamiin.".

أَحِبُّوا اللهَ لِمَا يَغْذُوكُمْ بِهِ مِنْ نِعَمِهِ، وَأَحِبُّونِي لِحُبِّ اللهِ، وَأَحِبُّوا أَهْلَ بَيْتِي لِحُبِّي

Dari Ibnu Abbas ra. Nabi Muhammad saww. bersabda : "Cintailah Allah kerena nikmat-nikmat yang di anugerahkan-Nya, cintailah aku karena kecintaan kepada Allah dan cintailah Ahlul-baitku (keluargaku) karena kecintaamu kepadaku.". (HR. At-Tirmidzi, At-Tabarani, Al-Hakim)

أَدِّبُوْا أَوْلاَدَكُمْ عَلَى ثَلاَثِ خِصَالٍ حُبِّ نَبِيِّكُمْ وَحُبِّ أَهْلِ بَيْتِهِ وَحُبِّ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ (رواه الديلمي عن علي)

Dari Ali kwj., Nabi Muhammad saww. bersabda : "Addibuu aulaadakum 'alaa tsalaatsi khishoolin : hubbi nabiyyikum, wa hubbi ahli baitihi, wa hubbi qiroo'atil-qur'aan.

Artinya : Didiklah anak-anakmu atas tiga perkara : Kecintaan kepada Nabimu, Kecintaan kepada Ahlul Baitnya, dan cinta membaca Al-Qur'an.". (HR. Al-Dailami)

وعن ابنِ عمر رضي الله عنهما ، عن أبي بكر الصديق رضي الله عنه موقوفا عليه أنّه قال : ارقبوا محمّدا صلى الله عليه وسلَّم في أَهل بيته ، رواه البخاري

Dari Ibnu Umar ra., dari Abubakar Ash Shiddiq ra., ia berkata: “Peliharalah kehormatan Nabi Muhammad saww. Yaitu dengan memuliakan ahli baitnya (keluarganya).”. (HR. Bukhori, Didalam Kitab Riyadhus Sholihin – Al Imam An Nawawiy)

Siapakah Ahlul Bait Nabi Muhammad?

فَقَالَ لَهُ حُصَيْنٌ وَمَنْ أَهْلُ بَيْتِهِ يَا زَيْدُ أَلَيْسَ نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ قَالَ نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ وَلَكِنْ أَهْلُ بَيْتِهِ مَنْ حُرِمَ الصَّدَقَةَ بَعْدَهُ قَالَ وَمَنْ هُمْ قَالَ هُمْ آلُ عَلِيٍّ وَآلُ عَقِيلٍ وَآلُ جَعْفَرٍ وَآلُ عَبَّاسٍ قَالَ كُلُّ هَؤُلَاءِ حُرِمَ الصَّدَقَةَ قَالَ نَعَمْ و

Husain bertanya kepada Zaid bin Arqarn; "Hai Zaid, sebenarnya siapakah ahlul bait (keluarga) Rasulullah itu? Bukankah istri-istri beliau itu adalah ahlul bait (keluarga) nya?" Zaid bin Arqam berkata; "Istri-istri beliau adalah ahlul baitnya. tapi ahlul bait beliau yang dimaksud adalah orang yang diharamkan untuk menerima zakat sepeninggalan beliau." Husain bertanya; "Siapakah mereka itu?" Zaid bin Arqam menjawab; "Mereka adalah keluarga Ali, keluarga Aqil. keluarga Ja'far, dan keluarga Abbas." Husain bertanya; "Apakah mereka semua diharamkan untuk menerima zakat?" Zaid bin Arqam menjawab."Ya.". (HR. Muslim No.4425, juga ada di dalam kitab Riyadhush Sholihin -  Al Imam An Nawawiy)

Penulis : Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus.

Keuntungan mencintai Ahlul Bait Rasulullah Saw

Keuntungan mencintai Ahlul Bait Rasul SAW

الزَّمُوْا مَوَدَّتَنَا اَهْلَ الْبَيْتِ فَاِنَّهُ مَنْ لَقِى اللهُ تَعَالَى وَهُوَ يَوَدُّنَا دَخَلَ الْجَنَّةَ بِشَفَاعَتِنَا وَلَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَا يَنْفَعُ عَبْدًا عَمَلٌ عَمِلَهُ اِلَّا بِمَعْرِفَةِ حَقَّنَا

Dari Hasan bin Ali ra., Nabi Muhammad saww. bersabda : "Mantapkan (hatimu) atas kecintaan kepada kami Ahlul-Bait, Sebab barangsiapa menghadap Allah dengan mencintai kami pasti ia masuk surga dengan syafaat kami, Demi yang jiwaku ditangan-Nya, tidak akan berguna amal seseorang bagi dirinya kecuali ia mengetahui hak kami (atasnya).". (HR. At-Tabarani)

Nabi Muhammad saww. bersabda :

ألاَ إِنَّ مَثَلَ أَهْلِ بَيْتِيْ فِيْكُمْ مَثَلُ سَفِيْنَةِ نُوْحٍ مِنْ قَوْمهِ ، مَنْ رَكِبَهَا نَجَا وَمَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ

Artinya : "Ketahuilah, sesungguhnya perumpamaan Ahlu Baitku diantara kalian adalah seperti kapal Nuh diantara kaumnya. Barangsiapa menaikinya, iapun selamat dan siapa tertinggal olehnya, iapun tenggelam.". (HR. Al-Hakim).

Penulis : Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus.

محمد سلفى بن أبو نوار العيدروس

Ancaman bagi yang membenci,menghasut dan mengganggu Ahlul Bait Nabi Muhammad Saww

Assalamu’alaikum..

Ancaman bagi yang membenci, menghasut dan mengganggu Ahlul Bait Nabi Muhammad saww.

لَا يُبْغِضُنَا اَحَدٌ وَلَا يَحْسُدُنَا اَحَدٌ اِلَّا ذِيْدَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ عَنِ الْحَوْضِ بِسِيَاطٍ مِنْ نَارٍ

Dari Hasan bin Ali ra., Nabi Muhammad saww. bersabda : "Laa yubghidhunaa ahadun wa laa yahsudunaa ahadun illa dziida yaumal-qiyaamati 'anil-haudhi bisiyaathin min narin.

Artinya : Tiada seorang membenci dan menghasut kami kecuali akan dihalau dari telaga Haudh dengan cambuk terbuat dari api.". (HR. At-Tabarani)

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَا يُبْغِضُنَا اَهْلَ اْلبَيْبِ رَجُلٌ إِلَّا اَدْخَلَهُ النَّارَ

Dari Abu Sa'id Al-Khudri ra., Nabi Muhammad saww. berkata : "Walladzii nafsii biyadihi laa yubghidhunaa ahlal-baiti rojulun illa adkholahun-naara.

Artinya : Demi jiwaku ditangan-Nya tiada seorang membenci kami Ahlul Bayt, kecuali akan dicampakkan oleh Allah ke dalam neraka.". (HR. Al-Hakim, Ibnu Hibban. Ibnu Hajar menggolongkan ini sebagai hadits yang shahih)

اِشْتَدَّ غَضَبُ اللهِ عَلَى مَنْ اَذَانِى فِى عِتْرَتِى

Dari Ali kwj., Nabi Muhammad saww. bersabda : "Isytadda ghodhobulloohi 'alaa man adzaanii fii 'itratii.

Artinya : Keras murka Allah atas orang yang mengganggu (ku) dengan mengganggu itrahku.". (HR. Al-Dailami)

قال رسول الله صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم: (فَاطِمَةُ بَضْعَةٌ مِنِّي يَقْبِضُنِي مَا يَقْبِضُهَا، وَيَبْسُطُنِي مَا يَبْسُطُهَا، وَإِنَّ الْأَنْسَابَ تَنْقَطِعُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غَيْرُ نَسَبِي وَسَبَبِي وَصِهْرِي). رواه الحاكم

Nabi Muhammad saww. bersabda: Faatimatun bidh-’atun minni yaqbidhuni maa yaqbidhuhaa wa yabsuTuni ma yabsuTuhaa wa-innal ansaaba tanqaTi-’a yaumal qiyamati ngairi nasabi wasababi waSihri (Rawahu Hakim)

Artinya: Nabi Muhammad saww. bersabda: Fatimah itu separuh daripadaku, aku marah apa yg membuatkan dia (Fatimah) marah, dan aku suka apa yg disukainya, dan sesungguhnya semua nasab akan terputus pada hari kiamat melainkan nasabku dan sebab adanya (percampuranku) perkahwinanku dan ipar-iparku." (HR. Al Hakim, di dalam kitab Mukhtarul Haditsisy Syarif – Al Musnid Al Habib Umar bin Muhammad Bin Hafidz)

Semua keturunan bernasab dari laki-laki (bapak), kecuali anak-anak Sayyidah Fathimah Az Zahrah binti Muhammad saww.

Rasulullah Saw bersabda: 

كُلُّ بَنِيْ أُنْثى فَإِنَّ عَصَبَتَهُمْ ِلأَبِيْهِمْ مَاخَلاَ وَلَدَ فَاطِمَةَ فَإِنِّيْ أَنَا عَصَبَتُهُمْ وَأَنَا أَبُوْهُمْ

Artinya : "Semua bani Untsa (manusia) mempunyai ikatan keturunan keayahnya, kecuali anak-anak Fathimah, maka kepadakulah bersambung ikatan keturunan mereka dan akulah ayah-ayah mereka.". (HR. Ath-Thabrani)

Imam Suyuti dalam kitab Aljamik As Shohir juz 2 halaman 92 menerangkan, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:

كُلُّ بَنِي آدَمَ يَنْتَمُونَ إِلَى عَصَبَةِ أَبِيهِمْ إِلا وَلَدَ فَاطِمَةَ ، فَإِنِّي أَنَا أَبُوهُمْ وَأَنَا عَصَبَتُهُمْ

Artinya : "Semua Bani Adam (manusia) mempunyai ikatan keturunan dari ayah, kecuali anak-anak Fathimah, maka akulah ayah mereka dan akulah Asobah mereka (ikatan keturunan mereka).". (HR. Ath-Thabrani dan Abu Ya’la)

Begitu pula Syech Muhammad Abduh dalam tafsir Al Manar menerangkan, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:

كُلُّ وَلَدِ أَدَمَ عُصْبَتُهُمْ لِأَبِيْهِمْ مَا خَلاَ وَلَدَ فَاطِمَةَ فَإِنِّيْ أَنَا أَبُوْهُمْ وَعُصْبَتُهُمْ

Artinya : "Semua anak Adam (manusia) bernasab (ikatan keturunan) keayahnya, kecuali anak-anak Fathimah, maka akulah ayah mereka dan akulah yang menurunkan mereka.".

Ahlul Bait Nabi Muhammad saww. mempunyai Nasab yang tidak terputus sampai hari kiamat.

Rasulullah saw pernah bersabda:

كُلُّ سَبَبٍ وَنَسَبٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَنْقَطِعُ , إلَّا سَبَبِي وَنَسَبِي

Artinya : Semua sebab dan nasab putus pada hari kiamat, kecuali sebab dan nasabku.”. (HR. Ath-Thabrani, Al-Hakim dan Al-Baihaqi)

قال رسول الله صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم: (فَاطِمَةُ بَضْعَةٌ مِنِّي يَقْبِضُنِي مَا يَقْبِضُهَا، وَيَبْسُطُنِي مَا يَبْسُطُهَا، وَإِنَّ الْأَنْسَابَ تَنْقَطِعُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غَيْرُ نَسَبِي وَسَبَبِي وَصِهْرِي). رواه الحاكم

Nabi Muhammad saww. bersabda: Faatimatun bidh-’atun minni yaqbidhuni maa yaqbidhuhaa wa yabsuTuni ma yabsuTuhaa wa-innal ansaaba tanqaTi-’a yaumal qiyamati ngairi nasabi wasababi waSihri (Rawahu Hakim)

Artinya: Nabi Muhammad saww. bersabda: Fatimah itu separuh daripadaku, aku marah apa yg membuatkan dia (Fatimah) marah, dan aku suka apa yg disukainya, dan sesungguhnya semua nasab akan terputus pada hari kiamat melainkan nasabku dan sebab adanya (percampuranku) perkahwinanku dan ipar-iparku." (HR. Al Hakim, di dalam kitab Mukhtarul Haditsisy Syarif – Al Musnid Al Habib Umar bin Muhammad Bin Hafidz)

Penulis : Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus.

محمد سلفى بن أبو نوار العيدروس

Mengaku keturunan yang bukan keturunannya

Assalamu’alaikum..

Mengaku keturunan yang bukan keturunannya.

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ بْنُ عَبْدِ الصَّمَدِ بْنِ عَبْدِ الْوَارِثِ بْنِ سَعِيدٍ أَبُو عُبَيْدَةَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ أَبِيهِ حَدَّثَنِي الْحُسَيْنُ بْنُ ذَكْوَانَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ قَالَ حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ يَعْمَرَ أَنَّ أَبَا الْأَسْوَدِ الدِّيلِيَّ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِي ذَرٍّ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ ادَّعَى مَا لَيْسَ لَهُ فَلَيْسَ مِنَّا وَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

Telah menceritakan kepada kami Abdul Warits bin Abdush Shamad bin Abdul Warits bin Sa'id Abu Ubaidah berkata, telah menceritakan kepadaku Bapakku dari Bapaknya berkata, telah menceritakan kepadaku Al Husain bin Dzakwan dari Abdullah bin Buraidah ia berkata; telah menceritakan kepadaku Yahya bin Ya'mar bahwa Abu Al Aswad Ad Daili ia menceritakan kepadanya dari Abu Dzar Bahwasanya ia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa mengaku-ngaku sesuatu yang bukan miliknya maka ia bukan dari golongan kami, dan hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya dalam neraka." (HR. Ibnu Majah No.2310)

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنِ الْحَكَمِ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ فَلَنْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَرِيحُهَا يُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ سَبْعِينَ عَامًا

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Al Hakam dari Mujahid dari Abdullah bin 'Amru dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam, bahwa beliau bersabda: "Barangsiapa mengaku-ngaku bernasab kepada orang yang bukan ayahnya sendiri, maka dia tidak akan mendapatkan baunya surga, padahal bau surga telah tercium dari jarak tujuh puluh tahun perjalanan." (HR.Ahmad No.6540)

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ أَوْ انْتَمَى إِلَى غَيْرِ مَوَالِيهِ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ الْمُتَتَابِعَةُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Dari Anas bin Malik ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa menyandarkan dirinya kepada selain bapaknya, atau kepada selain tuan-tuannya, maka ia akan mendapatkan laknat Allah yang berturut-turut hingga datang hari kiamat." (HR. Abu Daud No.4451)

حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ عَنْ الْحُسَيْنِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ قَالَ حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ يَعْمَرَ أَنَّ أَبَا الْأَسْوَدِ الدِّيلِيَّ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَيْسَ مِنْ رَجُلٍ ادَّعَى لِغَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُهُ إِلَّا كَفَرَ وَمَنْ ادَّعَى قَوْمًا لَيْسَ لَهُ فِيهِمْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

Telah bercerita kepada kami Abu Ma'mar telah bercerita kepada kami 'Abdul Warits dari Al Husain dari 'Abdullah bin Buraidah berkata, telah bercerita kepadaku Yahya bin Ya'mar bahwa Abu Al Aswad ad-Dayliy bercerita kepadanya dari Abu Dzarr radliallahu 'anhu bahwa dia mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah seorang mengaku (sebagai anak) dari bukan bapaknya padahal dia mengetahuinya melainkan telah kafir dan siapa yang mengaku dirinya berasal dari suatu kaum padahal dia bukan dari kaum (qobilah/marga) itu maka bersiaplah menempati tempat duduknya di neraka". (HR. Bukhori No.3246)

عَنْ عَمْرِو بْنِ خَارِجَةَ قَالَ كُنْتُ تَحْتَ نَاقَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ مَنْ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ أَوْ انْتَمَى إِلَى غَيْرِ مَوَالِيهِ رَغْبَةً عَنْهُمْ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ لَا يُقْبَلُ مِنْهُ صَرْفٌ وَلَا عَدْلٌ

Dari 'Amr bin Kharijah, ia berkata; aku pernah berada di bawah unta Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan mendengar beliau bersabda: "Barangsiapa mengaku memiliki nasab selain (nasab) bapaknya atau menisbatkan kepada selain tuannya karena kebencian kepada mereka, maka baginya laknat Allah dan para Malaikat serta seluruh manusia, tidak diterima taubat serta ibadahnya." (HR. Ad Darimi No.2417)

عَنْ أَبِي عُثْمَانَ قَالَ لَمَّا ادُّعِيَ زِيَادٌ لَقِيتُ أَبَا بَكْرَةَ فَقُلْتُ لَهُ مَا هَذَا الَّذِي صَنَعْتُمْ إِنِّي سَمِعْتُ سَعْدَ بْنَ أَبِي وَقَّاصٍ يَقُولُا سَمِعَ أُذُنَايَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ مَنْ ادَّعَى أَبًا فِي الْإِسْلَامِ غَيْرَ أَبِيهِ يَعْلَمُ أَنَّهُ غَيْرُ أَبِيهِ فَالْجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ فَقَالَ أَبُو بَكْرَةَ وَأَنَا سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Abu Utsman dia berkata, "Ketika Ziyad diklaim (sebagai bapak) maka aku bertemu Abu Bakarah, lalu aku berkata kepadanya, 'Apa yang kamu perbuat! Sesungguhnya aku mendengar Sa'd bin Abu Waqqash berkata, 'Kedua telingaku mendengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: 'Barangsiapa dalam Islam mengklaim orang lain sebagai bapaknya padahal dia bukan bapaknya, dan dia juga mengetahui bahwa dia bukan bapaknya, maka surga haram atasnya.' Maka Abu Bakrah berkata, 'Dan saya juga mendengarnya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam'." (HR. Muslim No.95)

Penulis : Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus.

محمد سلفى بن أبو نوار العيدروس

27.9.15

RABI'AH BIN KA'AB

RABI'AH BIN KA'AB Di usia muda, jiwanya sudah cemerlang dengan cahaya iman. Hatinya dipenuhi pengertian dan pemahaman tentang Islam. Pertama kali berjumpa dengan Rasulullah saw, ia langsung jatuh cinta dan menyerahkan seluruh jiwa raganya; menjadi pendamping beliau. Kemana pun beliau pergi, Rabi'ah bin Ka'ab ra selalu berada di sampingnya.Rabi'ah melayani segala keperluan Rasulullah sepanjang hari hingga habis waktu Isya' yang terakhir. Bahkan lebih dari itu, ketika Rasulullah hendak berangkat tidur, tak jarang Rabi'ah mendekam berjaga di depan pintu rumah beliau. Di tengah malam, ketika Nabi SAW bangun untuk melaksanakan shalat, seringkali ia mendengar beliau membaca Al-Fatihah dan ayat-ayat Alquran.Sudah menjadi kebiasaan Rasulullah saw, jika seorang berbuat baik kepadanya, maka beliau pasti membalasnya dengan lebih baik lagi. Begitulah, beliau membalas kebaikan Rabi'ah dengan kebaikan pula. Pada suatu hari beliau saw memanggilnya seraya berkata, "Wahai Rabi'ah bin Ka'ab, katakanlah permintaanmu, nanti kupenuhi!" Setelah diam sejenak, Rabi'ah ra menjawab : "Ya Rasulullah, berilah saya sedikit waktu untuk memikirkan apa sebaiknya yang akan kuminta. Setelah itu, akan kuberitahukan kepada Anda." "Baiklah kalau begitu," jawab Rasulullah SAW. Rabi'ah bin Ka'ab ra adalah seorang pemuda miskin, tidak memiliki keluarga, harta dan tempat tinggal. Ia menetap di Shuffatul Masjid (emper masjid), bersama-sama dengan kawan senasibnya, yaitu orang-orang fakir dari kaum Muslimin. Masyarakat menyebut mereka "dhuyuful Islam" (tamu-tamu) Islam. Bila ada yang memberi hadiah kepada Rasulullah SAW, maka biasanya beliau memberikannya kepada mereka. Rasulullah SAW hanya mengambil sedikit saja. Dalam hati, Rabi'ah bin Ka'ab ra ingin meminta kekayaan dunia agar terbebas dari kefakiran. Ia ingin punya harta, istri, dan anak seperti para sahabat yang lain. Namun, hati kecilnya berkata, "Celaka engkau, wahai Rabi'ah bin Ka'ab! Kekayaan dunia akan lenyap. Mengapa engkau tidak meminta kepada Rasulullah agar mendoakan kepada Allah SWT kebajikan akhirat untukmu?" Hatinya mantap dan merasa lega dengan permintaan seperti itu. Kemudian ia datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, "Wahai Rasulullah, saya mohon agar engkau mendoakan kepada Allah SWT agar menjadi temanmu di surga. "Agak lama juga Rasulullah SAW terdiam. Sesudah itu barulah beliau berkata, "Apakah tidak ada lagi permintaamu yang lain?" "Tidak, ya Rasulullah. Tidak ada lagi permintaan yang melebihi permintaanku," jawab Rabi'ah bin Ka'ab ra mantap. "Kalau begitu, bantulah aku dengan dirimu sendiri. Perbanyaklah sujud," kata Rasulullah. Sejak itu, Rabi'ah bersungguh-sungguh beribadah, agar mendapatkan keuntungan menemani Rasulullah SAW di surga, sebagaimana keuntungannya melayani beliau di dunia. Tidak berapa lama kemudian Rasulullah SAW memanggilnya. "Apakah engkau tidak hendak menikah, hai Rabi'ah?" tanya beliau SAW. "Saya tak ingin ada sesuatu yang menggangguku dalam berkhidmat kepada Anda, ya Rasulullah. Di samping itu, saya tidak mempunyai apa-apa untuk mahar kawin, dan untuk kelangsungan hidup berumah tangga," jawab Rabi'ah. Rasulullah SAW diam sejenak. Tidak lama kemudian beliau memanggil Rabi'ah kembali seraya bertanya, "Apakah engkau tidak hendak menikah, ya Rabi'ah?" Dan Rabi'ah ra kembali menjawab seperti seperti semula. Hingga ketiga kalinya Rasulullah memanggil dan bertanya serupa. Rabi'ah ra menjawab, "Tentu, ya Rasulullah. Tetapi, siapakah yang mau kawin denganku, keadaanku seperti yang Anda maklumi." "Temuilah keluarga Fulan. Katakan kepada mereka bahwa Rasulullah menyuruhmu kalian supaya menikahkan anak perempuan kalian, si Fulanah dengan engkau. "Dengan malu-malu Rabi'ah ra datang ke rumah mereka dan menyampaikan maksud kedatangannya. Tuan rumah menjawab, "Selamat datang ya Rasulullah SAW, dan dan selamat datang utusan Rasulullah. Demi Allah, utusan Rasulullah tidak boleh pulang, kecuali setelah hajatnya terpenuhi!" Rabi'ah bin Ka'ab kemudian menikah dengan anak gadis tersebut. Dan Rasulullah juga menghadiahkan sebidang kebun kepadanya, berbatasan dengan kebun Abu Bakar Ash-Shiddiq. Suatu ketika, Rabi'ah ra sempat berselisih dengan Abu Bakar ra mengenai sebatang pohon kurma. Rabi'ah ra mengaku pohon kurma itu miliknya, sementara Abu Bakar ra juga mengakui hal yang sama. Ketika perselisihan memanas, Abu Bakar ra sempat mengucapkan kata-kata yang tak pantas didengar. Setelah sadar atas ketelanjurannya mengucapkan kata-kata tersebut, Abu Bakar ra menyesal dan berkata kepada Rabi'ah, "Hai Rabi'ah, ucapkan pula kata-kata seperti yang kulontarkan kepadamu, sebagai hukuman (qishash) bagiku!" Rabi'ah menjawab, "Tidak! Aku tidak akan mengucapkannya!" "Akan kuadukan kamu kepada Rasulullah SAW, kalau engkau tidak mau mengucapkannya!" kata Abu Bakar ra, lalu pergi menemui Rasulullah SAW. Rabi'ah ra mengikutinya dari belakang. Kerabat Rab'iah ra dari Bani Aslam berkumpul dan mencela sikapnya. "Bukankah dia yang memakimu terlebih dahulu? Kemudian dia pula yang mengadukanmu kepada Rasulullah SAW ?" kata mereka. Rabi'ah ra menjawab, "Celaka kalian! Tidak tahukah kalian siapa dia? Itulah "Ash-Shiddiq", sahabat terdekat Rasulullah SAW dan orang tua kaum Muslimin. Pergilah kalian segera sebelum dia melihat kalian ramai-ramai di sini. Aku khawatir kalau-kalau dia menyangka kalian hendak membantuku dalam masalah ini sehingga dia menjadi marah. Lalu dalam kemarahannya dia datang mengadu kepada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW pun akan marah karena kemarahan Abu Bakar ra. Kemarahan mereka berdua adalah kemarahan Allah SWT. Akhirnya, aku yang celaka?" Mendengar kata-kata Rabi'ah ra, mereka pun pergi. Abu Bakar ra bertemu dengan Rasululah SAW dan menuturkan apa yang terjadi. Rasulullah SAW mengangkat kepala seraya bertanya pada Rabi'ah, "Apa yang terjadi antara kau dengan Ash-Shiddiq?" "Ya Rasulullah, beliau menghendakiku mengucapkan kata-kata makian kepadanya, seperti yang diucapkannya kepadaku. Tetapi, aku tidak mau mengatakannya," jawab Rabi'ah. Sabda Rasulullah SAW, "Bagus! Jangan ucapkan kata-kata itu. Tetapi katakanlah, semoga Allah SWTmengampuni Abu Bakar!" Rabi'ah pun mengucapkan kata-kata itu. Mendengar kata-kata Rabi'ah ra, Abu bakar ra pergi dengan air mata berlinang, sambil berucap, "Semoga Allah SWT membalasmu dengan kebaikan, wahai Rabi'ah." Mereka pun hidup rukun kembali. Semoga bermanfaat Silahkan share Sumber : "Surun min Hayatis Sahabah" (Gambaran Kehidupan Sahabat) Karangan Dr. Abdul Rahman Ra'fat al Basha