Apa hubungan Al-'Atthas dengan bin Syeikh Abubakar bin Salim.
Syarifah hubabah Thalhah binti Agil bin Ahmad bin Abubakar As-Sakran mengandung tua. Ia mulai merasakan tanda-tanda akan melahirkan. Dari dalam perutnya ia mendengar perdebatan.
"Keluarlah kau," kata salah satu janin.
"Kau saja yang keluar dahulu," kata janin yang lain.
Janin yang satu mengutamakan janin lain. Sebab, janin yang keluar lebih dahulu kelak akan menjadi kakak. Dalam riwayat lain, perdebatan ini sempat membuat sang ibu khawatir. Sebagaimana kebanyakan ibu, Thalhah menghendaki kelahiran putranya dengan cepat dan selamat.
Akhirnya salah satu janin itu berkata, "Keluarlah lebih dahulu, nanti aku yang masyhur, tapi sesungguhnya Almasyhuur fii barokatil mastuur (yang masyhur itu ada dalam keberkahan yang tidak dikenal)."
Tak berapa lama lahirlah bayi yang kemudian diberi nama Aqil, lalu disusul adiknya yang kemudian diberi nama Abubakar. Aqil inilah kakek keluarga Al-'Atthas, dia juga yang pertama kali bersin dan mengucap hamdalah ketika masih dalam kandungan ibunya. Jadi, Al-'Atthas adalah kakak dari BSA (Bin Syeikh Abubakar Bin Salim).
[Tajul A’ros juz I Hal 37-38].
Sebagaimana ucapan janin tadi, kita jarang dengar cerita tentang Al Habib Aqil, tapi lain halnya dengan Syeikh Abubakar. Sejak kecil Syeikh Abubakar telah masyhur. Al Habib Aqil bin Salim akan menjadi seorang wali yang mastuur, tapi sebaliknya Syeikh Abubakar bin Salim, adiknya.
Mengapa garis keturunan Rosul saw ini disebut Al-'Atthos? Nantikan rubrik berikut.
Keluarga Al-'Atthas adalah keturunan dari Abdurrahman bin Agil bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman Assegaf.
Kata Al-'Atthas berasa dari kata dasar 'athosa yang berarti bersin.
Al Habib Ali bin Hasan Al-'Atthas dalam bagian pertama bukunya yang berjudul Al-Qirthos Fi Manakibil 'Atthos berkata,
“Dijuluki Al-'Atthas karena suatu karomah. Ketika dalam kandungan ibunya, janin keluarga Al-'Atthas bersin dan mengucapkan Alhamdulillah. Suara bersin ini terdengar padahal ia masih berada dalam kandungan ibunya. Orang yang pertama kali bersin dalam kandungan ibunya adalah Sayidina Agil bin Salim.
(Al-Mu’jam Al-Lathiif, cet. I 1986, Alamul Ma’rifah, Jeddah hal 134 – 135).
Al Habib Ali bin Hasan Al-'Atthas berkata bahwa suara bersin dari janin-janin keluarga Al-'Atthas selalu terdengar sepanjang zaman. Anak beliau, Hasan bin Ali, juga bersin ketika berada dalam kandungan ibunya. Suara bersin itu hampir menjadi hal yang biasa bagi para isteri keluarga Al-'Atthas. Di setiap zaman dan tempat banyak diceritakan peristiwa ini. Suara bersin itu umumnya terdengar pada bulan kesembilan masa kehamilan dengan syarat suasana tenang. Suara bersin itu terdengar oleh orang yang hamil dan orang yang berada di dekatnya.
(Tajul A’ros I, hal 38-39).
Habib Fahmi bin Yahya Yahya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar