28.5.15

PENTINGNYA UJIAN DALAM KEHIDUPAN MANUSIA.

PENTINGNYA UJIAN DALAM KEHIDUPAN MANUSIA. Seperti yang dijelaskan, bahwa hidup Dan mati sengaja diciptakan Allah Suhhaanahu wata'aala sebagai ujian bagi setiap manusia, agar dia tahu siapa yang terbaik diantara mereka. Begutulah Firman Allah dalam surat Al Mulk (67):2. Dengan demikian, kehidupan didunia ini adalah ujian yang tidak akan pernah berakher, sampai datangnya kematian sebagai akher "drama" kehidupan manusia di pentas dunia. Dalam surat Al Balad (90):4,Allah SWT berfirman; لقد خلقنا الإنسان في كبد "Artinya.."Sungguh kami telah menciptakan manusia berada dalam kesusahan." Pernyataan tersebut Allah ungkapkan setelah terlebih dahulu Dia bersumpah Dengan Al Balad/negeri Mekah (tempat kediaman manusia, Dan Dengan Adam serta keturunannya (manusia). Dengan demikian, Allah menegaskan dalam ayat ini bahwa manusia memang sengaja diciptakan Allah SWT untuk menghadapi kesusahan dan kesulitan. Kesusahan dan kepayahan manusia selama didunia, tidak akan pernah berhenti semenjak dalam kandungan sampai kematiannya datang. Bahkan, kematian itu sendiri adalah puncak dari kesusahan dan kepayahan hidup. Dalam kehidupan di dunia ini, setiap manusia selalu berhadapan Dengan berbagai bentuk kesulitan dan kesusahan. Kalaupun dia bisa melepaskan diri dari satu kesulitan, maka dia akan menghadapi kesulitan yang lain. Misalnya, seorang yang masih dalam bangku pendidikan merasa kesusahan dengan materi pelajaran. Setelah lulus dan selesai dari bangku pendidikan, dia kembali menghadapi kesusahan untuk mendapatkan pekerjaan. Begitu memperoleh pekerjaan, muncul lagi kesusahan baru menghadapi rekan seprofesi dikantor. Begitulah seterusnya.. Manusia yang berhenti pada satu tahap kesusahan, akan menjadi orang yang putus asa dan pesimis. Dia akan memandang hidup ini dengan pandangan hampa. Namun, orang yang beriman justru akan menjadi semakin optimis Dan berjuang keras untuk menyelesaikan semua kesulitan itu. Sebab, seorang yang beriman meyakini bahwa setiap kesulitan itu pasti mempunyai jalan keluar, Dan yang pasti kesulitan itu tidak akan diberikan Allah SWT, melainkan sesuai batas kemampuan manusia itu sendiri memikulnya. Manusia memang harus menanggung resiko kehidupan dunia ini. Ia harus siap menghadapi kesulitan dan kepayahan, karena hidup memang diciptakan untuk itu. Akan tetapi, semua itu bertujuan baik, karena dengan kesulitan -kesulitan itulah, Allah SWT meningkatkan derajat manusia itu sendiri. Allah SWT berfirman dalam surat Al Imran (3): 142 أم حسبتم أن تدخلوا الجنة ولما يعلم الله الذين جاهدوا منكم ويعلم الصابرين Artinya: "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjuang diantara kamu dan belum nyata siapa yang sabar." Dalam surat Al Angkabut (29):2, Allah SWT juga berfirman احسب الناس أن يتركوا أمنا وهم لا يفتنون Artinya: "Apakah manusia mengira akan dibiarkan saja mengatakan kami telah beriman, sementara mereka belum mendapatkan ujian?" Hal itu berarti, bahwa ujian bagi manusia sebenarnya bertujuan baik; yaitu meningkatkan kualitas manusia itu sendiri. Bukankah dengan ujian seorang siswa bisa naik kelas? Dan Bukankah dengan ujian juga manusia biasa bisa menjadi orang besar dan disegani manusia lain?. Oleh karena itu, ujian atau kesulitan bukanlah sesuatu yang jelek dan buruk, Bahkan justru harus didambakan, diharapkan atau Bahkan dicari. Ujian tidak boleh dihindari atau ditakuti, karena ujian itu sendiri kebaikan. Akan tetapi, yang salah dan buruk adalah gagal dalam menghadapi ujian dan kesulitan itu. Semakin banyak ujian dan kesulitan yang dihadapi, akan semakin tinngilah mutu seseorang kalau dia berhasil menyelesaikannya. Bukankah ikan yang enak dagingnya, adalah ikan yang sering berenang diair deras?. Dan Bukankah emas yang sering dibakar akan semakin mengkilat?. Namun demikian, satu Hal yang mesti diyakini, bahwa seberapa banyakpun ujian dan kesulitan yang dihadapi, jumlahnya tetap masih sedikit bila dibandingkan dengan nikmat yang telah diterima. Bukankah Allah SWT telah berfirman dalam surat Al Baqarah (2):155, "Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit daripada rasa takut, rasa lapar, kekurangan harta dan jiwa serta buah-buahan...". Karena sedikitnya kesusahan itu, sering tanpa kita sadari muncul ungkapan "Untung". Misalnya.. Ketika datang gempa disuatu daerah yang menghancurkan semua rumah, Namun penghuninya selamat, kita berkata, "Untunglah rumah saja yang hancur, penghuninya masih selamat." Ketika rumah hancur dan semua penghuninya luka parah, kita berkata lagi, "Untunglah rumah saja yang hancur dan penghuninya hanya luka-luka." Begitulah seterusnya.. Secara tidak di sadari manusia mengakui bahwa betapa besar dan banyaknya kesulitan itu, Ia masih dianggap sedikit. Agaknya itulah yang membuat Nabi Ayyub 'Alaihissalam malu meminta kesembuhan penyakitnya kepada Allah SWT, karena menilai kesusahannya sangatlah sedikit sekali bila dibandingkan kenikmatan yang telah diperolehnya selama ini. Dan Hal yang pasti adalah, bahwa dibalik kesulitan pasti ada kemudahan, karena kemudahan diciptakan Allah SWT jauh lebih banyak dibandingkan dengan kesulitan. Begitulah yang dimaksud Allah SWT dalam surat Alam Nasyrah (94):5-6, dengan melakukan pengulangan dua ayat dengan redaksi yang sama.. فإن مع العسر يسرا (5) إن مع العسر يسرا (6) Artinya, "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (5, Sesungguhnya kesulitan itu ada kemudahan (6)" Menurut gramatika bahasa Arab, jika kata yang berbentuk ma'rifah (difinit/tertentu) diulang sebutannya dua kali, maka yang dimaksud adalah satu. Namun, jika kata yang berbentuk nakirah (indifinit/tidak tentu) diulang sebutannya dua kali, maka yang dimaksud adalah dua Hal yang berbeda. Dengan demikian, ayat diatas menegaskan bahwa Al 'Usr yang berarti kesulitan, bentuknya satu karena di ungkapkan dalam bentuk Ma'rifah. Sementara Yusr yang berarti kemudahan bentuknya dua, karena di ungkapkan dalam bentuk Nakirah. Kesimpulannya adalah, bahwa dalam satu kesulitan, Allah SWT telah menciptakan dua kemudahan atau lebih. Sehingga didunia ini pada hakikatnya kemudahan jauh lebih banyak dari kesulitan. Berdasarkan Hal itu, maka tidak ada peluang bagi manusia untuk putus asa Ketika menghadapi suatu kesulitan. Tinggal lagi, usaha mereka untuk menemukan jalan kemudahan guna keluar dari kesulitan yang sedang dihadapinya. Wallaahu a'lam Semoga bermanfaat dan Barakah.

AMR BIN JAMUH Si Pincang Menjemput Surga

AMR BIN JAMUH Si Pincang Menjemput Surga Menjadi syuhada di medan perang adalah dambaan setiap Sahabat Rosululloh SAW saat itu. Tanpa terkecuali Amr bin Jamuh yg memiliki kelainan pada kakinya sehingga jalannya pincang. Amr bin Jamuh adalah salah seorang pemimpin Yatsrib pada nasa jahiliyah. Dia masih ipar. Abdul bin Amr bin Haram, kepala suku Bani Salamah yg dihormati dan gemar nenolong orang-orang yg membutuhkan. Pada masa jahiliyah, Amr menempatkan patung di rumahnya. Patung di rumah Amr bernama "Manat". Patung itu terbuat dari kayu, indah dan mahal harganya. Untuk perawatannya, Amr kadang membutuhkan biaya yg tidak sedikit. Hampir setiap hari, patung tadi dibersihkan dan diminyaki dgn wangi-wangian khusus dan mahal. Tatkala cahaya Islam mulai bersinar di Yatsrib, dari rumah ke rumah, usia Amr bin Jamuh sudah lewat 60 th. Tiga orang putranya, Mu'awadz, Mu'adz dan Khalad, serta seorang kawan sebayanya, Mu'adz bin Jabal, telah masuk Islam melalui Mush'ab bin Umair, sang duta Islam. Bersama ketiga putranya, masuk Islam pula Ibu mereka Hindun, istri Amr bin Jamuh. Amr tidak mengetahui kalau mereka telah masuk Islam. Saat itu para bangsawan dan pemuka siku di Yatsrib telah masuk Islam. Hindun khawatir kalau suaminya meninggal dlm jeadaan kafir lalu masuk neraka. Sebaliknya Amr sangat mencemaskan keluarganya akan meninggalkan agama nenek moyang mereka. Dia khawatir putra-putranya akan terpengaruh dakwahnya Mush'ab bin Umair. Adapun para putranya terus membujuk sang ayah untuk masuk Islam. Ketika diajak sang ayah selalu beralasan untuk mendiskusikan dgn sang patung, Manat. Anak-anaknya mencari jalan bagaimana cara menghilangkan patung tsb dari hati Amr. Salah satu jalannya, menyingkirkan berhala tsb dari rumah mereka dan membuangnya jauh-jauh. Pada suatu malam, ketiga putra Amr bersama Mu'adz bin Jabal, menyusup ke dlm rumah lalu mengambil berhala tsb, dan membuangnya ke dalam lubang kotoran manusia. Tidak seorangpun yg mengetahui dan melihat perbuatan mereka itu. Pagi harinya, Amr tidak melihat Manat di tempatnya. Ia bergegas mencari berhala tsb dan dia nenemukannya di tempat pembuangan kotoran manusia. Bukan main marahnya Amr melihat kondisi sesembahannya itu. Setelah membersihkan sang berhala dan memberinya wewangian, ia kembalu meletakkan di tempat semula. Malam berikutnya, Mu'adz bin Jabal dan ketiga pitra Amr, memperlakukan berhala itu seperti malam sebelumnya. Demikian juga pada malam-malam berikutnya. Akhirnya habislah kesabaran Amr, diambilkannya pedang, kemudian digantungkannya di leher Manat, seraya berkata, "Hai Manat, jika memang kamu hebat, tentu bisa menjaga dirimu dari aniaya orang lain!" Esok harinya Amr tidak menemukan berhalanya lagi. Ketika ia cari, benda tsb ditemukannya di tempat pembuangan hajat, terikat bersama bangkai seekor anjing. Saat dia keheranan, marah dan kecewa, muncullah beberapa pemuka Madinah. Sambil menunjuk berhala yg terikat bersama bangkai anjing itu, mereka berusaha mengetuk hati Amr, agar menggapai hidayah Alloh SWT. Ia kemudian membersihkan badan dan pakaiannya, memakai wewangian, lalu bergegas menemui Nabi SAW, untuk menyatakan keislamannya. Amr bin Jamuh merasakan bagaimana manisnya iman. Dia sangat menyesali dosa-dosanya selama dlm kemusy- rikan. Maka setelah masuk Islam, ia mengarahkan seluruh hidupnya, hartanya dan anak-anaknya untuk mentaati perintah Alloh SWT dan Rosul-Nya. Ketika perang Badar akan dimulai, Amr berketetapan hati dan menyiapkan peralatan- nya untuk turut dlm perang. Namun, ketiga putranya memohon agar sang ayah mengu- rungkan niatnya dan memohon kepada Nabi SAW untuk melarangnya. Akhirnya Rosululloh SAW mengeluarkan perintah agar ia tetap tinggal di Madinah. Walau merasa kecewa, Amr tahu itu untuk kebaikannya. Dalam perang Badar Amr absen, namun keinginannya untuk turut dalam perang Uhud kian membuncah. Akhirnya ia memohon kpd Nabi SAW untuk mengizinkannya. Karena besarnya keinginan Amr untu berjuang, Nabipun tak kuasa menahan tekadnya untuk berjihad. Betapa bahagianya Amr mendapat izin dari Nabi SAW. Dengan sigab, Amr segera mengambil senjata untuk berperang. Kondisi yg pincang tak membuat Amr berkecil hati. Bersama ketiga putranya, maju ke depan menebaskan pedangnya dgn membabi buta, kepada tentara musuh. Sebelum berperang, Amr berdo'a, "Ya Alloh, berilah aku kesempatan untuk memperoleh syahid. Jangan kembalikan aku kepada keluargaku." Apa yg diharapkannya terjadi. Sebuah sabetan pedang dari prajurut musuh menghujam tubuhnya hingga ia syahid...

ABDULLAH BIN UMMI MAKTUM "PAHLAWAN TUNA NETRA"

ABDULLAH BIN UMMI MAKTUM "PAHLAWAN TUNA NETRA" Dalam sejarah Islam, ia dikenal memiliki ilmu dan adab istimewa yang dikaruniakan Allah kepadanya, menggantikan kebutaan matanya sebagai cahaya dalam pandangan dan pancaran di hati. Sehingga ia dapat melihat dengan mata hati, apa-apa yang tidak dapat dilihat oleh mata kepala orang lain. Hatinya dapat mengetahui apa yang tersembunyi Bila Rasulullah SAW pergi ke berbagai medan perang, dia selalu ditunjuk menjadi wakil beliau di Madinah, mengimami shalat jamaah di mihrab beliau, dan berdiam di sebelah kiri mimbar dengan khusyuk. Pada awal sejarah Islam, Abdullah bin Ummi Maktum memperoleh hidayah untuk bergabung bersama orang-orang yang telah memeluk Islam. Ketika itu ia masih muda belia, sehingga hatinya merasakan betul manisnya keimanan. Menginjak dewasa, dia merasakan bahwa ajaran Islam telah menjadikan hatinya bersih, sehingga walaupun matanya tak mampu melihat, namun itu merupakan nikmat besar yang dikaruniakan Allah kepadanya. Ibnu Ummi Maktum mempunyai naluri yang sangat peka untuk mengetahui waktu. Setiap menjelang fajar, dengan perasaan jiwa yang segar ia keluar dari rumahnya, dengan bertopang tongkat atau bersandar pada lengan salah seorang kaum Muslimin untuk mengumandangkan azan di masjid Rasul. Dia selalu bergantian azan dengan Bilal bin Rabah. Jika salah satu dari mereka berdua azan, maka yang lainnya bertindak mengumandangkan iqamat. Namun Bilal mengumandangkan azan semalam untuk membangunkan kaum Muslimin, sedangkan Ibnu Ummi Maktum mengumandangkannya waktu Subuh. Oleh sebab itulah, Rasulullah bersabda—terkait waktu sahur pada bulan Ramadhan, "Makan dan minumlah kalian hingga Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan azan..." Allah telah memuliakan Abdullah bin Ummi Maktum. Ketika Nabi sedang duduk bersama dengan para pemuka Quraisy, diantara mereka terdapat Uqbah bin Rabi'ah. Beliau bersabda, "Tidakkah baik sekiranya kamu datang dengan begini dan begini?" Kata mereka, "Benar!" Tiba-tiba Ibnu Ummi Maktum datang menanyakan tentang sesuatu kepada beliau, namun beliau mengelak karena sibuk berbicara dengan para tokoh Quraisy itu. Allah pun menurunkan ayat yang berbunyi: "Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya." (QS Abasa: 1-10). Sewaktu ayat ini turun, Rasulullah kemudian memanggil Ibnu Ummi Maktum dan memberinya suatu kehormatan dengan menunjuknya sebagai wakil beliau di Madinah pada saat beliau menghadapi peperangan untuk yang pertama kalinya. Suatu ketika Abdullah bin Ummi Maktum menyampaikan keinginannya untuk dapat ikut berjihad kepada para sahabat. Tentu saja para sahabat merasa sangat senang karena keutamaan yang dimiliki Ibnu Ummi Maktum. Walau matanya buta, telah lama ia mengharapkan dapat ikut berperang bersama Rasulullah dan pasukan Muslimin. Abdullah bin Ummi Maktum merasa sangat sedih dan pilu tatkala ayat turun wahyu kepada Rasulullah yang berbunyi, "Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang)."Ia pun berkata, "Ya Allah, Kau memberiku ujian begini, bagaimana aku dapat berbuat...?" Kemudian turunlah ayat lainnya, "Selain yang mempunyai udzur..." Kemuliaan seperti apakah gerangan yang lebih tinggi dari penghormatan ini, di mana wahyu diturunkan dua kali lantaran persoalan Ibnu Ummi Maktum; yang pertama merupakan teguran terhadap Rasulullah SAW, dan yang kedua ketentuan berperang bagi orang yang mampu dan berhalangan, termasuk di antaranya adalah Abdullah bin Ummi Maktum. Walau demikian, Ibnu Ummi Maktum tetap mempunyai hasrat yang kuat untuk berjihad fi sabilillah bersama barisan kaum Muslimin. Dia telah mengutarakan hasratnya berulangkali. Dia berkata kepada para sahabat Rasulullah, "Serahkanlah panji kepadaku, karena sesungguhnya aku adalah seorang buta sehingga tidak akan dapat melarikan diri. Tempatkanlah aku di antara kedua pasukan!" Sang sahabat yang mulia dan agung ini tidak berakhir hayatnya sebelum Allah mengabulkan hasrat hatinya tersebut. Pada saat Perang Qadisiyah, ia turut berperang sebagai pembawa panji pasukan berwarna hitam. Dialah seorang buta pertama yang turut berperang dalam sejarah peperangan Islam.

TSABIT BIN IBRAHIM DAN APEL MERAH (AYAHANDA IMAM ABU HANIFAH)

Alwi Husin TSABIT BIN IBRAHIM DAN APEL MERAH (AYAHANDA IMAM ABU HANIFAH) Seorang lelaki yang saleh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba dia melihat sebuah apel jatuh ke luar pagar sebuah kebun buah-buahan. Melihat apel yang merah ranum itu tergeletak di tanah terbitlah air liur Tsabit, terlebih-lebih di hari yang sangat panas dan di tengah rasa lapar dan haus yang mendera. Maka tanpa berpikir panjang dipungut dan dimakanlah buah apel yang terlihat sangat lezat itu. Akan tetapi baru setengahnya di makan dia teringat bahwa buah apel itu bukan miliknya dan dia belum mendapat ijin pemiliknya. Maka ia segera pergi ke dalam kebun buah-buahan itu dengan maksud hendak menemui pemiliknya agar menghalalkan buah apel yang telah terlanjur dimakannya. Di kebun itu ia bertemu dengan seorang lelaki. Maka langsung saja ia berkata, "Aku sudah memakan setengah dari buah apel ini. Aku berharap Anda menghalalkannya". Orang itu menjawab,"Aku bukan pemilik kebun ini. Aku hanya khadamnya yang ditugaskan merawat dan mengurusi kebunnya". Dengan nada menyesal Tsabit bertanya lagi, "Dimana rumah pemiliknya? Aku akan menemuinya dan minta agar dihalalkan apel yang telah kumakan ini. "Pengurus kebun itu memberitahukan, "Apabila engkau ingin pergi kesana maka engkau harus menempuh perjalanan sehari semalam". Tsabit bin Ibrahim bertekad akan pergi menemui si pemilik kebun itu. Katanya kepada orangtua itu, "Tidak mengapa. Aku akan tetap pergi menemuinya, meskipun rumahnya jauh. Aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku karena tanpa seijin pemiliknya. Bukankah Rasulullah Saw sudah memperingatkan kita lewat sabdanya : "Siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka." Tsabit pergi juga ke rumah pemilik kebun itu, dan setiba disana dia langsung mengetuk pintu. Setelah si pemilik rumah membukakan pintu, Tsabit langsung memberi salam dengan sopan, seraya berkata, "Wahai tuan yang pemurah, saya sudah terlanjur makan setengah dari buah apel tuan yang jatuh ke luar kebun tuan. Karena itu sudikah tuan menghalalkan apa yang sudah kumakan itu ?" Lelaki tua yang ada di hadapan Tsabit mengamatinya dengan cermat. Lalu dia berkata tiba-tiba, "Tidak, aku tidak bisa menghalalkannya kecuali dengan satu syarat." Tsabit merasa khawatir dengan syarat itu karena takut ia tidak bisa memenuhinya. Maka segera ia bertanya, "Apa syarat itu tuan?" Orang itu menjawab,"Engkau harus mengawini putriku !" Tsabit bin Ibrahim tidak memahami apa maksud dan tujuan lelaki itu, maka dia berkata, "Apakah karena hanya aku makan setengah buah apelmu yang jatuh ke luar dari kebunmu, aku harus mengawini putrimu ?" Tetapi pemilik kebun itu tidak menggubris pertanyaan Tsabit. Ia malah menambahkan, katanya, "Sebelum pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan-kekurangan putriku itu. Dia seorang yang buta, bisu, dan tuli. Lebih dari itu ia juga seorang gadis yang lumpuh !" Tsabit amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berpikir dalam hatinya, apakah perempuan semacam itu patut dia persunting sebagai isteri gara-gara ia memakan setengah buah apel yang tidak dihalalkan kepadanya? Kemudian pemilik kebun itu menyatakan lagi, "Selain syarat itu aku tidak bisa menghalalkan apa yang telah kau makan !" Namun Tsabit kemudian menjawab dengan mantap, "Aku akan menerima pinangannya dan perkawinannya. Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul Alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepadanya karena aku amat berharap Allah selalu meridhaiku dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikanku di sisi Allah Taala". Maka pernikahanpun dilaksanakan. Pemilik kebun itu menghadirkan dua saksi yang akan menyaksikan akad nikah mereka. Sesudah perkawinan usai, Tsabit dipersilahkan masuk menemui istrinya. Sewaktu Tsabit hendak masuk kamar pengantin, dia berpikir akan tetap mengucapkan salam walaupun istrinya tuli dan bisu, karena bukankah malaikat Allah yang berkeliaran dalam rumahnya tentu tidak tuli dan bisu juga. Maka iapun mengucapkan salam, "Assalamualaikum..."Tak dinyana sama sekali wanita yang ada dihadapannya dan kini resmi menjadi istrinya itu menjawab salamnya dengan baik. Ketika Tsabit masuk hendak menghampiri wanita itu, dia mengulurkan tangan untuk menyambut tangannya. Sekali lagi Tsabit terkejut karena wanita yang kini menjadi istrinya itu menyambut uluran tangannya. Tsabit sempat terhentak menyaksikan kenyataan ini. "Kata ayahnya dia wanita tuli dan bisu tetapi ternyata dia menyambut salamnya dengan baik. Jika demikian berarti wanita yang ada di hadapanku ini dapat mendengar dan tidak bisu. Ayahnya juga mengatakan bahwa dia buta dan lumpuh tetapi ternyata dia menyambut kedatanganku dengan ramah dan mengulurkan tangan dengan mesra pula", kata Tsabit dalam hatinya. Tsabit berpikir mengapa ayahnya menyampaikan berita-berita yang bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya ? Setelah Tsabit duduk disamping istrinya, dia bertanya, "Ayahmu mengatakan kepadaku bahwa engkau buta. Mengapa ? Wanita itu kemudian berkata, "Ayahku benar, karena aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah". Tsabit bertanya lagi, "Ayahmu juga mengatakan bahwa engkau tuli. Mengapa? "Wanita itu menjawab, "Ayahku benar, karena aku tidak pernah mau mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat ridha Allah. Ayahku juga mengatakan kepadamu bahwa aku bisu dan lumpuh, bukan?" tanya wanita itu kepada Tsabit yang kini sah menjadi suaminya. Tsabit mengangguk perlahan mengiyakan pertanyaan istrinya. Selanjutnya wanita itu berkata, "aku dikatakan bisu karena dalam banyak hal aku hanya mengunakan lidahku untuk menyebut asma Allah Taala saja. Aku juga dikatakan lumpuh karena kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang bisa menimbulkan kegusaran Allah Taala". Tsabit amat bahagia mendapatkan istri yang ternyata amat saleh dan wanita yang akan memelihara dirinya dan melindungi hak-haknya sebagai suami dengan baik. Dengan bangga ia berkata tentang istrinya, "Ketika kulihat wajahnya Subhanallah, dia bagaikan bulan purnama di malam yang gelap".Tsabit dan istrinya yang salihah dan cantik rupawan itu hidup rukun dan berbahagia. Tidak lama kemudian mereka dikaruniai seorang putra yang ilmunya memancarkan hikmah ke penjuru dunia. Itulah Al Imam Abu Hanifah An Numan bin Tsabit. SUBHANALLAH

Wanita Pembenci Rasulullah

Wanita Pembenci Rasulullah Tersebutlah seorang wanita tua yang sedang melintasi gurun pasir dengan membawa beban yang berat. Walaupun tampak sangat kepayahan, namun ia tetap berusaha membawa barang bawaannya dengan sekuat tenaga. Tak lama kemudian, seorang laki-laki muda datang dan menawarkan diri untuk mengangkat bawaannya. Wanitu malang itu menerima tawaran tersebut dengan senang hati. Laki-laki itu pun mengangkat bawaannya kemudian mereka berjalan beriringan. “Senang sekali kamu mau membantu dan menemani, saya sangat menghargainya”, kata wanita itu. Ternyata ia adalah seorang wanita yang senang berbicara. Laki-laki itu pun dengan sabar mendengarkan sambil tersenyum tanpa pernah menginterupsinya. Suatu saat dia berkata pada laki-laki tersebut, “Anak muda, selama kita berjalan bersama, saya hanya punya satu permintaan. Jangan berbicara apapun tentang Muhammad! Gara-gara dia, tidak ada lagi rasa damai dan saya sangat terganggu dengan pemikirannya. Jadi sekali lagi, jangan berbicara apapun tentang Muhammad!”. Dia lalu melanjutkan lagi, “Orang itu benar-benar membuat saya kesal. Saya selalu mendengar nama dan reputasinya kemanapun saya pergi. Dia dikenal berasal dari keluarga dan suku yang terpercaya, tapi tiba-tiba dia memecah belah orang-orang dengan mengatakan bahwa tuhan itu satu.” “Dia menjerumuskan orang yang lemah, orang miskin, dan budak-budak. Orang-orang itu berpikir mereka akan dapat menemukan kekayaan dan kebebasan dengan mengikuti jalannya,” wanita itu melanjutkan dengan kesal. “Dia merusak anak-anak muda dengan memutarbalikkan kebenaran. Dia meyakinkan mereka bahwa mereka kuat dan bahwa ada suatu tujuan yang bisa diraih. Jadi anak muda, jangan sekali-kali kamu berbicara tentang Muhammad!” Tak lama kemudian, mereka sampai ke tempat tujuan. Laki-laki itu menurunkan barang bawaannya. Wanita tua itu menatapnya sambil tersenyum penuh terima kasih. “Terima kasih banyak, anak muda. Kamu sangat baik. Kemurahan hati dan senyuman kamu itu sangat jarang saya temukan. Biarkan saya memberi kamu satu nasihat. Jauhi Muhammad! Jangan pernah memikirkan kata-katanya atau mengikuti jalannya. Kalau kamu lakukan itu, kamu tidak akan pernah mendapatkan ketenangan. Yang ada hanya masalah.” Pada saat laki-laki itu berbalik menjauh, wanita itu menghentikannya, “Maaf, sebelum kita berpisah, boleh saya tahu namamu, anak muda?” Lalu laki-laki itu memberitahukannya dan wanita itu terkejut setengah mati. “Maaf, apa yang kamu bilang? Kata-katamu tidak terdengar jelas. Telinga saya semakin tua, terkadang saya tidak bisa mendengar dengan baik. Kelihatannya lucu, saya pikir tadi saya mendengar kamu mengucapkan Muhammad.” “Saya Muhammad,” laki-laki itu mengulang kata-katanya lagi pada wanita tua itu. Wanita itu terpaku memandangi Rasulullah SAW. Tak berapa lama meluncur kata-kata dari mulutnya, “Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya.“ Demikianlah Rasulullah SAW. Hanya dengan dua kata dari mulutnya yang mulia, serta dibekali dengan kerendahan hati, kesabaran, dan kewibawaan yang luar biasa, beliau sanggup mengubah hati seorang wanita tua yang sebelumnya sangat membencinya menjadi mencintainya hanya dalam waktu singkat. Betapa agungnya pribadi beliau. Shallu alannabii...

25.5.15

Jin Sungai Nil Takut Kepada Sayyidina Umar Bin Khathab ra

Jin Sungai Nil Takut Kepada Sayyidina Umar Bin Khathab ra Ada satu tradisi ganjil telah berlaku dalam masyarakat Mesir terkait dengan sungai Nil. Kebiasaan itu berupa upacara pemberian tumbal untuk sungai Nil, berupa seorang gadis yang dilengkapi dengan perhiasan dan pakaian terbaik. Hal ini bertujuan untuk menghindari mengeringnya sungai Nil sebagai sumber kehidupan bagi masyarakat Mesir. Sewaktu negeri Mesir ditaklukkan oleh tentera Islam, dan khalifah Umar bin Khathab –radliyallahu anhu-- melantik Amr bin Al-Ash sebagai Gabenur, Amr bin Al-Ash melarang tradisi tersebut, hingga mengakibatkan sungai Nil kering selama tiga bulan, dan masyarakat Mesir benar-benar menderita. Melihat penderitaan penduduk ‘Amr bin Al-Ash menulis surat kepada Khalifah ‘Umar bin Khattab, mengadukan peristiwa tersebut. Dalam surat jawaban untuk ‘Amr bin ‘Ash, ‘Umar menyatakan, “Engkau benar bahwa Islam telah menghapus tradisi tersebut. Aku mengirim secarik kertas untukmu, lemparkanlah kertas itu ke sungai Nil!” Kemudian ‘Amr membuka kertas tersebut sebelum melemparnya ke sungai Nil. Ternyata kertas tersebut bertuliskan "Surat ini dikirimkan kepada Sungai Nil oleh Umar Al-Faruq, hamba Allah dan Amirul Mukminin. Wahai Sungai Nil ! Jika air yang mengalir di sungai ini atas kuasamu, maka ketahuilah bahawa kami tidak memerlukan kau, tetapi jika ianya mengalir di atas kekuasaan Allah subhanahu wa ta'ala, maka kepadaNyalah kami memohon agar mengalirkan air di sungai ini.” Kemudian ‘Amr melempar kertas tersebut ke sungai Nil sebelum kekeringan benar-benar terjadi. Sementara itu penduduk Mesir telah bersiap-siap untuk pindah meninggalkan Mesir. Pagi harinya, ternyata Allah subhanahu wa ta'ala telah mengalirkan sungai Nil enam belas hasta dalam satu malam. Itulah diantara sekian banyak keutamaan-keutamaan Umar Bin Khathab, khulafaur Rasyidin ke-2. Radliyallahu Anhu. Sumber: “Kisah-kisah Karamah Wali Allah”, karangan Yusuf bin Ismail an-Nabhani.

16.5.15

ULBAH BIN ZAID "SI FAQIR YANG SANGAT DERMAWAN"

ULBAH BIN ZAID "SI FAQIR YANG SANGAT DERMAWAN" Ulbah bin Zaid adalah salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam dan dia adalah salah satu potret kedermawanan si faqir. Bagaimana si faqir dermawan? Ini adalah hal yang luar biasa. Biasanya kedermawanan berasal dari yang kaya. Ulbah bin Zaid si faqir yang sangat dermawan. Ketika itu musim paceklik sedang melanda kota Madinah. Ekonomi kaum muslimin sedang sulit. Musim panas sedang berada di puncak. Angin musim itu juga membawa hawa panas. Debu-debu beterbangan mengotori atap-atap dan halaman rumah penduduk kota Madinah. Kulit serasa diiris, mata perih seperti diteteskan air cuka pada luka. Bagi penduduk Madinah musim panas seperti itu biasanya mereka lebih memilih untuk istirahat di rumah atau tinggal di kebun mereka sambil memetik kurma muda yang memang lagi ranum-ranumnya. Karena pohon kurma berbuah pada musim panas. Tahun itu bertepatan dengan Tahun kesembilan Hijrah, satu bulan menjelang Ramadhan. Bagi sahabat Rasulullah perkembangan politik Islam di Madinah sangat luar biasa karena dampak dari pengiriman surat-surat Rasulullah kepada semua Raja yang dikenal oleh bangsa Arab yang menambah panas keadaan baginya. Karena kalangan sahabat sudah tersebar berita akan persiapan bala tentara Romawi sebagai negara yang terbesar saat itu. Sebagai tindak lanjut dari Perang Mut’ah yang sangat terkenal itu, Romawi tidak puas dengan hasil yang mereka diperoleh pada peperangan tersebut apalagi dia adalah peperangan Arab melawan Romawi yaitu yang kita kenal dengan Perang Tabuk. Di sinilah kisah Ulbah bin Zaid. Dia diselipkan oleh sejarah di dalam sejarah perang Tabuk. Peperangan bagi orang Arab pertama kali melawan Romawi.Kali ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam mengabarkan kepada para sahabat tentang tujuan dan rencana untuk melaksanakan peperangan di daerah Tabuk, sebuah daerah yang sangat jauh bagi bangsa Arab pada saat itu. Mendengar adanya seruan jihad ini maka kaum muslimin berbondong-bondong datang memenuhi kota Madinah dari seluruh pelosok negeri. Bagaimana pula mereka tidak berjihad di jalan Allah sedangkan Gerbang Syurga yang seluas langit dan bumi akan dibukakan untuknya. Rasulullah mengajak para dermawan untuk menginfakkan harta mereka guna bekal bagi pasukan yang akan berangkat menuju medan perang. Peristiwa ini dikenal dengan Jaisyul ‘Usroh. Ulbah bin Zaid adalah dari suku Anshor dari kabilah Aus, adalah seorang yang fakir dan tidak memiliki harta benda untuk diinfakkan guna mendukung pasukan yang akan pergi berperang. Ia hanya dapat menyaksikan kesibukan kaum muslimin dalam mempersiapkan kelengkapan perang. Semua orang telah melengkapi dirinya dengan perlengkapan perang seperti baju besi, pedang, panah, tombak, unta, kuda dan lain lain. Ia menyaksikan semua itu dengan kesedihan yang mendalam, karena ia tidak memiliki uang sepeserpun untuk membeli peralatan perang tersebut. Pagi itu, setelah sholat subuh, ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda : “Barang siapa yang mempersiapkan Jaisyul ‘Usroh, untuknya surga”. Panas dingin rasa badannya mendengar sabda Nabi itu, apalagi dalam peperangan ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam tidak menerima mujahid kecuali mereka yang memiliki kendaraan dan kelengkapan perang. Ulbah juga melihat ketika Rasulullah duduk di Kota Madinah di Masjid Nabawi. Ulbah melihat Rasulullah duduk dikelilingi para sahabat. Tiba-tiba Abu Bakar datang sambil membawa uang sebanyak 4000 dirham, lalu beliau serahkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam guna keperluan perang. Melihat uang sebanyak itu maka Rasulullah bertanya kepada Abu Bakar : “Apa yang engkau sisakan kepada keluargamu?” Abu Bakar menjawab : “Aku tinggalkan Allah beserta RasulNya”. Untuk itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam berkata: “Tidak ada harta yang bermanfaat bagiku seperti harta Abu Bakar.” Umar datang dengan membawa setengah hartanya. Usman membawa 1000 dinar dan menyerahkannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam. Lalu Beliau mengaduk aduknya seraya berkata : “Tidak ada yang membahayakan Usman dengan apa yang dia perbuat setelah ini.” Abdurrahman bin auf membawa 200 uqiyah perak, dan disusul oleh para sahabat yang lain masing masing dengan membawa hartanya. Para sahabat yang bukan dari golongan berada juga datang berinfak dengan apa yang mereka miliki. Ashim bin Adi membawa 90 wasaq dari kurma kebunnya, sebagian lagi ada yang membawa dua mud bahkan ada yang hanya satu mud (sebanyak dua telapak tangan orang dewasa). Semua kaum muslimin datang berinfak, kecuali para munafiqin. Melihat hal itu, pulanglah Ulbah dengan membawa kesedihannya. Sampai larut malam ia tidak bisa tidur memikirkan dirinya yang tidak dapat berinfak dan membeli peralatan perang seperti para sahabat lakukan. Dia hanya mebolak-balikkan badannya di atas tikarnya yang lusuh. Selintas timbul dalam fikirannya untuk mengurangi kegundahan hati. Maka ia pun berwudhu lalu melaksanakan sholat. Kemudian ia pun menangis, menumpahkan semua kesedihannya kepada Dzat yang memiliki isi langit dan bumi. Lalu ia berdoa sambil mengangkat kedua tangannya: “ Ya Allah, Engkau memerintahkan berjihad, sedangkan Engkau tidak memberikan aku sesuatu yang dapat aku bawa berjihad bersama RasulMu, dan Engkau tidak memberikan di tangan RasulMu sesuatu yang dapat membawaku berangkat. Maka saksikanlah bahwa sesungguhnya aku telah bersedekah kepada setiap muslim dari semua perbuatan zholim mereka terhadap diriku dari perkara harta, raga atau kehormatan." ”Doa itu ia ucapkan berulang ulang kali seakan akan ia berkata : “Ya Allah, tidak ada yang dapat aku infakkan sebagaimana yang lainnya telah berinfak. Seandainya aku memiliki seperti yang mereka punya, aku akan lakukan untukMu, demi jihad di jalanMu. Yang aku punya hanya kehormatan, kalau Engkau bisa menerimanya, maka saksikanlah bahwa semua kehormatanku telah aku sedekahkan malam ini untukMu!”. Subhanallah, alangkah jernihnya doa tersebut keluar dari seseorang yang tidak punya; sebuah kedermawanan dari mereka yang disebut papa. Pagi harinya, ia mengikuti sholat subuh berjamaah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam. Telah ia lupakan air mata yang telah tertumpah di atas sajadah tadi malam. Tetapi Allah tidak menyia-nyiakannya, Dia khabarkan semua cerita tsb kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam melalui perantaraan Jibril. Selesai sholat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda: “Siapa yang tadi malam telah bersedekah? Hendaklah ia berdiri.”Tidak ada seorangpun dari para sahabat yang berdiri, dan Ulbah pun tidak merasa bahwa ia telah bersedekah. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam mendekatinya dan berkata: “Bergembiralah Ulbah. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, sesungguhnya sedekahmu tadi malam telah ditetapkan sebagai sedekah yang diterima.”Alangkah bahagianya Ulbah, doa yang ia panjatkan tadi malam sebenarnya adalah upaya dan usaha dari orang miskin yang tidak punya harta. Kiranya Allah mendengar rintihan dan jeritannya. Semoga Allah merahmati Ulbah bin Zaid, dengannya kita belajar bahwa tidak selamanya memberi harus dengan materi. Disini kita dapat pelajaran bahwa dengan keterbatasan yang Allah berikan kita juga dapat berbuat untuk Islam. Ulbah bin Zaid bisa berbuat dan didengar oleh Allah, maka berbuatlah untuk Islam. Jadikanlah Ulbah bin Zaid ini Uswah (teladan). Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam banyak riwayat mengatakan: “ Tasbih adalah sedekah," "senyum adalah sedekah", "hingga suapan makanan ke mulut istri adalah sedekah, "bahkan berhubungan badan dengan istri agar menjaga kehormatannya adalah sedekah.”

18 ORANG YANG DICINTAI ALLAH SWT

18 ORANG YANG DICINTAI ALLAH SWT Inilah 18 orang yang beruntung karena telah dicintai Allah SWT. Siapa saja mereka dan kenapa Allah SWT sangat sayang dan mencintai mereka. Orang-orang yang dicintai Allah SWT: 1. At-Tawwabin. Orang-orang yang bertaubat… Sesungguhnya ALLAH menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. Al-Baqarah [2]: 222) 2. Al-Mutathohirin. Orang-orang yang suka bersuci /menjaga wudhu… Sesungguhnya ALLAH menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. Al-Baqarah [2]: 222) 3. Al-Muqsithin. Orang-orang yang adil… sesungguhnya ALLAH menyukai orang-orang yang adil. (QS. Al-Maa’idah [5]: 42) 4. Al-Muttaqin. Orang-orang yang taqwa… maka sesungguhnya ALLAH menyukai orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Imran [3]: 76) 5. Al-Muhsinin. Orang-orang yang suka berbuat kebaikan(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. ALLAH menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. Ali ‘Imran [3]: 134) 6. Al-Mutawakilin. Orang-orang yang bertawakal kepada ALLAH Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada ALLAH. Sesungguhnya ALLAH menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-NYA. (QS. Ali ‘Imran [3]: 159) 7. As-Shobirin. Orang-orang yang sabar ALLAH menyukai orang-orang yang sabar. (Ali ‘Imran [3]: 146) 8. Orang-orang yang mengikuti Rasul Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai ALLAH, ikutilah aku, niscaya ALLAH mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” ALLAH Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali ‘Imran[3]:31) 9. Orang-orang yang berperang di jalan ALLAH. Sesungguhnya ALLAH menyukai orang yang berperang dijalan-NYA dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (QS. Ash-Shaff [61]: 4) 10. Orang-orang yang tidak suka mengeluarkan kata-kata yang keji, berpikir mandiri, sabar dan rajin melakukan sholat malam. ”Sesungguhnya ALLAH mencintai orang yan (apabila) bersenda gurau tidak mengeluarkan kata-kata yang keji, yang berpikir mandiri, selalu bersabar (apabila) sendirian, dan suka melakukan shalat malam” 11. Orang-orang yang hatinya senantiasa sedih namun tetap bersyukur kepada ALLAH subhana wa Ta'ala . ”Sesungguhnya ALLAH mencintai setiap hati yang selalu merasa sedih, dan setiap hamba yang selalu bersyukur” 12. Orang-orang yang memiliki sifat malu (al-hayya’) dan santun (al-halim).Rasulullah saw. bersabda, ”Sesungguhnya ALLAH mencintai orang yang memiliki sifat malu, orang yang senantiasa santun, orang yang selalu menjaga kesucian dirinya (‘afif) , dan orang yang enggan berbuat keji (muta’afiffah)” 13. Orang-orang yang rajin sholat malam, bersedekah, dan tidak takut mati di jalan ALLAH. Rasulullah saw bersabda, ”Tiga macam orang yang ALLAH ‘Azza wa Jalla mencintai mereka yakni mereka yang senantiasa bangun di malam hari (untuk mengerjakan shalat malam) lalu membaca Kitab ALLAH (Al-Qur’an), mereka yang senang bersedekah dengan tangan kanannya sambil menyembunyikannya dari tangan kirinya, dan mereka yang mengalahkan dan mengusir musuhnya dalam perang sementara kawan-kawannya menyerahkan diri kepada musuh” 14. Orang-orang yang saling mencintai di jalan ALLAH, bersilaturahiim dan bertawakkal kepada ALLAH. Diriwayatkan bahwa ALLAH ‘Azza wa Jalla telah berfirman, ”Wahai Muhammad! Wajib bagi-KU mencintai orang-orang yang saling mencintai di jalan-KU, dan wajib bagi-KU mencintai orang-orang yang saling berkasih sayang di jalan-KU, dan wajib bagi-Ku mencintai orang-orang yang suka bersilatur-rahim di jalan-Ku, dan wajib bagi-KU mencintai orang-orang yang senantiasa bertawakkal kepada-KU…” 15. Orang-orang yang mencintai amal yang diwajibkan kepadanya. ALLAH Tabaraka Ta’ala berfirman, ”Tiada yang lebih Aku cintai dari seorang hamba-KU daripada kecintaan sang hamba kepada apa yang telah Aku wajibkan baginya” 16. Orang-orang yang mampu meredam kemarahannya dengan santun. Rasulullah saw bersabda, ”Wajiblah kecintaan ALLAH atas orang yang marah tetapi ia mampu meredam kemarahannya dengan santun” 17. Orang-orang yang banyak mengingat mati. Rasulullah saw bersabda, ”Barangsiapa yang banyak mengingat kematian niscaya ALLAH mencintainya” 18. Orang-orang yang mencintai apa yang dicintai ALLAH dan Rasul-NYA, dan membenci apa yang dibenci ALLAH dan Rasul-NYA. Seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah saw, ”Aku ingin sekali menjadi orang yang dicintai ALLAH dan Rasul-NYA”. Rasulullah saw pun berkata, ”Cintailah apa yang dicintai ALLAH dan Rasul-NYA, dan bencilah apa yang dibenci oleh ALLAH dan Rasul-NYA” Kumpulan Hadist

TAUBAT YANG MENGAGUMKAN

TAUBAT YANG MENGAGUMKAN Imam Muslim dalam Shahihnya , dan juga para penulis kitab sunnah telah meriwayatkan sebuah kisah taubat yang paling mengagumkan yang diketahui oleh manusia. Pada suatu hari Rasulullah duduk di dalam masjid, sementara para sahabat beliau duduk mengitari beliau. Beliau mengajari, mendidik dan mensucikan (hati) mereka. Majelis tersebut dipenuhi oleh sahabat besar Nabi . Tiba-tiba datanglah seorang wanita berhijab masuk ke pintu masjid. Kemudian Rasul pun diam, dan diam pula para sahabat beliau . Wanita tersebut menghadap dengan perlahan, dia berjalan dengan penuh gentar dan takut, dia lemparkan segenap penilaian dan pertimbangan manusia, dia lupakan aib dan keburukan, tidak takut kepada manusia, atau mata manusia dan apa yang akan dikatakan oleh manusia. Hingga dia sampai kepada Rasulullah , kemudian dia berdiri di hadapan beliau, dan mengabarkan kepada beliau bahwa dia telah berzina!! Dia berkata: “Wahai Rasulullah, aku telah melakukan (maksiat yang mewajibkan adanya) hukuman had (atasku), maka sucikanlah aku!” Apa yang diperbuat oleh Rasulullah ? !Apakah beliau meminta persaksian dari para sahabat atas wanita tersebut? Tidak, bahkan memerahlah wajah beliau hingga hampir-hampir meneteskan darah. Kemudian beliau mengarahkan wajah beliau ke arah kanan, dan diam, seakan-akan beliau tidak mendengar sesuatu. Rasulullah berusaha agar wanita ini mencabut perkataannya, akan tetapi wanita tersebut adalah wanita yang istimewa, wanita yang shalihah, wanita yang keimanannya telah menancap di dalam hatinya. Maka Nabi bersabda kepadanya: “Pergilah, hingga engkau melahirkannya. ”Berlalulah bulan demi bulan, dia mengandung putranya selama 9 bulan, kemudian dia melahirkannya. Maka pada hari pertama nifasnya, diapun datang dengan membawa anaknya yang telah diselimuti kain dan berkata: “Wahai Rasulullah, sucikanlah aku dari dosa zina, inilah dia, aku telah melahirkannya, maka sucikanlah aku wahai Rasulullah! ”Maka Nabipun melihat kepada anak wanita tersebut, sementara hati beliau tercabik-cabik karena merasakan sakit dan sedih, dikarenakan beliau menghidupkan kasih sayang terhadap orang yang berbuat maksiat. Siapa yang akan menyusui bayi tersebut jika ibunya mati? Siapakah yang akan mengurusi keperluannya jika had (hukuman) ditegakkan atas ibunya? Maka Nabi bersabda: “Pulanglah, susuilah dia, maka jika engkau telah menyapihnya, kembalilah kepadaku. ”Maka wanita itupun pergi ke rumah keluarganya, dia susui anaknya, dan tidaklah bertambah keimanannya di dalam hatinya kecuali keteguhan, seperti teguhnya gunung. Tahunpun bergulir berganti tahun. Kemudian wanita itu datang dengan membawa anaknya yang sedang memegang roti. Diaberkata: “Wahai Rasulullah, aku telah menyapihnya, maka sucikanlah aku!” Dia dan keadaannya sungguh sangat menakjubkan! Iman yang bagaimanakah yang membuatnya berbuat demikian. Tiga tahun lebih atau kurang, yang demikian tidaklah menambahnya kecuali kekuatan iman. Nabi mengambil anaknya, seakan-akan beliau membelah hati wanita tersebut dari antara kedua lambungnya. Akan tetapi ini adalah perintah Allah, keadilan langit, kebenaran yang dengannya kehidupan akan tegak. Nabi bersabda: “Siapa yang mengkafil (mengurusi) anak ini, maka dia adalah temanku di sorga seperti ini…” Kemudian beliau memerintahkan agar wanita tersebut dirajam. Dalam sebuah riwayat bahwa Nabi memerintahkan agar wanita itu dirajam, kemudian beliau menshalatinya. Maka berkatalah Umar : “Anda menshalatinya wahai Nabi Allah, sungguh dia telah berzina.” Maka beliau bersabda: “Sungguh dia telah bertaubat dengan satu taubat, seandainya taubatnya itu dibagikan kepada 70 orang dari penduduk Madinah, maka taubat itu akan mencukupinya. Apakah engkau mendapati sebuah taubat yang lebih utama dari pengorbanan dirinya untuk Allah ?” (HR. Ahmad) Sesungguhnya ini adalah rasa takut kepada Allah. Sesungguhnya itu adalah perasaan takut yang terus menerus berada pada diri wanita mukminah tersebut saat dia terjerumus ke dalam jerat-jerat syetan, dia menjawab jerat-jerat tersebut pada saat lemah. Ya, dia telah berbuat dosa, akan tetapi dia berdiri dari dosanya dengan hati yang dipenuhi oleh iman, dan jiwa yang digerakkan oleh panasnya maksiat. Ya, dia telah berdosa, akan tetapi telah berdiri pada hatinya tempat pengagungan terhadap Dzat yang dia bermaksiat kepada-Nya. Sesungguhnya ini adalah taubat sejati wahai hamba-hamba Allah. Ya, ini taubat nashuha wahai hamba-hamba Allah.

SAHABAT YANG MENANGIS KARENA RASULULLAH S.A.W

Alwi Husin SAHABAT YANG MENANGIS KARENA RASULULLAH S.A.W 1) Mu’adz bin Jabal yang menjerti dan menagis teresak-esak sehingga beliau pengsan oleh sebab dapat berita tentang kematian Rasulullah SAW. 2) Rasulullah telah patah gigi di dalam perang Uhud, berita itu sampai ke Awais dan Awais di rumahnya sanggup mematahkan giginya sendiri kerana hendak merasai apa yg Rasulullah telah rasai. 3) Ada seorang pedagang minyak wangi, di Madinah. Setiap kali pergi ke pasar, dia singgah dulu ke rumah Rasulullah Saw, dia tunggu sampai Rasulullah keluar. Setelah Rasulullah keluar, dia hanya mengucapkan salam lalu memandang Rasulullah saja, setelah puas dia pergi. Suatu hari setelah dia ketemu Rasululllah dan dia pergi, lalu tak lama kemudian balik dari pasar dan dia datang kepada Rasulullah Saw dan meminta izin, “Saya ingin melihat engkau ya Rasulullah, karena saya takut dan tidak sanggup tidak dapat melihat tuan seperti ini lagi.” 4) Abu Ayyub Al-Anshari. Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau beristirahat dahulu di pinggiran kota menginap di rumah Abu Ayyub Al-Anshari. Rumahnya itu dua tingkat, Abu Ayyub dan istrinya di tingkat atas dan Rasulullah Saw di bawah. Pada malam hari Abu Ayub dan istrinya tidak sanggup tidur karena mereka takut menggerakkan tubuhnya, semua terbujur seperti sebongkah kayu menahan dirinya untuk tidak bergerak. Mereka takut kalau bergerak, nanti debu-debu dari atas itu berjatuhan kepada Rasulullah. Setelah Rasulullah mengetahui hal itu, beliau sangat terharu lalu kepada Abu Ayub diajarkan sebuah doa sebagai penghargaan beliau atas cinta yang tulus dari Abu Ayub. 5) Dalam perang Uhud, ketika kaki Rasulullah terluka, ada seorang sahabat melihatnya lalu mengejar Rasulullah. Dia pegang kaki itu lalu dia bersihkan luka itu dengan jilatannya. Rasulullah terkejut lalu berkata, “Lepaskan! Lepaskan!” Sahabat itu berkata: “Tidak Ya Rasulullah, aku tidak akan melepaskannya sampai luka ini kering!” 6) Rasulullah sedang membariskan pasukannya karena Rasulullah selalu merapikan barisan pasukannya. Ternyata ada seorang sahabat, mungkin karena perutnya terlalu besar, selalu perutnya itu berada di luar barisan. Kemudian Rasulullah datang dan memukul perutnya itu agar dirapikan dengan barisan. Lalu sahabat itu memandang Rasulullah dan berkata: “Engkau diutus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam, kenapa kau sakiti perutku?” Lalu Rasulullah turun dari kudanya, dan menyerahkan alat pemukul itu, lalu berseru: “Pukullah aku! Sebagai qishas atas kesalahanku.” Kemudian orang itu berkata: “Tapi engkau pukul langsung kepada kulit perutku.” Lalu Rasulullah segera membuka pakaiannya, tiba-tiba sahabat itu memeluk Rasulullah dan mencium perutnya. Rasulullah terkejut dan berkata: “Ada apa denganmu?” Sahabat itu menjawab: “Ya Rasulullah, genderang perang sudah ditabuh, mungkin ini adalah saat terakhir perjumpaanku denganmu. Saya ingin sebelum meninggal dunia, sempat mencium perutmu yang mulia.” 7) Bilal yang selalu adzan semasa hidup Rasulullah tidak mau beradzan lagi setelah wafat Rasulullah karena Bilal tidak sanggup mengucapkan “Asyhadu anna Muhammad Rasululah” karena ada kata-kata Muhammad di situ. Tapi karena desakan Sayyidah Fatimah yang saat itu rindu mendengar suara adzan Bilal, dan mengingatkan beliau akan ayahnya. Bilal akhirnya dengan berat hati mau beradzan. Saat itu waktu Subuh, dan ketika Bilal sampai pada kalimat Asyhadu anna Muhammad Rasulullah, Bilal tidak sanggup meneruskannya, dia berhenti dan menangis terisak-isak. Dia turun dari mimbar dan minta izin pada Sayyidah Fatimah untuk tidak lagi membaca adzan karena tidak sanggup menyelesaikannya hingga akhir. Ketika Bilal berhenti saat adzan itu, seluruh Madinah berguncang karena tangisan kerinduan akan Rasulullah Saw. 8) Seorang budak bernama Tsauban sangat menyayangi dan hatinya selalu merindukan Rasulullah Muhammad SAW. Sehari saja tidak bertemu Nabi, rasanya seperti setahun baginya. Kalau bisa dia ingin bersama Rasul setiap waktu. Karena jika tidak bertemu Rasulullah, dia amat sedih, murung dan seringkali menangis. Demikian juga yang dilakukan Rasulullah terhadap Tsauban begitu mengetahui betapa besarnya kasih sayang Tsauban terhadap dirinya. Suatu hari Tsauban berjumpa Rasulullah SAW dan berkata, “Ya Rasulullah, saya sebenarnya tidak sakit, saya sangat sedih jika berpisah dan tidak bertemu denganmu walaupun sekejap. Jika sudah bertemu barulah hatiku menjadi tenang dan gembira sekali. Apabila memikirkan akhirat, hati ini bertambah cemas dan takut kalau-kalau tidak dapat bersama denganmu. Kedudukanmu sudah tentu di syurga yang tinggi. Sedangkan saya belum tentu, entah di syurga paling bawah atau yang paling mencemaskan, kemungkinan tidak dimasukkan ke syurga langsung. Jika demikian, tentu saya tidak akan bertemu denganmu lagi.” Rasulullah amat terharu mendengar perkataan Tsauban. Namun beliau tidak dapat berbuat apa-apa karena balasan surga atau neraka bagi setiap hamba itu hak dan urusan Allah. Maka setelah peristiwa itu, turunlah wahyu kepada Rasulullah SAW yang berbunyi; “Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS An Nisaa’:69). Mendengar jaminan itu Tsauban pun tersenyum. Hatinya menjadi tenang dan gembira kembali. (masih banyak sahabat sahabat nabi saw lainnya yg mempunyai kisah serupa)

6.5.15

7 MACAM NAFSU

7 MACAM NAFSU Syekh Muhammad Nawawi Al-Jawi membagi nafsu dalam 7 tingkatan yang dikenal dengan istilah “marotibun- nafsi”. Tempat-tempat dimana nafsu ini bersemayam dalam dunia sufi biasa dinamakan sebagai “lathifah”, yaitu sebuah titik halus dalam diri kita yang keberadaannya tersebar. Berikut penjelasan beliau tentang nafsu, tempat dan tentara-tentaranya: (1) Nafsu Ammaaroh Nafsu ammaroh tempatnya adalah “ash-shodru” artinya dada. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut : 1. Al-Bukhlu artinya kikir atau pelit 2. Al-Hirsh artinya tamak atau rakus 3. Al-Hasad artinya hasud 4. Al-Jahl artinya bodoh 5. Al-Kibr artinya sombong 6. Asy-Syahwat artinya keinginan duniawi (2) Nafsu Lawwamah Nafsu lawwamah tempatnya adalah “al-qolbu” artinya hati, tepatnya dua jari di bawah susu kiri. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut : 1. Al-Laum artinya mencela 2. Al-Hawa artinya bersenang-senang 3. Al-Makr artinya menipu 4. Al-’Ujb artinya bangga diri 5. Al-Ghibah artinya mengumpat 6. Ar-Riya’ artinya pamer amal 7. Az-Zhulm artinya zalim 8. Al-Kidzb artinya dusta 9. Al-ghoflah artinya lupa (3) Nafsu Mulhimah Nafsu mulhimah tempatnya adalah “Ar-ruh” tepatnya dua jari di bawah susu kanan. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut : 1. As-Sakhowah artinya murah hati 2. Al-Qona’ah artinya merasa cukup 3. Al-Hilm artinya murah hati 4. At-Tawadhu’ artinya rendah hati 5. At-Taubat artinya taubat atau kembali kepada Alloh 6. As-Shobr artinya sabar 7. At-Tahammul artinya bertanggung jawab (4) Nafsu Muthmainnah Nafsu muthmainnah tempatnya adalah “As-Sirr” artinya rahasia, tepatnya dua jari dari samping susu kiri kea rah dada. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut : 1. Al-Juud artinya dermawan 2. At-Tawakkul artinya berserah diri 3. Al-Ibadah artinya ibadah 4. Asy-Syukr artinya syukur atau berterima kasih 5. Ar-Ridho artinya rido 6. Al-Khosyah artinya takut akan melanggar larangan (5) Nafsu Rodhiyah Nafsu rhodiyah tempatnya adalah “Sirr Assirr” artinya sangat rahasia, tepatnya di jantung yang berfungsi menggerakkan seluruh tubuh. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut : 1. Al-Karom artinya 2. Az-Zuhd artinya zuhud atau meninggalkan keduniawian 3. Al-Ikhlas artinya ikhlas atau tanpa pamrih 4. Al-Waro’ artinya meninggalkan syubhat 5. Ar-Riyadhoh artinya latihan diri 6. Al-Wafa’ artinya tepat janji (6) Nafsu Mardhiyah Nafsu mardhiyah tempatnya adalah “Al-khofiy” artinya samar, tepatnya dua jari dari samping susu kanan ke tengah dada. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut : 1. Husnul Khuluq artinya baik akhlak 2. Tarku maa siwalloh artinya meninggalkan selain Alloh 3. Al-Luthfu bil kholqi artinya lembut kepada makhluk 4. Hamluhum ‘ala sholah artinya mengurus makhluk pada kebaikan 5. Shofhu ‘an dzunubihim artinya mema’afkan kesalahan makhluk 6. Al-Mail ilaihim liikhrojihim min dzulumati thoba’ihim wa anfusihim ila anwari arwahihim artinya mencintai makhluk dan cenderung perhatian kepada mereka guna mengeluarkannya dari kegelapan (keburukan) watak dan jiwa-jiwanya ke arah bercahayanya ruh-ruh mereka. (7) Nafsu Kamilah Nafsu kamilah tempatnya adalah “Al-Akhfa” artinya sangat samar, tepatnya di tengah-tengah dada. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut : 1. Ilmul-yaqiin 2. Ainul-yaqiin 3. Haqqul-yaqiin Dan tidak ada jalan yang terbaik untuk membersihkan segenap nafsu ini selain dzikr. Oleh karena itu, para ulama thoriqoh mengajarkan metode dzikir terutama dzikir nafi itsbat (laa ilaaha illalloh) yang tekniknya mengatur aliran dzikir ke seluruh lathifah-lathifah. (Ihya`ulumudin Juz 3)

8 PERKARA

8 PERKARA Telah berkata IMAM GHAZALI RH ...dalam kitab Tanbiihul Ghoofiliin tentang : Sesiapa sahaja yang sering duduk bersama 8 orang kelompok manusia, Allah akan memberinya 8 perkara: 1.من جلس مع اﻷغنياء زاده الله حب الدنيا والرغبة فيها. 1. Barangsiapa yang duduk bersama orang-orang kaya, Allah akan menambahkan cinta kepada dunia & semangat untuk mendapatkan dunia. 2. ومن جلس مع الفقراء زاده الله الشكر والرضا بقسمة الله تعالى 2. Barangsiapa yang duduk bersama orang-orang miskin, Allah akan menambahkan perasaan syukur & redha atas pemberian Allah. 3. ومن جلس مع السلطان زاده الله الكبر وقساوة القلب 3. Barangsiapa yang duduk dengan para pemimpin/raja, Allah akan menambahkan perasaan sombong & kerasnya hati. 4. ومن جلس مع النساء زاده الله الجهل والشهوه 4. Barangsiapa yang duduk dengan perempuan, Allah akan menambahkan kebodohan & syahwat. 5. ومن جلس مع الصبيان زاده الله اللهو والمزاح 5. Barangsiapa yang duduk dengan anak-anak kecil, Allah akan menambahkan lalai & gurau senda. 6.ومن جلس مع الفساق زاده الله الجرأة على الذنوب والمعاصي واﻹقدام عليها،والتسويف في التوبة 6. Barangsiapa yang duduk dengan orang-orang fasik, Allah akan menambahkan berani berbuat dosa & kemaksiatan serta mendorongkan diri untuk berbuat maksiat kemudian menunda-nunda akan taubat. 7.ومن جلس مع الصالحين زاده الله الرغبة في الطاعات 7. Barangsiapa yang duduk dengan orang-orang soleh, Allah akan menambahkan perasaan cinta kepada amalan-amalan ketaatan. 8. ومن جلس مع العلماء زاده العلم والورع 8. Barangsiapa yang duduk dengan para ulama', Allah akan menambahkan ilmu & perasaan tidak cintakan dunia. Cuba kita renungkanlah dengan siapa kita bersahabat......???

BAKHIL/PELIT - HINA - RUGI = ORANG YANG TIDAK BER"SHALAWAT"

BAKHIL/PELIT - HINA - RUGI = ORANG YANG TIDAK BER"SHALAWAT" Riwayat2 yang tentang SHALAWAT ini banyak sekali, diantaranya dari dua hadits shahih di bawah ini : 1. Dari jalan Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib, ia berkata, “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Orang yang bakhil (kikir/pelit) itu ialah orang yang apabila namaku disebut disisinya, kemudian ia tidak bershalawat kepadaku (dengan ucapan)صلى ا لله عليه وسلم (“shallallahu ‘alaihi wa sallam””). [SHAHIH. Dikeluarkan oleh AT Tirmidzi 5/211, Ahmad 1/201 no 1736, An Nasa-i no 55,56 dan 57, Ibnu Hibban 2388, Al Hakim 1/549, dan Ath Thabraniy 3/137 no 2885.] 2. Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : ” Hina dan rugi serta kecewalah seorang yang disebut namaku disisinya, lalu ia tidak bershalawat kepadaku” .[SHAHIH. Dikeluarkan oleh Imam At Tirmidzi 5/210, dan Al Hakim 1/549. Dan At Tirmidzi telah menyatakan bahwa hadits ini Hasan].

2.5.15

SHOLAT AMALAN YANG PERTAMA KALI DI HISAB

Alwi Husin SHOLAT AMALAN YANG PERTAMA KALI DI HISAB Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS Al 'Ankabuut:45) Dari Abu Hurairah, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka wa Ta’ala mengatakan : Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.” Bilamana shalat seseorang itu baik maka baik pula amalnya, dan bilamana shalat seseorang itu buruk maka buruk pula amalnya.” (HR. Ath-Thabarani) Sesungguhnya pertama kali yang dihisab (ditanya dan diminta pertanggungjawaban) dari segenap amalan seorang hamba di hari kiamat kelak adalah shalatnya. Bila shalatnya baik maka beruntunglah ia dan bilamana shalatnya rusak, sungguh kerugian menimpanya.” (HR. Tirmidzi)

MENANGIS KARENA TAKUT KEPADA ALLAH SWT

Alwi Husin MENANGIS KARENA TAKUT KEPADA ALLAH SWT بسم الله الرحمن الرحيم السلام عليكم ورحمة الله وبركاته Menangislah Karena Air Matamu Dapat memadamkan Api Neraka? Menangis itu indah, sehat, dan simbol kejujuran. Pada saat yang tepat, menangislah sepuas²nya dan nikmatilah karena tidak selamanya orang bisa menangis. Orang² yang suka menangis sering kali dilabeli sebagai orang cengeng. Cengeng terhadap Sang Khalik adalah positif dan cengeng terhadap makhluk adalah negatif. Orang² yang gampang berderai air matanya ketika terharu mengingat dan merindukan Tuhannya, air mata itu akan melicinkannya menembus surga. Air mata yang tumpah karena menangisi dosa masa masa lalu akan memadamkan api neraka. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi Muhammad SAW; ‘‘Ada mata yang diharamkan masuk neraka, yaitu mata yang tidak tidur semalaman dalam perjuangan fisabilillah dan mata yang menangis karena takut kepada Allah SWT...!!!’’ (HR. Muslim) Seorang sufi pernah mengatakan, jika seseorang tidak pernah menangis, dikhawatirkan hatinya gersang. Salah satu kebiasaan para sufi ialah menangis. Beberapa sufi mata dan mukanya menjadi cacat karena air mata yang selalu berderai. Tuhan memuji orang menangis; ‘‘Dan, mereka menyungkurkan wajah sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk...!!!’’ (QS Al-Isra' [17]:109). Nabi Muhammad SAW bersabda; ‘‘Jika kalian hendak selamat, jagalah lidahmu dan tangisilah dosa²mu...!!!’’ (HR. Muslim)

BILAL BIN RABAH & ASAL MUASAL ADZAN

Alwi Husin BILAL BIN RABAH & ASAL MUASAL ADZAN Bilal Bin Rabah adalah seorang budak berkulit hitam, memiliki majikan yang termasuk orang kafir Quraisy. Ketika tahu Bilal Bin Rabah masuk Islam, Bilal disiksa terus menerus agar Bilal Bin Rabah kembali menyembah berhala. Bilal disiksa oleh majikannya bernama Umayah dengan menggunakan batu panas. Setiap kali mereka (pemimpin Quraisy melalui algojo-algojonya) berkata, “Berimanlah pada Lata dan Uzza (nama berhala)” Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengucapkannya” Lalu Bilal malah mengucapkan, “Ahad, ahad (Allah itu satu, Allah itu satu)” Setiap itu juga penyiksaan Bilal Bin Rabah diulangi oleh mereka. Rasulullah S.A.W. merasa iba melihat semua penyiksaan yang diderita Bilal. Pada suatu hari dia pergi mengunjungi para sahabat²nya R.A. dan meminta sahabatnya untuk membeli Bilal dan membebaskan Bilal. Saat Bilal disiksa, Abu Bakar lah yang datang untuk memerdekakan Bilal. Mereka yang menyiksa Bilal merasa lega ada yang datang menebus Bilal, karena mereka juga sudah putus asa membujuk Bilal untuk kembali menyembah berhala mereka. Abu Bakar pun berkata kepada Bilal, “Wahai Bilal, pada hari ini engkau telah aku merdekakan, engkau bebas dari tangan dan siksa Umayah… Sungguh aku berbuat seperti ini semata mata karena Allah tuhan kita” Demikianlah atas pertolongan Allah akan kebaikan Abu Bakar, Bilal terbebas dari siksa Umayah yang kejam. Abu Bakar membimbing tangan Bilal menuju rumah Rasulullah SAW, agar Rasulullah mendengar berita gembira pembebasan Bilal. Maka berita itupun menyebar ke seluruh pelosok Mekah dan mereka bergembira mendengar kabar tersebut. Setelah hijrah ke Madinah, Bilal senantiasa bersama Rasulullah SAW sesuai dengan janjinya. Ia akan membela Islam dan membela Rasulullah sampai akhir hayatnya. Nabi Muhammad mengetahui benar watak Bilal, ketekunan dan kesetiaannya terhadap Islam. Pada suatu hari, Nabi Muhammad SAW mengumpulkan para sahabat untuk memusyawarahkan bagaimana cara memberitahu masuknya waktu shalat dan mengajak orang ramai agar berkumpul ke masjid untuk melakukan shalat berjamaah. Di dalam musyawarah itu ada beberapa usulan. Ada yang mengusulkan supaya dikibarkan bendera sebagai tanda waktu shalat telah masuk. Apabila benderanya telah berkibar, hendaklah orang yang melihatnya memberitahu kepada umum. Ada juga yang mengusulkan supaya ditiup trompet seperti yang biasa dilakukan oleh pemeluk agama Yahudi. Ada lagi yang mengusulkan supaya dibunyikan lonceng seperti yang biasa dilakukan oleh orang Nasrani. Ada seorang sahabat yang menyarankan bahwa manakala waktu shalat tiba, maka segera dinyalakan api pada tempat yang tinggi dimana orang-orang bisa dengan mudah melihat ke tempat itu, atau setidaknya, asapnya bisa dilihat orang walaupun ia berada ditempat yang jauh. Yang melihat api itu dinyalakan, hendaklah datang menghadiri shalat berjamaah. Akhirnya Rasulullah SAW menyetujui/merenungkan untuk dipukulnya lonceng, padahal sebenarnya beliau sendiri tidak menyukainya, karena menyerupai orang-orang Nasrani. Namun akhirnya, ditemukan cara yang lebih baik yaitu kumandang adzan. Bilal Bin Rabah lah yang ditugaskan Rasulullah SAW menjadi muazdzin untuk shalat lima waktu karena suaranya yang lantang dan merdu. Asal-muasal dari ditemukannya adzan dan lafadz azan dapat dilihat dari hadis tentang asal muasal adzan dan iqamah yang dapat ditemukan pada satu ★Kitab Nailur Author Asy-Syaukani★ yang merupakan Kitab Syarh Kitab Al-Muntaqo Ibnu Thaimiyyah Ra dan juga dari kitab Minhajul Muslim Syeikh Abu Bakar Al-jazairi. “Dari Muhammad Bin Ishaq, dari Az-Zuhri, dari Sa’id Bin Musayyab, dari Abdullah Bin Zaid, ia berkata: “Ketika cara memanggil kaum muslimin untuk shalat dimusyawarahkan, suatu malam dalam tidurku aku bermimpi… Aku melihat ada seseorang sedang menenteng sebuah lonceng… Aku dekati orang itu dan bertanya kepadanya, 'apakah lonceng ini akan kamu jual?' Orang tersebut justru bertanya, 'Akan kamu pergunakan untuk apa?' Aku menjawab, 'Akan kupakai untuk memanggil orang untuk sholat' Orang itu berkata lagi, 'Maukah kamu kuajari cara yang lebih baik?' Dan aku menjawab, 'ya' dan dia berkata lagi dengan suara yang amat lantang: 'Alllahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah, Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah, Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah Hayya ‘Alash Shalah, Hayya ‘Alash Shalah Hayya ‘Alal Falah, Hayya ‘Alal Falah Alllahu Akbar, Allahu Akbar Laa Ilaaha Illallaah' Abdullah bin zaid berkata: kemudian ia mundur tidak seberapa jauh, dan berkata, 'apabila engkau hendah iqomah, maka katakanlah: Alllahu Akbar, Allahu Akbar Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah Hayya ‘Alash Shalah Hayya ‘Alal Falah Qadqaamatish Shalah, Qadqaamatish Shalah Alllahu Akbar Laa Ilaaha Illallaah'” Abdullah Bin Zaid berkata: Kemudian di waktu pagi aku datang kepada Rasulullah SAW untuk menceritakan kepadanya apa yang aku impikan itu. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: ☆Sesungguhnya mimpi kamu itu adalah mimpi yang benar, Insya Allah☆ Kemudian Nabi memerintahkan adzan. Maka Bilal, Maula Abubakr, beradzan dengan lafal-lafal itu. Dan menyeru Rasulullah SAW untuk sholat. Abdullah Bin Zaid berkata: Lalu Bilal datang kepada Nabi, kemudian memanggilnya pada suatu pagi untuk sholat subuh. Lalu Bilal mengeraskan suaranya dengan tinggi: ☆Ash-Shalaatu Khairum Minan Nauum☆ Sa’id Bin Musayyab berkata: Lalu lafal ini dimasukkan ke dalam bagian dari adzan untuk sholat subuh” (HR AHMAD) “Dari Muhammad Bin Ishaq, dari Muhammad Bin Ibrahim At-Taimiy, dari Muhammad Bin Abdullah Bin Zaid, dari ayahnya, yang dikatakan dalam hadist tersebut: Maka tatkala di waktu pagi, aku datang kepada Rasulullah SAW, lalu aku ceritakan kepadanya apa yang kulihat itu. Maka Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya ini adalah mimpi yang benar, Insya Allah. Berdirilah bersama Bilal dan sampaikanlah kepadanya apa yang kamu impikan itu, karena Bilal itu lebih keras suaranya daripada kamu. Ia berkata: Lalu aku menemui Bilal dan saya sampaikan kepadanya apa yang aku impikan itu, dan Bilal pun lalu adzan dengan lafal-lafal itu. Ia berkata: Lalu ‘Ummar Ibnul Khatab mendengar yang demikian itu, sedang ia berada di rumahnya. Kemudian keluar sambil menyeret selendangnya, dan berkata: Demi Allah, Yang telah mengutus Engkau (Muhammad) dengan benar. Sungguh akupun telah mimpi, persis seperti yang ia impikan. Lalu Rasulullah SAW mengucapkan: “Alhamdulillah” (HR Abu Dawud) “Dari Timirdzi meriwayatkan bagian dari hadits tersebut dengan sanad ini, dan ia berkata: Hadits ini adalah Hasan Shohih” Jadi Rasulullah Saw menugaskan Bilal Bin Rabah menjadi muazzin untuk shalat lima waktu. Dialah muazzin pertama dalam Islam. Suara Bilal saat melantunkan azan, begitu lantang dan merdu, menyentuh perasaan setiap orang yang mendengarnya. Bilal ditunjuk karena memiliki suara yang indah. Pria berkulit hitam asal Afrika itu mempunyai suara emas yang khas. Posisinya semasa Nabi tak tergantikan oleh siapapun, kecuali saat perang saja, atau saat keluar kota bersama Nabi. Karena beliau tak pernah berpisah dengan Nabi, kemanapun Nabi pergi. Hingga Nabi menemui Allah ta’ala pada awal 11 Hijrah. Riwayat mengatakan bahwa setelah wafatnya Rasulullah SAW, Bilal tidak sanggup lagi mengumandangkan adzan. Setiap sampai pada “Ashyadu Anna Muhammadar Rasulullah”, suara Bilal yang biasanya merdu dan lantang menjadi bergetar yang kemudian mulai menangis dan akhirnya tidak sanggup untuk meneruskan adzannya. Ia terus menangis karena mengingat Rasulullah SAW. Semua orang yang mendengarnya juga ikut menangis tapi tidak seperti tangisan Bilal. Tidak ada yang tahu persis apa penyebab Bilal menangis, tapi Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu anhu tahu. Akhirnya Bilal memutuskan untuk tidak adzan lagi setelah wafatnya Rasulullah SAW. Ia memutuskan untuk hijrah dari Madinah. Pada suatu hari Bilal mendapatkan mimpi melihat Rasulullah SAW. Dan Rasulullah S.A.W. bersabda, “Wahai Bilal, kenapa kau tidak pernah mengunjungi kami?” Setelah mendapatkan mimpi ini Bilal pergi menuju Madinah dengan terburu-buru. Ketika sampai di Madinah, dia berbaring di makam Rasulullah S.A.W., mengingat masa lalunya bersama Rasulullah. Kemudian Hassan dan Hussain (cucu Rasulullah S.A.W.) datang dan membujuk Bilal untuk adzan lagi. Maka Bilal pun mengumandangkan adzan. Dan riwayatnya menyebutkan bahwa Madinah bergejolak karena Bilal membawa kembali kenangan pada waktu Rasulullah S.A.W. masih hidup. Tak lama kemudian Bilal pergi lagi meninggalkan Madinah karena kota itu terus mengingatkannya kepada Rasulullah S.A.W. Kemudian datanglah waktu penaklukkan Masjidil Aqsa. Dan penjaga Al-Aqsa mengatakan, “Aku hanya akan memberikan kuncinya kepada Umar ibn Khatab” Dan Umar R.A. bepergian dari Madinah ke Masjidil Aqsa, sementara semua sahabat ada di sana, di antaranya Khalid ibn Walid, Muadz ibn Jabal, dan yang lainnya. Kemudian mereka menghampiri Umar dan berkata, “Wahai Umar, mintalah Bilal untuk mengumandangkan adzan” Maka Umar membujuk Bilal untuk kembali mengumandangkan adzan. Namun, Bilal menolak, tetapi bukan Umar namanya jika khalifah kedua tersebut mudah menyerah. Ia kembali membujuk dan membujuk. “Hanya sekali, bujuk Umar. “Ini semua untuk umat. Umat yang dicintai Muhammad, umat yang dipanggil Muhammad saat sakaratul mautnya. Begitu besar cintamu kepada Muhammad, maka tidakkah engkau cinta pada umat yang dicintai Muhammad?” Bilal tersentuh. Ia menyetujui untuk kembali mengumandangkan adzan. Hanya sekali, saat waktu Subuh. Hari saat Bilal akan mengumandangkan adzan pun tiba. Berita tersebut sudah tersiar ke seantero negeri. Ratusan hingga ribuan kaum muslimin memadati masjid demi mendengar kembali suara bening yang legendaris itu. Dan riwayat menyebutkan bahwa ketika Bilal sampai kepada “Ashyadu Anna Muhammadar Rasulullah”, jenggot para sahabat ketika mereka masuk Islam berwarna hitam, namun sekarang berubah menjadi kelabu, karena jenggot mereka dibanjiri air mata. Tidak ada satu pun jenggot seorang sahabat yang tidak dibanjiri air mata, mereka sampai meminta nasihat kepada Umar ibn Khatab, karena hal ini mengingatkan mereka ketika masih menemani Rasulullah S.A.W. Dan adzan itu, adzan yang tak bisa dirampungkan itu, adalah adzan terakhirnya Bilal Ra. Dia tak pernah bersedia lagi mengumandangkan adzan. Sebab kesedihan yang sangat segera mencabik-cabik hatinya mengenang seseorang yang karenanya dirinya derajatnya terangkat begitu tinggi. Dan inilah keutamaan yang menakjubkan dari Bilal, karena dia mengumandangkan adzan, di tanah Haram di Mekkah, di masjid Rasulullah S.A.W., dan juga Masjidil Aqsa, di ketiga tempat suci ini. Bilal lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah, sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di Mekah. Karena ibunya itu, sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus-Sauda’ (putra wanita hitam). Bilal dibesarkan di kota Ummul Qura (Mekah) sebagai seorang budak milik keluarga bani Abduddar. Saat ayah mereka meninggal, Bilal diwariskan kepada Umayah Bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir. Ketika Mekah diterangi cahaya agama baru dan Rasul yang agung Shalallahu ‘alaihi wasallam mulai mengumandangkan seruan kalimat tauhid, Bilal adalah termasuk orang-orang pertama yang memeluk Islam. Saat Bilal masuk Islam, di bumi ini hanya ada beberapa orang yang telah mendahuluinya memeluk agama baru itu, seperti Ummul Mu’minin Khadijah Binti Khuwailid, Abu Bakar ash-Shiddiq, Ali Bin Abu Thalib, ‘Ammar Bin Yasir bersama ibunya, Sumayyah, Shuhaib ar-Rumi, dan al-Miqdad Bin al-Aswad. Bilal merasakan penganiayaan orang-orang musyrik yang lebih berat dari siapa pun. Berbagai macam kekerasan, siksaan, dan kekejaman mendera tubuhnya. Namun ia, sebagaimana kaum muslimin yang lemah lainnya, tetap sabar menghadapi ujian di jalan Allah itu dengan kesabaran yang jarang sanggup ditunjukkan oleh siapa pun. Pada tahun 20 Hijriah. Bilal terbaring lemah di tempat tidurnya. Sang istri di sampingnya tidak bisa menahan kesedihannya. Ia menangis, menangis dan menangis. Sadar bahwa sang suami tercinta akan segera menemui Rabbnya. “Jangan menangis”, katanya kepada istri. “Sebentar lagi aku akan menemui Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan sahabat-sahabatku yang lain. Jika Allah mengizinkan, aku akan bertemu kembali dengan mereka esok hari” Esoknya ia benar-benar sudah dipanggil ke hadapan Rabbnya. Beliau dimakamkan di kota Damsyik Semoga bermanfaat dan menambah ilmu, Barokah Amin Sumber: http://abuthalhah.wordpress.com/2012/04/16/kisah-adzan-terkahir-bilal-Bin-rabah-radiyallahu-anhu/ http://gadenks.blogspot.com/2013/01/kisah-bilal-Bin-rabah.html http:/ http://lampuislam.blogspot.com/2013/08/kisah-bilal-Bin-rabah-seorang-budak.html http://id.wikipedia.org/wiki/Azan http://pengumpulhikmah.blogspot.com/2013/02/kisah-sahabat-bilal-adzan-terakhir.html http://usahadawah.wordpress.com/2008/01/07/asal-muasal-adzan-dan-iqomat-melalui-mimpi-shahabat-dan-perihal-mimpi-maulana-ilyas/

1.5.15

TELAGA AL-KAUTSAR

TELAGA AL-KAUTSAR "Sesungguhnya aku menunggu (kedatangan) kamu sekalian di telaga. Barangsiapa melewati, dia pasti minum. Dan barangsiapa minum, maka dia tidak akan dahaga selamanya." (HR. Bukhari) "Telaga itu terdiri dari empat sudut, telaga itu memancarkan kilatan cahaya bintang. Jarak antara sudut yang satu ke sudut yang lain ditempuh dengan perjalanan satu bulan. Telaga itu diisi dengan air yang putih dan bersih, lebih putih dari susu. Rasanya manis, lebih manis dari madu. Aromanya harum semerbakk, lebih harum dari kasturi." (HR. Bukhari) Di salah satu sudut telaga ada sepasang keran dari surga. Yang satu terbuat dari emas, dan satunya terbuat dari perak." (HR. Muslim) "Manusia pertama yang datang kesana adalah para fakir miskin dari kaum Muhajirin yang pakaiannya kotor, berambut kusut, yang tidak menikah dengan wanita yang hidup sejahtera dan tidak dibukakan bagi mereka pintu-pintu rumah." (HR. Ibnu Majah)

"HUKUM ISLAM DALAM PERNIKAHAN BEDA AGAMA"

" Seringkali kita jumpai pertanyaan “apa hukumnya bila nikah beda agama, baik yg laki-laki atau perempuannya yg muslim, apa sah atau tidak menurut Islam ?”. Pertanyaan ini sering muncul terutama ketika kita berada di sebuah negara yang mayoritas penduduknya non muslim, seperti di Australia,china,hongkong..dll . Untuk itu pada kali ini menampilkan fikih berkenaan dengan nikah beda Agama. Ada 2 jenis menikah beda agama: 1. Perempuan beragama Islam menikah dengan laki-laki non-Islam 2. Laki-laki beragama Islam menikah dengan perempuan non-Islam Perempuan beragama Islam menikah dengan laki-laki non-Islam Hukum mengenai perempuan beragama Islam menikah dengan laki-laki non-Islam adalah jelas-jelas dilarang (haram). Dalil yg digunakan untuk larangan menikahnya muslimah dengan laki-laki non Islam adalah Surat Al Baqarah(2):221,“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” Jadi, wanita musliman dilarang atau diharamkan menikah dengan non muslim, apapun alasannya. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam Alquran di atas. Bisa dikatakan, jika seorang muslimah memaksakan dirinya menikah dengan laki-laki non Islam, maka akan dianggap berzina. Laki-laki beragama Islam menikah dengan perempuan non-Islam Pernikahan seorang lelaki Muslim dengan perempuan non muslim terbagi atas 2 macam: 1. Lelaki Muslim dengan perempuan Ahli Kitab. Yang dimaksud dg Ahli Kitab di sini adalah agama Nasrani dan Yahudi (agama samawi). Hukumnya boleh, dengan dasar Surat Al Maidah(5):5,“Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar maskawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi.” 2. Lelaki Muslim dg perempuan non Ahli Kitab. Untuk kasus ini, banyak ulama yg melarang, dengan dasar Al Baqarah(2):222,“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” Banyak ulama yg menafsirkan bahwa Al Kitab di sini adalah Injil dan Taurat. Dikarenakan agama Islam, Nasrani dan Yahudi berasal dari sumber yg sama, agama samawi, maka para ulama memperbolehkan pernikahan jenis ini. Untuk kasus ini, yg dimaksud dengan musyrik adalah penyembah berhala, api, dan sejenisnya. Untuk poin 2, menikah dengan, , perempuan yang bukan ahli , para ulama sepakat melarang. Dari sebuah literatur, dapatkan keterangan bahwa Hindu, Budha atau Konghuchu tidak termasuk agama samawi (langit) tapi termasuk agama ardhiy (bumi). Karena benda yang mereka katakan sebagai kitab suci itu bukanlah kitab yang turun dari Allah SWT. Benda itu adalah hasil pemikiran para tokoh mereka dan filosof mereka. Sehingga kita bisa bedakan bahwa kebanyakan isinya lebih merupakan petuah, hikmah, sejarah dan filsafat para tokohnya. Kita tidak akan menemukan hukum dan syariat di dalamnya yang mengatur masalah kehidupan. Tidak ada hukum jual beli, zakat, zina, minuman keras, judi dan pencurian. Sebagaimana yang ada di dalam Al-Quran Al-Karim, Injil atau Taurat. Yang ada hanya etika, moral dan nasehat. Benda itu tidak bisa dikatakan sebagai kalam suci dari Allah yang diturunkan melalui malaikat Jibril dan berisi hukum syariat. Sedangkan Taurat, Zabur dan Injil, jelas-jelas kitab samawi yang secara kompak diakui sebagai kitabullah. Sementara itu, Imam Syafi’i dalam kitab klasiknya, Al-Umm, mendefinisikan Kitabiyah dan non Kitabiyah sebagai berikut, “Yang dimaksud dengan ahlul kitab adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani yang berasal dari keturunan bangsa Israel asli. Adapun umat-umat lain yang menganut agama Yahudi dan Nasrani, rnaka mereka tidak termasuk dalam kata ahlul kitab. Sebab, Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa a.s. tidak diutus kecuali untuk Israil dan dakwah mereka juga bukan ditujukan bagi umat-umat setelah Bani israil.” Sementara itu, para jumhur shahabat membolehkan laki-laki muslim menikahi wanita kitabiyah, diantaranya adalah Umar bin Al-Khattab, Ustman bin Affan, Jabir, Thalhah, Huzaifah. Bersama dengan para shahabat Nabi juga ada para tabi`Insya Allah seperti Atho`, Ibnul Musayib, al-Hasan, Thawus, Ibnu Jabir Az-Zuhri. Pada generasi berikutnya ada Imam Asy-Syafi`i, juga ahli Madinah dan Kufah. Yang sedikit berbeda pendapatnya hanyalah Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hanbal, dimana mereka berdua tidak melarang hanya memkaruhkan menikahi wanita kitabiyah selama ada wanita muslimah. Pendapat yang mengatakan bahwa nasrani itu musyrik adalah pendapat Ibnu Umar. Beliau mengatakan bahwa nasrani itu musyrik. Selain itu ada Ibnu Hazm yang mengatakan bahwa tidak ada yang lebih musyrik dari orang yang mengatakan bahwa tuhannya adalah Isa. Sehingga menurut mereka menikahi wanita ahli kitab itu haram hukumnya karena mereka adalah musyrik. Namun jumhur Ulama tetap mengatakan bahwa wanita kitabiyah itu boleh dinikahi, meski ada perbedaan dalam tingkat kebolehannya. Namun demikian, wanita muslimah yang komitmen dan bersungguh-sungguh dengan agamanya tentu lebih utama dan lebih layak bagi seorang muslim dibanding wanita ahlul kitab. Juga apabila ia khawatir terhadap akidah anak-anak yang lahir nanti, serta apabila jumlah pria muslim sedikit sementarawanita muslimah banyak, maka dalam kondisi demikian ada yang berpendapat haram hukumnyapria muslim menikah dengan wanita non muslim Secara ringkas hukum nikah beda agama bisa kita bagi menjadi demikian : 1. Suami Islam, istri ahli kitab = boleh 2. Suami Islam, istri kafir bukan ahli kitab = haram 3. Suami ahli kitab, istri Islam = haram 4. Suami kafir bukan ahli kitab, istri Islam = haram Dibolehkannya laki-laki muslim menikah dengan wanita ahlul kitab namun tidak sebaliknya karena laki-laki adalah pemimpin rumah tangga, berkuasa atas isterinya, dan bertanggung jawab terhadap dirinya. Namun perlulah diketahui masih adakah yg namanya wanita ahlul kitab zaman sekarang ? wallahu`alam..itu seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami.dan untuk hal satu ini..adalah sulit laki laki menemukan wanita ahli kitab walaupun diperbolehkan. Islam menjamin kebebasan aqidah bagi isterinya, serta mlindungi hak-hak dan kehormatannnya dengan syariat dan bimbingannya. Akan tetapi, agama lain seperti nasrani dan yahudi tidak pernah memberikan jaminan kepada isteri yang berlainan agama ® Rumah Dakwah Indonesia

JANGAN CERITAKAN MAKSIATMU

Alhabib Quraisy Baharun

JANGAN MENCERITAKAN MAKSIATMU...!

Jangan berbangga-bangga dengan Kejahatan, ketika Allah sudah menutupinya maka janganlah membuka aib-aib maksiat yg pernah kita kerjakan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَنْ أَصَابَ مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ شَيْئًا فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ “Siapa yang tertimpa musibah maksiat dengan melakukan perbuatan semacam ini (perbuatan zina), hendaknya dia menyembunyikannya, dengan kerahasiaan yang Allah berikan.” (HR. Malik dalam Al-Muwatha’, no. 1508) Dihadits lain beliau bersabda, اجْتَنِبُوا هَذِهِ الْقَاذُورَةَ الَّتِي نَهَى اللَّهُ عَنْهَا فَمَنْ أَلَمَّ فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ وَلْيُتُبْ إِلَى اللَّهِ فَإِنَّهُ مَنْ يُبْدِلْنَا صَفْحَتَهُ نُقِمْ عَلَيْهِ كِتَابَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ Jauhilah perbuatan menjijikkan yang Allah larang ini. Siapa yang pernah melakukannya, hendaknya dia merahasiakannya dengan tabir yang Allah berikan kepadanya, dan bertaubat kepada Allah. Karena siapa yang kesalahannya dilaporkan kepada kami, maka kami akan tegakkan hukuman seperti dalam kitab Allah. (HR. Hakim 3/272). Semoga Allah menjadikan kita orang-orang bertobat, dan mendapatkan ampunan-Nya...Aamiin....