17.8.16

Larangan (Haram) melakukan riba

Larangan (Haram) melakukan riba.

Apa yang Dimaksud dengan Riba?

Secara etimologi, riba berarti tambahan (al fadhl waz ziyadah). (Lihat Al Mu’jam Al Wasith, 350 dan Al Misbah Al Muniir, 3/345). Juga riba dapat berarti bertambah dan tumbuh (zaada wa namaa). (Lihat Al Qomus Al Muhith, 3/423)

Contoh penggunaan pengertian semacam ini adalah pada firman Allah Ta’ala,

فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ

“Maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bertambah dan tumbuh subur.” (QS. Fushilat: 39 dan Al Hajj: 5)

Sedangkan secara terminologi, para ulama berbeda-beda dalam mengungkapkannya.
Di antara definisi riba yang bisa mewakili definis yang ada adalah definisi dari Muhammad Asy Syirbiniy. Riba adalah:

عَقْدٌ عَلَى عِوَضٍ مَخْصُوصٍ غَيْرِ مَعْلُومِ التَّمَاثُلِ فِي مِعْيَارِ الشَّرْعِ حَالَةَ الْعَقْدِ أَوْ مَعَ تَأْخِيرٍ فِي الْبَدَلَيْنِ أَوْ أَحَدِهِمَا

Suatu akad/transaksi pada barang tertentu yang ketika akad berlangsung tidak diketahui kesamaannya menurut ukuran syari’at, atau adanya penundaan penyerahan kedua barang atau salah satunya. (Mughnil Muhtaj, 6/309)

Ada pula definisi lainnya seperti yang dikemukakan oleh Ibnu Qudamah, riba adalah:

الزِّيَادَةُ فِي أَشْيَاءَ مَخْصُوصَةٍ

Penambahan pada barang dagangan/komoditi tertentu. (Al Mughni, 7/492)

Riba adalah menetapkan bunga/melebihkan jumlah pinjaman saat pengembalian berdasarkan persentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok, yang dibebankan kepada peminjam. Riba secara bahasa bermakna: ziyadah (tambahan). Dalam pengertian lain, secara linguistik riba juga berarti tumbuh dan membesar . Sedangkan menurut istilah teknis, riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara bathil. Ada beberapa pendapat dalam menjelaskan riba, namun secara umum terdapat benang merah yang menegaskan bahwa riba adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual-beli maupun pinjam-meminjam secara bathil atau bertentangan dengan prinsip muamalat dalam Islam. (wikipedia.org)

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَعُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالُوا حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ أَخْبَرَنَا أَبُو الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Shabah dan Zuhair bin Harb dan Utsman bin Abu Syaibah mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepada kami Abu Az Zubair dari Jabir dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaknat pemakan riba, orang yang menyuruh makan riba, juru tulisnya dan saksi-saksinya." Dia berkata, "Mereka semua sama." (HR. Muslim No.2995)

عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَكَاتِبَهُ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ عُمَرَ وَعَلِيٍّ وَجَابِرٍ وَأَبِي جُحَيْفَةَ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ عَبْدِ اللَّهِ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Dari Ibnu Mas'ud ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaknat pemakan riba, yang memberi makan riba, kedua saksi dan penulisnya. Ia mengatakan; Dalam hal ini ada hadits serupa dari Umar, Ali, Jabir dan Abu Juhaifah. Abu Isa berkata; Hadits Abdullah adalah hadits hasan shahih. (HR. At Tirmidzi No.1127, Daud No.2895)

Rasulullah saw. bersabda :

دِرْهَمُ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةِ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً

Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali. (HR. Ahmad dan Al Baihaqi)

Rasulullah saw. bersabda :

الرِبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَابًا أيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرُّجُلُ أُمَّهُ وَإِنْ أَرْبَى الرِّبَا عِرْضُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ

Riba itu ada 73 pintu (dosa), yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. Sedangkan riba yang paling besar adalah apabila seseorang melanggar kehormatan saudaranya. (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi)

Penulis : Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus.

محمد سلفى بن أبو نوار العيدروس

13.8.16

Maafmu menjadi sebab aku & kamu masuk surga

*MAAFMU, MENJADI SEBAB AKU & KAMU MASUK SURGA*

Pada suatu hari, Rasulullah SAW sedang berkumpul dengan para sahabatnya. Di tengah para sahabatnya, tiba-tiba Rasulullah saw. tertawa ringan sampai-sampai terlihat gigi depannya. Umar r.a. yang berada di di situ, berkata, ‘Demi engkau, ayah dan ibuku sebagai tebusannya, apa yang membuatmu tertawa, wahai Rasulullah?’

Rasulullah SAW menjawab, ‘Aku diberitahu bahwa pada hari kiamat nanti, ada dua orang yang duduk bersimpuh sambil menundukkan kepala mereka di hadapan Allah. Salah satunya mengadu kepada Allah sambil berkata, ‘Ya Rabb, ambilkan kebaikan dari orang ini untukku karena dulu ia pernah berbuat zalim kepadaku’.
Allah SWT berkata, ‘Bagaimana mungkin saudaramu ini bisa melakukan itu, karena tidak ada kebaikan di dalam dirinya?’

Orang itu berkata, ‘Ya Rabb, kalau begitu, biarlah dosa-dosaku dipikul olehnya’.
Sampai di sini, mata Rasulullah SAW berkaca-kaca. Beliau Rasulullah SAW tidak mampu menahan tetesan airmatanya. Beliau menangis. Lalu, beliau Rasulullah berkata, ‘Hari itu adalah hari yang begitu mencekam, di mana setiap manusia ingin agar ada orang lain yang memikul dosa-dosanya’.
Rasulullah SAW  melanjutkan kisahnya.

Lalu Allah berkata kepada orang yang mengadu tadi, ‘Angkat kepalamu..!!' Orang itu mengangkat kepalanya, lalu ia berkata, ‘Ya Rabb, aku melihat di depanku ada tempat yang terbuat dari emas dan istana-istana yang terbuat dari emas dan perak bertatahkan intan permata. Istana-istana itu untuk Nabi yang mana, ya Rabb? Untuk orang jujur yang mana, ya Rabb? Untuk syahid yang mana, ya Rabb?’
Allah berkata, ‘Istana-istana itu diberikan kepada orang yang mampu membayar harganya’.

Orang itu berkata, ‘Siapakah yang bakal mampu membayar harganya, ya Rabb?’
Allah berkata, ‘Engkau mampu membayar harganya’
Orang itu terheran-heran, sambil berkata, ‘Dengan cara apa aku membayarnya, ya Rabb?’

Allah berkata...
*‘Caranya engkau maafkan saudaramu yang duduk di sebelahmu, yang kau adukan kezalimannya kepada-Ku’.*

Orang itu berkata, ‘Ya Rabb, kini aku memaafkannya’

Allah berkata..
*'Kalau begitu, ambil tangan saudaramu itu, dan ajak ia masuk surga bersamamu’.*

Setelah menceritakan kisah itu, Rasulullah saw. berkata, ‘Bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaknya kalian saling berdamai, sesungguhnya Allah mendamaikan persoalan yang terjadi di antara kaum muslimin’.

_Kisah di atas terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Hakim, dengan sanad yang shahih._

*Pekerjaan hati yg nilainya tinggi di hadapan Allah adalah minta maaf, memberi maaf, dan saling memaafkan.*

Semoga lelah kita semua menjadi Manfaat dihari perhitungan....amin

8.4.16

DZIKIR SEMUA MALAIKAT LANGIT DAN BUMI


Ketika Allah SWT menciptakan ‘Arsy,Allah SWT perintahkan sejumlah malaikat untuk memikulnya. Kemudian malaikat merasakan sebagai sebuah beban yang agak berat.
karena itu Allah berfirman kepada malaikat “Katakanlah :Subhanallah” lalu para malaikat mengucapkan kalimat itu hingga ringanlah beban pikulan mengangkat ‘Arsy.

Sejak saat itu para malaikat mengucapkan Subhanallah sepanjang jaman sampai hari kiamat.

Ketika Allah menciptakan nabi Adam, tiba – tiba nabi Adam bersin. Allah mengilhamkan kepada nabi Adam agar mengucapkan“Alhamdulillah“.
Allah kemudian mengucapkan “Yarhamukallah”, (semoga Allah menyayangimu).
Para malaikat pun berkata “Ini adalah kalimat yang sangat agung karena itu tidak patut dilalaikan”.

Malaikat pun menggabungkan kata baru tersebut dengan kata sebelumnya, sehingga malaikat selalu membaca“Subhanallah Walhamdulillah”.

Dua kalimat tersebut selalu dibaca oleh malaikat hingga Allah menciptakan nabi Nuh, as.
Umat nabi Nuh adalah umat pertama penyembah berhala dan menjadikannya sebagai tuhan.

Allah mewahyukan kepada nabi Nuh untuk menyampaikan kepada kaumnya kalimat “La Ilaaha Illallah” tiada tuhan selain Allah.

Nabi Nuh pun menyampaikan kalimat tersebut kepada umatnya. Mendengar kalimat tersebut, malaikat merasa sangat bahagia dan menggabungkannya dengan dua kalimat sebelumnya.

Sehingga sepanjang waktu malaikat mengucapkan“Subhanallah Walhamdulillah Wala Ila Ha Illallah”.SampailahAllah mengutus nabi Ibrahim dan memerintahkan nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya.

Saat akan disembelih Allah mengganti dengan domba, seketika nabi Ibrahim berkata“Allahu akbar”sebagai ungkapan gembira.Para malaikat pun berkata “Sungguh indah kalimat yang keempat” dan malaikatmenggabungkan dua kalimat tersebut dengan kalimat yang terakhir, sehingga malaikat selalu berucap“Subhanallah Walhamdulillah Wala Ila Ha Illallahuallahuakbar”

Ketika riwayat ini disampaikan oleh malaikat Jibril kepada nabi Muhammad saw, dengan nada takjub nabi Muhammad berkata “Laa Haula Wala Quwwata Illabillahilaliyil Adhim”.
Mendengar kalimat tersebut para malaikat menggabungkannya dengan empat kalimat sebelumnya.
(Mutafaq'alaih)

Habib Ali Abdurahman Al Habsyi

28.3.16

Bacaan Tahiyat

BACAAN TAHIYAT : DIALOG RASULULLAH SAW DENGAN ALLAH SWT...

ANDAI kita mengetahui bahwa sebagian dari bacaan shalat itu adalah dialog. antara RASULULLAH SAW dengan ALLAH AZZA WAJALLA, tentu kita tdk akan terburu-buru melakukannya...
ALLAHU AKBAR ternyata bacaan shalat itu dpt membuat kita seperti berada di syurga...
Mari kita camkan dan renungkan kisah berikut ini, tentu akan berlinang air mata kita, Masya Allah...
Singkat cerita, pada malam itu Jibril AS mengantarkan Rasulullah SAW naik ke Sidratul Muntaha. Namun karena Jibril AS tdk diperkenankan utk mencapai Sidratul Muntaha, maka Jibril AS pun mengatakan kepada Rasulullah SAW utk melanjutkan perjalanan sendiri tanpa dirinya...
Rasulullah SAW melanjutkan perjalanan perlahan sambil terkagum-kagum melihat indahnya istana ALLAH SWT hingga tiba di Arsy...
Setelah sekian lama menjadi seorang Rasul, inilah pertama kalinya Muhammad SAW berhadapan dan berbincang secara langsung dg ALLAH Azza wa Jalla...
Bayangkanlah betapa indah dan luar biasa dahsyatnya moment ini, Masya Allah...
PERCAKAPAN Antara Muhammad Rasulullah SAW dg ALLAH Subhanahu wata'ala :
a). Rasulullah SAW pun mendekat dan memberi salam penghormatan kepada ALLAH SWT :
ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH...
(Semua ucapan penghormatan, pengagungan dan pujian hanyalah milik ALLAH).
b). Kemudian Allah SWT menjawab sapaannya :
ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH.
(Segala pemeliharaan dan pertolongan ALLAH untukmu wahai Nabi, begitu pula rahmat ALLAH dan segala karunia-Nya).
c). Mendapatkan jawaban seperti ini, Rasulullah SAW tdk merasa jumawa atau berbesar diri, justru beliau tidak lupa dengan umatnya (ini yang membuat kita sangat terharu)...
Beliau menjawab dengan ucapan :
ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN.
(Semoga perlindungan dan pemeliharaan diberikan kpd kami dan semua hamba ALLAH yg shalih).
Bacalah percakapan mulia itu sekali lg… itu adalah percakapan Sang Tuhan dan hamba-NYA, Sang Pencipta dan ciptaan-NYA dan mereka saling menghormati satu sama lain, menghargai satu sama lain dan lihat betapa Rasulullah SAW mencintai kita umatnya, bahkan beliau tdk lupa dg kita ketika Dia dihadapan ALLAH SWT...
d). Melihat peristiwa ini, para malaikat yg menyaksikan dari luar Sidratul Muntaha tergetar dan ter-kagum2 betapa Rakhman dan Rakhimnya ALLAH SWT, betapa mulianya Muhammad SAW...
Kemudian para malaikat pun mengucap dg penuh keyakinan :
ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH.
(Kami bersaksi bahwa tiada Tuhan selain ALLAH dan kami bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul Allah).
Jadilah rangkaian percakapan dlm peristiwa ini menjadi suatu bacaan dlm SHALAT yaitu pd posisi TAHIYAT Awal dan Akhir, yg kita ikuti dg shalawat kpd Nabi sebagai sanjungan seorang individu yg menyayangi umatnya...
MUNGKIN sebelumnya kita tdk terpikirkan arti dan makma kalimat dlm bacaan ini.
Mudah2an dg penjelasan singkat ini kita dpt lbh meresapi makna shalat kita. Sehingga kita dapat merasakan getaran yg dirasakan oleh para malaikat disaat peristiwa itu...
وَاللّهُ أعلَم بِالصَّوَاب
Smg bermanfaat utk menambah kekhusu'an sholat kita, Aamiin Allahumma Aamiin...

*Sumber : Kitab Qissotul Mi'roj

Fahmi bin Yahya Yahya

25.3.16

PINTU RAHMAT DAN AMPUNAN SEDANG MENUNGGUMU..

PINTU RAHMAT DAN AMPUNAN SEDANG MENUNGGUMU..

Bermunajatlah pada Allah Ta'ala di akhir malam, apa-apa yang menjadi hajatmu, apakah itu hajat dunia dan akhiratmu.
Ali bin Abi Thalib KWH pernah menceritakan,

رَأَيْتُنَا لَيْلَةَ بَدْرٍ وَمَا مِنَّا إِنْسَانٌ إِلاَّ نَائِمٌ إِلاَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَإِنَّهُ كَانَ يُصَلِّى إِلَى شَجَرَةٍ وَيَدْعُو حَتَّى أَصْبَحَ وَمَا كَانَ مِنَّا فَارِسٌ يَوْمَ بَدْرٍ غَيْرَ الْمِقْدَادِ بْنِ الأَسْوَدِ

“Kami pernah memperhatikan pada malam Badar dan ketika itu semua orang pada terlelap tidur kecuali Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam. Beliau melaksanakan shalat di bawah pohon. Beliau memanjatkan do’a pada Allah hingga waktu Shubuh. Dan tidak ada di antara kami tidak ada yang mahir menunggang kuda selain Al Miqdad bin Al Aswad.”(HR.Ahmad)

Dalam lafadz lain disebutkan,

يُصَلِّى وَيَبْكِى حَتَّى أَصْبَحَ

“Beliau melaksanakan shalat sambil menangis hingga waktu shubuh.” (HR.Ahmad)

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَحَبَّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ وَأَحَبَّ الصَّلاَةِ إِلَى اللَّهِ صَلاَةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَكَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا

“Sesungguhnya puasa yang paling dicintai di sisi Allah adalah puasa Daud dan shalat yang dicintai Allah adalah shalatnya Nabi Daud ‘alaihis salam. Beliau biasa tidur di separuh malam dan bangun tidur pada sepertiga malam terakhir. Lalu beliau tidur kembali pada seperenam malam terakhir. Nabi Daud biasa sehari berpuasa dan keesokan harinya tidak berpuasa.” (HR.Bukhari & Muslim)

Semoga Allah Ta'ala menjadikan kita semua Ahlu Istiqamah dan Ahlu Tahajjud.... Aamiin Ya Rabbal 'Aalamiin...
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan mengenai ‘Abdullah bin ‘Umar,

« نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللَّهِ ، لَوْ كَانَ يُصَلِّى بِاللَّيْلِ » . قَالَ سَالِمٌ فَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ لاَ يَنَامُ مِنَ اللَّيْلِ إِلاَّ قَلِيلاً .

“Sebaik-baik orang adalah ‘Abdullah (maksudnya Ibnu ‘Umar) seandainya ia mau melaksanakan shalat malam.” Salim mengatakan, “Setelah dikatakan seperti ini, Abdullah bin ‘Umar tidak pernah lagi tidur di waktu malam kecuali sedikit (HR.Bukhari)

Fahmi bin Yahya Yahya

24.3.16

WASIAT NASIHAT INDAH AL-IMAM Al-QUTHB AL-HABIB ABDURRAHMAN BIN ALI BIN ABU BAKAR AS-SAKRAN

WASIAT NASIHAT INDAH AL-IMAM Al-QUTHB AL-HABIB ABDURRAHMAN BIN ALI BIN ABU BAKAR AS-SAKRAN

وَصِيَّةُ اْلإِمَامِ اْلقُطْبِ اْلحَبِيْبِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أَبِيْ بَكْرِ السَّكْرَاْنِ فِيْ تَذْكِرَةِ اْلمُصْطَفَى
Wasiat Imam al-Quthb al-Habib 'Abdurrahman bin 'Ali bin Abi Bakar as-Sakron di dalam kitab "Tadzkirah al-Musthafa".

أَلاَ يَابْنَ الْفَقِيْهِ يَاعَبُوْدَ اسْمَعْ بِنِيَّةِ
Ingatlah wahai ananda al-Faqih 'Abud, dengarkanlah dengan penuh niat (sungguh2).

١- تَيَقَّظْ فِيْ دُجَى اللَّيْلِ وَ اسْمَعْ ذِي الْوَصِيَّةِ
1. Bangunlah malam dan dengarkan nasihat ini.

٢- إِلَى الرَّحْمَنِ تُبْ مِنْ ذُنُوْبِكَ وَ الْخَطِيَّةِ
2. Bertobatlah kepada اللّـہ  dari dosa2mu dan kesalahan.

٣- وَ لاَزِمْ ذِكْرَ مَـوْلاَكَ بُكْـرَةً وَ الْعَشِـيَّةَ
3. Dan selalu lah ingat kepada اللّـہ  di pagi dan sore hari.

٤- عَلَى الصَّلَوَاتِ وَاظِبْ عَلَيْهَا فِي الْجَمَاعَةِ
4. Jagalah selalu sholat dengan berjamaah.

٥- وَ لاَ تَغْـفُلْ عَنِ الذِّكْرِ لِلَّهِ كُلَّ سَـاعَة
5. Jangan lalai dari dzikir mengingat اللّـہ  di setiap waktu.

٦- وَ صُرَّ الْبَطْنَ وَ اصْبِرْ عَلَى طُوْلِ الْمَجَاعَةِ
6. Jagalah perut, sabarlah ketika haus dan lamanya lapar.

٧- تَغَـانَمْ سَـاعَةَ الْعُمْرِ مِنْ قَبْلِ الْمَـنِيَّةِ
7. Ambillah kesempatan umur (untuk ibadah) sebelum meninggal.

۸- وَ بَعْدَ الْمَغْرِبِ ارْكَعْ أَوِ اقْرَأْ بِالتَّدَبُّرِ
8. Rukuklah (sholatlah sunnat) setelah Maghrib atau bacalah al-Qur'an dengan tadabbur.

٩- أَوِ اذْكُرْ وَ إِنْ صَفَا الْقَلْبُ فَاسْبَحْ فِي التَّفَكُّرِ
9. Atau berdzikirlah, dan jika hati jernih, maka perbanyaklah tafakkur.

١٠- إِلَى وَقْتِ الْعِشَا اِحْذَرْ تَنَامُ أَصْلاً وَ تُهْمَرُ
10. Hingga waktu Isya', hindari (jangan) tidur sama sekali.

١١- عَسَى تُحْمَى وَ تَحْـظَى بِأَلْطَـافٍ خَفِيَّة
11. Semoga engkau mendapat bagian dari kelembutan pemberian اللّـہ  yang penuh rahasia.

١٢- وَ لاَ تَسْمُرْ فَتُقْمَرْ عَنِ الطَّاعَاتِ وَ الدِّيْنِ
12. Janganlah jaga malam (begadang) untuk ngobrol (yang sia2), maka engkau tidak bisa (terjauhkan) melakukan ketaatan dan pemahaman agama.

١٣- تَجَنَّبْ جَمْ جِـدًّا مِنَ السُّفَهَا الشَّيَاطِيْنِ
13. Jauhilah sejauh-jauhnya teman bodoh yang berkelakuan seperti syetan.

١٤- تَبَعَّدْ لاَ تُجَالِسْ سِوَى الضُّعَفَا الْمَسَاكِيْنِ
14. Menjauhlah, jangan duduk kecuali dengan orang yang lemah (dlu'afa) dan miskin (agar kau faham bersyukur).

١٥- وَ تُبْ بَعَْدَ الطَّـهَارَةِ وَ نَمْ صَافِي الطَّـوِيَّةِ
15. Dan taubatlah setelah sesuci (wudlu’) dan tidurlah dalam keadaan suci (hati bersih) tanpa dendam.

١٦- وَ قُمْ فِيْ آخِرِ اللَّيْلِ صَلِّ وَ اقْرَأْ وَ هَلَّلْ
16. Bangunlah di (sepertiga) akhir malam, sholat lah dan bacalah (al-Qur'an) dan (bacalah) tahlil.

١٧- تَفَـهَّمْ سِـرَّ مَعْـنَى كَلاَمِ اللَّهِ وَ رَتَّـلْ
17. Pahamilah rahasia makna Kalam اللّـہ  al-Qur'an dan bacalah dengan tartil.

١۸- وَ بِاسْتِغْفَارِ مَوْلاَكَ قَبْلَ الْفَجْرِ كَمِّلْ
18. Dan sempurnakanlah beristghfar kepada (اللّـہ ) Tuhanmu sebelum waktu Subuh.

١٩- وَ صَلِّ الصُّـبْحَ تَكْفِي مِنَ اللَّهِ كُلَّ أَذِيَّةِ
19. Kemudian sholatlah Subuh, maka engkau tercegah oleh اللّـہ  dari segala gangguan.

٢٠- وَ بَعْدَ الصُّبْحِ فَاذْكُرْ إِلَى أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ
20. Dan setelah Subuh berdzikirlah hingga terbit matahari.

٢١- وَ كُنْ فِي الْيَوْمِ أَحْسَنَ فِي الطَّاعَاتِ مِنْ أَمْسِ
21. Jadikanlah hari ini lebih baik dalam ketaatan dari hari kemarin.

٢٢- وَ لاَ تَكْسَلْ مِنَ الْخَيْرِ وَ اذْكُرْ فَصَّةَ الرَّمْسِ
22. Jangan malas dari kebaikan dan ingatlah ketika kau kelak diantar ke kuburan.

٢٣- وَ قُمْ صَلِّ الضُّـحَى بَعْدَ اِشْـرَاقِ الْمَضِيَّةِ
23. Bangkitlah untuk sholat Dluha setelah matahari keluar nampak terang.

٢٤- وَلاَ تَهْتَمْ أَصْلاً بِرِزْقِكَ فَهُوَ مَضْمُوْنُ
ضَمِنَ بِهِ بَارِئُ الْكَوْنِ بِسِرِّ الْكَافِ وَ النُّوْنِ
24. Dan janganlah sama sekali bingung dengan masalah rizkimu karena itu sudah ditanggung
(Oleh اللّـہ ) yang menciptakan seluruh alam semua makhluk dengan rahasia “kaf” dan “nun” (yaitu maksudnya kata “kun” jadilah maka terjadilah).

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَآ مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّـدِنَآ مُحَمَّدٍ

21.3.16

Apa hubungan Al-Atthas dengan bin Syeikh Abubakar bin Salim.

Apa hubungan Al-'Atthas dengan bin Syeikh Abubakar bin Salim.

Syarifah hubabah Thalhah binti Agil bin Ahmad bin Abubakar As-Sakran mengandung tua. Ia mulai merasakan tanda-tanda akan melahirkan. Dari dalam perutnya ia mendengar perdebatan.
"Keluarlah kau," kata salah satu janin.
"Kau saja yang keluar dahulu," kata janin yang lain.

Janin yang satu mengutamakan janin lain. Sebab, janin yang keluar lebih dahulu kelak akan menjadi kakak. Dalam riwayat lain, perdebatan ini sempat membuat sang ibu khawatir. Sebagaimana kebanyakan ibu, Thalhah menghendaki kelahiran putranya dengan cepat dan selamat.

Akhirnya salah satu janin itu berkata, "Keluarlah lebih dahulu, nanti aku yang masyhur, tapi sesungguhnya Almasyhuur fii barokatil mastuur (yang masyhur itu ada dalam keberkahan yang tidak dikenal)."

Tak berapa lama lahirlah bayi yang kemudian diberi nama Aqil, lalu disusul adiknya yang kemudian diberi nama Abubakar. Aqil inilah kakek keluarga Al-'Atthas, dia juga yang pertama kali bersin dan mengucap hamdalah ketika masih dalam kandungan ibunya. Jadi, Al-'Atthas adalah kakak dari BSA (Bin Syeikh Abubakar Bin Salim).

[Tajul A’ros juz I Hal 37-38].

Sebagaimana ucapan janin tadi, kita jarang dengar cerita tentang Al Habib Aqil, tapi lain halnya dengan Syeikh Abubakar. Sejak kecil Syeikh Abubakar telah masyhur. Al Habib Aqil bin Salim akan menjadi seorang wali yang mastuur, tapi sebaliknya Syeikh Abubakar bin Salim, adiknya.

Mengapa garis keturunan Rosul saw ini disebut Al-'Atthos? Nantikan rubrik berikut.
Keluarga Al-'Atthas adalah keturunan dari Abdurrahman bin Agil bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman Assegaf.
Kata Al-'Atthas berasa dari kata dasar 'athosa yang berarti bersin.

Al Habib Ali bin Hasan Al-'Atthas dalam bagian pertama bukunya yang berjudul Al-Qirthos Fi Manakibil 'Atthos berkata,

“Dijuluki Al-'Atthas karena suatu karomah. Ketika dalam kandungan ibunya, janin keluarga Al-'Atthas bersin dan mengucapkan Alhamdulillah. Suara bersin ini terdengar padahal ia masih berada dalam kandungan ibunya. Orang yang pertama kali bersin dalam kandungan ibunya adalah Sayidina Agil bin Salim.

(Al-Mu’jam Al-Lathiif, cet. I 1986, Alamul Ma’rifah, Jeddah hal 134 – 135).

Al Habib Ali bin Hasan Al-'Atthas berkata bahwa suara bersin dari janin-janin keluarga Al-'Atthas selalu terdengar sepanjang zaman. Anak beliau, Hasan bin Ali, juga bersin ketika berada dalam kandungan ibunya. Suara bersin itu hampir menjadi hal yang biasa bagi para isteri keluarga Al-'Atthas. Di setiap zaman dan tempat banyak diceritakan peristiwa ini. Suara bersin itu umumnya terdengar pada bulan kesembilan masa kehamilan dengan syarat suasana tenang. Suara bersin itu terdengar oleh orang yang hamil dan orang yang berada di dekatnya.

(Tajul A’ros I, hal 38-39).

Habib Fahmi bin Yahya Yahya

20.3.16

JANGAN TINGGALKAN SHOLAT

JANGAN TINGGALKAN SHOLAT .

Berkata Guru Mulia Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz :

"Banyak orang yg meninggalkan Sholat dan juga Sholat Bolong-bolong.
Tahukah engkau bahwa 1 kali meninggalkan Sholat Malaikat di akhirat akan menyiksa Ibu dan Bapakmu, jika tidak melakukan Sholat 5 waktu dan malaikat berkata :

“ Inilah kiriman siksaan pedih dari anakmu yg meninggalkan Sholat masih banyak jutaan orang di alam kubur ingin hidup kembali utk bertobat. Apalagi di Neraka sekarang lagi menjerit minta kiamat di cepat karena tidak sanggup menahan dgn siksaanya di Akhirat pelihara keluargamu dan anakmu dari Api Neraka ”.

Yaa Allah Allahumma Ajirni minanaar.

Habib Fahmi bin Yahya Yahya

19.3.16

SYEIKHOH SULTHONAH BINTI ALI AZ-ZABIDI

SYEIKHOH SULTHONAH BINTI 'ALI AZ-ZABIDI
(Robi'atul 'Adawiyahnya Hadromaut)

Di ceritakan oleh Al Imam Al Quthub Al Habib ‘Ali bin Muhammad bin Husein Al Habsyi (Shohibul Maulid), bahwanya di Yaman ada seorang wali agung perempuan yang bernama Syeikhoh Sulthonah Rodhiallahu ‘Anha. Beliau memiliki gelar Robia ‘atul Adawiyahnya Yaman Hadromaut. Pekerjaan beliau ini setiap waktunya bahkan setiap hembusan nafasnya selalu bersholawat kepada Baginda Rosulullah Saw. Dan lebih hebatnya lagi, beliau ini tiada pekerjaan lain selain sholawat, kecuali di saat waktu sholat tiba.

Pada suatu ketika beliau mendapat suara gho’ib, yang meminta beliau untuk minta apa saja, dan permintaan tersebut pasti dikabulkan. Namun beliau sebagai seorang ahli tashowwuf yang mursyid, jadi beliau tidak langsung mengucapkan permintaannya. Beliau menemui Guru beliau dari keluarga Baqushoir, dan menanyakan kepada Guru beliau "Apakah ada di dunia ini ada maqom kewalian yang tidak ada lagi maqom sesudahnya ??" Jawab Guru beliau : "Ada, yakni bertemu secara jaga dengan Rosulullah Saw. " Kemudian Syeikhoh Sulthonah meminta agar dipertemukan secara jaga dengan Baginda Rosulullah Saw. Seketika itu juga Rosulullah Saw. ada di hadapan beliau.

Pada zaman beliau banyak orang-orang titip salam kepada Rosulullah Saw. lewat beliau, bahkan Rosulullah Saw. titip menasihati kepada Syeikhoh Sulthonah untuk orang-orang sekitar Syeikhoh Sulthonah. Bahkan Syeikhoh Sulthonah berani menjamin surga bila orang2 berziarah ke tempat beliau pada hari senin akhir bulan, dikarenakan saat itu Rosulullah Saw. hadir di tempat beliau.

Begitu tingginya maqom kewalian beliau, sehingga beliau mengetahui maqom kewalian setiap orang, kecuali dua orang yang tak bisa Syeikhoh Sulthonah ketahui maqom kewaliannya, yakni “Al Imam Al Faqih Muqoddam Ats-Tsani Al Habib ‘Abdurrohman As Seggaf bin Muhammad Maula Addawilah” dan anak beliau “Al Quthub Al Imam Al Habib Abu Bakar As Sakron” . Yang mana Syeikhoh Sulthonah pernah hidup sezaman dengan dua orang Habib ini.

Maqom mereka tidak diketahui dan tidak bisa dijangkau oleh Syeikhoh Sulthonah karena begitu tingginya. Setiap kali Syeikhoh Sulthonah mau mengejar maqom mereka, maka maqom mereka melesat begitu cepat seperti cahaya dan jauh ke atas.

Kata Syeikhoh Sulthonah lagi, beliau sudah mengetahui siapa saja di antara wali-wali yang berkunjung kepada Beliau, kecuali dua orang yakni “Al Imam Al Faqih Muqoddam Ats-Tsani Al Habib ‘Abdurrohman As Seggaf bin Muhammad Maula Addawilah” dan anak beliau “Al Quthub Al Imam Al Habib Abu Bakar As Sakron”, karena mereka bisa langsung ada dihadapan Syeikhoh Sulthonah secara tiba-tiba tanpa diketahui oleh Syeikhoh Sulthonah. Hanya saja, kata beliau apabila Al Habib Abu Bakar As Sakron mau bertemu, pasti ditandai dengan suara gho’ib dari langit yang mengatakan "Telah datang seorang sulthon anak dari seorang sulthon " Yaa Syeikhoh Sulthonah , Al Habib Abu Bakar As Sakron adalah seorang Sulthonul Auliya yang terkenal dari lapisan bumi yang paling bawah hingga ke seluruh langit, dan Ayah Beliau pun seorang juga seoarang Sulthonul Auliya.

Demikianlah bagaimana maqom seorang Auliya ALLAH SWT yang bertemu secara langsung dengan Baginda Rosulullah Saw. di alam jaga. Begitu tingginya dan begitu mulianya mereka. kata Al Habib ‘Ali bin Muhammad Al Habsyi, apa lagi dengan para sohabat Rosulullah Saw., mereka bertemu secara langsung dengan Rosulullah Saw. dengan kondisi Rosulullah Saw. secara nyata, sedangkan para wali hanya bertemu dengan Rosulullah Saw. pada alam yang lain. Sungguh bertemu Rosulullah Saw. secara jaga melebihi nikmat surga sekalipun. Sungguh Para sohabat Nabi saw. sudah mendapatkan surga firdaus itu sebelum memasukinya.

SEORANG YANG SELALU BERDZIKIR ASTAGHFIRULLAH DAN ALHAMDULILLAAH

SEORANG  YANG SELALU BERDZIKIR ASTAGHFIRULLAH DAN ALHAMDULILLAAH

Generasi Salaf, disebutkan adalah generasi terbaik dan sebagai panutan ummat Islam hingga saat ini, Banyak kisah – kisah yang mengagumkan dari mereka sebagai pengingat diri ini, salah satunya kehidupan seorang tabi’in faqih yang bernama Bakr Al Muzanny. yang bertemu dengan seorang tabi’in pencari kayu bakar yang ‘alim.

الحمد لله .. استغفر الله الحمد لله .. استغفر الله.

فقال له الفقيه : ألا تجيد غيرها ؟

فقال الحطاب : بلى ، فإني أحفظ القرآن ، وأعلم الكثير ولكن المرء لا يزال يتقلب بين ذنب أو نعمة وأنا أستغفر الله من الذنب وأحمده على النعمة.

فقال الفقيه : جهل بكر وعلم الحطاب.

Adalah seorang Ahli Fiqh (Faqih) dari kalangan Tabi’in bernama Bakr Al Muzanny RahimahuLLAAH sedang berjalan..

Dan di depannya seorang pengumpul kayu yang sambil berjalan mengulang2 kalimat : AlhamduliLLAAH.. AstaghfiruLLAAH.. AlhamduliLLAAH.. AstaghfiruLLAAH..

Lalu berkata sang Faqih : Tidakkah kamu mempunyai selain dua kalimat itu..?

Maka berkata sang penebang kayu :
Ada, bahkan saya hafal seluruh Al Qur’an, dan mengetahui berbagai macam doa dan Dzikir..

Tetapi bukankah manusia itu hanya berjalan antara 2 hal saja, yaitu antara dosa yang dilakukannya dan nikmat yang diterimanya, maka saya ingin terus memohon ampun atas dosa saya dan bersyukur atas nikmat yang diberikan pada saya..

Maka berkata Sang Faqih : Sungguh jahil (bodoh) Bakr ini dan sungguh alim sang pengumpul kayu itu..

SUBHANALLAH....

Makna Huruf Hijaiya

Seorang Yahudi mendatangi Rasulullah SAW seraya bertanya, “Apa makna huruf hijaiyah?”.

Rasulullah SAW,berkata kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib KWH, “Jawablah pertanyaannya, wahai Ali !”. Kemudian Rasulullah SAW, berdoa, “Ya Allah, jadikanlah dia berhasil dan bantulah dia.”

Sayyidina Ali berkata, “Setiap huruf hijaiyah adalah nama-nama Allah.” Ia melanjutkan:

��Alif (ا): Ismullah (nama Allah), yang tiada Tuhan selain-Nya. Dia selalu hidup, Maha Mandiri dan Mahakuasa.

��Ba’ (ﺏ): al Baqi’ (Mahakekal), setelah musnahnya makhluk.

��Ta (ﺕ): al Tawwab (Maha Penerima Taubat) dari hamba-hamba-Nya.

��Tsa’ (ﺙ): al Tsabit (Yang Menetapkan) keimanan hamba-hamba-Nya.

��Jim (ﺝ) : Jalla Tsanauhu (Yang Mahatinggi Pujian-Nya), kesucian-Nya, dan nama-nama-Nya yang tiada berbatas.

��Ha’ (ﺡ): al Haq, al Hayyu, wa al Halim (Yang Mahabenar, Mahahidup, dan Mahabijak).

��Kha (ﺥ): al Khabir (Yang Mahatahu) dan Mahalihat. Sesungguhnya Allah Mahatahu apa yang kalian kerjakan.

��Dal (ﺩ): Dayyanu yaumi al din (Yang Mahakuasa di Hari Pembalasan).

��Dzal (ﺫ): Dzu al Jalal wa al Ikram (Pemilik Keagungan dan Kemuliaan).

��Ra (ﺭ): al Rauf (Mahasayang).

��Zay (ﺯ): Zainul Ma’budin (Kebanggaan Para Hamba).

��Sin (ﺱ): al Sami al Bashir (Mahadengar dan Mahalihat).

��Syin (ﺵ): Syakur (Maha Penerima ungkapan terima kasih dari hamba-hamba-Nya).

��Shad (ﺹ) : al Shadiq (Mahajujur) dalam menepati janji. Sesungguhnya Allah tidak mengingkari janji-Nya.

��Dhad (ﺽ): al Dhar wa al Nafi (Yang Menangkal Bahaya dan Mendatangkan Manfaat).

��Tha (ﻁ): al Thahir wal al Muthahir (Yang Mahasuci dan Menyucikan).

��Zha (ظ): Zhahir (Yang Tampak dan Menampakkan Kebesaran-Nya).

��‘Ain (ﻉ): al ’Alim (Yang Mahatahu) atas segala sesuatu.

��Ghain (ﻍ): Ghiyats al Mustaghitsin (Penolong bagi yang memohon pertolongan) dan Pemberi Perlindungan.

��Fa (ف): Yang Menumbuhkan biji-bijian dan tumbuhan.

��Qaf (ﻕ): Yang Mahakuasa atas makhluk-Nya.

��Kaf (ﻙ): al Kafi (Yang Memberikan Kecukupan) bagi semua makhluk, tiada yang serupa dan sebanding dengan-Nya.

��Lam (ﻝ): Lathif (Mahalembut) terhadap hamba-hamba-Nya dengan kelembutan khusus dan tersembunyi.

��Mim (ﻡ): Malik ad dunya wal akhirah (Pemilik dunia dan akhirat).

��Nun (ن): Nur (Cahaya) langit, cahaya bumi, dan cahaya hati orang-orang beriman.

��Waw (ﻭ): al Wahid (Yang Mahaesa) dan tempat bergantung segala sesuatu.

��Haa (ه): al Hadi (Maha Pemberi Petunjuk) bagi makhluk-Nya. Dialah yang menciptakan segala sesuatu dan memberikan petunjuk.

��Lam alif (لآ): lam tasydid dalam lafadz Allah untuk menekankan keesaan Allah, yang tiada sekutu bagi-Nya.

��Ya (ﻱ): Yadullahbasithun lil khalqi (Tangan Allah terbuka bagi makhluk). Kekuasaan dan kekuatan-Nya meliputi semua tempat dan semua keberadaan.

Rasulullah saw bersabda, ”Wahai Ali, ini adalah perkataan yang Allah rela terhadapnya.” Dalam riwayat dijelaskan bahwa Yahudi itu masuk Islam setelah mendengar penjelasan Sayyidina Ali KWH.

1.2.16

RAHASIA NAMA RASULULLAH MUHAMMAD

RAHASIA NAMA RASULULLAH "MUHAMMAD" ( Al Imam Al Quthub Rabbani Al Ghaust Al'Azzam As-Sayyid Asy-Syaikh AbdulQadir Al-Jailani ra Dalam kitab As-Safinah Al-Qadiriyah ). Nabi Muhammad SAW adalah makhluk paling sempurna. Nama yang paling populer di langit dan bumi. Nama yang diberikan oleh Sayyid Abdul Muthalib untuk kelahirannya. Dalam kitab As-Safinah Al-Qadiriyah, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menjelaskan bahwa pada Abdul Muthalib memberi nama “Muhammad”, beliau ditanya oleh seseorang, “Mengapa cucumu diberi nama Muhammad? Bukankah ini adalah nama yang belum pernah digunakan oleh kaummu?” Lalu, Abdul Muthalib menjawab, “Aku ingin dia dipuji, baik di bumi ataupun di langit.” Ini membuktikan bahwa Allah ternyata mengabulkan doanya, sebagaimana sesungguhnya telah dikehendak oleh Allah sendiri. Pada suatu malam,Sayyid Abdul Muthalib bermimpi melihat sebuah rantai yang terbuat dari perak keluar dari punggungnya. Rantai itu memiliki empat ujung; satu berada di langit, satu berada di bumi, satu berada di barat dan satu lagi berada di timur. Kemudian, rantai itu menyatu menjadi sebuah pohon. Setiap helai daunnya memancarkan cahaya. Semua orang, mulai dari barat sampai ke timur seolah-olah bergelantungan kepadanya. Setelah mimpi itu diceritakan pada orang lain, mimpi tersebut ditafsirkan bahwa kelak dari keturunannya akan lahir seseorang yang menjadi tempat bergantung semua umat manusia. Semua makhluk yang ada di langit maupun di bumi memuji bayi tersebut. Ibunda Siti Aminah pun pernah mendengar suara yang mengatakan, “Sungguh engkau telah mengandung seorang bayi yang akan memimpin umat ini. Jika engkau telah melahirkannya, maka berikan nama “Muhammad” untuknya. Sebab Allah telah menetapkan nama “Muhammad” ini untuknya, jauh sebelum Dia menciptakan seluruh makhluk-Nya.” Diriwayatkan pula oleh Ibnu Asakir dari Ka’ab Al-Akhbar bahwa Adam a.s. melihat nama “Muhammad” tertulis pada tiang ‘Arasy, di langit, pada setiap ruangan istana di surga, di sungai-sungai tempat pemandian bidadari, pada setiap helai daun pohon Thuba dan Sidratul Muntaha, pada ujung-ujung tirai, di kening para Malaikat, dan tidak ada seorang pun yang menggunakan nama “Muhammad” sebelum beliau. Tapi, pada saat kelahiran Muhammad sudah dekat dan ciri-cirinya tersebar luas di kalangan Ahlul-Kitab, maka mereka menggunakan nama tersebut untuk anak-anak mereka, dengan harapan salah satu dari keturunan mereka yang akan menjadi nabi. Namun demikian, Allah SWT lebih tahu kepada siapa akan memberikan risalahnya. Saat itu jumlah orang yang bernama Muhammad sekitar lima belas orang. Terdapat banyak perbedaan pendapat tentang nama Rasulullah SAW. Ada yang mengatakan bahwa namanya berjumlah 1000 dan ada pula yang mengatakan bahwa namanya berjumlah 2020 buah nama. Al-Hafizh Ibnu Dahiyah menyusun satu buah kitab yang menerangkan bahwa nama beliau berjumlah 300 buah. Abu Abdillah Al-Qurthubi juga menyinggung tentang jumlah nama beliau, menurutnya jumlah nama Rasulullah sebanyak 300 buah. Syekh Burhanuddin Al-Halabi mengatakan, “Di Kairo aku menemukan dua jilid kitab yang berjudul Al-Mustaufa fi Asma Al-Musthafa. Al-Hafizh Al-Sakhawi mengumpulkan semua nama nabi sampai berjumlah 430 buah nama, tetapi nama yang paling akrab dan populer di telinga dan membuat gejolak rindu para pecintanya menjadi tenang adalah nama “Muhammad.” Sholu Alan Nabi Muhammad SAW.....

Kisah Sedekah Ali bin Abi Thalib dan Buah Delima Untuk Fatimah

Kisah Sedekah Ali bin Abi Thalib dan Buah Delima Untuk Fatimah

Ketika Fatimah binti Rasulullah SAW sedang sakit, ia ditanya oleh suaminya yang tak lain adalah Ali bin Abi Thalib.

“Wahai istriku, engkau ingin buah apa?” tanya Ali dengan penuh kasih sayang.

“Suamiku, aku ingin buah delima,” jawab Fatimah.

Maka Ali berfikir sejenak, karena ia tak ada uang sepersenpun. Dia pun berdiri serta pergi ke pasar mencari pinjaman uang satu dirham yang lalu dibelikan sebuah delima untuk istrinya Fatimah. Di tengah perjalanan menuju rumahnya, ia melihat seseorang yang tergeletak sakit di pinggir jalan. Maka Ali pun berhenti dan menghampirinya.
“Hai orang tua, apa yang diinginkan hatimu?” tanya Ali.
“Wahai Ali, sudah lima hari aku tergeletak sakit di tempat ini. Banyak orang yang berlalu lalang, namun tak ada satu pun yang mau peduli kepadaku, padahal hatiku ingin sekali makan buah delima,” jawab orang sakit itu.

Mendengar jawabannya, Ali pun terdiam sebentar sambil berkata dalam hati. “Buah delima yang hanya sebiji ini sengaja aku beli untuk istriku. Kalau aku berikan kepada orang ini, pasti Fatimah akan sedih sekali. Namun jika tidak aku berikan, berarti aku tidak menepati firman Allah,” katanya dalam hati. Ali lantas teringat akan ayat Allah SWT, “Terhadap si pengemis, engkau janganlah menghardiknya.”(QS. Ad Dhuha:10).

Maka Ali lalu memberikan Buah Delima itu kepadanya. Ali pun lalu pulang dengan malu karena tak membawa buah, dan sesampai di rumah ia menceritakan peristiwa itu kepada Isterinya, dan Siti Fatimah berkata kepadanya, “Mengapa engkau bersedih hati wahai suamiku? Demi keperkasaan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung, sesungguhnya tatkala engkau memberikan delima itu kepada orang tua tersebut, maka hilanglah keinginanku kepada buah delima.” Maka Ali gembira dengan kata-katanya istrinya itu.

Tiba-tiba datanglah seseorang mengetuk pintu.

Tanya Ali: “Siapa ya ?”

Jawab orang itu: “Saya Salman Al-Farisi, tolong, bukakan pintu!”

Ali berdiri dan membukakan pintu, dan dia melihat Salman Al-Farisi di tangannya memegang talam yang tertutup di bahagian atasnya, serta meletakkannya di hadapan Ali. Kata Ali: “Dari manakah ini, ya Salman?”

Jawab Salman: “Dari Allah kepada Rasul dan dari Rasul kepada engkau.”

Maka Ali membuka tutup talam itu, ternyata di dalamnya terdapat sembilan buah delima.

Maka Ali berkata lagi: “Ya Salman, kalau ini untuk saya tentunya harus sepuluh, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

“Barangsiapa membuat satu amal kebaikan, maka pasti baginya sepuluh kali ganda amalnya (balasannya)”. ( Al-An’am : 160 )

Salman al-Farisi tertawa sambil mengeluarkan sebiji delima dari dalam saku bajunya dan meletakkannya di talam seraya berkata: “Wahai Ali, demi Allah, aku hanya sekadar menguji sejauh mana KEYAKINANMU terhadap firman Allah yang engkau bacakan sebentar tadi.”

Subhanallah

20.1.16

Sunnah-sunnah ketika bangun tidur

"SUNNAH-SUNNAH KETIKA BANGUN TIDUR"
Oleh: Al Habib Novel Jufry

1.Mengusap Bekas Tidur yang Ada di Wajah dengan Tangan

Menurut Imam an-Nawawi dan al-Hafizh Ibnu Hajar, hal ini dianjurkan berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam:

"Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wa Sallam Bangun Tidur Kemudian Duduk Sambil Mengusap Bekas Tidur dari Wajah Nya dg Tangannya."

(HR. Muslim no.763).

2.Berdo'a Ketika Bangun tidur

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَاأَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ

ALHAMDULILLAAHILLADZII AHYAANAA BA'DAMAA AMAATANAA WA ILAIHIN NUSYUUR

"Segala Puji Bagi ALLAH yang telah Menghidupkan Kami Setelah Dia Mewafatkan (Menidurkan) Kami, dan kepada-Nya Kami di Bangkitkan."

(HR. Al-Bukhari no.6312 & Muslim no.2711)

3.Bersiwak

"Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa Sallam Bangun Malam, beliau Membersihkan Mulutnya dg Bersiwak"

(HR.Bukhari 245 & Muslim 255)

4.Ber-istintsar

Yaitu, Mengeluarkan / Menyemburkan Air dari hidung Sesudah Menghirupnya. Rasulullah shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Bersabda:

"Apabila Seorang di antara Kalian bangun Tidur, Maka ber-istintsarlah 3X, karena
Sesungguhnnya Syaitan Bermalam di Ujung (Rongga) Hidungnya."

(HR.Bukhari 3295 & Muslim 238)

5 .Mencuci Kedua Tangan 3X

Rasulullah Shallallahu ’alaihi Wa Sallam bersabda:
"Apabila Salah Seorang Kalian Bangun Tidur, Janganlah ia Memasukkan Tangannya ke Dalam Bejana Sebelum ia Men-cucinya 3X."

(HR.Bukhari 162 & Muslim 278).

Semoga Bermanfaat
Shobakhul Kheir

20.12.15

LELUHUR BAGINDA NABI SAYYIDINA MUHAMMAD SAW YG WAJIB DI KETAHUI

1. ABDULLOH, sang ayahanda. Ketika beliau berjalan pada siang hari, aroma misik dan ambar menyebar dr tubuhnya.. dan ketika beliau berjalan pada malam hari, cahaya terang bagaikan lampu memancar dari wajahnya.. karena itulah penduduk Mekkah menyebut beliau dgn sebutan Misbahul Harom (lampunya tanah harom). 2. ABDUL MUTHTHOLIB, kakek pertama. Nama aslinya adalah Syaibatul Hamdi (sehelai uban yg terpuji).. dinamakan begitu krn beliau lahir dlm keadaan mempunyai sehelai uban di rambut kepalanya. Beliau digelari Abdul Muththolib krn ketika paman beliau yg bernama Muththolib pulang bersamanya dr kota Madinah dan memasuki kota Mekkah, para penduduk melihat cahaya di wajahnya yg memancar ke segala arah.. Mereka pun menghampiri Sayyid Muththolib dan menanyakan siapakah anak yg bersamanya tsb.. Sayyid Muththolib menjawab : "Hadza 'Abdii" (ini adalah hambaku, maksudnya : keponakanku).. Maka mereka pun berseru : "Alangkah banyaknya cahaya dr Abdul Muththolib (keponakannya Muththolib), alangkah tampannya Abdul Muththolib. Beliau wafat di Burman dan dimakamkan di Hajun (daerah Yaman).. beliau wafat dlm usia 140 tahun menurut pendapat yg mu'tamad.. ada yg mengatakan 110 tahun. 3. HASYIM, kakek kedua. Nama aslinya adalah 'Amr. Beliau digelari Hasyim (penumbuk) krn beliau pernah menumbuk daging lalu dijadikan tsarid (makanan org Arab) yg kemudian dibagikan kepada kaumnya ketika musim paceklik. Ketika beliau berjalan, bebatuan dan pepohonan yg beliau lewati berkata kepadanya : "Bergembiralah wahai Hasyim, krn sesungguhnya nanti akan lahir darimu seorang Nabi yg akan menjadi penutup para nabi dan para rosul." Para sejarahwan berbeda pendapat mengenai usia hidup beliau.. ada yg mengatakan 20 tahun, ada yg mengatakan 25 tahun. 4. ABDU MANAF, kakek ketiga. Nama aslinya adalah Mughiroh. Beliau digelari Abdu Manaf (org yg tinggi) krn beliau adalah org mulia di tengah kaumnya.. ada juga yg mengatakan krn beliau adalah org yg jangkung. Sebelumnya, beliau juga digelari Qomarul Bath-haa (rembulannya tanah Mekkah) krn ketampanannya. Beliau adalah kakek ketiganya Baginda Nabi, kakek keempatnya Sayyidina Utsman, dan kakek kesembilannya Imam Syafi'i. Beliau wafat di Gaza, Palestina. 5. QUSHOYY, kakek keempat. Nama aslinya adalah Mujammi' (pemersatu).. dinamakan begitu krn melalui beliau Alloh mempersatukan suku-suku keturunan Sayyid Fihr (Quroisy). Beliau digelari Qushoyy (org yg jauh) krn beliau pernah tinggal jauh dr sanak keluarganya yg berada di Mekkah.. Ceritanya, setelah ayah beliau meninggal, ibu beliau (Fathimah binti Sa'ad) membawanya pergi ke Yaman dan tinggal bersama suku Qudlo'ah. 6. KILAB, kakek kelima (kalau dr garis ibu, beliau adalah kakek keempat). Nama aslinya adalah Hakim. Beliau digelari Kilab (org yg banyak anjingnya) krn beliau hobi berburu menggunakan anjing pemburu. 7. MURROH, kakek keenam. Beliau juga kakek keenamnya Sayyidina Abu Bakar.. nasab Imam Malik dan nasab Baginda Nabi juga bertemu di beliau. 8. KA'AB, kakek ketujuh. Beliau dinamakan Ka'ab (bambu) krn beliau adalah org yg tinggi/jangkung. Beliau adalah kakek kedelapannya Sayyidina Umar. 9. LU-AYY, kakek kedelapan. 10.GHOLIB, kakek kesembilan. Beliau dinamakan Gholib (pemenang) krn beliau selalu dapat mengalahkan musuh-musuhnya. 11. FIHR, kakek kesepuluh. Nama aslinya adalah Quroisy. Keturunan beliau disebut Jama'ah Qurosyiyyah (golongan Quroisy). 12. MALIK, kakek kesebelas. Beliau dinamakan Malik (pemilik) krn beliau adalah orang yg memiliki tanah Arab. 13. NADLOR, kakek keduabelas. Nama aslinya adalah Qois. Beliau digelari Nadlor (org yg elok rupanya/tampan) krn wajahnya memancarkan cahaya. 14. KINANAH, kakek ketigabelas. Beliau disebut dgn sebutan Kinanah (tukang sembunyi) krn beliau selalu berada di rumah persembunyian di tengah-tengah kaumnya.. ada yg mengatakan krn beliau selalu menyembunyikan (melindungi) kaumnya dan menjaga rahasia mereka. 15. KHUZAIMAH, kakek keempatbelas. Beliau meninggal dlm keadaan memeluk millah (agama) Nabi Ibrohim AS. 16. MUDRIKAH, kakek kelimabelas. Nama aslinya adalah 'Amr. Kunyahnya/julukannya adalah Abu Hudzail. Beliau disebut dgn sebutan Mudrikah (org yg mengejar sampai dapat) krn suatu ketika untanya melihat seekor kelinci lalu ia lari, kemudian beliau mengejarnya sampai dapat. 17. ILYAS, kakek keenambelas. Beliau adalah orang yg pertama kali menggiring unta ke Baitul Harom untuk disembelih. Dari tulang iga beliau terdengar bacaan talbiyah Baginda Nabi seperti bacaan talbiyah yg diucapkan ketika melaksanakan ibadah haji. Kedudukan beliau di tengah bangsa Arab persis seperti kedudukan Luqman Al Hakim di tengah kaumnya. 18.MUDLOR, kakek ketujuhbelas. Nama aslinya adalah 'Amr. Beliau digelari Mudlor (org yg suka masam/org yg memikat hati) krn beliau menyukai susu masam, klo skrg mungkin disebut yoghurt.. Ada juga yg mengatakan krn beliau selalu memikat hati org yg memandangnya. Org yg memandangnya pasti langsung menyukainya, krn beliau adalah org yg tampan. Beliau juga org yg paling bagus suaranya di antara kaumnya. 19.NIZAR, kakek kedelapanbelas. Beliau disebut dgn sebutan Nizar (sedikit dagingnya) krn beliau adalah org yg berbadan kurus/krempeng. Di wajah beliau terpancar cahaya kenabian Baginda Nabi. Beliau adalah org yg pertama kali menulis kitab berbahasa arab. Nasab Imam Ahmad bin Hambal dan nasab Baginda Nabi bertemu di beliau. 20. MA'ADD, kakek kesembilanbelas. Beliau adalah org yg mempersiapkan strategi perangnya Bani Israil. Jika beliau memerangi musuh pasti beliau menang. Sebagian ahli sejarah mengatakan bahwa beliau adalah Nabi Armiyaa AS. 21.'ADNAN, kakek keduapuluh. Beliau hidup pada zaman Nabi Musa. Sumber : kitab madarijush shu'ud - syaikh muhammad nawawi banten

19.12.15

HANYA IBLIS YANG TIDAK BERDUKA ATAS WAFATNYA ULAMA

Dalam Kitab Tanqih Al-Qaul Imam Al-Hafizh Jalaluddin bin Abdurrahman bin Abu Bakar As-Suyuthi menuliskan dalam kitabnya sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sbb: وقال عليه الصلاة والسلام: {مَنْ لَمْ يَحْزَنْ لِمَوْتِ العَالِمِ، فَهُوَ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ} قالها ثلاث مرات ”Barangsiapa yang tidak sedih dengan kematian ulama maka dia adalah munafik” Menagislah karena meninggalnya seorang ulama adalah sebuah perkara yang besar di sisi Allah. Sebuah perkara yang akan mendatangkan konsekuensi bagi kita yang ditinggalkan jika kita ternyata bukan orang-orang yang senantisa mendengar petuah mereka. Menangislah jika kita ternyata selama ini belum ada rasa cinta di hati kita kepada para ulama. عن ابن عباس ، في قوله تعالى : أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَأْتِي الأَرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا سورة الرعد آية 41 قال : موت علمائها . وللبيهقي من حديث معروف بن خربوذ ، عن أبي جعفر ، أنه قال : موت عالم أحب إلى إبليس من موت سبعين عابدا . Dari Ibnu Abbas ra. tentang firman Allah, “Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah, lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya?.” (Al-Ra’d: 41). Beliau mengatakan tentang (مِنْ أَطْرَافِهَا = dari tepi-tepinya) adalah wafatnya para ulama. Dan menurut Imam Baihaqi dari hadits Ma’ruf bin Kharbudz dari Abu Ja’far ra berkata, “Kematian ulama lebih dicintai iblis daripada kematian 70 orang ahli Ibadah.” Menurut beberapa ahli tafsir seperti Ibnu Abbas dan Mujahid, ayat ini berkaitan dengan kehancuran bumi (kharab ad-dunya).Sedangkan kehancuran bumi dalam ayat ini adalah dengan meninggalnya para ulama (Tafsir Ibnu Katsir 4/472) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menegaskan ulama sebagai penerusnya, juga menegaskan wafatnya para ulama sebagai musibah. Rasulullah bersabda: مَوْتُ الْعَالِمِ مُصِيبَةٌ لا تُجْبَرُ ، وَثُلْمَةٌ لا تُسَدُّ , وَنَجْمٌ طُمِسَ ، مَوْتُ قَبِيلَةٍ أَيْسَرُ مِنْ مَوْتِ عَالِمٍ Artinya: “Meninggalnya ulama adalah musibah yang tak tergantikan, dan sebuah kebocoran yang tak bisa ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah bagi saya daripada meninggalnya satu orang ulama” (HR al-Thabrani dalam Mujam al-Kabir dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Abu Darda’) Wafatnya Ulama Adalah Hilangnya Ilmu Umat manusia dapat hidup bersama para ulama adalah sebagian nikmat yang agung selama di dunia. Semasa ulama hidup, kita dapat mencari ilmu kepada mereka, memetik hikmah, mengambil keteladanan dan sebagainya. Sebaliknya, ketika ulama wafat, maka hilanglah semua nikmat itu. Hal inilah yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, خُذُوا الْعِلْمَ قَبْلَ أَنْ يَذْهَبَ ” ، قَالُوا : وَكَيْفَ يَذْهَبُ الْعِلْمُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ، قَالَ:إِنَّ ذَهَابَ الْعِلْمِ أَنْ يَذْهَبَ حَمَلَتُهُ Artinya: “Ambillah (Pelajarilah) ilmu sebelum ilmu pergi! Sahabat bertanya: Wahai Nabiyullah, bagaimana mungkin ilmu bisa pergi (hilang)?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Perginya ilmu adalah dengan perginya (wafatnya) orang-orang yang membawa ilmu (ulama)” (HR Ad-Darimi, At-Thabrani No 7831 dari Abu Umamah). Wafatnya ulama juga memiliki dampak sangat besar, diantaranya munculnya pemimpin baru yang tidak mengerti tentang agama sehinga dapat menyesatkan umat, sebagaimana dalam hadits sahih. إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من الناس ، ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم يترك عالما اتخذ الناس رءوسا جهالا فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari hambanya, tetapi mencabut ilmu dengan mencabut para ulama. Sehingga ketika Allah tidak menyisakan satu ulama, maka manusia mengangkat pemimpin-pemimpin bodoh, mereka ditanya kemudian memberi fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan” (HR al-Bukhari No 100).

18.12.15

BIODATA LENGKAP 25 NABI DAN RASUL

BIODATA LENGKAP 25 NABI DAN RASUL 1. ADAM AS. Nama: Adam As. Usia: 930 tahun. Periode sejarah: 5872-4942 SM. Tempat turunnya di bumi: India, ada yang berpendapat di Jazirah Arab. Jumlah keturunannya: 40 laki-laki dan perempuan. Tempat wafat: India, ada yang berpendapat di Mekkah. Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 25 kali. 2. IDRIS AS. Nama: Idris/Akhnukh bin Yarid, nama Ibunya Asyut. Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. Usia: 345 tahun di bumi. Periode sejarah: 4533-4188 SM. Tempat diutus: Irak Kuno (Babylon, Babilonia) dan Mesir (Memphis). Tempat wafat: Allah mengangkatnya ke langit dan ke surga. Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 2 kali. 3. NUH AS. Nama: Nuh/Yasykur/Abdul Ghaffar bin Lamak. Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. Usia: 950 tahun. Periode sejarah: 3993-3043 SM. Tempat diutus (lokasi): Selatan Irak. Jumlah keturunannya: 4 putra (Sam, Ham, Yafits dan Kan’an). Tempat wafat: Mekkah. Sebutan kaumnya: Kaum Nuh. Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 43 kali. 4. HUD AS. Nama: Hud bin Abdullah. Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Iram (Aram) ⇒ ‘Aush (‘Uks) ⇒ ‘Ad ⇒ al-Khulud ⇒ Rabah ⇒ Abdullah ⇒ Hud As. Usia: 130 tahun. Periode sejarah: 2450-2320 SM. Tempat diutus: Al-Ahqaf (antara Yaman dan Oman). Tempat wafat: Bagian Timur Hadhramaut Yaman. Sebutan kaumnya: Kaum ‘Ad. Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 7 kali. 5. SHALIH AS. Nama: Shalih bin Ubaid. Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Iram (Aram) ⇒ Amir ⇒ Tsamud ⇒ Hadzir ⇒ Ubaid ⇒ Masah ⇒ Asif ⇒ Ubaid ⇒ Shalih As. Usia: 70 tahun. Periode sejarah: 2150-2080 SM. Tempat diutus: Daerah al-Hijr (Mada’in Shalih, antara Madinah dan Syria). Tempat wafat: Mekkah. Sebutan kaumnya: Kaum Tsamud. Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 10 kali. 6. IBRAHIM AS. Nama: Ibrahim bin Tarakh. Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. Usia: 175 tahun. Periode sejarah: 1997-1822 SM. Tempat diutus: Ur, daerah selatan Babylon (Irak). Jumlah keturunannya: 13 anak (termasuk Nabi Ismail As. dan Nabi Ishaq As.). Tempat wafat: Al-Khalil (Hebron, Palestina/Israel). Sebutan kaumnya: Bangsa Kaldan. Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 69 kali. 7. LUTH AS. Nama: Luth bin Haran. Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Haran ⇒ Luth As. Usia: 80 tahun. Periode sejarah: 1950-1870 SM. Tempat diutus: Sodom dan Amurah (Laut Mati atau Danau Luth). Jumlah keturunannya: 2 putri (Ratsiya dan Za’rita). Tempat wafat: Desa Shafrah di Syam (Syria). Sebutan kaumnya: Kaum Luth. Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 27 kali. 8. ISMAIL AS. Nama: Ismail bin Ibrahim. Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ismail As. Usia: 137 tahun. Periode sejarah: 1911-1774 SM. Tempat diutus: Mekah. Jumlah keturunannya: 12 anak. Tempat wafat: Mekkah. Sebutan kaumnya: Amaliq dan Kabilah Yaman. Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 12 kali. 9. ISHAQ AS. Nama: Ishaq bin Ibrahim. Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. Usia: 180 tahun. Periode sejarah: 1897-1717 SM. Tempat diutus: Kota al-Khalil (Hebron) di daerah Kan’an (Kana’an). Jumlah keturunannya: 2 anak (termasuk Nabi Ya’qub As./Israel). Tempat wafat: Al-Khalil (Hebron). Sebutan kaumnya: Bangsa Kan’an. Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 17 kali. 10. YA’QUB AS. Nama: Ya’qub/Israel bin Ishaq. Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ Ya’qub As. Usia: 147 tahun. Periode sejarah: 1837-1690 SM. Tempat diutus: Syam (Syria). Jumlah keturunannya: 12 anak laki-laki (Rubin, Simeon, Lewi, Yahuda, Dan, Naftali, Gad, Asyir, Isakhar, Zebulaon, Yusuf dan Benyamin) dan 2 anak perempuan (Dina dan Yathirah). Tempat wafat: Al-Khalil (Hebron), Palestina. Sebutan kaumnya: Bangsa Kan’an. Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 18 kali. 11. YUSUF AS. Nama: Yusuf bin Ya’qub. Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ Ya’qub As. ⇒ Yusuf As. Usia: 110 tahun. Periode sejarah: 1745-1635 SM. Tempat diutus: Mesir. Jumlah keturunannya: 3 anak; 2 laki-laki dan 1 perempuan. Tempat wafat: Nablus. Sebutan kaumnya: Heksos dan Bani Israel. Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 58 kali. 12. AYYUB AS. Nama: Ayyub bin Amush. Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ al-‘Aish ⇒ Rum ⇒ Tawakh ⇒ Amush ⇒ Ayub As. Usia: 120 tahun. Periode sejarah: 1540-1420 SM. Tempat diutus: Dataran Hauran. Jumlah keturunannya: 26 anak. Tempat wafat: Dataran Hauran. Sebutan kaumnya: Bangsa Arami dan Amori, di daerah Syria dan Yordania. Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 4 kali. 13. SYU’AIB AS. Nama: Syu’aib bin Mikail. Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Madyan ⇒ Yasyjur ⇒ Mikail ⇒ Syu’aib As. Usia: 110 tahun. Periode sejarah: 1600-1490 SM. Tempat diutus: Madyan (pesisir Laut Merah di tenggara Gunung Sinai). Jumlah keturunannya: 2 anak perempuan. Tempat wafat: Yordania. Sebutan kaumnya: Madyan dan Ash-habul Aikah. Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 11 kali. 14. MUSA AS. Nama: Musa bin Imran, nama Ibunya Yukabad atau Yuhanaz Bilzal. Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matisyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ Ya’qub As. ⇒ Lawi ⇒ Azar ⇒ Qahats ⇒ Imran ⇒ Musa As. Usia: 120 tahun. Periode sejarah: 1527-1407 SM. Tempat diutus: Sinai di Mesir. Jumlah keturunannya: 2 anak, Azir dan Jarsyun, dari istrinya bernama Shafura binti Syu’aib As. Tempat wafat: Gunung Nebu (Bukit Nabu’) di Jordania (sekarang). Sebutan kaumnya: Bani Israel dan Fir’aun (gelar raja Mesir). Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 136 kali. 15. HARUN AS. Nama: Harun bin Imran, istrinya bernama Ayariha. Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ Ya’qub As. ⇒ Lawi ⇒ Azar ⇒ Qahats ⇒ Imran ⇒ Harun As. Usia: 123 tahun. Periode sejarah: 1531-1408 SM. Tempat diutus: Sinai di Mesir. Tempat wafat: Gunung Nebu (Bukit Nabu’) di Jordania (sekarang). Sebutan kaumnya: Bani Israel dan Fir’aun (gelar raja Mesir). Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 20 kali. 16. DZULKIFLI AS. Nama: Dzulkifli/Bisyr/Basyar bin Ayyub. Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ al-‘Aish ⇒ Rum ⇒ Tawakh ⇒ Amush ⇒ Ayyub As. ⇒ Dzulkifli As. Usia: 75 tahun. Periode sejarah: 1500-1425 SM. Tempat diutus: Damaskus dan sekitarnya. Tempat wafat: Damaskus. Sebutan kaumnya: Bangsa Arami dan Amori (Kaum Rom), Syria dan Yordania. Al-Quran Menyebutkan namanya sebanyak: 2 kali. 17. DAUD AS. Nama: Daud bin Isya. Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ Yahudza ⇒ Farish ⇒ Hashrun ⇒ Aram ⇒ Aminadab ⇒ Hasyun ⇒ Salmun ⇒ Bu’az ⇒ Uwaibid ⇒ Isya ⇒ Daud As. Usia: 100 tahun. Periode sejarah: 1063-963 SM. Tempat diutus: Palestina (dan Israel). Jumlah keturunannya: 1 anak, Sulaiman As. Tempat wafat: Baitul Maqdis (Yerusalem). Sebutan kaumnya: Bani Israel. Al-Quran menyebutkanya namanya sebanyak: 18 kali. 18. SULAIMAN AS. Nama: Sulaiman bin Daud. Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matisyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ Yahudza ⇒ Farish ⇒ Hashrun ⇒ Aram ⇒ Aminadab ⇒ Hasyun ⇒ Salmun ⇒ Bu’az ⇒ Uwaibid ⇒ Isya ⇒ Daud As. ⇒ Sulaiman As. Usia: 66 tahun. Periode sejarah: 989-923 SM. Tempat diutus: Palestina (dan Israel). Jumlah keturunannya: 1 anak, Rahab’an. Tempat wafat: Baitul Maqdis (Yerusalem). Sebutan kaumnya: Bani Israel. Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 21 kali. 19. ILYAS AS. Nama: Ilyas bin Yasin. Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ Ya’qub As. ⇒ Lawi ⇒ Azar ⇒ Qahats ⇒ Imran ⇒ Harun As. ⇒ Alzar ⇒ Fanhash ⇒ Yasin ⇒ Ilyas As. Usia: 60 tahun di bumi. Periode sejarah: 910-850 SM. Tempat diutus: Ba’labak (Lebanon). Tempat wafat: Diangkat Allah ke langit. Sebutan kaumnya: Bangsa Fenisia. Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 4 kali. 20. ILYASA’ AS. Nama: Ilyasa’ bin Akhthub. Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ Ya’qub As. ⇒ Yusuf As. ⇒ Ifrayim ⇒ Syutlim ⇒ Akhthub ⇒ Ilyasa’ As. Usia: 90 tahun. Periode sejarah: 885-795 SM. Tempat diutus: Jaubar, Damaskus. Tempat wafat: Palestina. Sebutan kaumnya: Bangsa Arami dan Bani Israel. Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 2 kali. 21. YUNUS AS. Nama: Yunus/Yunan/Dzan Nun bin Matta binti Abumatta, Matta adalah nama Ibunya. (Catatan: Tidak ada dari para nabi yang dinasabkan ke Ibunya kecuali Yunus dan Isa As.). Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ Ya’qub As. ⇒ Yusuf As. ⇒ Bunyamin ⇒ Abumatta ⇒ Matta ⇒ Yunus As. Usia: 70 tahun. Periode sejarah: 820-750 SM. Tempat diutus: Ninawa, Irak. Tempat wafat: Ninawa, Irak. Sebutan kaumnya: Bangsa Asyiria, di utara Irak. Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 5 kali. 22. ZAKARIYA AS. Nama: Zakariya bin Dan. Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ Yahudza ⇒ Farish ⇒ Hashrun ⇒ Aram ⇒ Aminadab ⇒ Hasyun ⇒ Salmun ⇒ Bu’az ⇒ Uwaibid ⇒ Isya ⇒ Daud As. ⇒ Sulaiman As. ⇒ Rahab’am ⇒ Aynaman ⇒ Yahfayath ⇒ Syalum ⇒ Nahur ⇒ Bal’athah ⇒ Barkhiya ⇒ Shiddiqah ⇒ Muslim ⇒ Sulaiman ⇒ Daud ⇒ Hasyban ⇒ Shaduq ⇒ Muslim ⇒ Dan ⇒ Zakariya As. Usia: 122 tahun. Periode sejarah: 91 SM-31 M. Tempat diutus: Palestina. Jumlah keturunannya: 1 anak. Tempat wafat: Halab (Aleppo). Sebutan kaumnya: Bani Israel. Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 12 kali. 23. YAHYA AS. Nama: Yahya bin Zakariya. Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ Yahudza ⇒ Farish ⇒ Hashrun ⇒ Aram ⇒ Aminadab ⇒ Hasyun ⇒ Salmun ⇒ Bu’az ⇒ Uwaibid ⇒ Isya ⇒ Daud As. ⇒ Sulaiman As. ⇒ Rahab’am ⇒ Aynaman ⇒ Yahfayath ⇒ Syalum ⇒ Nahur ⇒ Bal’athah ⇒ Barkhiya ⇒ Shiddiqah ⇒ Muslim ⇒ Sulaiman ⇒ Daud ⇒ Hasyban ⇒ Shaduq ⇒ Muslim ⇒ Dan ⇒ Zakariya As. ⇒ Yahya As. Usia: 32 tahun. Periode sejarah: 1 SM-31 M. Tempat diutus: Palestina. Tempat wafat: Damaskus. Sebutan kaumnya: Bani Israel. Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 5 kali. 24. ISA AS. Nama: Isa bin Maryam binti Imran. (Catatan: Tidak ada dari para nabi yang dinasabkan ke Ibunya kecuali Yunus dan Isa As.). Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ Yahudza ⇒ Farish ⇒ Hashrun ⇒ Aram ⇒ Aminadab ⇒ Hasyun ⇒ Salmun ⇒ Bu’az ⇒ Uwaibid ⇒ Isya ⇒ Daud As. ⇒ Sulaiman As. ⇒ Rahab’am ⇒ Radim ⇒ Yahusafat ⇒ Barid ⇒ Nausa ⇒ Nawas ⇒ Amsaya ⇒ Izazaya ⇒ Au’am ⇒ Ahrif ⇒ Hizkil ⇒ Misyam ⇒ Amur ⇒ Sahim ⇒ Imran ⇒ Maryam ⇒ Isa As. Usia: 33 tahun di bumi. Periode sejarah: 1 SM-32 M. Tempat diutus: Palestina. Tempat wafat: Diangkat oleh Allah ke langit. Sebutan kaumnya: Bani Israel. Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 21 kali, sebutan al-Masih sebanyak 11 kali, dan sebutan Ibnu (Putra) Maryam sebanyak 23 kali. 25. MUHAMMAD SAW. Nama: Muhammad bin Abdullah. Garis Keturunan Ayah: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ismail As. ⇒ Nabit ⇒ Yasyjub ⇒ Ya’rub ⇒ Tairah ⇒ Nahur ⇒ Muqawwim ⇒ Udad ⇒ Adnan ⇒ Ma’ad ⇒ Nizar ⇒ Mudhar ⇒ Ilyas ⇒ Mudrikah ⇒ Khuzaimah ⇒ Kinanah ⇒ an-Nadhar ⇒ Malik ⇒ Quraisy (Fihr) ⇒ Ghalib ⇒ Lu’ay ⇒ Ka’ab ⇒ Murrah ⇒ Kilab ⇒ Qushay ⇒ Zuhrah ⇒ Abdu Manaf ⇒ Hasyim ⇒ Abdul Muthalib ⇒ Abdullah ⇒ Muhammad Saw. Garis Keturunan Ibu: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ismail As. ⇒ Nabit ⇒ Yasyjub ⇒ Ya’rub ⇒ Tairah ⇒ Nahur ⇒ Muqawwim ⇒ Udad ⇒ Adnan ⇒ Ma’ad ⇒ Nizar ⇒ Mudhar ⇒ Ilyas ⇒ Mudrikah ⇒ Khuzaimah ⇒ Kinanah ⇒ an-Nadhar ⇒ Malik ⇒ Quraisy (Fihr) ⇒ Ghalib ⇒ Lu’ay ⇒ Ka’ab ⇒ Murrah ⇒ Kilab ⇒ Qushay ⇒ Zuhrah ⇒ Abdu Manaf ⇒ Wahab ⇒ Aminah ⇒ Muhammad Saw. Usia: 62 tahun. Periode sejarah: 570-632 M. Tempat diutus: Mekkah. Jumlah keturunannya: 7 anak; 3 laki-laki Qasim, Abdullah dan Ibrahim, dan 4 perempuan Zainab, Ruqayyah, Ummi Kultsum dan Fatimah az-Zahra. Tempat wafat: Madinah. Sebutan kaumnya: Bangsa Arab. Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 25 kali. (Disarikan dari: Qashash al-Anbiya' Ibn Katsir, Badai' az-Zuhur Imam as- Suyuthi dan selainnya).

13.12.15

DOA MUSTAJAB MELUNASI HUTANG PIUTANG

Alhabib Quraisy Baharun DOA MUSTAJAB MELUNASI HUTANG PIUTANG Doa : Selain hutang piutang,menghilangkan kegelisahan (galau) sedih dan Demi Allah, yang jiwaku berada di tangan-Nya. Seandainya ada seseorang yang terbunuh di jalan Allah, lalu dia dihidupkan kembali, kemudian terbunuh lagi (di jalan Allah), lalu dia dihidupkan kembali, kemudian terbunuh lagi (di jalan Allah), sementara dia masih memiliki utang, dia tidak masuk surga sampai utangnya dilunasi.'" (H.R. An-Nasa'i) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ما من أحد يدان دينا يعلم الله أنه يريد قضاءه إلا أداه الله عنه في الدنيا "Tidaklah ada orang yang berutang, dan Allah mengetahui bahwa ia berniat melunasi utangnya, melainkan Allah akan melunasinya di dunia." (H.R. An-Nasa'i dan Ibnu Majah) Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam senantiasa memohon perlindungan agar tidak terlilit utang. Di antara doa beliau, اللَّهُمَّ إِنّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأثَمِ وَالـمَـغْــرَمِ “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan dosa dan lilitan utang.” Dibawah ini adalah do’a Mustajab Melunasi Hutang Piutang. ” اللَّهُمَّ يَا فَارِجَ الْهَمِّ ، كَاشِفَ الْغَمِّ ، مُجِيبَ دَعْوَةَ الْمُضْطَرِّينَ ، رَحْمَنَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، وَرَحِيمَهُمَا ، أَنْتَ تَرْحَمُنِي ، فَارْحَمْنِي رَحْمَةً تُغْنِينِي بِهَا عَنْ رَحْمَةِ مَنْ سِوَاكَ “. “Allahumma Ya Farijal Ham Kasyifal Gham Mujiba Da’watal Mudhthorriin Rahmanad Dunya Wal Akhirah Warahimahuma Anta Tarhamuniy Farhamniy Rahmatan Tughniniy Biha ‘Ar Rahmati Man Siwak”. Sayyidina Abu Bakar berkata: Dulu aku ada hutang dan sebenarnya aku tidak suka berhutang, setelah aku membaca doa itu maka sebentar saja aku dikaruniakan Allah keuntungan/laba kemudian dapat membayar hutangku. Sayyidatina ‘Aisyah berkata: Aku pernah berhutang dengan Sayyidatina Asma’ sebanyak beberapa dinar dan dirham dan aku malu setiap kali Asma melihatku, lantas aku mengamalkan doa itu, kemudian Allah memberikan karunia kepadaku berupa rezeki yang bukan merupakan dari harta warisan dan bukan juga dari sedekah maka aku dapat membayar utangku bahkan dengan doa itu aku dilimpahkan rezeki yang berlimpah. Suatu hari Saidatina ‘Aisyah menceritakan bahwa ayahnya, Sayyidina Abu Bakar datang kepadanya (Aisyah) lantas Abu Bakar bertanya: “Adakah engkau pernah mendengar bahwa Rasulullah mengingatkan do’a yang pernah baginda ajarkan kepadamu dahulu?” ‘Aisyah menjawab: Ya ada dan baginda juga menyebut bahawa do’a ini diajarkan oleh Nabi ‘Isa kepada sahabat-sahabatnya dan baginda menyebut: ” Dengan doa tersebut, Sekalipun seseorang itu mempunyai HUTANG setinggi gunung emas maka Allah akan selesaikan hutang itu darinya. kemudian baginda Nabi membaca doa tersebut”. Wallahu A'laam bis shawab (kitab Al Mustadrak & Kitab Ad Durrun Manthur oleh Imam as Sayutiy

10.12.15

KISAH AL IMAM AHMAD AR RIFA’I

KISAH AL IMAM AHMAD AR RIFA’I Al Imam Ahmad Ar Rifa’I ‘Alaihi Ridwanallah, adalah seorang ahli ibadah yang memiliki sifat tawadhu’. Beliau ‘Alaihi Ridwanallah hidup di daerah yang kini bernama Iraq. Meski seorang imam besar, beliau hidup dalam kesederhanaan yang membuat beliau belum mampu berziarah ke makam Rasulullah karena keterbatasan harta. Beliau selalu rindu dan ingin berziarah ke makam Rasulullah, sehingga beliau selalu menitipkan salam kepada Rasulullah melalui orang-orang yang pergi haji. Pikiran beliau selalu kepada Rasulullah, selalu di makam dan hadroh Rasulullah. Sekali waktu, Allah SWT menentukan beliau bisa pergi haji dan berziarah ke Makam Rasulullah. Di hadapan makam Rasulullah beliau berkata, “Saat aku jauh, aku hanya mengirimkam ruhaniyahku maka itu pengganti kehadiranku. Dan kini ragaku telah hadir di hadapanmu, maka sudilah engkau ulurkan tanganmu agar bibirku dapat mencium tanganmu”. Maka keluarlah tangan Rasulullah kemudian beliau menciumnya. Kejadian ini disaksikan ribuan jamaah yang hadir saat itu. Bergoncang madinah menyaksikan kejadian ini dan semua ingin mendekat kepada Al Imam Rifa’i. Melihat ini, berkata Al Imam Ri’fai, “Aku tidak ridho, orang yang keluar dari makam nabi Muhammad, kecuali setelah menginjak kepalaku” dan beliau tidur meletakan kepalanya di pintu keluar, sehingga menyingkirlah semua yang mendekat kepada beliau. Siapa yang berani menginjak kepala yang telah mencium tangan Nabi Muhammad?. Inilah akhlak tinggi yang mulia dari para Salafus-Shaleh. Jika Allah menampakan kemuliaaan kepada mereka, maka mereka ingin dihinakan oleh manusia.

JANGAN PERNAH CERITA KEBURUKAN ORANG..!!

JANGAN PERNAH CERITA KEBURUKAN ORANG..!! عَن سعد بن مَسْعُود(إيَّاكُمْ والغيبة) الَّتِي هِيَ ذكر الْعَيْب بِظهْر الْغَيْب (فَإِن الْغَيْبَة) إثمها (أَشد من الزِّنَا) أَي من إثمه من بعض الْوُجُوه ثمَّ بَين وَجهه بقوله (إِن الرجل قد يَزْنِي وَيَتُوب فيتوب الله عَلَيْهِ وَإِن صَاحب الْغَيْبَة لَا يغْفر لَهُ حَتَّى يغْفر لَهُ صَاحبه) وَقد لَا يغْفر لَهُ وَقد يَمُوت فيتعذر استحلاله ========= Dari Said bin Masud : Waspadai Ghibah, menceritakan aib dibelakang, karena ghibah itu dosanya lebih berat daripada zina, dari berbagai sisi.. karena seorang berzina lalu taubat Allah bisa langsung menerima taubatnya, namun seorang peng-ghibah tidak akan diterima taubat kecuali harus meminta halal kepada yang bersangkutan.. ketika yang bersangkutan sudah mati, terkadang dosa ghibah tidak bisa termaafkan dan sampai mati akan susah dihalalkan... Jangan terjebak berita kaum media.. karena memberitakan hal-hal yang tidak terpuji itu termasuk kekejaman akhaq.. Allah mengetahui segalanya