21.3.16

Apa hubungan Al-Atthas dengan bin Syeikh Abubakar bin Salim.

Apa hubungan Al-'Atthas dengan bin Syeikh Abubakar bin Salim.

Syarifah hubabah Thalhah binti Agil bin Ahmad bin Abubakar As-Sakran mengandung tua. Ia mulai merasakan tanda-tanda akan melahirkan. Dari dalam perutnya ia mendengar perdebatan.
"Keluarlah kau," kata salah satu janin.
"Kau saja yang keluar dahulu," kata janin yang lain.

Janin yang satu mengutamakan janin lain. Sebab, janin yang keluar lebih dahulu kelak akan menjadi kakak. Dalam riwayat lain, perdebatan ini sempat membuat sang ibu khawatir. Sebagaimana kebanyakan ibu, Thalhah menghendaki kelahiran putranya dengan cepat dan selamat.

Akhirnya salah satu janin itu berkata, "Keluarlah lebih dahulu, nanti aku yang masyhur, tapi sesungguhnya Almasyhuur fii barokatil mastuur (yang masyhur itu ada dalam keberkahan yang tidak dikenal)."

Tak berapa lama lahirlah bayi yang kemudian diberi nama Aqil, lalu disusul adiknya yang kemudian diberi nama Abubakar. Aqil inilah kakek keluarga Al-'Atthas, dia juga yang pertama kali bersin dan mengucap hamdalah ketika masih dalam kandungan ibunya. Jadi, Al-'Atthas adalah kakak dari BSA (Bin Syeikh Abubakar Bin Salim).

[Tajul A’ros juz I Hal 37-38].

Sebagaimana ucapan janin tadi, kita jarang dengar cerita tentang Al Habib Aqil, tapi lain halnya dengan Syeikh Abubakar. Sejak kecil Syeikh Abubakar telah masyhur. Al Habib Aqil bin Salim akan menjadi seorang wali yang mastuur, tapi sebaliknya Syeikh Abubakar bin Salim, adiknya.

Mengapa garis keturunan Rosul saw ini disebut Al-'Atthos? Nantikan rubrik berikut.
Keluarga Al-'Atthas adalah keturunan dari Abdurrahman bin Agil bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman Assegaf.
Kata Al-'Atthas berasa dari kata dasar 'athosa yang berarti bersin.

Al Habib Ali bin Hasan Al-'Atthas dalam bagian pertama bukunya yang berjudul Al-Qirthos Fi Manakibil 'Atthos berkata,

“Dijuluki Al-'Atthas karena suatu karomah. Ketika dalam kandungan ibunya, janin keluarga Al-'Atthas bersin dan mengucapkan Alhamdulillah. Suara bersin ini terdengar padahal ia masih berada dalam kandungan ibunya. Orang yang pertama kali bersin dalam kandungan ibunya adalah Sayidina Agil bin Salim.

(Al-Mu’jam Al-Lathiif, cet. I 1986, Alamul Ma’rifah, Jeddah hal 134 – 135).

Al Habib Ali bin Hasan Al-'Atthas berkata bahwa suara bersin dari janin-janin keluarga Al-'Atthas selalu terdengar sepanjang zaman. Anak beliau, Hasan bin Ali, juga bersin ketika berada dalam kandungan ibunya. Suara bersin itu hampir menjadi hal yang biasa bagi para isteri keluarga Al-'Atthas. Di setiap zaman dan tempat banyak diceritakan peristiwa ini. Suara bersin itu umumnya terdengar pada bulan kesembilan masa kehamilan dengan syarat suasana tenang. Suara bersin itu terdengar oleh orang yang hamil dan orang yang berada di dekatnya.

(Tajul A’ros I, hal 38-39).

Habib Fahmi bin Yahya Yahya

20.3.16

JANGAN TINGGALKAN SHOLAT

JANGAN TINGGALKAN SHOLAT .

Berkata Guru Mulia Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz :

"Banyak orang yg meninggalkan Sholat dan juga Sholat Bolong-bolong.
Tahukah engkau bahwa 1 kali meninggalkan Sholat Malaikat di akhirat akan menyiksa Ibu dan Bapakmu, jika tidak melakukan Sholat 5 waktu dan malaikat berkata :

“ Inilah kiriman siksaan pedih dari anakmu yg meninggalkan Sholat masih banyak jutaan orang di alam kubur ingin hidup kembali utk bertobat. Apalagi di Neraka sekarang lagi menjerit minta kiamat di cepat karena tidak sanggup menahan dgn siksaanya di Akhirat pelihara keluargamu dan anakmu dari Api Neraka ”.

Yaa Allah Allahumma Ajirni minanaar.

Habib Fahmi bin Yahya Yahya

19.3.16

SYEIKHOH SULTHONAH BINTI ALI AZ-ZABIDI

SYEIKHOH SULTHONAH BINTI 'ALI AZ-ZABIDI
(Robi'atul 'Adawiyahnya Hadromaut)

Di ceritakan oleh Al Imam Al Quthub Al Habib ‘Ali bin Muhammad bin Husein Al Habsyi (Shohibul Maulid), bahwanya di Yaman ada seorang wali agung perempuan yang bernama Syeikhoh Sulthonah Rodhiallahu ‘Anha. Beliau memiliki gelar Robia ‘atul Adawiyahnya Yaman Hadromaut. Pekerjaan beliau ini setiap waktunya bahkan setiap hembusan nafasnya selalu bersholawat kepada Baginda Rosulullah Saw. Dan lebih hebatnya lagi, beliau ini tiada pekerjaan lain selain sholawat, kecuali di saat waktu sholat tiba.

Pada suatu ketika beliau mendapat suara gho’ib, yang meminta beliau untuk minta apa saja, dan permintaan tersebut pasti dikabulkan. Namun beliau sebagai seorang ahli tashowwuf yang mursyid, jadi beliau tidak langsung mengucapkan permintaannya. Beliau menemui Guru beliau dari keluarga Baqushoir, dan menanyakan kepada Guru beliau "Apakah ada di dunia ini ada maqom kewalian yang tidak ada lagi maqom sesudahnya ??" Jawab Guru beliau : "Ada, yakni bertemu secara jaga dengan Rosulullah Saw. " Kemudian Syeikhoh Sulthonah meminta agar dipertemukan secara jaga dengan Baginda Rosulullah Saw. Seketika itu juga Rosulullah Saw. ada di hadapan beliau.

Pada zaman beliau banyak orang-orang titip salam kepada Rosulullah Saw. lewat beliau, bahkan Rosulullah Saw. titip menasihati kepada Syeikhoh Sulthonah untuk orang-orang sekitar Syeikhoh Sulthonah. Bahkan Syeikhoh Sulthonah berani menjamin surga bila orang2 berziarah ke tempat beliau pada hari senin akhir bulan, dikarenakan saat itu Rosulullah Saw. hadir di tempat beliau.

Begitu tingginya maqom kewalian beliau, sehingga beliau mengetahui maqom kewalian setiap orang, kecuali dua orang yang tak bisa Syeikhoh Sulthonah ketahui maqom kewaliannya, yakni “Al Imam Al Faqih Muqoddam Ats-Tsani Al Habib ‘Abdurrohman As Seggaf bin Muhammad Maula Addawilah” dan anak beliau “Al Quthub Al Imam Al Habib Abu Bakar As Sakron” . Yang mana Syeikhoh Sulthonah pernah hidup sezaman dengan dua orang Habib ini.

Maqom mereka tidak diketahui dan tidak bisa dijangkau oleh Syeikhoh Sulthonah karena begitu tingginya. Setiap kali Syeikhoh Sulthonah mau mengejar maqom mereka, maka maqom mereka melesat begitu cepat seperti cahaya dan jauh ke atas.

Kata Syeikhoh Sulthonah lagi, beliau sudah mengetahui siapa saja di antara wali-wali yang berkunjung kepada Beliau, kecuali dua orang yakni “Al Imam Al Faqih Muqoddam Ats-Tsani Al Habib ‘Abdurrohman As Seggaf bin Muhammad Maula Addawilah” dan anak beliau “Al Quthub Al Imam Al Habib Abu Bakar As Sakron”, karena mereka bisa langsung ada dihadapan Syeikhoh Sulthonah secara tiba-tiba tanpa diketahui oleh Syeikhoh Sulthonah. Hanya saja, kata beliau apabila Al Habib Abu Bakar As Sakron mau bertemu, pasti ditandai dengan suara gho’ib dari langit yang mengatakan "Telah datang seorang sulthon anak dari seorang sulthon " Yaa Syeikhoh Sulthonah , Al Habib Abu Bakar As Sakron adalah seorang Sulthonul Auliya yang terkenal dari lapisan bumi yang paling bawah hingga ke seluruh langit, dan Ayah Beliau pun seorang juga seoarang Sulthonul Auliya.

Demikianlah bagaimana maqom seorang Auliya ALLAH SWT yang bertemu secara langsung dengan Baginda Rosulullah Saw. di alam jaga. Begitu tingginya dan begitu mulianya mereka. kata Al Habib ‘Ali bin Muhammad Al Habsyi, apa lagi dengan para sohabat Rosulullah Saw., mereka bertemu secara langsung dengan Rosulullah Saw. dengan kondisi Rosulullah Saw. secara nyata, sedangkan para wali hanya bertemu dengan Rosulullah Saw. pada alam yang lain. Sungguh bertemu Rosulullah Saw. secara jaga melebihi nikmat surga sekalipun. Sungguh Para sohabat Nabi saw. sudah mendapatkan surga firdaus itu sebelum memasukinya.

SEORANG YANG SELALU BERDZIKIR ASTAGHFIRULLAH DAN ALHAMDULILLAAH

SEORANG  YANG SELALU BERDZIKIR ASTAGHFIRULLAH DAN ALHAMDULILLAAH

Generasi Salaf, disebutkan adalah generasi terbaik dan sebagai panutan ummat Islam hingga saat ini, Banyak kisah – kisah yang mengagumkan dari mereka sebagai pengingat diri ini, salah satunya kehidupan seorang tabi’in faqih yang bernama Bakr Al Muzanny. yang bertemu dengan seorang tabi’in pencari kayu bakar yang ‘alim.

الحمد لله .. استغفر الله الحمد لله .. استغفر الله.

فقال له الفقيه : ألا تجيد غيرها ؟

فقال الحطاب : بلى ، فإني أحفظ القرآن ، وأعلم الكثير ولكن المرء لا يزال يتقلب بين ذنب أو نعمة وأنا أستغفر الله من الذنب وأحمده على النعمة.

فقال الفقيه : جهل بكر وعلم الحطاب.

Adalah seorang Ahli Fiqh (Faqih) dari kalangan Tabi’in bernama Bakr Al Muzanny RahimahuLLAAH sedang berjalan..

Dan di depannya seorang pengumpul kayu yang sambil berjalan mengulang2 kalimat : AlhamduliLLAAH.. AstaghfiruLLAAH.. AlhamduliLLAAH.. AstaghfiruLLAAH..

Lalu berkata sang Faqih : Tidakkah kamu mempunyai selain dua kalimat itu..?

Maka berkata sang penebang kayu :
Ada, bahkan saya hafal seluruh Al Qur’an, dan mengetahui berbagai macam doa dan Dzikir..

Tetapi bukankah manusia itu hanya berjalan antara 2 hal saja, yaitu antara dosa yang dilakukannya dan nikmat yang diterimanya, maka saya ingin terus memohon ampun atas dosa saya dan bersyukur atas nikmat yang diberikan pada saya..

Maka berkata Sang Faqih : Sungguh jahil (bodoh) Bakr ini dan sungguh alim sang pengumpul kayu itu..

SUBHANALLAH....

Makna Huruf Hijaiya

Seorang Yahudi mendatangi Rasulullah SAW seraya bertanya, “Apa makna huruf hijaiyah?”.

Rasulullah SAW,berkata kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib KWH, “Jawablah pertanyaannya, wahai Ali !”. Kemudian Rasulullah SAW, berdoa, “Ya Allah, jadikanlah dia berhasil dan bantulah dia.”

Sayyidina Ali berkata, “Setiap huruf hijaiyah adalah nama-nama Allah.” Ia melanjutkan:

��Alif (ا): Ismullah (nama Allah), yang tiada Tuhan selain-Nya. Dia selalu hidup, Maha Mandiri dan Mahakuasa.

��Ba’ (ﺏ): al Baqi’ (Mahakekal), setelah musnahnya makhluk.

��Ta (ﺕ): al Tawwab (Maha Penerima Taubat) dari hamba-hamba-Nya.

��Tsa’ (ﺙ): al Tsabit (Yang Menetapkan) keimanan hamba-hamba-Nya.

��Jim (ﺝ) : Jalla Tsanauhu (Yang Mahatinggi Pujian-Nya), kesucian-Nya, dan nama-nama-Nya yang tiada berbatas.

��Ha’ (ﺡ): al Haq, al Hayyu, wa al Halim (Yang Mahabenar, Mahahidup, dan Mahabijak).

��Kha (ﺥ): al Khabir (Yang Mahatahu) dan Mahalihat. Sesungguhnya Allah Mahatahu apa yang kalian kerjakan.

��Dal (ﺩ): Dayyanu yaumi al din (Yang Mahakuasa di Hari Pembalasan).

��Dzal (ﺫ): Dzu al Jalal wa al Ikram (Pemilik Keagungan dan Kemuliaan).

��Ra (ﺭ): al Rauf (Mahasayang).

��Zay (ﺯ): Zainul Ma’budin (Kebanggaan Para Hamba).

��Sin (ﺱ): al Sami al Bashir (Mahadengar dan Mahalihat).

��Syin (ﺵ): Syakur (Maha Penerima ungkapan terima kasih dari hamba-hamba-Nya).

��Shad (ﺹ) : al Shadiq (Mahajujur) dalam menepati janji. Sesungguhnya Allah tidak mengingkari janji-Nya.

��Dhad (ﺽ): al Dhar wa al Nafi (Yang Menangkal Bahaya dan Mendatangkan Manfaat).

��Tha (ﻁ): al Thahir wal al Muthahir (Yang Mahasuci dan Menyucikan).

��Zha (ظ): Zhahir (Yang Tampak dan Menampakkan Kebesaran-Nya).

��‘Ain (ﻉ): al ’Alim (Yang Mahatahu) atas segala sesuatu.

��Ghain (ﻍ): Ghiyats al Mustaghitsin (Penolong bagi yang memohon pertolongan) dan Pemberi Perlindungan.

��Fa (ف): Yang Menumbuhkan biji-bijian dan tumbuhan.

��Qaf (ﻕ): Yang Mahakuasa atas makhluk-Nya.

��Kaf (ﻙ): al Kafi (Yang Memberikan Kecukupan) bagi semua makhluk, tiada yang serupa dan sebanding dengan-Nya.

��Lam (ﻝ): Lathif (Mahalembut) terhadap hamba-hamba-Nya dengan kelembutan khusus dan tersembunyi.

��Mim (ﻡ): Malik ad dunya wal akhirah (Pemilik dunia dan akhirat).

��Nun (ن): Nur (Cahaya) langit, cahaya bumi, dan cahaya hati orang-orang beriman.

��Waw (ﻭ): al Wahid (Yang Mahaesa) dan tempat bergantung segala sesuatu.

��Haa (ه): al Hadi (Maha Pemberi Petunjuk) bagi makhluk-Nya. Dialah yang menciptakan segala sesuatu dan memberikan petunjuk.

��Lam alif (لآ): lam tasydid dalam lafadz Allah untuk menekankan keesaan Allah, yang tiada sekutu bagi-Nya.

��Ya (ﻱ): Yadullahbasithun lil khalqi (Tangan Allah terbuka bagi makhluk). Kekuasaan dan kekuatan-Nya meliputi semua tempat dan semua keberadaan.

Rasulullah saw bersabda, ”Wahai Ali, ini adalah perkataan yang Allah rela terhadapnya.” Dalam riwayat dijelaskan bahwa Yahudi itu masuk Islam setelah mendengar penjelasan Sayyidina Ali KWH.

1.2.16

RAHASIA NAMA RASULULLAH MUHAMMAD

RAHASIA NAMA RASULULLAH "MUHAMMAD" ( Al Imam Al Quthub Rabbani Al Ghaust Al'Azzam As-Sayyid Asy-Syaikh AbdulQadir Al-Jailani ra Dalam kitab As-Safinah Al-Qadiriyah ). Nabi Muhammad SAW adalah makhluk paling sempurna. Nama yang paling populer di langit dan bumi. Nama yang diberikan oleh Sayyid Abdul Muthalib untuk kelahirannya. Dalam kitab As-Safinah Al-Qadiriyah, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menjelaskan bahwa pada Abdul Muthalib memberi nama “Muhammad”, beliau ditanya oleh seseorang, “Mengapa cucumu diberi nama Muhammad? Bukankah ini adalah nama yang belum pernah digunakan oleh kaummu?” Lalu, Abdul Muthalib menjawab, “Aku ingin dia dipuji, baik di bumi ataupun di langit.” Ini membuktikan bahwa Allah ternyata mengabulkan doanya, sebagaimana sesungguhnya telah dikehendak oleh Allah sendiri. Pada suatu malam,Sayyid Abdul Muthalib bermimpi melihat sebuah rantai yang terbuat dari perak keluar dari punggungnya. Rantai itu memiliki empat ujung; satu berada di langit, satu berada di bumi, satu berada di barat dan satu lagi berada di timur. Kemudian, rantai itu menyatu menjadi sebuah pohon. Setiap helai daunnya memancarkan cahaya. Semua orang, mulai dari barat sampai ke timur seolah-olah bergelantungan kepadanya. Setelah mimpi itu diceritakan pada orang lain, mimpi tersebut ditafsirkan bahwa kelak dari keturunannya akan lahir seseorang yang menjadi tempat bergantung semua umat manusia. Semua makhluk yang ada di langit maupun di bumi memuji bayi tersebut. Ibunda Siti Aminah pun pernah mendengar suara yang mengatakan, “Sungguh engkau telah mengandung seorang bayi yang akan memimpin umat ini. Jika engkau telah melahirkannya, maka berikan nama “Muhammad” untuknya. Sebab Allah telah menetapkan nama “Muhammad” ini untuknya, jauh sebelum Dia menciptakan seluruh makhluk-Nya.” Diriwayatkan pula oleh Ibnu Asakir dari Ka’ab Al-Akhbar bahwa Adam a.s. melihat nama “Muhammad” tertulis pada tiang ‘Arasy, di langit, pada setiap ruangan istana di surga, di sungai-sungai tempat pemandian bidadari, pada setiap helai daun pohon Thuba dan Sidratul Muntaha, pada ujung-ujung tirai, di kening para Malaikat, dan tidak ada seorang pun yang menggunakan nama “Muhammad” sebelum beliau. Tapi, pada saat kelahiran Muhammad sudah dekat dan ciri-cirinya tersebar luas di kalangan Ahlul-Kitab, maka mereka menggunakan nama tersebut untuk anak-anak mereka, dengan harapan salah satu dari keturunan mereka yang akan menjadi nabi. Namun demikian, Allah SWT lebih tahu kepada siapa akan memberikan risalahnya. Saat itu jumlah orang yang bernama Muhammad sekitar lima belas orang. Terdapat banyak perbedaan pendapat tentang nama Rasulullah SAW. Ada yang mengatakan bahwa namanya berjumlah 1000 dan ada pula yang mengatakan bahwa namanya berjumlah 2020 buah nama. Al-Hafizh Ibnu Dahiyah menyusun satu buah kitab yang menerangkan bahwa nama beliau berjumlah 300 buah. Abu Abdillah Al-Qurthubi juga menyinggung tentang jumlah nama beliau, menurutnya jumlah nama Rasulullah sebanyak 300 buah. Syekh Burhanuddin Al-Halabi mengatakan, “Di Kairo aku menemukan dua jilid kitab yang berjudul Al-Mustaufa fi Asma Al-Musthafa. Al-Hafizh Al-Sakhawi mengumpulkan semua nama nabi sampai berjumlah 430 buah nama, tetapi nama yang paling akrab dan populer di telinga dan membuat gejolak rindu para pecintanya menjadi tenang adalah nama “Muhammad.” Sholu Alan Nabi Muhammad SAW.....

Kisah Sedekah Ali bin Abi Thalib dan Buah Delima Untuk Fatimah

Kisah Sedekah Ali bin Abi Thalib dan Buah Delima Untuk Fatimah

Ketika Fatimah binti Rasulullah SAW sedang sakit, ia ditanya oleh suaminya yang tak lain adalah Ali bin Abi Thalib.

“Wahai istriku, engkau ingin buah apa?” tanya Ali dengan penuh kasih sayang.

“Suamiku, aku ingin buah delima,” jawab Fatimah.

Maka Ali berfikir sejenak, karena ia tak ada uang sepersenpun. Dia pun berdiri serta pergi ke pasar mencari pinjaman uang satu dirham yang lalu dibelikan sebuah delima untuk istrinya Fatimah. Di tengah perjalanan menuju rumahnya, ia melihat seseorang yang tergeletak sakit di pinggir jalan. Maka Ali pun berhenti dan menghampirinya.
“Hai orang tua, apa yang diinginkan hatimu?” tanya Ali.
“Wahai Ali, sudah lima hari aku tergeletak sakit di tempat ini. Banyak orang yang berlalu lalang, namun tak ada satu pun yang mau peduli kepadaku, padahal hatiku ingin sekali makan buah delima,” jawab orang sakit itu.

Mendengar jawabannya, Ali pun terdiam sebentar sambil berkata dalam hati. “Buah delima yang hanya sebiji ini sengaja aku beli untuk istriku. Kalau aku berikan kepada orang ini, pasti Fatimah akan sedih sekali. Namun jika tidak aku berikan, berarti aku tidak menepati firman Allah,” katanya dalam hati. Ali lantas teringat akan ayat Allah SWT, “Terhadap si pengemis, engkau janganlah menghardiknya.”(QS. Ad Dhuha:10).

Maka Ali lalu memberikan Buah Delima itu kepadanya. Ali pun lalu pulang dengan malu karena tak membawa buah, dan sesampai di rumah ia menceritakan peristiwa itu kepada Isterinya, dan Siti Fatimah berkata kepadanya, “Mengapa engkau bersedih hati wahai suamiku? Demi keperkasaan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung, sesungguhnya tatkala engkau memberikan delima itu kepada orang tua tersebut, maka hilanglah keinginanku kepada buah delima.” Maka Ali gembira dengan kata-katanya istrinya itu.

Tiba-tiba datanglah seseorang mengetuk pintu.

Tanya Ali: “Siapa ya ?”

Jawab orang itu: “Saya Salman Al-Farisi, tolong, bukakan pintu!”

Ali berdiri dan membukakan pintu, dan dia melihat Salman Al-Farisi di tangannya memegang talam yang tertutup di bahagian atasnya, serta meletakkannya di hadapan Ali. Kata Ali: “Dari manakah ini, ya Salman?”

Jawab Salman: “Dari Allah kepada Rasul dan dari Rasul kepada engkau.”

Maka Ali membuka tutup talam itu, ternyata di dalamnya terdapat sembilan buah delima.

Maka Ali berkata lagi: “Ya Salman, kalau ini untuk saya tentunya harus sepuluh, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

“Barangsiapa membuat satu amal kebaikan, maka pasti baginya sepuluh kali ganda amalnya (balasannya)”. ( Al-An’am : 160 )

Salman al-Farisi tertawa sambil mengeluarkan sebiji delima dari dalam saku bajunya dan meletakkannya di talam seraya berkata: “Wahai Ali, demi Allah, aku hanya sekadar menguji sejauh mana KEYAKINANMU terhadap firman Allah yang engkau bacakan sebentar tadi.”

Subhanallah